Rido@ridoarbain
Meski sering dicurigai tiap kali posting tentang buku ini di medsos, tapi akulah buzzer sukarela ATHEIS itu. 🫵🏼
Atheis adalah novel klasik yang terbit pertama kali pada tahun 1949 dan dianggap sebagai salah satu karya sastra penting dalam khazanah literatur Indonesia.
Novel ini mengisahkan Hasan, seorang pemuda puritan yang berasal dari salah satu desa di Jawa Barat. Sebagai anak seorang pensiunan mantri guru yang menjalankan Islam tirakat dengan taat, Hasan tumbuh dewasa menjadi sosok yang memegang teguh ajaran Islam, yang ia yakini sebagai kebenaran sejati dan satu-satunya. Namun, ketika ia pindah ke Bandung, ternyata kota itu tak hanya memberinya pekerjaan, tetapi juga pergolakan iman dan keyakinan.
Suatu hari, Hasan kedatangan Rusli, teman masa kecilnya, yang datang bersama seorang gadis bernama Kartini. Pertemuan penuh kesan itulah yang menjadi titik awal perjalanan Hasan menghadapi konflik batin perihal imannya. Berbeda dengan Hasan yang amat religius, dalam pendewasaannya Rusli justru menganut jalan berpikir Marxisme—yang membawanya pada pandangan bahwa Tuhan itu tidak ada. Bagi Hasan, Rusli adalah seorang ateis.
Bisa dibilang, novel ini sudah melampaui zamannya karena berani mengangkat konflik pertentangan agama dan ideologi sekuler yang saat itu mulai berkembang pada masa kolonialisme Jepang di Indonesia. Novel ini juga menyinggung dilema moral dan sosial di tengah modernisasi masyarakat, di mana seorang mukmin seperti Hasan sangat alergi dengan hadirnya budaya pop—buku, film, musik—yang menurutnya dapat merusak keimanan alih-alih sarana penyebaran ilmu pengetahuan.
Karakter Hasan digambarkan sebagai sosok yang kompleks, mencerminkan friksi antara pemikiran konservatif dan modernisme, sementara Rusli mewakili pandangan progresif yang menantang norma agama secara liberal. Tak jarang interaksi keduanya menghadirkan perdebatan filosofis yang menarik untuk direnungkan kembali secara kritis.
“Dalam kefanatikanmu kau sudah terbelenggu oleh dogma yang tidak memungkinkan kau melihat dunia dan hidup belakang dari pelbagai sudut, dari pelbagai segi. Dalam kefanatikan demikian, kau tidak lepas dari perbuatan atau sikap dan anggapan-anggapan yang tidak adil terhadap sesama makhluk. Padahal engkau menepuk-nepuk dada seolah-olah engkau manusia utama, dan orang-orang lain yang tidak sependirian dengan engkau adalah murtad dan kafir.” — Rusli
“Memang aku tidak pernah merasa tertarik oleh musik dan seni Barat, yang kuanggap sebagai "buah kebudayaan kafir", yang mudah membikin kita pecat iman seperti anak-anak zaman sekarang yang suka sekali berdansa-dansa dan berpeluk-pelukan di muka mata umum.” — Hasan
Sebagai tokoh sentral, memang perkembangan karakter Hasan yang paling kentara di novel ini. Dari yang mulanya terobsesi untuk "mengislamkan kafir modern" ia justru terjerumus ke dalam pusaran konflik batinnya sendiri, terutama saat ia jauh bergaul dengan Rusli, Kartini, dan Anwar. Semua tokoh yang muncul pun berperan sesuai porsinya.
Secara keseluruhan, Atheis adalah karya yang masih relevan hingga kini. Tak hanya menawarkan wawasan tentang dinamika keimanan dan pergulatan eksistensial, novel ini juga secara subtil menggambarkan kondisi politik Indonesia pada masa perjuangan melawan penjajahan. Dan, paling penting, membaca novel ini tak serta-merta membuat kita menjadi seorang ateis, tapi lebih mungkin menjauhkan kita dari sikap fanatisme berlebihan.
“Kebenaran bukan untuk dipaksakan, melainkan untuk diyakinkan.”