within

3.5K posts

within banner
within

within

@_wedhatama

Hello! a different kind of human 🖤

Katılım Haziran 2010
3.1K Takip Edilen3.8K Takipçiler
Sabitlenmiş Tweet
within
within@_wedhatama·
Impresi jejepangan dan endonesaan kok sebegitunya berjarak? Yagimana. di jepang, ada faktor kuatnya literasi yg sering disebut-sebut. laintu, daily active yg konsisten, dan budaya reply plus diskusinya jauh lebih hidup. yang alumni jejepangan pasti mengiyakan. lha hal sesederhana hewan peliharaan dan pilihan sekolah aja impresinya jutaan. komen penuh. berhari lewat masih hangat jadi pembicaraan. kutipannya juga nda kalah ramenya. Slain itu, naini, ada salah satu faktor lainnya yg secara basis masuk akal sbagemana diungkap @BangBib4. sana pengguna aktifnya 75 juta e. Aktif lho ya itu.... Lha sini by data 20 jt, kmungkinan aktifnya 2 juta aja. Itu pun puluhan nya (atau mungkin ratusan?), dikelola oleh hanya satu orangja... Mau ndak mengakui, lha wong nikita aja uda publish gituu e... Bisa ngejer kayak mreka ndak? Susah. tapi yabisaaa aja. Asal berangkatnya bukan ngejar angka user, tapi ngejar kualitas ekosistemnya. Ada bberapa hal yang scr real harus brubah: 1. Banyakin real engagement, bukan spam. lha mayoritas masih kejar angka: reply asal, rage bait, farming. Algoritma aja sudah berbenah lho. kalo algo makin ketat, kedepan konten kayak gitu bakal beneran tenggelam. Yang naik? Ya konten yg beneran menarik. yang dibaca, direspon, dan dibahas bareng. 2. Kalo belum bisa stop habis, minimal ya kurang-kurangin lah budaya multi-account & bot-like behavior. Selama 1 orang masih pegang banyak akun buat mainin sistem, angka user bakalan terus keliatan makin besar. Dan dari kacamata database yang sama, nilainya makin rendah. kualitasnya tiarappp. mau berdiri juga susah. 3. Bangun niche & komunitas Di Jepang, banyak komunitas kecil tapi solid (anime, tech, dll). Niche juga gitu. Mereka ngobrol terus. Ini bikin engagement stabil. Di kita? Semua hal semua bab, lewat timeline. cuma beberapa yg rame. bentaran. tapi habis itu juga ilang. 4. Konsisten, bukan yg viral cuma sesekali doang. Impresi tinggi yg berkualitas, bukan bersumber dari 1 pintu, 1 tweet viral. tapi lebih bagus dari 1 akun dengan banyak pintu. yang tiap harinya punya interaksi sehat. Ini akan lebih panjang dan tahan lama. 5. Algoritma yg anti ilusi dan Pro Kejernihan. Kalau sistem monetisasi & distribusi konten makin pro sama kualitas, secara natural ekosistem di endonesa juga bisa kebentuk lebih sehat. Dan perubahan yg terjadi belakang, bikin kita melek, kalo X juga juga sadar hal ini. Mereka pelan-pelan shifting ke dari Virality ke Value. Tampak jelas dari: ✅spam makin dibatasi ✅engagement palsu makin ditekan ✅kualitas interaksi makin dihargai dulu, ilusi macam spam dan settingan bisa unggul karena ya emang rame aja. Kedepan?Seandainya pun masih rame… ndak akan bs bertahan lama. Kecuali kontenkonten dan interkasi² yg lahirnya dr kejernihan. Ayo jejepangan! .......di endonesa.
bib new edition@BangBib4

Simple pengguna aktiv jepang 75 juta...itu kenapa impresi mereka sangat tinggi meskipun posting receh Pengguna aktiv indo ± 2 juta, meskipun dari data tertera sekitar 20 juta, mayoritas orang indonesia double acc bahkan sampai 10-100 akun per orang , kalau bukan ga hunter ya buzzer,,,semoga menjawab yang bingung kenapa impresi di indonesia sangat rendah

Indonesia
16
8
28
4.4K
Safitri Palupi
Safitri Palupi@palupi_safitri·
@_wedhatama Suami penuh tanggung jawab, selalu memiliki pemikiran untuk meningkatkan kehidupan keluarga, kita harus lebih semangat 🫡
Indonesia
1
0
1
3
within
within@_wedhatama·
semangat yang tiba-tiba muncul di hari senin setelah seliweran berita viral: sebagai suami, ternyata kita ndak SEBURUK ITU!!!
Indonesia
1
0
5
198
within
within@_wedhatama·
@henzzid akun gede, umumnya akan fokus pada pertumbuhan akun sendiri. meski ndak semua. Naini salah satunya. Masih mau saling-saling. Agar supaya, sama-sama tumbuh. nais, abang.
Indonesia
0
0
0
24
─ henz dé shioo 🦅
guys gua skrng nge jb balik orang yang ada di komen aja klo kalian gaada dikomen ga gua jb, misal yg dateng 10 orng, yaudah 10 orng itu yg gua support 😹yg lain kaga.
─ henz dé shioo 🦅 tweet media
Indonesia
108
8
78
1.7K
within
within@_wedhatama·
kenapa pulaa iniii
within tweet mediawithin tweet mediawithin tweet media
Indonesia
4
0
1
132
within
within@_wedhatama·
dari pengalaman pribadi, akun kecil dengan follower yg seuprit ini, beberapa kali dapet hit tweet puluhan dn ratusan ribu views, nemu pola kuncinya. yaitu ketepatan. waktu & sasaran. Waktu pas tapi nggak ngena, bakal lewat. Sasaran dapet tapi waktunya ndak pas, ya tenggelam. Soal sasaran, ini yg mbekas di hati. relevan. hook kalau kata orang mah. Sependek pengalaman, bahasa jangan kaku. jangan kepanjangan. juga jangan terlalu bergantung sama AI. munculin bahasa manusia. yang pure, yang jujur. Format, biasanya yang pendek justru lebih potensial. Jadi sebenarnya ceplas-ceplos gapapa, asal ada valuenya. Kalau ndak ada, ya paling cuma rame sebentar… habis itu lewat.
Indonesia
1
0
3
122
Abid
Abid@abid0588·
Menurut temen-temen apa yang nyebabin postingan seseorang bisa hit Twit? Kita bahas yuk di kolom reply, soalnya enak kalau uda tau polanya seperti apa siapa tau kedepan postingan kita bisa hit twit terus, aku tunggu ya reply an nya.
Abid tweet media
Indonesia
105
36
134
6.3K
within retweetledi
picoez
picoez@picoez·
Saya dulu pernah diizinkan oleh Tetua Adat di Talaud untuk memotret buku Atlas Sedjarah, karya Muhammad Yamin. Dulu semuanya pernah kuunggah, tapi sejak X diambil elon, nyari arsip2 lama kebanyakan hilang. Ncen jingan og 😤. Ini mungkin tidak lengkap, tapi setidaknya bisa saya unggah untuk arsip dan siapa tahu berguna untuk mengenal sejarah Indonesia.
picoez tweet media
Indonesia
23
229
975
41K
within retweetledi
mmmzzz
mmmzzz@mikz1609·
Gaess aku kepikiran gini Coba perhatian para Cenblue² besar yg udah gajian Yg bikin X di jepang hidup bgt Krn memang user²nya dan isi tweetnya itu berbobot, berisi. Jadi JB JB itu real bgt disana. Reply, RT, dll. Di+ jumlah user aktif yg massive besar disana mencapai 75jt. Dan kalau kita ingin sprt itu kita perlu mengajak byk orang² spy kembali kesini utk aktif pakai app X ini. Cara plng gampang (kalo menurut gue ya ini) adlh kalian² yg udah pada gajian di X ini, kasih lihat pamerin deh itu di platform lain Di YouTube, di reels IG, di FB. Asli ini cara paling efektif utk ngajak byk org utk pake X. In this economy semua nyari duit tambahan. Pst pada tertarik Tulis aja misal: Modal beli kopi B2 ma doi n nulis bisa dpt duit? Bisa nih di X Dan sebagian byk org mungkin blm tahu kl di X ini bisa dpt cuan. Kata gw ini mungkin bgt yaa Krn jumlah penduduk di Indonesia itu besar bgt 2.5x dr jepang loh. User aktif di indo skrg cuman 8% dr total jmlh penduduk. Msh kecil bgt Anggap aja dr 23 JT user bisa naek 2x lipat ke 50 JT aja itu udah byk bgt. Gimana² mnrt kalian?? Ato ada pemikiran lain kah?
within@_wedhatama

Impresi jejepangan dan endonesaan kok sebegitunya berjarak? Yagimana. di jepang, ada faktor kuatnya literasi yg sering disebut-sebut. laintu, daily active yg konsisten, dan budaya reply plus diskusinya jauh lebih hidup. yang alumni jejepangan pasti mengiyakan. lha hal sesederhana hewan peliharaan dan pilihan sekolah aja impresinya jutaan. komen penuh. berhari lewat masih hangat jadi pembicaraan. kutipannya juga nda kalah ramenya. Slain itu, naini, ada salah satu faktor lainnya yg secara basis masuk akal sbagemana diungkap @BangBib4. sana pengguna aktifnya 75 juta e. Aktif lho ya itu.... Lha sini by data 20 jt, kmungkinan aktifnya 2 juta aja. Itu pun puluhan nya (atau mungkin ratusan?), dikelola oleh hanya satu orangja... Mau ndak mengakui, lha wong nikita aja uda publish gituu e... Bisa ngejer kayak mreka ndak? Susah. tapi yabisaaa aja. Asal berangkatnya bukan ngejar angka user, tapi ngejar kualitas ekosistemnya. Ada bberapa hal yang scr real harus brubah: 1. Banyakin real engagement, bukan spam. lha mayoritas masih kejar angka: reply asal, rage bait, farming. Algoritma aja sudah berbenah lho. kalo algo makin ketat, kedepan konten kayak gitu bakal beneran tenggelam. Yang naik? Ya konten yg beneran menarik. yang dibaca, direspon, dan dibahas bareng. 2. Kalo belum bisa stop habis, minimal ya kurang-kurangin lah budaya multi-account & bot-like behavior. Selama 1 orang masih pegang banyak akun buat mainin sistem, angka user bakalan terus keliatan makin besar. Dan dari kacamata database yang sama, nilainya makin rendah. kualitasnya tiarappp. mau berdiri juga susah. 3. Bangun niche & komunitas Di Jepang, banyak komunitas kecil tapi solid (anime, tech, dll). Niche juga gitu. Mereka ngobrol terus. Ini bikin engagement stabil. Di kita? Semua hal semua bab, lewat timeline. cuma beberapa yg rame. bentaran. tapi habis itu juga ilang. 4. Konsisten, bukan yg viral cuma sesekali doang. Impresi tinggi yg berkualitas, bukan bersumber dari 1 pintu, 1 tweet viral. tapi lebih bagus dari 1 akun dengan banyak pintu. yang tiap harinya punya interaksi sehat. Ini akan lebih panjang dan tahan lama. 5. Algoritma yg anti ilusi dan Pro Kejernihan. Kalau sistem monetisasi & distribusi konten makin pro sama kualitas, secara natural ekosistem di endonesa juga bisa kebentuk lebih sehat. Dan perubahan yg terjadi belakang, bikin kita melek, kalo X juga juga sadar hal ini. Mereka pelan-pelan shifting ke dari Virality ke Value. Tampak jelas dari: ✅spam makin dibatasi ✅engagement palsu makin ditekan ✅kualitas interaksi makin dihargai dulu, ilusi macam spam dan settingan bisa unggul karena ya emang rame aja. Kedepan?Seandainya pun masih rame… ndak akan bs bertahan lama. Kecuali kontenkonten dan interkasi² yg lahirnya dr kejernihan. Ayo jejepangan! .......di endonesa.

Indonesia
4
1
9
607
within
within@_wedhatama·
hhihihiyaa ya mass. Kayaknya PR kita dobel. gimana biar ndak cuma narik orang balik, tapi juga bikin mereka betah. Ya platformnya yg harus asyik. dan menjawab kebutuhan. Yang nyari berita cepet, dapet. yang lagi capek, nemu hiburan. yang pengen belajar, bs upgrade. Kalau semua kebutuhan itu ketemu di satu tempat, rangorang ndak perlu pindah. dan bakal balik lagi.
Indonesia
0
0
2
6
mmmzzz
mmmzzz@mikz1609·
@_wedhatama Iya tapi masalah lainnya adalah jumlah aktif user di X yg minim. Gimana caranya kita mengajak orang² kembali utk pake X lagi biar makin ramee
Indonesia
1
0
0
4
within
within@_wedhatama·
Impresi jejepangan dan endonesaan kok sebegitunya berjarak? Yagimana. di jepang, ada faktor kuatnya literasi yg sering disebut-sebut. laintu, daily active yg konsisten, dan budaya reply plus diskusinya jauh lebih hidup. yang alumni jejepangan pasti mengiyakan. lha hal sesederhana hewan peliharaan dan pilihan sekolah aja impresinya jutaan. komen penuh. berhari lewat masih hangat jadi pembicaraan. kutipannya juga nda kalah ramenya. Slain itu, naini, ada salah satu faktor lainnya yg secara basis masuk akal sbagemana diungkap @BangBib4. sana pengguna aktifnya 75 juta e. Aktif lho ya itu.... Lha sini by data 20 jt, kmungkinan aktifnya 2 juta aja. Itu pun puluhan nya (atau mungkin ratusan?), dikelola oleh hanya satu orangja... Mau ndak mengakui, lha wong nikita aja uda publish gituu e... Bisa ngejer kayak mreka ndak? Susah. tapi yabisaaa aja. Asal berangkatnya bukan ngejar angka user, tapi ngejar kualitas ekosistemnya. Ada bberapa hal yang scr real harus brubah: 1. Banyakin real engagement, bukan spam. lha mayoritas masih kejar angka: reply asal, rage bait, farming. Algoritma aja sudah berbenah lho. kalo algo makin ketat, kedepan konten kayak gitu bakal beneran tenggelam. Yang naik? Ya konten yg beneran menarik. yang dibaca, direspon, dan dibahas bareng. 2. Kalo belum bisa stop habis, minimal ya kurang-kurangin lah budaya multi-account & bot-like behavior. Selama 1 orang masih pegang banyak akun buat mainin sistem, angka user bakalan terus keliatan makin besar. Dan dari kacamata database yang sama, nilainya makin rendah. kualitasnya tiarappp. mau berdiri juga susah. 3. Bangun niche & komunitas Di Jepang, banyak komunitas kecil tapi solid (anime, tech, dll). Niche juga gitu. Mereka ngobrol terus. Ini bikin engagement stabil. Di kita? Semua hal semua bab, lewat timeline. cuma beberapa yg rame. bentaran. tapi habis itu juga ilang. 4. Konsisten, bukan yg viral cuma sesekali doang. Impresi tinggi yg berkualitas, bukan bersumber dari 1 pintu, 1 tweet viral. tapi lebih bagus dari 1 akun dengan banyak pintu. yang tiap harinya punya interaksi sehat. Ini akan lebih panjang dan tahan lama. 5. Algoritma yg anti ilusi dan Pro Kejernihan. Kalau sistem monetisasi & distribusi konten makin pro sama kualitas, secara natural ekosistem di endonesa juga bisa kebentuk lebih sehat. Dan perubahan yg terjadi belakang, bikin kita melek, kalo X juga juga sadar hal ini. Mereka pelan-pelan shifting ke dari Virality ke Value. Tampak jelas dari: ✅spam makin dibatasi ✅engagement palsu makin ditekan ✅kualitas interaksi makin dihargai dulu, ilusi macam spam dan settingan bisa unggul karena ya emang rame aja. Kedepan?Seandainya pun masih rame… ndak akan bs bertahan lama. Kecuali kontenkonten dan interkasi² yg lahirnya dr kejernihan. Ayo jejepangan! .......di endonesa.
bib new edition@BangBib4

Simple pengguna aktiv jepang 75 juta...itu kenapa impresi mereka sangat tinggi meskipun posting receh Pengguna aktiv indo ± 2 juta, meskipun dari data tertera sekitar 20 juta, mayoritas orang indonesia double acc bahkan sampai 10-100 akun per orang , kalau bukan ga hunter ya buzzer,,,semoga menjawab yang bingung kenapa impresi di indonesia sangat rendah

Indonesia
16
8
28
4.4K
within
within@_wedhatama·
@brian_bastara @ard1pras benar. basic kuat jd faktor yg kasi dampak besar. Di sini, bisa tapi emang butuh effort lebih. Kita punya jumlah, juga lumayan besar. dan ekspresif. Potensi ada, cuma ya perlu dibangun kebiasaan, biar ndak cuma ramai sesaat dan di circle² itu aja.
Indonesia
0
0
1
11
Brian Putra Bastara
Brian Putra Bastara@brian_bastara·
Kita harus akui Jepang adalah pasar terkuat kedua X di dunia setelah Amerika Serikat, dengan daily active users dan waktu yang dihabiskan di platform paling tinggi secara global.
satu tweet saja di Jepang punya potensi dilihat oleh puluhan juta orang aktif setiap hari dan itu jauh kalau dibandingkan dengan Indonesia
Indonesia
1
0
0
20
within
within@_wedhatama·
iyap. di sana, kalau ada sesuatu yg penting, kayaknya semua kasih perhatian. rang-orang bereaksi. reply, retweet, quote. semua pure krn mereka merasa itu penting dan jadi bagian dr mereka punya hidup. Kalau mau, kita bisa mulai dari kebiasaan bikin thread yg bernilai & sustain. di samping, mengurangi juga kepentingan pribadi. rasa mau unggul sendiri, menang sendiri, rame sendiri. Harus saling-saling mah. Biar asyik euy...
Indonesia
1
0
2
21
mmmzzz
mmmzzz@mikz1609·
Betul bgt, terasa beda jauh bgt waktu pulang merantau kmrn. Disana bahasannya pun jauh lbh berbobot, berisi, mengedukasi. Saling JB disana itu bener² bgt deh, misalnya 1 bahasan aja soal ADHD itu bisa berhari²/Minggu, terus dibahas Krn selalu ada replyan, RT jd rame teruss. PR kita sih buat menghidupkan sprt itu disini
Indonesia
1
0
1
21
within
within@_wedhatama·
@ard1pras nanti² kita akan bergeser. yuk bareng². dari asbun asbunan. upgrade jd asbun yg manfaatun.
Indonesia
0
0
1
16
Ardi Praswanto
Ardi Praswanto@ard1pras·
@_wedhatama Nah, bener. User Indo masih sukanya asbun. Yang penting asbun aja dulu, karena asbun masuk itungan impresi. Dan malah banyak yang asbun. Jadinya lupa bahwa sebetulnya X adalah sosmed utk berkonten. Walau asbun ya boleh2 aja.
Indonesia
1
0
1
26
within
within@_wedhatama·
@yourmathsphere wkwk. maunya gitu bwang. tpi krna waktu itu lg momen lebaran, masih disambi² yauda asal post dulu aja.. Ntar deh dirapiin lagi
Indonesia
0
0
0
16
within retweetledi
raja jawa🥂
raja jawa🥂@Kingskayl·
Twt yang mengedukasi atau memberi informasi seperti ini sering kali sepi, di bandingkan twt pendek yang asbun.
within@_wedhatama

Impresi jejepangan dan endonesaan kok sebegitunya berjarak? Yagimana. di jepang, ada faktor kuatnya literasi yg sering disebut-sebut. laintu, daily active yg konsisten, dan budaya reply plus diskusinya jauh lebih hidup. yang alumni jejepangan pasti mengiyakan. lha hal sesederhana hewan peliharaan dan pilihan sekolah aja impresinya jutaan. komen penuh. berhari lewat masih hangat jadi pembicaraan. kutipannya juga nda kalah ramenya. Slain itu, naini, ada salah satu faktor lainnya yg secara basis masuk akal sbagemana diungkap @BangBib4. sana pengguna aktifnya 75 juta e. Aktif lho ya itu.... Lha sini by data 20 jt, kmungkinan aktifnya 2 juta aja. Itu pun puluhan nya (atau mungkin ratusan?), dikelola oleh hanya satu orangja... Mau ndak mengakui, lha wong nikita aja uda publish gituu e... Bisa ngejer kayak mreka ndak? Susah. tapi yabisaaa aja. Asal berangkatnya bukan ngejar angka user, tapi ngejar kualitas ekosistemnya. Ada bberapa hal yang scr real harus brubah: 1. Banyakin real engagement, bukan spam. lha mayoritas masih kejar angka: reply asal, rage bait, farming. Algoritma aja sudah berbenah lho. kalo algo makin ketat, kedepan konten kayak gitu bakal beneran tenggelam. Yang naik? Ya konten yg beneran menarik. yang dibaca, direspon, dan dibahas bareng. 2. Kalo belum bisa stop habis, minimal ya kurang-kurangin lah budaya multi-account & bot-like behavior. Selama 1 orang masih pegang banyak akun buat mainin sistem, angka user bakalan terus keliatan makin besar. Dan dari kacamata database yang sama, nilainya makin rendah. kualitasnya tiarappp. mau berdiri juga susah. 3. Bangun niche & komunitas Di Jepang, banyak komunitas kecil tapi solid (anime, tech, dll). Niche juga gitu. Mereka ngobrol terus. Ini bikin engagement stabil. Di kita? Semua hal semua bab, lewat timeline. cuma beberapa yg rame. bentaran. tapi habis itu juga ilang. 4. Konsisten, bukan yg viral cuma sesekali doang. Impresi tinggi yg berkualitas, bukan bersumber dari 1 pintu, 1 tweet viral. tapi lebih bagus dari 1 akun dengan banyak pintu. yang tiap harinya punya interaksi sehat. Ini akan lebih panjang dan tahan lama. 5. Algoritma yg anti ilusi dan Pro Kejernihan. Kalau sistem monetisasi & distribusi konten makin pro sama kualitas, secara natural ekosistem di endonesa juga bisa kebentuk lebih sehat. Dan perubahan yg terjadi belakang, bikin kita melek, kalo X juga juga sadar hal ini. Mereka pelan-pelan shifting ke dari Virality ke Value. Tampak jelas dari: ✅spam makin dibatasi ✅engagement palsu makin ditekan ✅kualitas interaksi makin dihargai dulu, ilusi macam spam dan settingan bisa unggul karena ya emang rame aja. Kedepan?Seandainya pun masih rame… ndak akan bs bertahan lama. Kecuali kontenkonten dan interkasi² yg lahirnya dr kejernihan. Ayo jejepangan! .......di endonesa.

Indonesia
4
1
8
496
within retweetledi
BEN
BEN@inisuperben·
Tweet edukasi bagus nih
within@_wedhatama

Impresi jejepangan dan endonesaan kok sebegitunya berjarak? Yagimana. di jepang, ada faktor kuatnya literasi yg sering disebut-sebut. laintu, daily active yg konsisten, dan budaya reply plus diskusinya jauh lebih hidup. yang alumni jejepangan pasti mengiyakan. lha hal sesederhana hewan peliharaan dan pilihan sekolah aja impresinya jutaan. komen penuh. berhari lewat masih hangat jadi pembicaraan. kutipannya juga nda kalah ramenya. Slain itu, naini, ada salah satu faktor lainnya yg secara basis masuk akal sbagemana diungkap @BangBib4. sana pengguna aktifnya 75 juta e. Aktif lho ya itu.... Lha sini by data 20 jt, kmungkinan aktifnya 2 juta aja. Itu pun puluhan nya (atau mungkin ratusan?), dikelola oleh hanya satu orangja... Mau ndak mengakui, lha wong nikita aja uda publish gituu e... Bisa ngejer kayak mreka ndak? Susah. tapi yabisaaa aja. Asal berangkatnya bukan ngejar angka user, tapi ngejar kualitas ekosistemnya. Ada bberapa hal yang scr real harus brubah: 1. Banyakin real engagement, bukan spam. lha mayoritas masih kejar angka: reply asal, rage bait, farming. Algoritma aja sudah berbenah lho. kalo algo makin ketat, kedepan konten kayak gitu bakal beneran tenggelam. Yang naik? Ya konten yg beneran menarik. yang dibaca, direspon, dan dibahas bareng. 2. Kalo belum bisa stop habis, minimal ya kurang-kurangin lah budaya multi-account & bot-like behavior. Selama 1 orang masih pegang banyak akun buat mainin sistem, angka user bakalan terus keliatan makin besar. Dan dari kacamata database yang sama, nilainya makin rendah. kualitasnya tiarappp. mau berdiri juga susah. 3. Bangun niche & komunitas Di Jepang, banyak komunitas kecil tapi solid (anime, tech, dll). Niche juga gitu. Mereka ngobrol terus. Ini bikin engagement stabil. Di kita? Semua hal semua bab, lewat timeline. cuma beberapa yg rame. bentaran. tapi habis itu juga ilang. 4. Konsisten, bukan yg viral cuma sesekali doang. Impresi tinggi yg berkualitas, bukan bersumber dari 1 pintu, 1 tweet viral. tapi lebih bagus dari 1 akun dengan banyak pintu. yang tiap harinya punya interaksi sehat. Ini akan lebih panjang dan tahan lama. 5. Algoritma yg anti ilusi dan Pro Kejernihan. Kalau sistem monetisasi & distribusi konten makin pro sama kualitas, secara natural ekosistem di endonesa juga bisa kebentuk lebih sehat. Dan perubahan yg terjadi belakang, bikin kita melek, kalo X juga juga sadar hal ini. Mereka pelan-pelan shifting ke dari Virality ke Value. Tampak jelas dari: ✅spam makin dibatasi ✅engagement palsu makin ditekan ✅kualitas interaksi makin dihargai dulu, ilusi macam spam dan settingan bisa unggul karena ya emang rame aja. Kedepan?Seandainya pun masih rame… ndak akan bs bertahan lama. Kecuali kontenkonten dan interkasi² yg lahirnya dr kejernihan. Ayo jejepangan! .......di endonesa.

Indonesia
0
1
2
102
within retweetledi
Kick Nost
Kick Nost@kicknost·
Tes buat penguna X baik cenblu atau bukan, berani baca utas ini sampai habis ga? 👇🏻👀
within@_wedhatama

Impresi jejepangan dan endonesaan kok sebegitunya berjarak? Yagimana. di jepang, ada faktor kuatnya literasi yg sering disebut-sebut. laintu, daily active yg konsisten, dan budaya reply plus diskusinya jauh lebih hidup. yang alumni jejepangan pasti mengiyakan. lha hal sesederhana hewan peliharaan dan pilihan sekolah aja impresinya jutaan. komen penuh. berhari lewat masih hangat jadi pembicaraan. kutipannya juga nda kalah ramenya. Slain itu, naini, ada salah satu faktor lainnya yg secara basis masuk akal sbagemana diungkap @BangBib4. sana pengguna aktifnya 75 juta e. Aktif lho ya itu.... Lha sini by data 20 jt, kmungkinan aktifnya 2 juta aja. Itu pun puluhan nya (atau mungkin ratusan?), dikelola oleh hanya satu orangja... Mau ndak mengakui, lha wong nikita aja uda publish gituu e... Bisa ngejer kayak mreka ndak? Susah. tapi yabisaaa aja. Asal berangkatnya bukan ngejar angka user, tapi ngejar kualitas ekosistemnya. Ada bberapa hal yang scr real harus brubah: 1. Banyakin real engagement, bukan spam. lha mayoritas masih kejar angka: reply asal, rage bait, farming. Algoritma aja sudah berbenah lho. kalo algo makin ketat, kedepan konten kayak gitu bakal beneran tenggelam. Yang naik? Ya konten yg beneran menarik. yang dibaca, direspon, dan dibahas bareng. 2. Kalo belum bisa stop habis, minimal ya kurang-kurangin lah budaya multi-account & bot-like behavior. Selama 1 orang masih pegang banyak akun buat mainin sistem, angka user bakalan terus keliatan makin besar. Dan dari kacamata database yang sama, nilainya makin rendah. kualitasnya tiarappp. mau berdiri juga susah. 3. Bangun niche & komunitas Di Jepang, banyak komunitas kecil tapi solid (anime, tech, dll). Niche juga gitu. Mereka ngobrol terus. Ini bikin engagement stabil. Di kita? Semua hal semua bab, lewat timeline. cuma beberapa yg rame. bentaran. tapi habis itu juga ilang. 4. Konsisten, bukan yg viral cuma sesekali doang. Impresi tinggi yg berkualitas, bukan bersumber dari 1 pintu, 1 tweet viral. tapi lebih bagus dari 1 akun dengan banyak pintu. yang tiap harinya punya interaksi sehat. Ini akan lebih panjang dan tahan lama. 5. Algoritma yg anti ilusi dan Pro Kejernihan. Kalau sistem monetisasi & distribusi konten makin pro sama kualitas, secara natural ekosistem di endonesa juga bisa kebentuk lebih sehat. Dan perubahan yg terjadi belakang, bikin kita melek, kalo X juga juga sadar hal ini. Mereka pelan-pelan shifting ke dari Virality ke Value. Tampak jelas dari: ✅spam makin dibatasi ✅engagement palsu makin ditekan ✅kualitas interaksi makin dihargai dulu, ilusi macam spam dan settingan bisa unggul karena ya emang rame aja. Kedepan?Seandainya pun masih rame… ndak akan bs bertahan lama. Kecuali kontenkonten dan interkasi² yg lahirnya dr kejernihan. Ayo jejepangan! .......di endonesa.

Indonesia
1
3
4
210
within retweetledi
Awan
Awan@camateldia·
Kalo kalian masih bertanya tanya kenapa Jepang, ini salah satu jawabannya wkwkwk
within@_wedhatama

Impresi jejepangan dan endonesaan kok sebegitunya berjarak? Yagimana. di jepang, ada faktor kuatnya literasi yg sering disebut-sebut. laintu, daily active yg konsisten, dan budaya reply plus diskusinya jauh lebih hidup. yang alumni jejepangan pasti mengiyakan. lha hal sesederhana hewan peliharaan dan pilihan sekolah aja impresinya jutaan. komen penuh. berhari lewat masih hangat jadi pembicaraan. kutipannya juga nda kalah ramenya. Slain itu, naini, ada salah satu faktor lainnya yg secara basis masuk akal sbagemana diungkap @BangBib4. sana pengguna aktifnya 75 juta e. Aktif lho ya itu.... Lha sini by data 20 jt, kmungkinan aktifnya 2 juta aja. Itu pun puluhan nya (atau mungkin ratusan?), dikelola oleh hanya satu orangja... Mau ndak mengakui, lha wong nikita aja uda publish gituu e... Bisa ngejer kayak mreka ndak? Susah. tapi yabisaaa aja. Asal berangkatnya bukan ngejar angka user, tapi ngejar kualitas ekosistemnya. Ada bberapa hal yang scr real harus brubah: 1. Banyakin real engagement, bukan spam. lha mayoritas masih kejar angka: reply asal, rage bait, farming. Algoritma aja sudah berbenah lho. kalo algo makin ketat, kedepan konten kayak gitu bakal beneran tenggelam. Yang naik? Ya konten yg beneran menarik. yang dibaca, direspon, dan dibahas bareng. 2. Kalo belum bisa stop habis, minimal ya kurang-kurangin lah budaya multi-account & bot-like behavior. Selama 1 orang masih pegang banyak akun buat mainin sistem, angka user bakalan terus keliatan makin besar. Dan dari kacamata database yang sama, nilainya makin rendah. kualitasnya tiarappp. mau berdiri juga susah. 3. Bangun niche & komunitas Di Jepang, banyak komunitas kecil tapi solid (anime, tech, dll). Niche juga gitu. Mereka ngobrol terus. Ini bikin engagement stabil. Di kita? Semua hal semua bab, lewat timeline. cuma beberapa yg rame. bentaran. tapi habis itu juga ilang. 4. Konsisten, bukan yg viral cuma sesekali doang. Impresi tinggi yg berkualitas, bukan bersumber dari 1 pintu, 1 tweet viral. tapi lebih bagus dari 1 akun dengan banyak pintu. yang tiap harinya punya interaksi sehat. Ini akan lebih panjang dan tahan lama. 5. Algoritma yg anti ilusi dan Pro Kejernihan. Kalau sistem monetisasi & distribusi konten makin pro sama kualitas, secara natural ekosistem di endonesa juga bisa kebentuk lebih sehat. Dan perubahan yg terjadi belakang, bikin kita melek, kalo X juga juga sadar hal ini. Mereka pelan-pelan shifting ke dari Virality ke Value. Tampak jelas dari: ✅spam makin dibatasi ✅engagement palsu makin ditekan ✅kualitas interaksi makin dihargai dulu, ilusi macam spam dan settingan bisa unggul karena ya emang rame aja. Kedepan?Seandainya pun masih rame… ndak akan bs bertahan lama. Kecuali kontenkonten dan interkasi² yg lahirnya dr kejernihan. Ayo jejepangan! .......di endonesa.

Indonesia
1
1
3
681
within
within@_wedhatama·
@Ady_Ardyllano mantepp.. masih lebih bagus dibanding lepas kontrol sama sekali. banyak yg, kerja asal kerja. jalan asal jalan. satu ngiri ikut ngiri. besoknya nganan semua ikut ke kanan. rubuh rubuh gedang ndak nemu sangkan paran. yg begini, biasanya sumber dari banyak kelelahan dn kesedihan.
Indonesia
0
0
0
1