zhil@zhil_arf
Anak Soshum tidak dihargai dan dianggap bodoh di Indonesia, karena ketika SD SMP SMA, mata pelajaran IPS terlalu gampang.
Mau Soshum dihargai? Simpel. Persulit ujiannya.
Tidak boleh ada persepsi "IPA pintar, IPS bodoh". Keduanya harus sama-sama horor dan sadis.
Reputasi matpel IPS masih dirasa kurang horor? Persulit lagi ujiannya. Persulit lagi quiz dan PR nya.
Barangkali ini tidak akan sulit-sulit amat untuk diterapkan.
Misal: 1 buku paket biasanya cukup untuk pelajaran eksak, karena ilmu pasti. Soshum harusnya tidak boleh begitu. Ujiannya harus didominasi pemahaman sosio-kontekstual akan hal yang ada di luar buku. Siswa yang survive hanyalah siswa yang banyak baca.
Sastra juga demikian. "Bahasa Indonesia", misalnya, tiba tiba akan jadi sangat sulit apabila siswa hanya bisa lolos ujian jika dan hanya jika sudah sering membaca, menghayati, dan menghargai karya-karya sastra fundamental.
Pada zaman dahulu, semua calon mahasiswa Soshum di Barat diwajibkan bisa bahwa Latin dan bahasa Yunani Kuno *sebelum* masuk kuliah, karena kebanyakan naskah penting ditulis dalam bahasa itu. Kemampuan bahasa ini mereka bangun lewat hobi membaca puisi, sastra, dan karya Latin dan Yunani Kuno.
Menurut gw ini standar kompetensi minimum yang sangat bagus. Hari ini kita tidak literally butuh bahasa Yunani Kuno, tapi kita butuh sesuatu yang sama sulitnya.
---
Kalau mau diseriusin lagi:
- Idealnya, partisi STEM-Soshum-Sastra dalam bentuk apapun di level SMA dihapus.
Di sekolah yang ideal, semuanya diajarkan dan dijelalkan masuk. Sayangnya ini hanya bisa berhasil apabila guru-gurunya elite dan bergaji tinggi.
- Idealnya, akademis SMA sengaja dibikin sangat susah dan sangat sadis dan sangat horor. Alasannya satu, yaitu memaksa lulusan SMP mempertimbangkan opsi masuk SMK dengan serius. Masalahnya, kualitas SMK di Indonesia sangat buruk sehingga ini harus diperbaiki duluan.
- Role edtech yang paling dibutuhkan adalah meringankan beban pekerjaan guru. Memeriksa soal, otomatisasi administrasi, memantau progress tiap siswa, dll. Barangkali siswa tidak perlu melihat atau menyentuh aplikasi edtech sama sekali.
Spekulasi liar:
- Di zaman AI, fungsi utama sekolah di bidang akademis barangkali akan berubah jadi ruang ujian saja. Bayangkan tiap hari ujian intensif, kertas dan pulpen, essay, tidak ada AI dan tidak ada kalkulator. Tapi jam pulang adalah jam 11 pagi. Setelah itu bebas mau ngapain. Pacaran, Valorant, motoran, ekstrakurikuler, belajar mandiri, silakan.
Karena tiap hari ujian, anak terpaksa memiih belajar mandiri. Well, tinggal minta diajarin oleh AI. AI nya ngawur? Akan ketahuan di ujian besoknya dan menjadi shock therapy bagi anaknya. Salah sendiri terlalu percaya sama AI.
- Ini diperkuat dengan sistem Romusha Tutor (atau Sistem Tutor Oxford). Tiap kakak kelas diberikan tanggung jawab terhadap prestasi akademis 1 adik kelas. Kalau adik kelas tidak lulus, kakak kelas tidak lulus.
Asumsi di sini adalah bahwa hanya manusia yang bisa menyelesaikan hal seperti "memotivasi anak untuk belajar" dan bahwa AI tidak bisa melakukan ini. Well, ya sudah, romushakan saja kakak-kakak kelas untuk jadi tutor. Kakak kelas bingung harus ngapain? Tanya AI. AI nya ngaco? Akan ketahuan di ujian besok.
- Spekulasi liar ini mengasumsikan bahwa pemerintah kita sama sekali tidak melakukan apa-apa dan useless dan gabut. Gw jauh lebih percaya bahwa teknologi AI akan bisa sangat murah Rp 2rb / bulan daripada percaya bahwa pemerintah akan peduli untuk "menaikkan gaji guru" atau semacamnya. Untuk isu yang ini, barangkali sebaiknya kita menyerah saja.