Ayuningsih

31.8K posts

Ayuningsih banner
Ayuningsih

Ayuningsih

@YuriskaCA

A doctor.

Jannah (Aamiin) Katılım Haziran 2011
258 Takip Edilen639 Takipçiler
Sabitlenmiş Tweet
Ayuningsih
Ayuningsih@YuriskaCA·
Don't judge, you never truly know the daily struggles of others.
English
3
2
8
0
Ayuningsih
Ayuningsih@YuriskaCA·
“..be patient, what’s yours is protected. It will come in the exact moment Allah wills.”
English
0
0
0
7
Ayuningsih retweetledi
a🛎
a🛎@pow_towq·
" Jangan menyerah sebab keajaiban sering datang ketika kita hampir menyerah. " [ Q.S Al-Khafi : 39 ]
Indonesia
34
3.9K
14K
133.5K
Endless Story
Endless Story@xendless_s·
Bahagianya sampe sini lohh 🥹
Indonesia
104
799
11.9K
723.1K
Ayuningsih
Ayuningsih@YuriskaCA·
@Lovandfear Sumpeh iya sad sepanjang waktu, uring2an, dan sbg yg mengalami tuh w jg ga paham knp bisa sampe segini ya hormonal kita tuh
Indonesia
0
0
0
27
🍂
🍂@Lovandfear·
Sometimes as a woman you don't understand whether you are hormonally sad, menstrually sad, ovulationally sad, seasonally sad or actually sad
🍂 tweet media
English
225
17.8K
57.1K
1.2M
Ayuningsih retweetledi
𝓓
𝓓@dellunera·
from: “if he wants, he would.” to: “if Allah wrote it for you, kamu ga perlu terlalu takut kehilangan karena yang memang untukmu akan menemukan jalannya, di waktu yang tepat.” 🤍
Indonesia
53
998
2.8K
33K
Ayuningsih retweetledi
vyooo
vyooo@vyowiz_·
deep nya kalimat ini: saat perempuan itu berkata, “atur saja ya Allah, aku ikut,” itu tanda hatinya mungkin sudah letih, tapi imannya masih teguh. dia bukan mengalah, melainkan belajar berserah. bukan berhenti berharap, tetapi percaya bahawa takdir Allah jauh lebih indah daripada rancangannya sendiri. وَأُفَوِّضُ أَمْرِي إِلَى اللَّهِ “dan aku menyerahkan segala urusanku kepada Allah.” 🤍
Indonesia
9
394
1.2K
17.5K
Ayuningsih retweetledi
sarah ayu
sarah ayu@sibiwl·
Memulai hubungan di umur segini kadang terasa seperti negosiasi. Bukan lagi soal “kamu suka aku, aku suka kamu,” tapi tentang apakah dua orang bisa saling memahami di tengah kesibukan, ambisi, dan luka masing-masing. Dan itu memang tidak mudah.
Indonesia
103
276
831
16.8K
Ayuningsih retweetledi
Crynx
Crynx@Crynx03·
Tiap kali aku mau nyerah, aku selalu bilang ke diriku "Doamu udah sejauh ini, bentar lagi dikabulin Allah" Aku ulangi terus tiap pagi 🥺
Indonesia
69
776
2.7K
26.9K
Ayuningsih
Ayuningsih@YuriskaCA·
Energy low tapi harus tetap husnudzon
Indonesia
0
0
0
12
gara
gara@anggarasamvdr·
emang iya ya?
gara tweet media
Indonesia
337
1.5K
8.5K
172.7K
Ayuningsih
Ayuningsih@YuriskaCA·
@attazch Millenial ketemu millenial, jenis pekerjaan sama, jarak terbentang, kebayang kaaan ha ha
Indonesia
0
0
0
25
Ayuningsih
Ayuningsih@YuriskaCA·
Semalamanmimpimsfif
HT
0
0
0
13
Ayuningsih retweetledi
林莎莎 Salsa Senja
林莎莎 Salsa Senja@linnotlim·
Maap kl engga menjawab pertanyaan, tp ini adalah hidup kami setelah menikah: Nikah 6 Februari, sederhana banget di KUA. Belum sempat honeymoon, aku harus balik ke Beijing buat sidang proposal disertasi S3 di Tsinghua University. Belum lama bersama, sekarang suami juga harus dikandangin 3 bulan tanpa komunikasi karena lolos PaPK TNI jadi dokter militer. Kenapa nikah secepat itu? Bukan alasan yang istimewa, tapi kami sama-sama tahu, pada akhirnya kami akan tetap memilih satu sama lain. Dan daripada berjuang sendiri-sendiri, kami memilih berjuang bersama. Nasihat dari pernikahan kami yang seumur jagung. Walaupun tanpa komunikasi, terbatas jarak dan keadaan, setidaknya hati sudah pulang.
Khanif Irsyad@khanifirsyad

Dear alumni pengantin, Beberapa hari lagi kami menikah. Boleh dong kasih masukan/nasihat/tips apapun yg berkaitan dengan pernikahan dan hidup setelah nikah ☺️🙏🏻

Indonesia
43
387
4.1K
332.1K
Lambe Saham
Lambe Saham@LambeSahamjja·
Guys, ada nama yang menurut gue perlu dibahas lebih serius dari yang selama ini dibahas media. Letkol Teddy Indra Wijaya. Sekretaris Kabinet. Bukan menteri. Bukan jenderal bintang empat. Tapi dalam konteks kebebasan pers dan kontrol informasi di pemerintahan Prabowo dia adalah satu nama yang paling banyak disebut oleh para jurnalis yang berbicara di balik anonimitas. Apa yang terjadi di bencana Sumatra dan di mana Teddy masuk: Akhir November 2025. Banjir dan longsor menghantam Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. BMKG sudah memberikan peringatan delapan hari sebelumnya. Tidak ada rapat darurat. Tidak ada langkah antisipasi dari pemerintah pusat. Saat bencana meluas Prabowo tetap menjalani agenda seperti biasa. Rapat soal koperasi. Ketemu Menteri Kelautan. Menerima Ratu Belanda. Baru di tanggal 27 November setelah 72 orang meninggal dan 54 orang hilang rapat penanganan bencana digelar. Dan per Januari 2026, korban tercatat 1.199 orang meninggal dan 114 orang hilang. Di tengah semua itu ada wartawan bernama Rina yang dikirim liputan ke Aceh. Lebih dari tiga minggu di lapangan. Dia melihat beras menumpuk di posko tapi tidak disalurkan. Seorang pria yang istrinya harus diamputasi tapi tidak bisa karena tidak ada alat. Orang-orang yang mengaku sudah siap bunuh diri karena tidak kuat lagi. Rina melakukan siaran langsung. Dia tumpahkan semua yang dia lihat. Dan Teddy Indra Wijaya Sekretaris Kabinet menonton siaran itu dari Jakarta. Lalu Teddy menghubungi pemilik media tempat Rina bekerja. Mengamuk. Dan meminta pemimpin redaksi media itu diganti. Bukan insiden tunggal ini pola: Wartawan lain bernama Indira yang dikirim ke Padang mengalami hal serupa. Setelah dia melapor bahwa bantuan belum datang dan pemerintah belum terlihat atasannya langsung menelepon. "Next, jangan sebut kalau belum ada bantuan masuk, ya." "Tapi memang belum ada bantuan. Faktanya begitu." "Cerita soal dampaknya aja. Tapi jangan kasih tahu kalau bantuan belum masuk." Indira akhirnya siaran langsung di depan sebuah ekskavator yang membersihkan sisa longsor bukan karena ada kemajuan nyata, tapi karena itu satu-satunya hal yang bisa terlihat seperti "pemerintah bekerja." "Maksa banget," kata Indira. Teddy dan pola Orde Baru yang sangat familiar: Project Multatuli yang menginvestigasi ini menarik perbandingan yang sangat tepat dan sangat tidak nyaman. Di era Orde Baru tidak ada larangan tertulis soal apa yang boleh dan tidak boleh diberitakan. Yang ada adalah telepon. Pejabat atau perwira militer tertentu menelepon petinggi redaksi untuk memberi arahan, teguran, atau larangan atas isu tertentu. Tidak perlu SK. Tidak perlu aturan resmi. Cukup satu telepon dari orang yang tepat dan seluruh redaksi paham apa yang harus dilakukan. Apa yang dilakukan Teddy? Persis sama. Menelepon pemilik media. Mengamuk. Meminta pemred diganti. Tanpa surat resmi. Tanpa proses hukum. Cukup satu telepon. Yang paling ironis Teddy adalah simbol harapan yang berubah menjadi simbol yang lain: Banyak yang dulu berharap besar pada sosok militer muda yang masuk lingkaran dalam Prabowo. Ada harapan bahwa generasi baru perwira akan membawa cara kerja yang berbeda. Lebih profesional. Lebih terukur. Yang kita saksikan sekarang adalah seseorang yang menggunakan posisinya sebagai Sekretaris Kabinet posisi administratif, bukan posisi keamanan untuk mengontrol arus informasi tentang kegagalan pemerintah dalam menangani bencana. Bukan mengontrol berita palsu. Bukan melawan disinformasi. Tapi meminta media tidak memberitakan bahwa bantuan bencana belum datang saat bantuan memang belum datang. Dan Teddy tidak merespons pertanyaan dari Project Multatuli: Pertanyaan dikirim ke nomor pribadinya dan ke email resmi humas Setkab. Tidak ada respons sampai artikel diterbitkan. Tidak ada klarifikasi. Tidak ada bantahan. Hanya diam. Ketika seorang Sekretaris Kabinet bisa menelepon pemilik media dan meminta pemimpin redaksi diganti hanya karena wartawannya melapor bahwa bantuan bencana belum datang itu bukan soal satu orang yang arogan. Itu adalah sistem yang memang dirancang untuk memastikan bahwa rakyat hanya mendengar apa yang penguasa mau mereka dengar. Dan sistem seperti itu pernah kita kenal. Namanya Orde Baru. Dan kita butuh 32 tahun untuk keluar dari sana. ⚠️ Disclaimer: Berdasarkan investigasi Project Multatuli dalam serial Dead Press Society. Semua nama wartawan disamarkan untuk melindungi sumber. Teddy Indra Wijaya tidak merespons pertanyaan yang diajukan sampai artikel diterbitkan.
Lambe Saham tweet media
Indonesia
270
5.4K
9.7K
428.1K
Ayuningsih retweetledi
Kesya
Kesya@jpbeem·
suatu saat kata “when ya” itu akan menjadi “alhamdulillah yaallah, finally i got all the good things”
Indonesia
509
15.9K
46.7K
436.9K
Ayuningsih retweetledi
Twips | AI & Crypto
Kalian ngerasa ga sih, mall masih rame, antrian kopi masih panjang, restoran masih penuh. Padahal rupiah lagi di titik terlemah sepanjang sejarah dan ekonomi lagi susah. Nama fenomena ini adalah Lipstick Effect. Dan ini justru sinyal bahaya loh!🧵
Indonesia
158
4.5K
16.7K
671.1K
Ayuningsih
Ayuningsih@YuriskaCA·
Btw, ku serahkan pada Allah. Evrythng.
Indonesia
0
0
0
14
Ayuningsih retweetledi
xA
xA@xAvellesch·
nggak nge-vote prabowo gibran adl suatu pencapaian besar. so, if you guys do the same, congrats.
Indonesia
122
8.6K
23.1K
200.5K
Si Juki
Si Juki@JukiHoki·
Nambah mulu tempat ziarah
Si Juki tweet media
Indonesia
212
3.8K
24.6K
377.1K
Ayuningsih retweetledi
H’s mom
H’s mom@aiishadahir·
This Arafah, may Hajj and umrah every year be written in your destiny🤲🏼
English
98
373
2.3K
22.2K