Lambe Saham@LambeSahamjja
Guys, ada satu pertanyaan yang menurut gue jarang dijawab dengan jujur di Indonesia:
Tentang Megawati putri presiden pertama
Bagaimana seorang perempuan yang hampir tidak pernah bicara bisa menjadi salah satu kekuatan politik paling dominan selama hampir tiga dekade?
Jawabannya lebih kompleks dan lebih gelap dari yang kebanyakan orang kira.
Mulai dari luka yang membentuk segalanya:
Untuk memahami Megawati hari ini, lo harus memahami apa yang dia saksikan sebagai anak kecil.
Bapaknya Soekarno, proklamator kemerdekaan, orang yang dipuja seluruh dunia pelan-pelan dipereteli kehormatannya oleh Orde Baru.
Dikurung di Wisma Yaso.
Ditolak akses medis yang layak.
Mati dalam pengabaian yang sistematis.
Dan Megawati harus menyaksikan semua itu.
Setelah Soekarno wafat keluarganya tidak hanya kehilangan privilege.
Mereka hidup dalam pengawasan intelijen selama lebih dari tiga dekade.
Setiap langkah dipantau.
Setiap kontak dicurigai.
Hidup dalam kondisi karantina politik yang mencekam.
Dari pengalaman itu lahir satu keyakinan yang mengakar sangat dalam di dalam diri Megawati: loyalitas adalah satu-satunya mata uang yang bisa dipercaya.
Dan kekuasaan tanpa kontrol ketat adalah jalan menuju kehancuran.
Dua keyakinan itu sampai hari ini adalah DNA dari seluruh cara dia membangun dan memimpin PDIP.
Strategi diam yang banyak disalahpahami:
Di era Orde Baru ketika semua politisi lain sibuk bermanuver dan berkoalisi dengan penguasa Megawati memilih diam.
Banyak yang mengira itu karena dia tidak cerdas secara politik.
Tapi justru sebaliknya.
Diamnya Megawati adalah strategi bertahan yang sangat kalkulatif.
Dia memahami bahwa bicara terlalu keras di bawah rezim otoriter adalah kerentanan.
Dengan diam dia membiarkan rakyat memproyeksikan sendiri kerinduan mereka pada Soekarno ke dalam kesunyiannya.
Dia menjadi wadah kosong yang diisi oleh jutaan harapan rakyat yang kehilangan identitas politik selama dua dekade.
Itulah yang disebut sebagai "demam Megawati" bukan karena dia berorasi menggelegar, tapi justru karena dia diam dan rakyat yang mengisinya.
Strategi ini kemudian dia terapkan konsisten sepanjang karirnya: jarang bicara di depan publik, tapi setiap keputusan yang dia keluarkan soal koalisi, soal calon presiden, soal arah partai adalah hasil pengamatan panjang yang sangat terkalkulasi.
Tragedi 27 Juli 1996 titik balik yang mengubah segalanya:
Ketika Megawati terpilih sebagai Ketua Umum PDI di Kongres Surabaya 1993 Orde Baru panik.
Magnetnya sudah melampaui kendali mereka.
Responsnya brutal:
kantor DPP PDI di Jalan Diponegoro diserang oleh kelompok PDI versi pemerintah yang didukung militer. Pendukung Megawati diseret paksa keluar.
Ada yang luka.
Ada yang lebih parah.
Tapi di sinilah terjadi sesuatu yang ironis: kekerasan itu justru menjadi titik balik fatal bagi Orde Baru.
Dalam satu malam Megawati bertransformasi dari korban politik menjadi simbol perlawanan nasional. Rakyat tidak lagi hanya melihatnya sebagai putri Soekarno.
Tapi sebagai pemimpin yang berani berdiri di depan moncong senapan.
Legitimasi moral yang didapat dari peristiwa itu tidak bisa dibeli dengan uang apapun.
Soal PDIP dan struktur yang sengaja dibangun seperti benteng:
Pasca Reformasi 1998 Megawati tidak bergabung dengan PDI lama. Dia mendirikan PDIP.
Dan penambahan kata "Perjuangan" bukan sekadar hiasan.
Itu adalah pernyataan perang terhadap status quo.
Tapi yang lebih penting dari namanya adalah arsitektur internalnya.
PDIP dibangun bukan sebagai organisasi yang cair dan demokratis.
Tapi sebagai benteng yang kedap udara di mana garis komando berakhir di satu meja, di satu rumah, di Jalan Teuku Umar.
Kenapa?
Karena trauma pengkhianatan masa lalu.
Megawati sudah menyaksikan bagaimana bapaknya dihancurkan dari dalam oleh orang-orang yang semula dia percaya.
Dia tidak mau itu terulang.
Jadi dia membangun sistem di mana tidak ada kader sehebat apapun kompetensinya yang bisa bergerak tanpa restu dari pusat.
Hasilnya:
PDIP adalah partai paling solid dan paling sulit ditembus di Indonesia.
Tapi harganya adalah kaderisasi organik yang beku. Seseorang bisa punya kapasitas intelektual luar biasa tapi tanpa loyalitas absolut ke Megawati, karirnya akan terbentur langit-langit kaca.
Prestasi yang sering dilupakan dan ini yang perlu diakui secara jujur:
Ketika Megawati menjabat presiden 2001-2004 dia mewarisi negara yang hampir bangkrut. Ekonomi lumpuh.
Separatisme membara di berbagai daerah. Stabilitas politik hancur.
Dan dia bekerja dalam senyap.
Beberapa hal yang dia lakukan dan jarang mendapat tepuk tangan:
Dia mengakhiri program IMF pada akhir 2003 sebuah pernyataan kedaulatan ekonomi yang berani di saat banyak pihak memilih terus bergantung.
Dia menandatangani UU pembentukan KPK pada 2002 di saat sistem hukum masih penuh sisa Orde Baru. Lembaga yang kemudian memenjarakan banyak kader partainya sendiri.
Dia membidani lahirnya Mahkamah Konstitusi sebagai penjaga gawang konstitusi yang independen dari kekuasaan eksekutif.
Dia menyelenggarakan Pemilu 2004 yang menjadi pemilu langsung pertama dalam sejarah Indonesia dan memastikan transisi berjalan damai.
Dan ketika dia kalah dari SBY di 2004 dia menyerahkan kekuasaan dengan elegan.
Tidak ada manuver.
Tidak ada mobilisasi massa untuk mempertahankan kursi.
Itu adalah pelajaran demokrasi yang sangat mahal nilainya di saat demokrasi Indonesia masih sangat belia dan banyak yang meragukan apakah transisi kekuasaan bisa berjalan damai.
Kontradiksi yang paling mencolok dan ini yang paling jujur untuk dibahas:
Megawati selalu memposisikan diri sebagai penjaga Marhainisme ideologi Soekarno yang membela kaum melarat tertindas.
Tapi dalam kenyataannya kebijakan ekonominya selama menjabat sangat pragmatis dan pasar-friendly.
Yang paling kontroversial: penjualan 67,5% saham Indosat ke Singapura Technologies Telemedia senilai Rp5,6 triliun. Penjualan saham BCA dan Danamon ke investor asing. Privatisasi berbagai BUMN.
Bagi kaum ideologis ini adalah pengkhianatan terhadap kedaulatan ekonomi.
Tapi konteksnya perlu dipahami: Indonesia saat itu masih terikat LOI dengan IMF. Utang negara masih menghimpit. APBN defisit besar. Banyak BUMN adalah sarang korupsi dan sapi perah elit bukan mesin kesejahteraan rakyat.
Privatisasi dalam konteks itu adalah tindakan darurat bukan ideologi. Dan hasilnya: rasio utang terhadap PDB berhasil dijaga, kepercayaan investor pulih, BUMN yang diprivatisasi umumnya performanya membaik.
Tapi secara politik ini menjadi peluru abadi bagi lawan politiknya untuk menyebut dia pro-asing dan tidak pro-Wong Cilik.
Bagaimana dia mempertahankan loyalitas jutaan orang meski kebijakannya terlihat kontradiktif dan ini yang paling menarik:
Kuncinya adalah Megawati mengubah Marhainisme bukan menjadi kerangka kebijakan teknis — tapi menjadi agama politik.
Pendukungnya tidak mengevaluasi apakah privatisasi BUMN itu menguntungkan secara makro. Mereka melihat Megawati sebagai ibu yang mengayomi yang secara genealogis membawa darah proklamator.
Marhainisme di tangannya dimistifikasi menjadi narasi tentang keteguhan hati, kesabaran, dan perlawanan terhadap penindasan masa lalu. Sehingga setiap kebijakan yang dianggap tidak pro-rakyat bisa dimaafkan sebagai keharusan demi stabilitas nasional.
Di permukaan retorika partai tetap garang membela kaum bawah. Di ruang keputusan menteri-menteri ekonominya diberi keleluasaan untuk menjalankan agenda pasar global.
Ini bukan kemunafikan sederhana. Ini adalah kecerdikan mengelola dua kutub yang berlawanan secara bersamaan.
Kritik yang paling fundamental dan ini yang perlu didengar:
Masalah terbesar Megawati bukan soal kegagalan kebijakan. Tapi soal ketidakmampuan atau ketidakmauan untuk melepaskan diri dari nama besar bapaknya.
Sepanjang karirnya dia hampir tidak pernah tampil sebagai Megawati yang merdeka. Selalu sebagai putri Bung Karno.
Soekarno dikenal karena terobosan yang mengguncang dunia. Megawati lebih banyak berperan sebagai penjaga warisan keluarga.
Dan dampaknya pada PDIP sangat nyata: partai ini berubah menjadi struktur yang menyerupai kerajaan di dalam republik. Sistem instruksi satu arah dari atas ke bawah. Tidak ada dialektika internal yang sehat. Kaderisasi organik dibekukan karena semua karir bergantung pada restu satu orang.
Soliditas PDIP yang dipuji banyak orang adalah mata uang dengan dua sisi. Sisi satunya adalah ketidakmampuan partai menghadapi isu-isu modern karena terlalu sibuk merawat mitologi keluarga.
Dan yang paling ironis: ajaran-ajaran progresif Soekarno yang seharusnya relevan untuk zaman ini justru semakin jauh dari kehidupan nyata karena terlalu dimistifikasi menjadi simbol warisan daripada dijadikan panduan kebijakan yang konkret.
Bottom line:
Megawati kuat bukan karena dia sempurna. Tapi karena dia memahami satu hal yang banyak politisi tidak pahami: trauma bisa diubah menjadi kontrol.
Luka dari melihat bapaknya dihancurkan dia ubah menjadi sistem perlindungan yang sangat ketat. Penghinaan dari Orde Baru dia ubah menjadi legitimasi moral yang menggerakkan jutaan orang. Kesunyiannya dia ubah menjadi proyeksi harapan bagi rakyat yang kehilangan arah.
Tapi kekuatan itu punya harga yang dibayar oleh orang lain: kader-kader berbakat yang karirnya dibekukan. Partai yang gagap menghadapi perubahan. Dan demokrasi internal yang tidak pernah benar-benar tumbuh.
Megawati adalah bukti bahwa dalam politik Indonesia warisan nama bisa menjadi senjata paling ampuh sekaligus penjara paling kokoh.