░U░p░i░k░

21.5K posts

░U░p░i░k░

░U░p░i░k░

@UpikRhmn

Tidak diikuti oleh siapapun yang Anda ikuti

cincin saturnus Katılım Nisan 2013
1K Takip Edilen1.3K Takipçiler
Alhamdulillah Juara ⭐️⭐️⭐️⭐️⭐
MIND-BLOWING!! 🔵 Mau ngumpulin dokumentasi perayaan Persib juara dari luar Jawa Barat ⭐🏆⭐🏆⭐🏆⭐🏆⭐🏆 Mangga drop didieu! ⏬⏬⏬
Indonesia
61
174
1K
43.1K
░U░p░i░k░ retweetledi
Lambe Saham
Lambe Saham@LambeSahamjja·
Guys, DPR baru saja mengusulkan sesuatu yang menurut gue paling sempurna menggambarkan betapa jauhnya jarak antara para wakil rakyat dengan kenyataan rakyat yang mereka wakili. Di tengah rupiah Rp17.700. Di tengah badai PHK yang mengintai. Di tengah guru honorer yang digaji Rp1,5 juta per bulan. Di tengah anggaran pendidikan yang dipotong 44% untuk MBG. Anggota DPR dari Fraksi Gerindra mengusulkan: Alokasi APBN 2027 untuk membangun 1.000 layar bioskop di desa. Gue perlu berhenti sejenak dan baca ulang itu: Seribu Layar Bioskop Di desa. Dari APBN. Dari uang pajak rakyat. Di 2027. Dan ini yang paling menggelikan: Alasannya mulia. Untuk mendukung rumah produksi kecil di daerah. Untuk menampilkan potensi dan budaya lokal. Untuk memberi akses sinema kepada rakyat desa. Tapi ada satu pertanyaan yang tidak pernah dijawab dalam rapat itu: Rakyat desa yang gajinya di bawah UMR dengan harga bahan pokok yang terus naik mau beli tiket bioskop pakai uang apa? Dan ini datanya yang harus dihadapkan langsung: 88% kepala rumah tangga Indonesia tidak punya pendidikan S1. IQ rata-rata Indonesia 78,9 hampir juru kunci dunia. Skor PISA Indonesia peringkat 69 dari 81 negara. 50% pegawai Indonesia pernah mengalami stunting waktu kecil yang artinya perkembangan otak mereka terganggu sejak masa paling kritis. Guru honorer yang seharusnya menjadi satu-satunya harapan untuk memutus rantai kebodohan struktural ini — digaji Rp1,5-2,8 juta per bulan. Di bawah UMP. Di bawah standar hidup layak. Dan anggaran pendidikan yang seharusnya mengurus semua ini dipotong 44% untuk program makan siang. Tapi DPR punya solusi: Bukan 1.000 sekolah baru di daerah terpencil yang belum punya akses pendidikan layak. Bukan rekrut 100.000 guru berkualitas dengan gaji Rp40 juta per bulan yang total biayanya hanya Rp50 triliun atau 7% dari anggaran pendidikan yang ada. Bukan perpustakaan desa. Bukan laboratorium sains. Bukan akses internet untuk sekolah-sekolah yang masih mengajar dengan papan tulis kapur. Tapi bioskop. Dan ini logika yang paling sederhana: Dr. Tirta sudah bilang: rakyat yang pintar adalah ancaman bagi penguasa yang tidak kompeten. Karena rakyat yang pintar akan mempertanyakan kebijakan yang tidak ada gunanya. Ahok sudah bilang: kebodohan struktural bukan kebetulan. Ini by design. Tidak ada pemerintah otoriter yang ingin punya warga yang benar-benar cerdas. Mahfud MD sudah bilang: demokrasi tidak akan berhasil sebelum pendapatan per kapita mencapai 5.500 dolar. Rakyat yang masih miskin dan tidak berpendidikan pasti menjual suaranya. Dan sekarang alih-alih memperbaiki pendidikan yang bisa mengubah semua itu DPR mengusulkan membangun bioskop. Rakyat yang tidak pintar tapi punya bioskop jauh lebih mudah dihibur. Jauh lebih mudah dialihkan perhatiannya. Jauh lebih mudah diberi sesuatu yang kelihatan seperti pemberian tanpa benar-benar mengubah kondisinya. Dan ini yang paling menohok: Orang desa yang gajinya Rp2-3 juta per bulan yang harga kedelai dan telurnya sudah naik karena rupiah melemah yang anaknya sekolah dengan guru yang mau resign karena gajinya tidak cukup untuk makan Tidak butuh bioskop. Mereka butuh guru yang digaji layak supaya anaknya tidak tumbuh dengan IQ 78. Mereka butuh sekolah yang layak supaya anaknya bisa bersaing. Mereka butuh sistem pendidikan yang mengajarkan berpikir kritis bukan menghafal untuk ujian. Karena bioskop tidak mengubah nasib. Bioskop hanya menghibur orang yang nasibnya tidak berubah. Dan angkanya bicara sendiri: 1.000 layar bioskop dengan asumsi biaya pembangunan, peralatan, dan operasional bisa menghabiskan ratusan miliar bahkan triliunan rupiah dari APBN. Uang yang sama bisa dipakai untuk: menggaji 25.000 guru berkualitas selama satu tahun penuh. Atau membangun ratusan perpustakaan desa dengan koleksi buku yang memadai. Atau memberikan beasiswa bagi ribuan anak desa yang putus sekolah karena tidak mampu. Tapi yang diusulkan adalah bioskop. DPR bukan Dewan Perwakilan Rakyat. DPR adalah Dewan Penghibur Rakyat. Rakyat tidak dirancang untuk pintar karena rakyat yang pintar tidak bisa dihibur dengan bioskop. Rakyat yang pintar akan tanya: kenapa anggaran pendidikan dipotong tapi ada uang untuk bioskop desa? Kenapa guru digaji Rp1,5 juta tapi ada dana untuk layar sinema? Kenapa stunting masih 21% tapi kita bahas distribusi film nasional? Dan pertanyaan-pertanyaan itu jauh lebih berbahaya bagi mereka yang duduk di kursi DPR daripada rakyat yang diam di depan layar bioskop desa sambil lupa bahwa hidupnya tidak berubah.
Lambe Saham tweet media
Indonesia
889
7.7K
14.9K
651.4K
BOYS!
BOYS!@BOYS_Jakartans·
Di luar sana, selain menyebutkan nama firma disebutkan juga umurnya. Ilmu lagi aja dari aing, biar ga begok. TH udah mengakui kekalahannya, kalian harusnya mengakui juga kategori umurnya biar saling rispek. Tolong admin tubir @X_li64 kasih edukasi ni pada cacingan bloon 😂🫵
BOYS! tweet media
🆘@PRSBMOB

@BOYS_Jakartans Diluar sana, mereka yg turun AF adalah representasi nama firma itu sendiri, rules nya gak ada urusan sama umur dan berat badan begok, lukira pertandingan pro, kalah ya kalah, hrsnya saling ripek. Cacing bloon 😂🫵

Indonesia
332
45
417
174.2K
░U░p░i░k░ retweetledi
Hidup sebagai +62
Hidup sebagai +62@Hidupsebagai62·
Lucunya Negeri +62, 1. PAM = Perusahaan Air Minum... airnya gak bisa diminum 2. MBG = Makan Bergizi Gratis... gak bergizi dan gak gratis 3. IKN = Ibu Kota Negara... statusnya bukan ibukota negara 4. KPK = Komisi Pemberantasan Korupsi... korupsinya malah makin merajalela 5. DPR = Dewan Perwakilan Rakyat... rakyatnya tidak terwakili 6. BPJS Kesehatan = Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan... sehatnya tidak terjamin 7. PLN = Perusahaan Listrik Negara... listriknya sering mati 8. Pajak = katanya untuk rakyat... yang menikmati bukan rakyat 9. KRL = Kereta Rel Listrik... listriknya sering padam, keretanya tetap jalan padat 10. UMP = Upah Minimum Provinsi... minimumnya betul, tapi tidak cukup untuk hidup layak 11. 12. 13. Apa lagi nih+62
Indonesia
158
9.5K
26.8K
479.3K
░U░p░i░k░ retweetledi
Hidup sebagai +62
Hidup sebagai +62@Hidupsebagai62·
Ada sebuah cerita, pasangan muda Gen Z. Suami istri, Gajinya Rp 8 juta. Istrinya Rp 6 juta. Total: Rp 14 juta sebulan. Dua orang kerja. Dua karir. Dua sarjana. Tiap akhir bulan, mereka cek saldo rekening bersama. Bulan ini: minus Rp 340.000. Bulan lalu: minus Rp 820.000. Dua bulan lalu: minus Rp 1,2 juta. "Gaji kita segitu. Kok makin minus?" Sampai suatu malam mereka duduk. Hitung satu per satu. Dan hasilnya, bikin mereka terkejut Mereka tulis semua pengeluaran tetap: Kontrakan: Rp 3.000.000 Listrik + air + internet: Rp 800.000 Cicilan 2 motor: Rp 1.500.000 Makan harian: Rp 2.500.000 Bensin: Rp 600.000 Kebutuhan anak: Rp 1.200.000 BPJS + asuransi: Rp 400.000 Kiriman ke orangtua: Rp 1.000.000 Total: Rp 11.000.000 Sisa: Rp 3.000.000 "Masih ada Rp 3 juta. Harusnya cukup." Tapi bulan ini ada: Kondangan teman kantor +nengok bayi: Rp 600.000 Anak demam + dokter + obat: Rp 450.000 Seragam anak baru: Rp 380.000 Tagihan kartu kredit bulan lalu: Rp 870.000 Service motor: Rp 350.000 "Lain-lain": Rp 700.000 Total tak terduga: Rp 3.350.000 Rp 3.000.000 sisa. Dikurangi Rp 3.350.000. = MINUS Rp 350.000. Dan "lain-lain" itu selalu ada. Setiap bulan. Berbeda wujudnya. Tapi selalu datang. +62 pasangan muda, pada ngerasain jg kah? Source : thread
Indonesia
78
218
1.9K
235.3K
░U░p░i░k░ retweetledi
Kr
Kr@karirfess·
Saya ada cerita seorang bapak. Dia kerja 20 tahun buat biayain anaknya kuliah S1. Lembur. Utang. Sampai jual tanah warisan. Anaknya lulus. IPK bagus. Wisuda lengkap dengan toga. Sekarang anaknya kerja serabutan. Gaji di bawah UMR. Dan si bapak masih senyum bilang, "Mungkin belum rezekinya." Yang bikin saya merenung bukan cerita anaknya. Tapi cerita si bapak. Dia lahir tahun 70-an. Gak tamat SMA pun bisa buka toko, punya rumah, besarin anak dengan layak. Logikanya simpel dan masuk akal: "Dulu gw gak sekolah tinggi aja bisa. Kalau anak gw kuliah, hidupnya pasti jauh lebih baik dari bapaknya." Logika itu benar. Di zamannya. Masalahnya bukan orang tua yang salah didik. Bukan juga anaknya yang kurang usaha. Tapi janji yang mereka pegang sudah kedaluwarsa. Ijazah dulu adalah tiket. Sekarang ijazah adalah syarat minimum. Yang bahkan kadang pun masih belum cukup. Dua hal yang kelihatannya sama, tapi sebetulnya beda jauh. Bayangin ya. Tahun 1995, fresh graduate langsung diperebutkan perusahaan. Sekarang, lowongan entry level minta pengalaman 2 tahun, skill digital, bisa multitasking, dan siap ditempatkan di mana saja. Gajinya? UMR aja belum tentu. Hampir sama kalau dikonversi ke harga waktu itu. Tapi harga rumah, kontrakan, dan beras sudah tidak ikut berdiam di angka yang sama. Generasi 90-an pasti hafal nasihat ini: "Rajin sekolah, biar dapat kerja bagus." "Kuliah dulu, baru enak hidupnya." "Investasi terbaik itu pendidikan." Nasihat itu bukan bohong. Di zamannya, itu benar dan terbukti. Tapi zamannya sudah ganti. Nasihatnya tidak ikut ganti. Dan anak-anak kita tumbuh sambil pegang peta zaman dulu yang sudah tidak cocok sama jalanan yang mereka hadapi sekarang. Saya pernah ngobrol panjang sama seorang teman. Dia cerita, "Bokap gw sampai jual motor buat bayar UKT semester terakhir gw." Saya tanya, "Sekarang kerjanya apa?" "Freelance desain. Kadang ada job, kadang enggak." "Bokap lu tau?" "Tau. Dia bilang sabar, rezeki ada aja. Tapi gw liat matanya... dia bingung." Si bapak bingung bukan karena anaknya gagal. Tapi karena cara yang dulu berhasil sekarang tidak lagi bekerja. Dan dia tidak punya peta baru untuk dikasih ke anaknya. Kalau anakmu masih sekolah atau mau kuliah, jangan cuma pikirin jurusannya. Tapi ajarin juga: 1. Ajarin dia cara kerja uang sejak kecil. 2. Bekali satu skill konkret yang bisa langsung menghasilkan. Sebelum dia lulus dan bingung mau mulai dari mana. 3. Kasih ruang buat gagal kecil sekarang. Biar dia gak gagal besar pertama kali justru di dunia nyata. 4. Jangan cuma bekali ijazah. Bekali juga kemampuan bertahan. Bukan berarti kuliah tidak penting. Tapi kuliah saja sudah tidak cukup. Soalnya begini. Orang tua yang paling menyiapkan anaknya bukan yang paling banyak bayar biaya kuliah. Tapi yang paling jujur bisa ngomong ke anaknya: "Dunia yang kamu masuki berbeda dari dunia yang Ayah dan Ibu kenal. Kita harus cari tau bareng-bareng." Kejujuran itu lebih berharga dari SPP mana pun. Dan seperti biasa, selalu ada dua kubu. Kubu pertama bilang, "Orang tua salah. Harusnya ajarin skill, bukan kejar gelar." Kubu kedua bilang, "Orang tua sudah benar. Anaknya yang kurang mau usaha." Tapi ada kemungkinan ketiga yang jarang ada yang mau nyebut: Dua-duanya sudah berusaha sebaik yang mereka bisa dengan informasi yang mereka punya. Tapi sistemnya yang tidak pernah jujur ke keduanya. Generasi kita mungkin adalah generasi pertama yang hidupnya lebih susah dari orang tuanya. Bukan karena malas. Bukan karena manja. Tapi karena peta yang diajarkan ternyata sudah tidak relevan saat mereka datang. Dan orang tua mereka masih dengan tulus menunjuk ke peta yang didapat dulu.
Indonesia
206
6.9K
19.4K
846.6K
░U░p░i░k░ retweetledi
txt keabsurdan wni
txt keabsurdan wni@txtharihariWNI·
gue mau cerita tentang temen gue. sebut aja dia R. dulu gajinya 7 juta. dan tiap kali kami ngobrol, dia selalu bilang satu kalimat yang sama: "Val, nanti kalau gaji gw udah 15 juta, baru deh gw bisa nabung. Baru deh hidup gw beres." gue dengerin. gue angguk-angguk. gue percaya. tiga tahun kemudian, gajinya beneran naik. bukan 15 juta. 17 juta. gue seneng banget waktu dia kabar. gue pikir sekarang hidupnya udah oke. udah bisa nabung. udah beres kayak yang dia bilang dulu. sampai kemarin dia chat gue. "Val, lo bisa pinjemin 500 ribu nggak? Buat nutup tagihan." gue bengong lama di depan layar HP gue. kita ketemuan. gue tanya pelan: "lah kok bisa?" dia diem sebentar. terus jawab satu kalimat yang sampai sekarang masih muter di kepala gue: "Gaji gw naik. Tapi gaya hidup gw naik lebih kenceng." gue kira dia bercanda. dia buka notes HP-nya dan nunjukkin ke gue. gaji: 17 juta. pengeluaran: kos: 4 juta. makan dan kopi: 3,2 juta. cicilan HP: 1,1 juta. paylater: 2,4 juta. transport: 1,8 juta. langganan aplikasi: 600 ribu. jajan random: 2 juta. transfer keluarga: 1,5 juta. sisa? kadang nol. kadang minus. gue tanya: "paylater 2,4 juta itu buat apa aja?" dia diem bentar. "ya... barang kecil-kecil doang." kaos 89 ribu. sepatu diskon. skincare. makan promo. top up game. barang lucu dari live shopping. checkout karena takut stok habis. satu-satu kelihatannya kecil. tapi pas digabung, jadi satu monster yang nagih tiap bulan. yang bikin gue serem bukan belanjanya. tapi kalimat pembenarnya. "lagi diskon." "mumpung murah." "cuma 30 ribu." "gratis ongkir." "bulan depan juga ketutup." dan dia bilang satu hal yang nusuk banget: "gw bahkan udah nggak bisa bedain lagi. Gw lagi hemat, atau lagi nyari alasan buat keluar duit." terus dia ngomong sesuatu yang bikin gue diam lama banget: "Gw nggak miskin karena nggak punya uang. Gw miskin karena uang gw udah punya tujuan sebelum masuk rekening." tanggal 25 gajian. tanggal 26 autodebet. tanggal 27 bayar cicilan. tanggal 28 bayar paylater. tanggal 29 baru sadar: yang kerja sebulan dia. yang menikmati duluan tagihan. gue tanya: "jadi yang paling bikin nyesel apa?" dia jawab: "Gw pikir gw beli barang. Ternyata gw beli kewajiban." HP baru = cicilan 12 bulan. barang diskon = tagihan bulan depan. makan enak tiap hari = saldo bocor pelan-pelan. kopi harian = lebih dari sejuta sebulan. paylater = gaji masa depan yang udah dipakai hari ini. "Gw kerja buat bayar keputusan gw yang kemarin." coba hitung kasar. kopi 35 ribu x 22 hari kerja = 770 ribu. delivery food dengan selisih ongkir dan markup 25 ribu x 20 kali = 500 ribu. checkout random 75 ribu x 10 kali = 750 ribu. langganan aplikasi yang jarang dibuka = 300 ribu. total: 2,3 juta. itu bukan pengeluaran besar. itu bocor kecil yang pura-pura nggak kelihatan. sekarang temen gue lagi coba bikin aturan sendiri. kalau barangnya diskon tapi nggak ada di rencana, berarti tetap mahal. kalau beli karena capek, tunggu besok. kalau checkout cuma karena takut kehabisan, tutup aplikasi 10 menit dulu. kalau cicilan bikin gaji bulan depan terasa sempit, jangan ambil. dan satu pertanyaan yang dia tempel di layar HP-nya sekarang sebelum checkout apapun: "Gw butuh ini, atau gw cuma pengin ngerasa hidup gw naik kelas?" dari cerita dia, gue jadi mikir. mungkin masalah banyak orang bukan nggak bisa cari uang. tapi nggak pernah diajarin cara mempertahankan uang. dari kecil kita diajarin: belajar biar kerja, kerja biar punya uang, punya uang biar bisa beli ini itu. tapi jarang diajarin: kalau uang udah masuk, jangan langsung dikasih jalan keluar semua. ini bukan soal hidup pelit. beli kopi boleh. checkout promo boleh. reward diri boleh. tapi jangan sampai tiap reward kecil numpuk jadi hukuman besar di akhir bulan. coba jujur ke diri sendiri: pengeluaran kecil apa yang paling sering bikin saldo lo bocor? kopi? makan online? paylater? top up? checkout live? atau "cuma 50 ribu" yang kejadian 20 kali?
Indonesia
288
4.2K
14.6K
621.9K
░U░p░i░k░ retweetledi
Pak Win #GrowWin
Pak Win #GrowWin@AsahPolaPikir·
3 tipe sandwich generation: - lahir di keluarga miskin, dari kecil memang orang tua juga hidupnya uda susah, uang ga pernah cukup - lahir di keluarga kaya yang jadi miskin, jadi pas kecilnya hidupnya sangat enak, lalu tiba2 pas dewasa keluarga jatuh miskin - lahir di keluarga serba cukup tapi lupa dana pensiun, pas orang tua stop kerja langsung butuh topangan anak
Indonesia
33
172
1.4K
111.9K
GREEN NORD 27
GREEN NORD 27@Green_Nord27·
Magis Gelora Bung Tomo seakan hilang. Tim tamu nyaman bermain di stadion ini Datang tanpa tekan dan menang. Hai manajemen @persebayaupdate kalian yg hrs bertanggung jawab dng kondisi saat ini! Suporter seakan dibungkan oleh kekuasan mu! Kalah dng tim papan bawah itu memalukan!
Indonesia
263
67
414
44.5K
LiBoy64
LiBoy64@X_li64·
KECELAKAAN NAAS ‼️ Peristiwa terjadi ketika rombongan bonek diduga mendapatkn sweeping dri rombongan tak di kenal. dlm upaya membela diri dri serangan, salahsatu suporter bermaksut melempar bondet (Bom ikan) ke kerumunan OTK, namun Bondet tersebut meledak lebih dulu di dalam bus
LiBoy64 tweet media
Indonesia
144
107
309
35.3K
Hanif | AI For Productivity
Hanif | AI For Productivity@hanifproduktif·
1 foto di iPhone = makan size 5 MB. 1 video 1 menit = 200 MB. Live Photo? Tambah gede lagi. Lo foto anak, foto makanan, foto parkir mobil, tau-tau storage penuh. Solusi dari Apple? "Upgrade iCloud Rp45rb/bulan." Gak perlu. Gue bersihin 38GB foto tanpa hapus satu pun memori penting. Gini caranya:
Indonesia
11
161
792
77.7K
HotCauldron
HotCauldron@CauldronStew·
@empty__core Ngomongin omset mah enak, ngomongin tuh laba. Omset 10 jt, kalo laba per bulan cm 500 rb ngapain
Indonesia
5
0
23
11.8K
Mbak kun
Mbak kun@empty__core·
produksi segitu banyak hanya untuk 1 gerobak, bisa ngebayangin kan berapa omset hariannya kalau bisa kejual semua
Indonesia
236
936
12.3K
3M
░U░p░i░k░ retweetledi
akun hewan | tapi bukan
akun hewan | tapi bukan@akunhewan·
diantara semua jenis plastik, yg paling tidak ramah adalah sterofoam. sterofoam hanya 1x pakai dan sulit dimusnahkan: ga bisa didaurulang, kalo dibakar banyak polusi-nya, dan butuh waktu sejuta tahun untuk terurai alami. kita kurang-kurangi deh pake ini, please. 🙏😢😢
akun hewan | tapi bukan tweet media
lantip@lantip

ada masanya, plastik dianggap lebih ramah lingkungan, dan praktik begini dianggap merusak alam. kita selalu kalah dalam kampanye begini, hingga satu saat tersadar, nenek moyang kita ternyata benar.

Indonesia
87
1.2K
4.6K
2.7M
bej
bej@bejam1n_·
why are there zero universities in this red circle???
bej tweet media
English
141
461
30.3K
4.8M
░U░p░i░k░ retweetledi
Ganta Semendawai
Ganta Semendawai@rgantas·
Plis Wo berhenti menyembah komoditas. Kita sudah tahu polanya. Setiap komoditas yang dipuja akan segera diberi julukan bombastis dan dari sanalah kegilaannya. -Tebu disebut Emas Putih, tanah Jawa dieksploitasi habis. -Tembakau jadi Daun Emas, siklus perbudakan di Deli dimulai ulang. -Pala dipuja sebagai Buah Emas dari Timur, dan proyek genosida JP Coen pun dimulai. Ujungnya selalu sama: nilai komoditas dianggap lebih berharga daripada nilai manusia. Commodities before people
tempo.co@tempodotco

Prabowo: Kelapa Sawit Itu 'Miracle Crop', Tapi Ada Kelompok yang Nyinyir

Indonesia
67
5.8K
17.3K
452K
Jawafess
Jawafess@jawafess·
Mbien mbien saiki saiki
Jawafess tweet media
Suomi
61
56
1.5K
139K