expecto inversio
232 posts

expecto inversio
@abangbadrol3
tempat misuh


keyos bolo TBSimatupang arah RSFatmawati fo ,dr naik sampe turun dkt Shell 15 menit 😅

Solusi TB Simatupang dari dulu udah jelas apa. Percepat pembuatan ini secepat cepatnya!!! Nih saya bikin (tanpa AI):





Jakarta maju karena merupakan titik akhir hilirisasi uang seluruh Indonesia. Sawit, tambang, semua uang mengalir ke Jakarta. Mending kalau jadi MRT. Biasanya hanya ditimbun jadi rumah di PIK 2. Aliran Uang ini penyebab langsung konflik gentrifikasi dan kolonisasi Teluk Naga. Sering kita dengar, "Uang sebaiknya diinvestasikan untuk beli properti, karena nanti harganya pasti naik." Inilah persisnya yang dimaksud dengan "ditimbun di PIK 2". Aliran Uang masuk Jakarta melimpah terlalu banyak, bingung mau diapakan, akhirnya "diinvestasikan ke properti" karena "harga properti pasti naik". Aliran uang ini kemudian berubah menjadi tembok yang tumbuh liar memotong-motong ruang perdesaan Banten, Bogor, dll tanpa perecanaan. Padahal, lahan di Jabodetabek sangat terbatas. Scarce resource. Solusi ketimpangan ini simpel: pajak nilai tanah. Land value tax. Pajaknya harus naik. Pajaknya harus dinaikkan sedemikian rupa untuk mempromosikan pemakaian tanah yang betulan efektif. Penimbun aset tanah yang gabut harus dibuat menjerit sekeras-kerasnya. Apalagi kalau tanahnya dibiarkan kosong tidak jelas, bukannya dibangun secara produktif untuk kekayaan bersama. Padahal tanah di Jakarta sangat sedikit. Di Jakarta sangat banyak lahan rumput kosong yang ditembok dan tidak digunakan untuk apapun. Yang seperti ini terutama harus dipajaki setinggi-tingginya. Mafia tanah dan ormas sewaan yang menghalangi dan menyulitkan proses ini harus ditembak. Uang pajaknya dipakai apa? Ya dipakai buat menyembuhkan dampak merusak model Tata Kota Bertembok yang ada di Jabodetabek. Mau tidak mau, perkotaannya harus ditata ulang. Penataan ulangnya tidak perlu ekstrem. Daripada mencontoh penggusuran massal otoriter seperti di Singapura, lebih baik mencontoh penataan ulang terdesentralisasi dan bertahap seperti di Tokyo. Hari ini tata kota Tokyo tetap acak-acakan secara aesthetic, tapi penduduknya hidup dengan layak dan dignified. Apalagi, model Tata Kota Bertembok Jabodetabek saat ini juga sedang menyebabkan bencana ekologis yang parah. Jika dibiarkan, semakin lama akan semakin tidak menyenangkan.


Unpopular opinion soal Kota Jakarta



















