utomoADI retweetledi
utomoADI
38.6K posts

utomoADI
@UtomoAdi23
♥️﷽♥️ Tunjukilah Kami Jalan Yang Lurus #GakFollowPorno
Katılım Mayıs 2020
10K Takip Edilen11.8K Takipçiler
utomoADI retweetledi

PERHATIKAN INI
Semuanya menuju ke angka 10.
Dan ada apa di balik angka 10?
Allahu Akbar !
#Bagongiyah
Indonesia
utomoADI retweetledi

“Nak, kamu beneran mau ke Old Trafford aja? Ini besok kita diundang Barcelona buat ke Camp Nou”
“Gak peduli, aku maunya United.”
Itu dia jawaban Ayden Heaven ke ibu sekaligus agennya sendiri, Lisa, suatu pagi di Januari 2025.
Ayden yang ngedukung Arsenal dari kecil & udah 6 tahun di akademi “The Gunners” lagi jadi hot prospect waktu itu.
Sebetulnya waktu itu tuh dia masih berat buat ninggalin Arsenal. Ya gimana, ini klub yang ngasih pemahaman taktik, dan shape dia pindah posisi dari LW ke CM & CB, jadi makin berkembang.
Ayden juga udah ketemu petinggi Eintracht Frankfurt di Jerman & ditawarin gaji tinggi, tapi tetep aja ga goyang.
Nah abis itu, Ayden dapet undangan dari United & Barca buat stadium tour sekalian nego transfer. Di sini lah Heaven goyang. Dia langsung milih United, tanpa mikirin tawaran dari Barca.
Kenapa? Alasannya simple, Heaven cuma ngikutin kata hati dia. Tur ke Old Trafford itu ibarat formalitas aja, karena sblm berangkat pun dia udah fix kesemsem United.
Begitu sampe OT, banner “Manchester Is My Heaven” cukup buat bikin dia merinding. Abis itu dia langsung nyerahin urusan kontrak ke ibunya buat gabung, dan milih nomor punggung 26 as tribute ke jumlah tahun Sir Alex ngelatih United.
Cuma £1,5juta doang uang yang dikeluarin United buat datengin CB 18 tahun yang mainnya udah kayak bek PL-proven.
Even seorang Bruno Fernandes bilang kalo Ayden itu pemain unik. Di luar lapangan dia cengengesan & hobi bercanda, tapi pas di atas lapangan ini orang yg beda. Serius, komit, dan mainnya udah kayak bapak-bapak berpengalaman.
Michael Jackson was wrong. Heaven can’t wait. He can’t wait to be a United superstar.



Indonesia
utomoADI retweetledi

Pesan Rasulullah saw ketika hendak tidur
1. Jangan tidur sebelum mengkhatamkan Al-Qur'an
Caranya: Bacalah Surat Al-Ikhlas 3x. (HR. Imam Bukhari dan Muslim dari Abu Said Al-Khudri RA)
2. Jangan tidur sebelum mendapatkan syafaat Nabi SAW
Caranya: bershalawatlah 3x sebelum tidur. (HR. Imam Tirmidzi dari Abu Darda' RA)
3. Jangan tidur sebelum semua muslim ridho kepadamu
Caranya: beristighfar 3x. Dan berusaha untuk melakukan kebaikan dan memperlakukan mereka dengan baik.
4. Jangan tidur sebelum melaksanakan haji dan umrah
Caranya: Berdzikirlah subhanallah walhamdulillah walaa ilaaha illallahu wallahu Akbar 3x. (HR. Abu Hurairah RA)
Indonesia
utomoADI retweetledi
utomoADI retweetledi
utomoADI retweetledi

Cek storage Mac lo sekarang.
Liat yang warna abu-abu bertulisan "System Data" atau "Other."
Gede gak? 50GB? 100GB? Lebih?
Lo gak sendirian. Apple gak kasih cara gampang buat bersihin ini. Mereka lebih seneng lo beli iCloud atau upgrade Mac.
Gue bersihin Macbook 256GB yang "penuh." Dapet 87GB balik.
Gini caranya:
Indonesia
utomoADI retweetledi
utomoADI retweetledi
utomoADI retweetledi

Schweinsteiger bukan legend MU dalam arti sesungguhnya.
Waktunya di Old Trafford memang relatif singkat, kontribusinya terhadap klub jelas gak sebanding sama Scholes, Neville, atau Roy Keane.
Tapi justru itu yang bikin gue makin respect sama dia. Karena bertahun-tahun setelah ninggalin klub, dia masih konsisten nonton. Selfie sama layar TV, dengan match MU di belakangnya. Dia bener-bener nunjukkin kecintaannya terhadap klub ini, sesuatu yang bahkan ga dia lakukan ke Bayern sebagai klub yang membesarkan namanya dan meraih banyak trofi bersama mereka. Dan gue cukup yakin bahwa itu semua genuine dan bukan cuma konten.
Dia bener-bener gak ada drama. Gak ada nyinyiran di depan kamera. Cuma seorang fans, yang kebetulan pernah main buat klub ini.
Setelah masa pensiunnya, gue justru lebih respect terhadap Schweinsteiger dibanding Legend-Legend MU yang tiap pekan rajin muncul di TV buat nyalah-nyalahin klub yang dulu mereka bela.
#utdfocusid

Bastian Schweinsteiger@BSchweinsteiger
DNA 💪🏼 @ManUtd
Indonesia

@poolenbear @theflankerID Vs newcastle Kerah blazernya tumben ga naik
Indonesia
utomoADI retweetledi

He loves this club, man.. 🥹❤️ x.com/MediaPLL9/stat…
English

Tumben Kerah jas blazer Carrick ga Cantona style.. Kejadian
United Focus Indonesia@utdfocusid
Jadi, sampai di sini kah fase honeymoon kita bersama Michael Carrick? 😔
Indonesia
utomoADI retweetledi
utomoADI retweetledi
utomoADI retweetledi
utomoADI retweetledi
utomoADI retweetledi
utomoADI retweetledi
utomoADI retweetledi

1/2 😭 Aku pengemudi taksi online. Biasa ambil shift malam. Minggu lalu, sekitar pukul 11 malam, aku menjemput seorang pria tua. Ia masuk ke mobil dan berkata, “Jangan lihat tujuan di aplikasi. Tolong antar saya ke lima tempat malam ini. Saya bayar 1 juta rupiah. Tunai. Tapi kamu jangan tanya2 kenapa, sampai semuanya selesai.”
Ia menyerahkan lima alamat.
Tempat pertama: sebuah rumah di pinggiran kota. Ia tidak turun. Hanya duduk di mobil, menatap rumah itu sekitar sepuluh menit. Air matanya mengalir diam2. “Baik. Ke tempat berikutnya.” Aku pun mengemudi.
Tempat kedua: sebuah sekolah SD. Gelap. Sepi. Ia turun, berjalan ke taman bermain, duduk di ayunan. Dua puluh menit di sana. Kembali ke mobil dan berkata pelan, “Saya mengajar di sini. 43 tahun. Kenangan terindah dalam hidup saya.”
Tempat ketiga: sebuah kafe tua. Ia masuk, memesan kopi, duduk sendirian di pojok. Kopi tdk diminum. Hanya duduk dan memandangi ruangan. Lima belas menit. Saat kembali ia berkata, “Saya dan istri saya kencan pertama di sini. Tahun 1967.”
Tempat keempat: pemakaman. Ia berjalan ke sebuah nisan. Berdiri di sana. Berbicara pelan—saya tak bisa mendengar. Tiga puluh menit. Saat kembali, matanya merah. “Istri saya. Hari ini tepat tiga tahun.”
Tempat kelima: rumah sakit. Ia minta aku parkir dan menunggu. “Ini yg terakhir.” Ia menatap aku. Tetap duduk di mobil.
“Sekarang saya akan beri tahu alasannya. Saya kanker stadium empat. Mungkin tinggal hitungan minggu atau hari. Malam ini saya ingin melihat seluruh hidup saya sekali lagi. Sebelum saya tak bisa lagi.” Aku langsung menangis diam2 di kursi pengemudi.
“Rumah tadi—itu tempat saya membesarkan anak-anak.
Sekolah—tempat saya menemukan tujuan hidup.
Kafe tadi—itu tempat saya jatuh cinta.
Pemakaman—tempat saya mengucap selamat tinggal.
Dan di sini… rumah sakit. Malam ini saya akan masuk. Lantai perawatan pasien terminal yang tunggu akhir. Saya tidak akan pulang lagi.”
Ia menyerahkan uang 1 juta rupiah. “Terima kasih sudah mengantar saya melewati hidup saya. Kamu orang tak dikenal yg berbuat baik pada saya. Saya ingin malam ini terasa hangat. Kamu membuatnya hangat.”
Aku menolak. “Saya tdk bisa menerima ini.” Ia bersikeras. “Tolong. Tidak ada yg bisa saya warisi. Anak saya sudah lama tdk bicara dengan saya. Teman sudah tak ada. Kamu memberi saya tiga jam kebaikan. Itu lebih berharga dari 1 juta rupiah.”
Ia turun. Mengambil koper kecilnya. Lalu berbalik. “Siapa namamu?” “Mariono.” “Terima kasih, ya. Kamu memberi pengalaman baik terakhir dalam hidup saya.” Ia berjalan masuk ke rumah sakit. Aku duduk terhenyak di mobil. Terisak. Hampir satu jam.
Keesokan harinya aku kembali. Menanyakan namanya. “Pak Sudarsono. Kamar 412.” Aku membawa kue sedikit. Mengetuk pintu. Ia tersenyum ketika melihat aku.
“Mariono. Kamu kembali.”
“Saya tidak bisa membiarkannya begitu saja. Apa Bapak baik-baik saja?”
“Sekarat. Tapi tadi malam saya sempat melihat hidup saya sekali lagi. Jadi ya… saya baik-baik saja.”
Kami berbicara dua jam. Tentang istrinya. Murid-muridnya. Tentang hidup yg telah ia jalani. Anak yang tidak mau menemuinya lagi; "Saya terlalu keras, katanya." Aku datang setiap hari selama dua minggu. Membawakan kopi. Membacakan berita. Kadang hanya duduk diam. Ia menceritakan segalanya—penyesalan, sukacita, momen yang ingin ia ulang.
“Saya pikir saya akan mati sendirian,” katanya suatu hari.
“Tapi kamu di sini. Orang asing yang jadi keluarga di hari-hari terakhir saya. Itu anugerah.”
Aku menggenggam tangannya.
“Bapak tidak akan mati sendirian. Tidak lagi.”
Ia menangis.
“Terima kasih sudah melihat saya. Saat saya tak terlihat.”
Pak Sudarsono meninggal pada hari Selasa, pukul 03.17 pagi. Aku ada di sana. Menggenggam tangannya. Kata-kata terakhirnya:
“Sampaikan pada orang-orang. Lihatlah orang yang tidak kamu kenal. Sungguh-sungguh lihat. Semua orang sedang menuju akhir. Ada yang lebih cepat. Ada yg lebih lambat. Bersikaplah baik sepanjang jalan. Kamu baik. Kamu memberi kehangatan di hari-hari terakhir saya.”😭
Indonesia















