Vera Yunita

6.4K posts

Vera Yunita banner
Vera Yunita

Vera Yunita

@Vera_Y

Jakarta Katılım Ağustos 2009
1.5K Takip Edilen1.2K Takipçiler
Vera Yunita retweetledi
Culesian
Culesian@siklopgoldlen·
Biadab.. !! 😡😡😡 Dari kemarin gak viral2 ini kasusnya!! Bantu UP gaesshh.. !! Sampe pelaku di hukum seberat2nya! Seorang siswi sekolah dasar (SDN) berinisial AKS (12), yang diduga menjadi korban pencabulan oleh oknum TNI di wilayah Kodim 1417/Kendari, Sertu Majid Bone, dilaporkan mengalami depresi. Korban cenderung mengurung diri di dalam kamar, kerap melukai tubuhnya dengan cara mencakar, serta sering menangis histeris karena ketakutan. Tante korban berinisial VN mengungkapkan bahwa korban sebelumnya tinggal bersama keluarga di perumahan milik terduga pelaku di Kecamatan Ranomeeto, Kabupaten Konawe Selatan (Konsel). Namun, sejak kasus ini mencuat, keluarga memutuskan pindah dan kini tinggal di rumah nenek korban di Kota Kendari. Selama berada di rumah neneknya, korban disebut enggan keluar rumah dan lebih banyak menghabiskan waktu di dalam kamar. Saat bersama keluarga, korban cenderung diam dan tidak ingin bercerita. VN menuturkan, kondisi korban justru memburuk saat berada sendirian. Korban kerap menangis histeris, menunjukkan rasa takut berlebihan, bahkan melukai tubuhnya sendiri hingga menimbulkan luka. “Kondisi korban semakin memprihatinkan karena mengalami depresi berat. Ia sering mencakar tubuhnya dan menangis histeris karena ketakutan,” ujar VN, Minggu (3/5/2026). Baca selengkapnya di kisahan.id
Indonesia
547
15.6K
28.8K
968K
Vera Yunita retweetledi
Ardianto Satriawan
Ardianto Satriawan@ardisatriawan·
"Pak TU Kampus" "Iya gimana?" "Ini kok saya dapet UKT tertinggi? Penghasilan Orang Tua saya gak segede itu?" "Coba saya cek, kasih nama sama NIM?" "Debi Pak, ini NIM saya." "..." "Ini ibu kamu PNS? Dosen?" "Iya, cuma Ibu saya lagi tugas belajar, cuma terima gaji pokok doang, UMR juga gak sampai. Bapak juga udah gak ada." "Waduh, kalau PNS emang biasanya UKT tertinggi, memang gitu aturannya di kampus ini." "Hah? Terus gimana Pak?" "Coba kamu apply KIPK. Ini dicek ya syaratnya." *** "Bu Dinas Sosial." "Iya gimana?" "Saya mau cek orang tua saya di desil berapa di DTSEN, saya mau daftar KIPK." "Minta NIK orang tua ya." "Ini Bu, tolong dicek" "Sebentar ya" "..." "Ini ibu kamu PNS? Dosen?" "Iya, cuma Ibu saya lagi tugas belajar, cuma terima gaji pokok doang, UMR juga gak sampai. Bapak juga udah gak ada." "Waduh, kalau PNS pasti kehapus dari DTSEN. Dari jaman DTKS juga rutin diapus. Perintah menteri sosial. Memang aturannya gitu." "Hah? Terus gimana Bu?" "Coba kamu pakai surat keterangan tidak mampu atau slip gaji ortu buat daftar KIPK." *** "Pak Lurah, saya mau minta SKTM buat daftar KIPK" "Kamu bukannya Debi, anaknya Bu Lala, dosen di kampus itu?" "Iya Pak" "Lah, penghasilannya bukannya lumayan?" "Iya, cuma Ibu saya lagi tugas belajar, cuma terima gaji pokok doang, UMR juga gak sampai. Bapak juga udah gak ada." "Bentar saya cek dulu aturannya, Ibu PNS kan ya?" "Iya Pak" "Saya kemarin dapet instruksi dari Pemda sini, katanya kalau PNS gak boleh dapet SKTM. Jadi saya gak berani keluarin." "Hah? Terus gimana Pak?" "Coba langsung pakai slip gaji Ibu ke Dikbud." *** "Bu Dikbud." "Iya gimana?" "Saya mau daftar KIPK, cuma data ortu saya gak ada di DTSEN sama Pak Lurah gak bisa ngeluarin SKTM. Jadi pakai slip gaji." "Sebentar saya cek ya." "Ini slip gaji ibu kamu? PNS? Dosen?" "Iya, cuma Ibu saya lagi tugas belajar, cuma terima gaji pokok doang, UMR juga gak sampai. Bapak juga udah gak ada." "Waduh, kalau PNS emang gak bisa daftar KIPK. Kemarin pejabat tim teknis KIPK udah bilang kalau PNS gak boleh sama sekali." "Sama sekali Bu? Gaji Ibu saya cuma segini?" "Iya. Bahkan Golongan I juga gak boleh. Memang aturannya begitu." "Hah? Terus gimana Bu?" "Coba ke bank aja sama Ibu, siapa tahu bisa ada pinjaman" *** "Bu CS Bank" "Iya gimana?" "Saya mau ajukan pinjaman buat bayar UKT anak saya" "Baik Bu, saya cek dulu" "..." "Bu Lala, setelah kita cek penghasilan dan riwayat finansial, kita gak bisa kasih pinjaman." "Kenapa Bu?" "Mohon maaf Pak, resiko gagal bayarnya tinggi. Saya gak berani Bu, nanti saya yang kena." "Waduh, terus gimana ini Bu?" *** "Pak TU kampus, saya gak bisa dapet KIPK Pak" "Udah coba pinjam bank?" "Gak bisa Pak, penghasilan Ibu saya gak cukup." "Coba ini, perusahaan fintech yang kerjasama sama kampus" *** "Mas fintech, kalau saya pinjam 12.5 juta buat UKT, saya mesti nyicil berapa?" "Sekitar 1.3 juta per bulan selama setahun" "Wah jatuhnya 15.5 juta dong? Bunganya 3 juta sendiri?" "Iya Mbak" "Waduh, itu segede biaya hidup saya euy. Gak mampu bayarnya" "Memang aturannya segitu pinjaman kita." *** "Pak TU Kampus" "Iya gimana?" "Misalkan saya mau nunda kuliah jadi tahun depan, buat ngumpulin duit dulu, bisa gak?" "Jadi gak daftar ulang pertama?" "Iya." "Gak bisa, kalau udah lulus ujian tahun ini, kamu diblacklist dari ikut ujian lagi tahun depan." "Hah?"
Indonesia
480
5.9K
26.7K
1.1M
Vera Yunita retweetledi
luta
luta@kkooobe·
tlong ya tementemen sbisa mungkin kalo misal order makanan/anything minta dianterin ke tmpat dipantau aplikasinya berkala, klo drivernya udh deket siap2lah buat ambil. atau kabarin aja kalo memang gabisa ambil biar drivernya bisa taruh mkanannya, jangan dibuat nunggu lama.
luta tweet media
Indonesia
1.6K
21.1K
95.1K
2.8M
Vera Yunita retweetledi
MO
MO@Abu_Salah9·
One of the most brutal scenes in human history has been exposed. Israeli soldiers opened fire on thousands of starving Gazans as they ran in desperation for a piece of food during the war on Gaza. A moment the world must never forget.
English
675
25K
45.7K
826.6K
Vera Yunita retweetledi
logika sederhana
logika sederhana@nalar_logis·
Sertifikat tanah diduga palsu => datang ke Badan Pertanahan (BPN) utk pengecekan keaslian SIM diduga palsu => datang ke Samsat/ Kepolisian untuk pengecekan keaslian KTP diduga paslu => datang ke Kelurahan atau Dukcapil untuk pengecekan keaslian Surat Nikah diduga palsu => datang ke KUA untuk pengecekan keaslian Akta Cerai diduga palsu => datang ke kantor Pengadilan Agama untuk pengecekan keaslian Ijazah diduga palsu => datang ke Lembaga Pendidikan (SD, SMP, SMA, Kampus) yang menerbitkan ijazah tsb untuk pengecekan keaslian Tidak ada yg mengecek keaslian dokumen dengan menerawang kertas nya dibawah matahari
Indonesia
6
10
76
43.8K
Vera Yunita retweetledi
#AyoMoveOn2024
#AyoMoveOn2024@Fahrihamzah·
Bagi yg gak bisa tidur. 🙏😁
Indonesia
628
197
724
112.2K
Vera Yunita retweetledi
Joko Widodo
Joko Widodo@jokowi·
Kasih ibu terus hidup, dari keluarga ke masyarakat, dari satu generasi ke generasi berikutnya. Terima kasih atas peran besar seluruh ibu dalam kehidupan kita. Selamat Hari Ibu
Indonesia
185
160
1K
84.9K
Vera Yunita retweetledi
Bimo Kusumo
Bimo Kusumo@Bimo_KY·
Jangan iri sama yang benar-benar niat membantu 🤝
Indonesia
3
38
138
2.9K
Vera Yunita retweetledi
muchlis a rofik
muchlis a rofik@muchlis_ar·
Kasus Terra Drone, 22 karyawan tewas. Kasus Ponpes Sidoarjo, 67 anak2 tewas. Dua2nya kasus kelalaian. Bos Terra Drone ditangkap, jadi tersangka. Bos Pesantren dapet MILYARAN dana APBN. ~ini pelajaran baru: agama jadi kasta.
Indonesia
343
12.5K
27.5K
625.8K
Vera Yunita retweetledi
Anggun Official
Anggun Official@Anggun_Cipta·
Late night “Heart-Shaped Box” #Nirvana
English
58
299
1.1K
41.6K
Vera Yunita retweetledi
Raja Juli Antoni, MA., Ph.D.
Raja Juli Antoni, MA., Ph.D.@RajaJuliAntoni·
medanjuang.com/2025/10/12/bel… Belajar dari Gibran Politik bukan soal kalah menang di panggung debat, tapi soal bagaimana orang mau bergabung dengan kita, bahkan lawan sekali pun. Itulah yang diperlihatkan Gibran. Hadirnya Gibran membawa wajah baru dalam perpolitikan kita. Ia politisi muda, bukan bagian dari generasi boomers yang suka gontok-gontokan di mimbar, yang sudah merasa bangga ketika mengalahkan lawan dalam debat. Gibran memperlihatkan kualitas yang lain. Gibran menunjukkan kualitasnya sebagai politisi dengan filosofi “Ngluruk tanpo bolo, menang tanpa ngasorake”(Mengalahkan lawan tanpa keroyokan dan merendahkan).
Indonesia
270
33
138
27K
Vera Yunita retweetledi
recca a
recca a@rrkhamrthaa·
When technology changes lives🥹❤️‍🩹
English
932
9.7K
82.9K
616.6K
Vera Yunita retweetledi
Vera Yunita retweetledi
Hasyim Muhammad
Hasyim Muhammad@hasyimmah·
"Pola Pikir 2 Kutub" Media sosial sekarang dipenuhi orang yang berpola pikir hitam putih. Kalau sudah memuji A, berarti harus benci B. Kalau sudah memuji B, berarti harus benci A. Kenapa harus sesempit itu cara berpikir kita? Misalnya, ada orang yang dukung Jokowi, selalu membenarkan segala hal terkait Jokowi. Seakan tak ada kesalahan dari Jokowi. Begitu juga orang yang dari dulu tidak suka Jokowi, maka segala hal tentang Jokowi selalu disalahkan. Seakan tak ada sedikitpun kebenaran yang ada dalam diri Jokowi. Pola pikir 2 kutub atau polarisasi ini juga menjangkit kepada orang yang berpindah kubu. Lihat saja bagaimana ex-pendukung Jokowi yang "menyeberang", seketika menjadikan segala hal terkait Jokowi adalah: SALAH. Segala hal yang dulu dia puja-puji tiba-tiba sirna. Orang seperti itu biasanya, saat dulu memuji berlebihan, dan sekarang saat menghina, juga berlebihan. Pertanyaanya, kenapa harus seperti itu? Haruskah segala hal dipandang dengan persepsi hitam putih? Tidakkah kita menyadari bahwa ada ratusan warna abu-abu di antara hitam dan putih? Saya pribadi berusaha menghindari pengkultusan maupun kebencian yang berlebihan. Saya 2 kali memilih Jokowi. Sampai sekarang saya tidak menyesali itu. Lalu apakah berarti saya mendukung semua keputusan Jokowi? Lalu apakah berarti saya memuji semua kondisi negara di bawah kepemimpinan Jokowi? Jawabannya: TIDAK. Saya tidak asal bicara, jejak digital tulisan saya, khususnya di X (Twitter) cukup jelas. Saya selalu berusaha untuk obyektif. Contohnya: saat Gibran dicalonkan jadi cawapres, ssya menyatakan tidak setuju sejak awal. Dan itu saya buktikan dengan tidak memilih 02. Namun apakah pilihan saya di Pilpres menjadikan segala hal tentang Jokowi kemudian jadi saya benci? Tentu tidak juga. Coba kita jawab, kenapa jika mendukung Jokowi, harus memilih Gibran? Atau, kenapa jika tak memilih Gibran harus benci Jokowi? Dan tulisan ini bukan hanya tentang Jokowi. Kita juga berlaku sama ke Anies Baswedan, ke Prabowo, ke Ganjar, atau siapapun. Tak ada yang namanya hitam putih dalam pandangan pokitik. Anda harus tahu, kita boleh berdiri di antara hitam dan putih. Bahkan Anda dan saya bisa saja berdiri di titik abu-abu yang berbeda. Sama-sama di wilayah abu-abu tapi beda posisi, itu bida juga. Kita tak harus berada di titik hitam ataupun titik putih. Jika kita berhasil berdiri di area abu-abu, otomatis kita akan menghindari pemakaian kata untuk olok-olok seperti kadrun, cebong, kampret, termul, dan sejenisnya. Dengan berdiri di area abu-abu ini, kita tidak terjebak untuk fanatik atau mengultuskan tokoh politik tertentu. Dan dengan tidak fanatik, kita bisa menjalankan doa yang selalu kita panjatkan yaitu agar kita: mengatakan yang benar itu benar, dan mengatakan yang salah itu salah. Mojokerto, 2 Oktober 2025 Hasyim Muhammad
Indonesia
9
9
47
11.1K
Vera Yunita
Vera Yunita@Vera_Y·
@Bimo_KY Dengar dongengnya dgn mata tertutup sambil membayangkan siput kecil berlari. Serasa kembali ke zaman sandiwara radio 😊
Indonesia
0
0
0
50
Vera Yunita retweetledi
Bimo Kusumo
Bimo Kusumo@Bimo_KY·
Dongeng baru sudah tayang, selamat mendengarkan 😊
Indonesia
3
60
292
4.1K