vtuber metal
6.8K posts




I name this genre "the entire cast is fucking stupid"

ada yang mau takeover kamar kosanku? lokasinya di pondok pucung, bintaro. 450 meter (6 menit) jalan kaki ke stasiun sudimara, ada alfa dan indomaret 24 jam, banyak deretan jajanan, bisa berdua dan bawa kucing juga. 1,8 juta aja, kost eksklusif kamarnya cuma 5 <3

Terima kasih banyak Tuhan Yesus

Gym : 160.000 (2,4jt/15 bulan) Ayam filet (dada & paha) : 37ribu/kg x 4kg Protein shake : 250k Vitamin : around 300-450k Menyala dompet gwe tp gpp gymnya bagus


Abis nonton 'Tunggu Aku Sukses Nanti' Yang menarik buat gue bukan isu kelas dari keluarga miskin yg gak punya biaya maka diganti dg tenaga ketika kumpul keluarga. Tapi buat gue yg menarik itu sosok Arga, a tale of classic lowerclass character that wants to escape the poverty: - Kalian pasti sebel ini orang kurang NGOTOT di awal (nganggur lama, daftar kerja males-malesan, bangun siang mulu). Di sisi lain sebenernya ini orang kepalanya udah penuh scarcity mindset (pikirannya udah penuh sama tekanan sosial dan finansial) - Scarcity mindset itu yg bikin dia gak bisa MIKIR dg bandwith yg optimal. Tiap ada progress kehidupan pikiran dia cuma "Liat aja nanti lebaran, gue tunjukin ke keluarga besar kalo gue bisa!" - Pasti banyak yg marah-marah kenapa dia putusin Andin setelah sekian lama support dia dari nganggur--ya karena threshold yang dia kejar masih tinggi. Arga BELUM selesai dengan dirinya sendiri dan keluarganya. - Kenapa gue bilang kisah klasik? Karena ketika karakter dia mulai berprogress hingga di akhir film, dia belum benar-benar "sukses". Realitanya, gak mungkin orang miskin bisa sukses dalam timeframe sesingkat itu. Scarcity mindset dia kependam terlalu lama. Pasti perlu bertahun-tahun untuk behavioral adjustment (this is why dia emosian dan punya decision di luar nalar bahkan hingga ketika dia udah mulai punya uang). - "Padahal sebelum punya uang, dia cuek-cuek aja ya sama omongan orang lain?" Justru itu, ketika punya uang dia baru SADAR kalau ego poverty escaping itu gak akan pernah cukup to flip the reality. Another interesting point: cara Arga escape poverty adalah bukti nyata dari hasil studi Banerjee--salah satu faktor terbesar yg memungkinkan seseorang keluar dari kemiskinan adalah akses yg datang dr jaringan sosial. Ada 1 scene Wicak (salah satu sohibnya) bilang ke Arga, "Emang lo pikir lo bisa berhasil karena usaha lo sendiri?" -- Ini ngena banget buat gue. Dibalik proses Arga, selain dukungan sahabat, pacar, dan keluarga intinya... Ego dia justru dibentuk dari omongan pedes keluarga besarnya. Tapi kita tiba-tiba dihadapkan dengan Plot Twist bahwa one of ladder of his success itu justru karena koneksi Tante Yuli si paling julid yg bikin dia berhasil closing penjualan pertama. Gue banyak baca review yg menyayangkan penyajian dan eksekusi karakter Tante Yuli. "Kok gak ada aba-aba tiba-tiba mati aja? Biar bisa closing arc dia angelic despite of being satanic for the whole time?" Realitanya, penjelasan atau enlightenment seringkali malah gak pernah datang. Kita gak pernah benar-benar tahu jalan pikiran orang lain. Bahkan Arga yg kita ikutin selama 2 jam sebagai main character dari kecil sampe gede aja masih bikin kita kaget sama keputusan-keputusannya. Wkwk. Overall, film ini 7/10 buat gue. Bisa buat me time. Beberapa kali gue nangis di dalem bioskop dan bikin mikir (mungkin karena relate dengan The Saga of Escaping Poverty kali yaa. 🤣) Lo keren bang @ArditErwandha




