Zbinz

1.1K posts

Zbinz

Zbinz

@Zbinz5

Katılım Eylül 2022
108 Takip Edilen11 Takipçiler
Jayabaya
Jayabaya@Jayabay19479190·
FALSU ( Palsu ) vs ASLI.... 😅😅😅
Türkçe
15
19
52
1.4K
Zbinz
Zbinz@Zbinz5·
@BangPino__ Ngapain si monic dikasih panggung, dia tdk akurat.
Indonesia
0
0
0
7
BP™
BP™@BangPino__·
Yahudi Pesek aka Monic si pembela Isriwil. Modal ngegass terus sama kayak Abu Jendes. 👊👊
Indonesia
219
761
4.6K
85.7K
Zbinz
Zbinz@Zbinz5·
@BangPino__ Sejarah abal-abal dari si monic, siapa yg percaya.
Indonesia
0
0
0
6
Zbinz
Zbinz@Zbinz5·
@doelpaten Saya tdk melihat Yaman dan keturunannya membuat masalah di Indonesia, kenapa Yaman dimusuhi?. Ada etnis yg sejak dulu membuat masalah dan menguasai tanah, sumber daya alam, ekonomi dan politisi Indonesia dgn berbagai cara,tapi tdk pernah dimusuhi.Heran saya dgn kebodohan bgs ini.
Indonesia
0
0
1
68
doelpaten
doelpaten@doelpaten·
Disindir pulang aja ke Yaman, dijawab oleh Anies secara elegan, jangan pergunakan negara utk menyalurkan aspirasi dan menyelesaikan pribadi Inilah yg kusuka dari seorang Anies, tdk hanya berani seperti ditunjukkan dirinya saat mencabut izin 13 pulau reklamasi milik para taipan, tapi juga tetap menunjukkan posisis sbg seorang intelektual.. Negara memang butuh orang seperti Anies!
Indonesia
266
2.7K
9K
197.6K
Zbinz
Zbinz@Zbinz5·
@tamrintomagola Meski dari sitaan uang korupsi, tetap itu uang negara, dan hrs disetor dulu sbg uang negara ke kas negara, baru dianggarkan dgn mekanisme ABPN dan hrs digunakan sesuai aturan ttg pengadaan barang dan jasa. Jadi, tdk seenak e dewe.
Indonesia
1
0
3
448
tamrintomagola
tamrintomagola@tamrintomagola·
Bukannya itu Dana Pendidikan yang dialihkan ke MBG ?
tamrintomagola tweet media
Indonesia
1.2K
1.3K
4.9K
162.1K
Zbinz
Zbinz@Zbinz5·
@creeping5ilence Habibie bukan bisa dibilang pintar, tapi memang sangat pintar sekali.
Indonesia
0
1
2
119
ᶜⁱᶜᵃᵍ ᵈⁱ ᴰⁱⁿᵈⁱⁿᵍ
Pidato Wowo yg sering menggunakan kata "HEEI.." Adalah bentuk kekecewaan hidupnya di masa lalu. Seperti menggunakan diksi "HEI.. ORANG-ORANG PINTAR !!!" suatu bentuk ungkapan dr apa yg pernah dihadapi prabroro sebelumnya, terutama kepada presiden BJ Habibie
Indonesia
6
65
130
1.1K
Zbinz
Zbinz@Zbinz5·
@Piyusaja2 Sebagai presiden, prabowo telah mencontohkan sikap rasis. Kenapa etnis tertentu yg menguasai tanah Indonesia dgn menghalalkan segala cara dan sejak dulu telah banyak membuat masalah, tidak pernah tuh disebut-sebut. Yaman yg tdk ada masalah diserang terus. Itu tanda otak ga beres.
Indonesia
9
15
292
10.9K
Mas P1yu🍉🇮🇩
Mas P1yu🍉🇮🇩@Piyusaja2·
Habib Rizieq tanggapi pernyataan Prabowo 'kabur aja ke Yaman', ini akibat Jenderal Baliho
Indonesia
364
2.2K
7.4K
456.8K
Zbinz
Zbinz@Zbinz5·
@Piyusaja2 Anies bukan 100 % darah Yaman. Kakek Anies pahlawan keturunan Yaman yg sdh diakui sbg pribumi dgn keputusan presiden sukarno dan ibunya pribumi sunda asli. Jadi tidak relevan Anies dikaitkan dgn Yaman. Lagipula negara Yaman adalah negara sahabat yg tidak pernah membuat masalah.
Indonesia
12
9
252
9.5K
Zbinz
Zbinz@Zbinz5·
@LambeSahamjja Bisnis kayak gitu, mungkin ada sisi jahat dan korup juga, yg tdk diceritakan.
Indonesia
2
0
2
1.2K
Lambe Saham
Lambe Saham@LambeSahamjja·
Guys, gue mau ceritain kisah seseorang yang kalau lo baca di novel pun lo bakal bilang "ini terlalu tidak realistis." Seorang sopir angkot rute Singkawang-Pontianak. Lulusan SMP. Tidak punya modal. Tidak punya koneksi. Sekarang dia adalah orang terkaya nomor satu di Indonesia dan nomor satu di Asia Tenggara. Kekayaannya lebih dari Rp800 triliun. Forbes mencatatnya masuk peringkat 27 terkaya di dunia dan masuk top 10 kenaikan kekayaan tertinggi dalam 5 tahun terakhir satu daftar bersama Mark Zuckerberg dan Jeff Bezos. Namanya Prayogo Pangestu. Dan perjalanannya dari angkot ke Rp800 triliun bukan kisah keberuntungan. Ini adalah masterclass dalam politik bisnis yang paling brutal dan paling cerdas yang pernah ada di Indonesia. Mulai dari titik paling bawah yang bisa dibayangkan: Prayogo lahir 1944 di Bengkayang, Kalimantan Barat. Orang tuanya penyadap karet kecil. Pendidikan hanya sampai SMP dan untuk bisa lulus SMP saja dia harus kerja paruh waktu sambil membantu ayahnya. Setelah lulus, dia nekat ke Jakarta. Tidak dapat kerja. Coba usaha bersama saudara gagal. Balik ke Kalimantan dan akhirnya jadi sopir angkot. Sambil nyopir, dia jualan bumbu dapur dan ikan asin untuk tambah penghasilan. Ini bukan dramatisasi. Ini titik awal yang sesungguhnya dari orang yang sekarang menguasai lebih dari 20% nilai kapitalisasi seluruh saham di Bursa Efek Indonesia. Pertemuan yang mengubah segalanya: Sembilan tahun jadi sopir angkot Prayogo bertemu seorang pengusaha kayu asal Malaysia bernama Burhan Uray. Burhan melihat sesuatu di Prayogo dan mengajaknya bekerja di perusahaannya PT Jayanti, mengurus Hak Pengusahaan Hutan. Yang membuat Prayogo berbeda dari karyawan biasa adalah cara dia memperlakukan pekerjaan itu. Dia tidak hanya mengerjakan tugasnya dia mempelajari seluruh cara kerja perusahaan. Manajemen. Tata kelola. Aturan bisnis. Semua diserap seperti spons. Hasilnya: dalam 7 tahun dia sudah jadi General Manager anak perusahaan Burhan di Gresik, Jawa Timur. Di titik itu, kebanyakan orang akan puas. Gaji besar. Jabatan tinggi. Bisa pensiun dengan nyaman. Prayogo keluar. Setelah hanya satu tahun menikmati posisi itu dia mengundurkan diri dan memulai bisnis sendiri. Akuisisi pertama dan pola yang akan berulang seumur hidupnya: Tahun 1978. Prayogo melihat perusahaan kayu bernama CP Lumberoy yang sedang sekarat karena masalah keuangan. Dia pinjam uang dari bank, beli perusahaan itu, dan dalam waktu singkat sudah melunasi pinjamannya. Pola ini yang akan menjadi DNA bisnis Prayogo sepanjang kariernya: beli perusahaan bermasalah dengan harga murah, perbaiki dari dalam, dan jadikan mesin penghasil uang. Perusahaan itu berkembang, berganti nama beberapa kali, dan akhirnya menjadi Barito Pasifik yang IPO di Bursa Efek Indonesia pada 1993 dengan kode BRPT. Hari pertama IPO: saham ditawarkan Rp7.200 ditutup di Rp11.000. Dalam satu hari. Prayogo meraup lebih dari Rp270 miliar dari IPO itu. Dari sopir angkot ke konglomerat dalam satu sesi perdagangan saham. Krisis 1998 dan di sinilah Prayogo menunjukkan kelasnya yang sesungguhnya: Krisis moneter 1998 menghancurkan hampir semua pengusaha besar Indonesia. Bisnis kayu Prayogo yang bernilai 5 miliar dolar anjlok menjadi hanya 3 juta dolar. Turun 99,94%. Kebanyakan orang di posisi itu akan menyerah. Prayogo justru mulai berburu. Di tengah krisis, dia menemukan perusahaan petrokimia raksasa bernama PT Chandra Asri yang merupakan proyek Presiden Soeharto dan dipegang oleh lingkaran dalam Cendana: Peter Sondakh, Bambang Trihatmodjo, Rosano Barack, dan Hendri Pribadi. Harga yang dia bayar untuk seluruh saham Chandra Asri: Rp1.000. Seribu rupiah. Satu lembar uang kertas. Tapi tentu saja ada tanggungannya utang perusahaan kepada Marubeni Jepang senilai 70 juta dolar dan kepada negara senilai Rp1,2 triliun. Semua orang terdekat Prayogo bilang dia gila. Utangnya jauh melebihi asetnya. Ini bisa menghabiskan seluruh hartanya. Tapi Prayogo punya rencana yang sama sekali tidak ada di pikiran orang lain. Gerakan jenius yang tidak pernah terpikirkan orang lain: Alih-alih membayar utang Chandra Asri dengan uang tunai Prayogo menegosiasikan konversi utang menjadi saham. Utang Marubeni senilai 100 juta dolar? Dikonversi menjadi 20% kepemilikan saham Chandra Asri. Utang kepada negara? Proses serupa. Prayogo tidak mengeluarkan uang pribadinya. Dia menggunakan struktur utang perusahaan itu sendiri untuk membayar utangnya sambil mempertahankan kendali mayoritas. Dan bonus yang tidak ada yang antisipasi: dalam paket akuisisi Chandra Asri, ada klausul yang menyatakan jika utang berhasil dilunasi, Prayogo berhak mendapatkan PT Tripolyta Indonesia Tbk perusahaan Indonesia pertama yang listing di New York Stock Exchange. Dari satu transaksi Rp1.000 dia mendapatkan dua perusahaan raksasa sekaligus. Kedua perusahaan itu kemudian digabungkan menjadi PT Chandra Asri Petrochemical Tbk perusahaan petrokimia terintegrasi terbesar di Indonesia. Listed di BEI tahun 2011 dengan kode TPIA. Babak final dan ini yang membuat analis saham menyerah mencari penjelasan: Tahun 2023-2024, Prayogo membawa dua perusahaan baru ke bursa: Petrindo Jaya dengan kode CUAN dan Star Energy Geothermal dengan kode BREN. Apa yang terjadi setelahnya tidak masuk akal bahkan untuk standar pasar saham manapun di dunia. CUAN naik lebih dari 5.000% dalam waktu singkat. Kalau lo invest Rp10 juta di IPO CUAN nilai investasi lo sekarang Rp590 juta. Dalam 8 bulan. BREN naik terus dan tidak bisa dihentikan dari Rp700 hingga mencapai nilai kapitalisasi lebih dari Rp1.040 triliun. Melewati BCA, BRI, Telkom, dan Astra yang semuanya butuh puluhan tahun untuk mencapai nilai itu. BREN mencapainya dalam beberapa bulan. Aturan bursa tentang saham pemantauan khusus? Tidak mampu menghentikannya. Bahkan bursa yang akhirnya mengubah aturannya sendiri bukan BREN yang tumbang. Dan semua saham yang terafiliasi Prayogo kompak ikut naik. TPIA yang sedang rugi pun naik lebih dari 230% hanya dalam beberapa minggu. Para analis berhenti mencoba menjelaskan pergerakan saham-saham PP. Tidak ada framework yang cukup untuk menganalisisnya. Tiga pelajaran yang paling berharga dari perjalanan ini: Pertama, Prayogo tidak pernah melihat krisis sebagai akhir tapi selalu sebagai kesempatan yang muncul sekali dalam satu generasi. Ketika semua orang panik di 1998, dia berburu perusahaan terbaik dengan harga terendah. Kedua, kemampuan negosiasi dan restrukturisasi jauh lebih powerful dari modal tunai. Dia membangun kerajaan senilai Rp800 triliun bukan dengan memiliki uang tapi dengan kemampuan mengubah struktur kepemilikan dan utang menjadi aset. Ketiga, dia tidak pernah berhenti di zona nyaman. Dari sopir angkot ke karyawan, dari karyawan ke pengusaha kayu, dari pengusaha kayu ke petrokimia, dari petrokimia ke energi terbarukan. Setiap kali dia menemukan level baru dia tidak diam di sana. Prayogo Pangestu adalah bukti hidup bahwa titik awal tidak menentukan titik akhir. Tapi dia juga bukti bahwa kekayaan ekstrem tidak dibangun hanya dengan kerja keras tapi dengan kombinasi kerja keras, keberanian mengambil risiko asimetris, kemampuan politik bisnis yang luar biasa, dan ketepatan membaca peluang di saat semua orang terlalu takut untuk melihat. Dari angkot ke Rp800 triliun. Dari ikan asin ke petrokimia. Dari SMP ke Forbes Top 30. Tidak ada cerita yang lebih Indonesia dari ini.
Lambe Saham tweet media
Indonesia
30
143
499
31.6K
Zbinz
Zbinz@Zbinz5·
@DianSandiU Amien Rais berjuang, jokowi dan csnya tinggal menikmati jabatan dgn segala kehormatan, gaji dan fasilitasnya.
Indonesia
0
0
0
65
Dian Sandi Utama
Dian Sandi Utama@DianSandiU·
Saya akan terus belajar politik namun do’a saya; semoga masa tua saya tidak seperti Pak Amin Rais. Aamiin
Indonesia
269
8
48
9.6K
Zbinz
Zbinz@Zbinz5·
@DianSandiU Dian sandi ke ge eran. Amien Rais itu tokoh utama reformasi melawan Suharto. Dia Prof Dr, dosen UGM, Ketua Umum PP Muhammadiyah, Tokoh pendiri ICMI. Tamatan S1 UGM, S2 dan S3 Amerika. Dibandingkan dgn pak jokowi, jauhlah kualitas dan jasa pak Amien di atas pak jokowi.
Indonesia
10
0
7
4K
Zbinz
Zbinz@Zbinz5·
@DianSandiU Jadi saat ini masih rezim setengah jokowi
Indonesia
0
0
0
12
Zbinz
Zbinz@Zbinz5·
@DianSandiU Prabowo, presiden. Gibran, wakil presiden de jure Jikowi, wakil presiden de facto.
Indonesia
0
0
0
34
Zbinz
Zbinz@Zbinz5·
@Mundiwangi4 @Pak_JK Jika kamu tdk senang dgn Islam itu hak kamu, tapi jangan menyebarkan kebencian dong. Apa yg salah JK ketemu Zakir Naik? Ketemu sama-sama orang Islam. Dengan pendeta saja JK berteman.
Indonesia
0
0
0
45
Mundiwangi
Mundiwangi@Mundiwangi4·
Entar di bilang foto editan. Untuk melihat siapa @Pak_JK cukup lihat siapa temennya. Manusia licik
Mundiwangi tweet media
Indonesia
92
68
242
6K
Zbinz
Zbinz@Zbinz5·
@Gi_N0ng Ibu nina teman satu SMP pak jokowi.
Indonesia
0
0
0
13
🌹 N0ng 🌹
🌹 N0ng 🌹@Gi_N0ng·
Ini lho... Teman almamater nya jokowi Nina Akbar Tanjung Masa loe masih percaya panci Dolop dolop....
Indonesia
196
32
151
25.5K
Zbinz
Zbinz@Zbinz5·
Yg menyelamatkan negara yg kacau pasca reformasi adalah Habibie dgn 500 hari pemerintahannya, bukan Megawati. Gus Dus dan dilanjutkan Megawati mendapatkan negara yg sdh normal. Jangan memuja megawati secara berlebihan. Saya mengalami wkt itu.
Lambe Saham@LambeSahamjja

Guys, ada satu pertanyaan yang menurut gue jarang dijawab dengan jujur di Indonesia: Tentang Megawati putri presiden pertama Bagaimana seorang perempuan yang hampir tidak pernah bicara bisa menjadi salah satu kekuatan politik paling dominan selama hampir tiga dekade? Jawabannya lebih kompleks dan lebih gelap dari yang kebanyakan orang kira. Mulai dari luka yang membentuk segalanya: Untuk memahami Megawati hari ini, lo harus memahami apa yang dia saksikan sebagai anak kecil. Bapaknya Soekarno, proklamator kemerdekaan, orang yang dipuja seluruh dunia pelan-pelan dipereteli kehormatannya oleh Orde Baru. Dikurung di Wisma Yaso. Ditolak akses medis yang layak. Mati dalam pengabaian yang sistematis. Dan Megawati harus menyaksikan semua itu. Setelah Soekarno wafat keluarganya tidak hanya kehilangan privilege. Mereka hidup dalam pengawasan intelijen selama lebih dari tiga dekade. Setiap langkah dipantau. Setiap kontak dicurigai. Hidup dalam kondisi karantina politik yang mencekam. Dari pengalaman itu lahir satu keyakinan yang mengakar sangat dalam di dalam diri Megawati: loyalitas adalah satu-satunya mata uang yang bisa dipercaya. Dan kekuasaan tanpa kontrol ketat adalah jalan menuju kehancuran. Dua keyakinan itu sampai hari ini adalah DNA dari seluruh cara dia membangun dan memimpin PDIP. Strategi diam yang banyak disalahpahami: Di era Orde Baru ketika semua politisi lain sibuk bermanuver dan berkoalisi dengan penguasa Megawati memilih diam. Banyak yang mengira itu karena dia tidak cerdas secara politik. Tapi justru sebaliknya. Diamnya Megawati adalah strategi bertahan yang sangat kalkulatif. Dia memahami bahwa bicara terlalu keras di bawah rezim otoriter adalah kerentanan. Dengan diam dia membiarkan rakyat memproyeksikan sendiri kerinduan mereka pada Soekarno ke dalam kesunyiannya. Dia menjadi wadah kosong yang diisi oleh jutaan harapan rakyat yang kehilangan identitas politik selama dua dekade. Itulah yang disebut sebagai "demam Megawati" bukan karena dia berorasi menggelegar, tapi justru karena dia diam dan rakyat yang mengisinya. Strategi ini kemudian dia terapkan konsisten sepanjang karirnya: jarang bicara di depan publik, tapi setiap keputusan yang dia keluarkan soal koalisi, soal calon presiden, soal arah partai adalah hasil pengamatan panjang yang sangat terkalkulasi. Tragedi 27 Juli 1996 titik balik yang mengubah segalanya: Ketika Megawati terpilih sebagai Ketua Umum PDI di Kongres Surabaya 1993 Orde Baru panik. Magnetnya sudah melampaui kendali mereka. Responsnya brutal: kantor DPP PDI di Jalan Diponegoro diserang oleh kelompok PDI versi pemerintah yang didukung militer. Pendukung Megawati diseret paksa keluar. Ada yang luka. Ada yang lebih parah. Tapi di sinilah terjadi sesuatu yang ironis: kekerasan itu justru menjadi titik balik fatal bagi Orde Baru. Dalam satu malam Megawati bertransformasi dari korban politik menjadi simbol perlawanan nasional. Rakyat tidak lagi hanya melihatnya sebagai putri Soekarno. Tapi sebagai pemimpin yang berani berdiri di depan moncong senapan. Legitimasi moral yang didapat dari peristiwa itu tidak bisa dibeli dengan uang apapun. Soal PDIP dan struktur yang sengaja dibangun seperti benteng: Pasca Reformasi 1998 Megawati tidak bergabung dengan PDI lama. Dia mendirikan PDIP. Dan penambahan kata "Perjuangan" bukan sekadar hiasan. Itu adalah pernyataan perang terhadap status quo. Tapi yang lebih penting dari namanya adalah arsitektur internalnya. PDIP dibangun bukan sebagai organisasi yang cair dan demokratis. Tapi sebagai benteng yang kedap udara di mana garis komando berakhir di satu meja, di satu rumah, di Jalan Teuku Umar. Kenapa? Karena trauma pengkhianatan masa lalu. Megawati sudah menyaksikan bagaimana bapaknya dihancurkan dari dalam oleh orang-orang yang semula dia percaya. Dia tidak mau itu terulang. Jadi dia membangun sistem di mana tidak ada kader sehebat apapun kompetensinya yang bisa bergerak tanpa restu dari pusat. Hasilnya: PDIP adalah partai paling solid dan paling sulit ditembus di Indonesia. Tapi harganya adalah kaderisasi organik yang beku. Seseorang bisa punya kapasitas intelektual luar biasa tapi tanpa loyalitas absolut ke Megawati, karirnya akan terbentur langit-langit kaca. Prestasi yang sering dilupakan dan ini yang perlu diakui secara jujur: Ketika Megawati menjabat presiden 2001-2004 dia mewarisi negara yang hampir bangkrut. Ekonomi lumpuh. Separatisme membara di berbagai daerah. Stabilitas politik hancur. Dan dia bekerja dalam senyap. Beberapa hal yang dia lakukan dan jarang mendapat tepuk tangan: Dia mengakhiri program IMF pada akhir 2003 sebuah pernyataan kedaulatan ekonomi yang berani di saat banyak pihak memilih terus bergantung. Dia menandatangani UU pembentukan KPK pada 2002 di saat sistem hukum masih penuh sisa Orde Baru. Lembaga yang kemudian memenjarakan banyak kader partainya sendiri. Dia membidani lahirnya Mahkamah Konstitusi sebagai penjaga gawang konstitusi yang independen dari kekuasaan eksekutif. Dia menyelenggarakan Pemilu 2004 yang menjadi pemilu langsung pertama dalam sejarah Indonesia dan memastikan transisi berjalan damai. Dan ketika dia kalah dari SBY di 2004 dia menyerahkan kekuasaan dengan elegan. Tidak ada manuver. Tidak ada mobilisasi massa untuk mempertahankan kursi. Itu adalah pelajaran demokrasi yang sangat mahal nilainya di saat demokrasi Indonesia masih sangat belia dan banyak yang meragukan apakah transisi kekuasaan bisa berjalan damai. Kontradiksi yang paling mencolok dan ini yang paling jujur untuk dibahas: Megawati selalu memposisikan diri sebagai penjaga Marhainisme ideologi Soekarno yang membela kaum melarat tertindas. Tapi dalam kenyataannya kebijakan ekonominya selama menjabat sangat pragmatis dan pasar-friendly. Yang paling kontroversial: penjualan 67,5% saham Indosat ke Singapura Technologies Telemedia senilai Rp5,6 triliun. Penjualan saham BCA dan Danamon ke investor asing. Privatisasi berbagai BUMN. Bagi kaum ideologis ini adalah pengkhianatan terhadap kedaulatan ekonomi. Tapi konteksnya perlu dipahami: Indonesia saat itu masih terikat LOI dengan IMF. Utang negara masih menghimpit. APBN defisit besar. Banyak BUMN adalah sarang korupsi dan sapi perah elit bukan mesin kesejahteraan rakyat. Privatisasi dalam konteks itu adalah tindakan darurat bukan ideologi. Dan hasilnya: rasio utang terhadap PDB berhasil dijaga, kepercayaan investor pulih, BUMN yang diprivatisasi umumnya performanya membaik. Tapi secara politik ini menjadi peluru abadi bagi lawan politiknya untuk menyebut dia pro-asing dan tidak pro-Wong Cilik. Bagaimana dia mempertahankan loyalitas jutaan orang meski kebijakannya terlihat kontradiktif dan ini yang paling menarik: Kuncinya adalah Megawati mengubah Marhainisme bukan menjadi kerangka kebijakan teknis — tapi menjadi agama politik. Pendukungnya tidak mengevaluasi apakah privatisasi BUMN itu menguntungkan secara makro. Mereka melihat Megawati sebagai ibu yang mengayomi yang secara genealogis membawa darah proklamator. Marhainisme di tangannya dimistifikasi menjadi narasi tentang keteguhan hati, kesabaran, dan perlawanan terhadap penindasan masa lalu. Sehingga setiap kebijakan yang dianggap tidak pro-rakyat bisa dimaafkan sebagai keharusan demi stabilitas nasional. Di permukaan retorika partai tetap garang membela kaum bawah. Di ruang keputusan menteri-menteri ekonominya diberi keleluasaan untuk menjalankan agenda pasar global. Ini bukan kemunafikan sederhana. Ini adalah kecerdikan mengelola dua kutub yang berlawanan secara bersamaan. Kritik yang paling fundamental dan ini yang perlu didengar: Masalah terbesar Megawati bukan soal kegagalan kebijakan. Tapi soal ketidakmampuan atau ketidakmauan untuk melepaskan diri dari nama besar bapaknya. Sepanjang karirnya dia hampir tidak pernah tampil sebagai Megawati yang merdeka. Selalu sebagai putri Bung Karno. Soekarno dikenal karena terobosan yang mengguncang dunia. Megawati lebih banyak berperan sebagai penjaga warisan keluarga. Dan dampaknya pada PDIP sangat nyata: partai ini berubah menjadi struktur yang menyerupai kerajaan di dalam republik. Sistem instruksi satu arah dari atas ke bawah. Tidak ada dialektika internal yang sehat. Kaderisasi organik dibekukan karena semua karir bergantung pada restu satu orang. Soliditas PDIP yang dipuji banyak orang adalah mata uang dengan dua sisi. Sisi satunya adalah ketidakmampuan partai menghadapi isu-isu modern karena terlalu sibuk merawat mitologi keluarga. Dan yang paling ironis: ajaran-ajaran progresif Soekarno yang seharusnya relevan untuk zaman ini justru semakin jauh dari kehidupan nyata karena terlalu dimistifikasi menjadi simbol warisan daripada dijadikan panduan kebijakan yang konkret. Bottom line: Megawati kuat bukan karena dia sempurna. Tapi karena dia memahami satu hal yang banyak politisi tidak pahami: trauma bisa diubah menjadi kontrol. Luka dari melihat bapaknya dihancurkan dia ubah menjadi sistem perlindungan yang sangat ketat. Penghinaan dari Orde Baru dia ubah menjadi legitimasi moral yang menggerakkan jutaan orang. Kesunyiannya dia ubah menjadi proyeksi harapan bagi rakyat yang kehilangan arah. Tapi kekuatan itu punya harga yang dibayar oleh orang lain: kader-kader berbakat yang karirnya dibekukan. Partai yang gagap menghadapi perubahan. Dan demokrasi internal yang tidak pernah benar-benar tumbuh. Megawati adalah bukti bahwa dalam politik Indonesia warisan nama bisa menjadi senjata paling ampuh sekaligus penjara paling kokoh.

Indonesia
0
0
0
33