XopWibu

33.1K posts

XopWibu banner
XopWibu

XopWibu

@XOPwibu

World Wide Weeb Katılım Mayıs 2010
2.3K Takip Edilen291 Takipçiler
Sabitlenmiş Tweet
XopWibu
XopWibu@XOPwibu·
佐倉綾音さん誕生日おめでとうございます!!! 今年もがんばってください このイラストどうか佐倉綾音さんに伝えたい届けたい #佐倉綾音誕生祭 #佐倉綾音誕生祭2019 #あやねる誕生祭 #あやねる誕生祭2019 #1月29日は佐倉綾音の誕生日 #あやねる好きはRT
XopWibu tweet mediaXopWibu tweet media
日本語
1
114
340
0
XopWibu retweetledi
Alin
Alin@all_in_alin·
WE REACHED IT!!!! 17.845!!!!!! TUJUH BELAS AGUSTUS TAHUN EMPAT LIMAAA, ITULAH HARI KEMERDEKAAN KITAAAA 🦅🦅🦅🇮🇩🇮🇩🇮🇩🔥🔥🔥🔥
Alin tweet media
Indonesia
1.3K
51.5K
114.8K
1.7M
XopWibu retweetledi
桐月レイカ🍮
桐月レイカ🍮@reikakrzk__·
姫崎さん、寒くないですか
桐月レイカ🍮 tweet media
日本語
10
1.6K
13.3K
134.2K
XopWibu
XopWibu@XOPwibu·
@ARSIPAJA Mana? Sodara gua yang tani aja pada ngeluh
Indonesia
0
0
0
19
XopWibu retweetledi
Hani ౨ৎ
Hani ౨ৎ@HANIlz_·
🧜🏻‍♀️🫧
Hani ౨ৎ tweet media
QME
3
288
1.7K
22.7K
XopWibu
XopWibu@XOPwibu·
@txtkarir Mantau komentar netizen sebelum mengerjakan tugas sampingan sebagai buzzer program
Indonesia
0
0
0
458
Txt
Txt@txtkarir·
tebak.. lagi ngerjain apa di laptop? yg paling kocak ada hadiahnya😌😅🫵
Txt tweet media
Indonesia
16
0
22
12.3K
XopWibu
XopWibu@XOPwibu·
@rsngprad Gak males aja banyak yang gak jadi apa apa. Kurang kurangin lah asumsi orang lain itu pada males
Indonesia
0
0
1
79
RisangP
RisangP@rsngprad·
Kalo ga males, kira-kira kalian udah jadi apa sekarang?
Indonesia
292
21
190
45K
XopWibu
XopWibu@XOPwibu·
@txtdarigenz97 Coba itu di mana 5 juta tekanan kerja biasa aja? Emang sekarang masih ada?
Indonesia
0
0
0
31
Si Paling Gen Z
Si Paling Gen Z@txtdarigenz97·
Jawab jujur ya kalau dikasih pilihan, kalian bakal pilih mana? 1. Gaji 10 juta tapi tekanan kerja tinggi 2. Gaji 5 juta tapi tekanan kerja biasa aja
Indonesia
158
3
192
76.7K
XopWibu retweetledi
Si Juki
Si Juki@JukiHoki·
Pada taukan meningkatnya kriminalitas itu tandanya ekonomi lagi goyah. Makin susah orang cari makan maka segala cara dilakuin.
Indonesia
42
286
872
14.5K
XopWibu retweetledi
Dosen Pembimbing
Dosen Pembimbing@Dospemz·
Inilah yang disebut kejahatan struktural. Ketika negara membiarkan rakyat tetap miskin agar bergantung pada program dasar, ketergantungan itu kemudian dipakai untuk menekan mereka sendiri. Rakyat dibuat tidak berdaya, sementara yang mampu berpikir kritis diintimidasi agar tidak membangun kesadaran dan tidak membongkar cara kerja sistem yang selama ini menindas mereka.
Sumatera Adil & Federal@indepenSumatera

Makin kencang buzerp pemerintahan di apk sebelah🤡

Indonesia
73
5.9K
11K
160.2K
XopWibu retweetledi
ラプラス・ダークネス🛸💜
🛸最高の誕生日💜 なんと、吾輩の生誕ライブ配信のゲストに… 初星学園から3年生の姫崎莉波さんが来てくれました‼️ 最高のパフォーマンスを見れて吾輩感激…… 最高の誕生日プレゼントですᐡ т · т ᐡ #ラプさま大解放2026
ラプラス・ダークネス🛸💜 tweet media
日本語
1.3K
18.1K
95.2K
21.9M
XopWibu retweetledi
ファミ通.com
ファミ通.com@famitsu·
ラプラス・ダークネス生誕祭ライブに『学マス』姫崎莉波が登場。『36℃U・B・U』『clumsy trick』を披露【ホロライブ】 famitsu.com/article/202605… 超超超豪華ゲストとしてパフォーマンス。誕生日のご本人はまさかの歌わず、特等席で「はみだして♡」うちわとともに担当を応援。 #ラプさま大解放2026
ファミ通.com tweet mediaファミ通.com tweet mediaファミ通.com tweet mediaファミ通.com tweet media
日本語
409
5.1K
19.5K
17.8M
XopWibu retweetledi
Rido
Rido@ridoarbain·
Ada yang masih ingatkah berita viral tahun lalu, saat akun Instagram SMK PGRI Lubuklinggau mencuri perhatian publik setelah mengunggah ucapan selamat untuk dua alumninya yang diterima bekerja di minimarket? Respons publik terhadap unggahan tersebut cukup beragam; meski banyak yang memuji sikap sekolah, ada pula yang justru meremehkan karena menganggap profesi (kasir) karyawan minimarket bukan termasuk karier impian yang cukup layak untuk diapresiasi seperti halnya ASN, TNI, Polri, dll.. Pandangan sinis semacam itu sebetulnya persis apa yang dialami oleh tokoh bernama Keiko Furukara dalam novel CONVENIENCE STORE WOMAN (GADIS MINIMARKET) karya Sayaka Murata. Keiko adalah sosok wanita dewasa berumur 36 tahun yang telah bekerja di sebuah minimarket (konbini) hampir sepanjang hidupnya. Ia mulai bekerja di sana sejak usianya 18 tahun dan menjadi karyawan angkatan pertama saat minimarket itu baru dibuka.⁣ Bagi kebanyakan orang, kehidupan Keiko dianggap tak normal. Mereka menganggap, pada usia matang tersebut, idealnya Keiko sudah menikah dan memiliki pekerjaan tetap, bukan malah melajang dan menjadi pekerja paruh waktu, apalagi di minimarket. ⁣Apa yang dialami Keiko, begitu pun alumni SMK yang diterima bekerja di minimarket, merupakan bias pandangan masyarakat dalam menilai dan memberi label normal dan abnormal. Di samping itu, masalah yang tak kalah pelik dalam kehidupan bersosial ialah tuntutan masyarakat yang menginginkan seseorang berlaku sesuai dengan "standar" tidak resmi yang mereka buat sendiri. “Dunia normal adalah dunia yang tegas dan diam-diam selalu mengeliminasi objek yang dianggap asing. Mereka yang tak layak akan dibuang.” Gagasan tentang menghargai pilihan setiap individu tanpa memandang jenis pencapaian mereka, sejatinya juga selaras dengan filosofi pendidikan yang dikembangkan oleh Alexander Sutherland Neill dalam bukunya yang populer berjudul Summerhill School. Summerhill, sebuah sekolah alternatif yang didirikan Neill pada 1921 di Inggris, menekankan kebebasan, kebahagiaan, dan penghargaan terhadap individualitas siswa. Neill percaya bahwa para siswa dapat berkembang dengan baik ketika mereka diberi kepercayaan untuk membuat pilihan sendiri dan dihargai sebagai individu, bukan dinilai berdasarkan standar akademik atau sosial yang kaku. Dalam bukunya itu, Neill menulis bahwa tujuan pendidikan bukanlah mencetak siswa yang seragam, tetapi membantu mereka menemukan jati diri dan potensi unik mereka. Ia menentang sistem pendidikan yang terlalu menekankan prestasi akademik dan kompetisi, karena hal tersebut sering kali menghancurkan kepercayaan diri siswa yang tidak sesuai dengan standar tersebut. Sebaliknya, Neill mendorong pendidik untuk memberikan afirmasi positif dan menciptakan lingkungan di mana siswa merasa diterima apa adanya. Langkah kecil yang diambil oleh SMK PGRI Lubuklinggau ketika mengunggah ucapan selamat kepada alumninya, seolah-olah mencerminkan semangat Summerhill dalam beberapa cara. Pertama, dengan mengapresiasi lulusan yang bekerja di minimarket, pihak sekolah menunjukkan bahwa mereka menghargai pilihan personal setiap siswa, seperti yang diadvokasi Neill. Kedua, sekolah menciptakan suasana yang mendukung perkembangan psikologis siswa dengan menunjukkan bahwa setiap langkah menuju kemandirian adalah prestasi yang patut dirayakan. Hal ini sejalan dengan pandangan Neill bahwa kebahagiaan dan rasa percaya diri siswa lebih penting daripada konformitas terhadap ekspektasi masyarakat. Meski begitu, segelintir komentar negatif dari beberapa warganet dalam menilai unggahan viral tersebut, menunjukkan masih adanya stigma sosial terhadap pekerjaan tertentu. Oleh karena itu, sekolah, institusi, dan juga KITA, perlu terus mengedukasi masyarakat bahwa seyogianya keberhasilan tidak hanya diukur dari status atau gaji, tetapi dari tanggung jawab dan kontribusi pada masyarakat.
Rido tweet media
𝚌𝚊𝚛𝙾𝙻𝙸𝙽𝚊 𝚛𝚒𝚊 𝚘𝚔𝚝.@credOLIN

Akhir Sang Gajah Di Bukit Kupu-kupu sudah selesai! Mari kita lanjutkan membaca di hari Minggu dengan buku ini: GADIS MINIMARKET ~ Sayaka Murata. 💛💙💚✨

Indonesia
30
698
5K
388.2K
XopWibu retweetledi
Ricky Ho
Ricky Ho@rickyho_1989·
This chart is a brutal reflection of why public frustration toward political elites in many emerging markets continues intensifying because it shows that Indonesian lawmakers are compensated at levels that look extraordinarily disconnected from the underlying economic reality faced by the average citizen, with parliament salary reaching roughly 14.7x GDP per capita, among the highest ratios globally and second only to the Philippines in this dataset, despite Indonesia still remaining a country where purchasing power remains relatively weak, informal employment is massive, public service quality remains uneven, infrastructure bottlenecks persist, legal enforcement often feels inconsistent, and upward economic mobility for large parts of the population remains structurally difficult. And this is precisely why charts like this become politically toxic because citizens naturally begin asking a very simple question: what exactly are taxpayers receiving in return? In high-income countries, lawmakers may also earn very large nominal salaries, but those economies simultaneously generate far stronger productivity, higher institutional quality, better healthcare systems, stronger education outcomes, more efficient bureaucracy, higher legal predictability, and materially better public goods overall, meaning political compensation exists within a much larger and wealthier economic ecosystem. But in Indonesia, the optics become far more uncomfortable because the political class increasingly appears capable of extracting upper-middle-class or even developed-market lifestyles from an economy that still struggles to generate broad-based prosperity for much of the population itself. And perhaps the harshest part is that compensation alone is probably not even the real issue. The real issue is performance. Citizens are generally willing to tolerate highly compensated leaders if the country visibly becomes richer, more efficient, more meritocratic, less corrupt, and economically stronger over time. But when corruption scandals remain persistent, policymaking appears inconsistent, infrastructure projects repeatedly face rent-seeking concerns, and wealth creation remains concentrated among political insiders, conglomerates, and connected elites, high political compensation begins looking less like professionalization and more like institutionalized extraction. Importantly, this also helps explain why anti-elite sentiment, populism, and distrust toward institutions continue rising globally because once the gap between elite living standards and ordinary household realities becomes too visible, citizens increasingly stop believing the system operates primarily for collective national advancement and instead begin viewing politics as a mechanism for self-enrichment among those already close to power. Ultimately, this chart reflects something much deeper than salary levels alone because it exposes the uncomfortable reality that in many emerging markets, the political class often succeeds in upgrading its own prosperity far faster than the nation it supposedly represents, and over time that divergence itself becomes corrosive to institutional trust, social cohesion, and long-term political legitimacy.
Ricky Ho tweet media
English
4
394
625
176K
Avocado boy (Alpukat) 🥑🥑
gaji pertama kalian berapa dan sekarang berapa? no judge, aku cuma mau liat perjalanan orang
Indonesia
101
2
79
13.3K
XopWibu retweetledi
Gramedia
Gramedia@gramedia·
Info buat pecinta komik 👀 Tengah malam nanti (25 Mei, 00.00 WIB) bakal ada flash sale komik start from Rp5.000 ajaa 🥳🤩 Tapi limited stock ya! Siapa cepat dia dapat! Linknya di sini: 🔗 bit.ly/FlashSaleGrame… Mau dispill judulnya? Coba komen dan jangan lupa follow dulu yaa!
Indonesia
171
662
3.2K
155.9K