abeabeabe

197 posts

abeabeabe banner
abeabeabe

abeabeabe

@abemikir

Memilih bass clef sebagai bahasa ibu

Katılım Şubat 2022
62 Takip Edilen16 Takipçiler
abeabeabe retweetledi
miel... 💭
miel... 💭@onetwocue·
kalo untuk sekadar napak tanah atau ‘mengabdi’ harus lewat kkn, in which dalam prosesnya kau harus nerima duit dari perusahaan destruktif yg ngerusak kehidupan masyarakat di tempat kau kkn selama bertahun-tahun, mending gausah kkn di sana atau kkn di tel aviv aja sekalian.
Indonesia
2
69
636
15.1K
abeabeabe retweetledi
Dastardly Do-Gooder
Dastardly Do-Gooder@annadashzvezda·
Lo tau ga sih demand joki tugas di PTS sebesar apa
Muii muii@G3nX_files

UI Menciptakan Pengkritik melahirkan politisi, BINUS Menciptakan pengusaha Melahirkan Pencipta. Tidak semua kampus mencetak lulusan dengan cara berpikir yang sama. Ada kampus yang membentuk mahasiswanya untuk menjadi politisi dan memegang jabatan dalam pemerintahan. Ada kampus yang membentuk mahasiswanya untuk menjadi pengusaha sukses melahirkan sesuatu yang baru dan bermanfaat untuk rakyat. Perbedaan itulah yang terlihat antara kultur yang berkembang di Universitas Indonesia (UI) dan BINUS. UI sejak lama dikenal sebagai salah satu pusat aktivisme mahasiswa terbesar di Indonesia. Mahasiswanya terbiasa berdiskusi tentang politik, demokrasi, kebijakan publik, ketimpangan sosial, dan berbagai isu kenegaraan. Dari rahim UI lahir banyak politisi, aktivis, birokrat, menteri, anggota DPR, hingga tokoh pergerakan nasional. Dari rahim BINUS lahir banyak pengusaha teknologi, bisnis, inovasi, kewirausahaan, startup, dan ekonomi digital. Mahasiswa BINUS lebih sering berbicara tentang produk, aplikasi, investasi, kecerdasan buatan, dan peluang pasar dibandingkan dinamika politik praktis. Mahasiswa UI lebih sering berbicara tentang kekuasaan, bagaimana cara menggapainya, bagaimana cara meraihnya agar masa depan mereka cemerlang, salah satunya adalah dgn berpura2 bela rakyat. Perbedaan kultur tersebut terlihat jelas ketika menghadapi sebuah masalah. Ketika harga pangan naik, mahasiswa UI : Menuntut harga BBM jangan naik. Menuntut penggunaan APBN tidak boros. Menuntut harga sembako turun. Menuntut harga hasil panen petani naik. Menuntut Program Makan Bergizi Gratis dihentikan. Jika harga gabah naik, harga beras berpotensi naik. Jika harga beras turun, petani berpotensi menerima pendapatan lebih rendah. Jika subsidi BBM diperbesar, anggaran negara harus bertambah artinya pemborosan. Jika program MBG dihentikan, salah satu pasar terbesar bagi hasil pertanian, peternakan, dan UMKM pangan justru hilang. Ironisnya, kontradiksi seperti ini jarang dibahas di atas mobil komando. Sementara mahasiswa BINUS : Ketika melihat harga pangan mahal, mereka berpikir bagaimana memangkas rantai distribusi. Ketika melihat produktivitas petani rendah, mereka berpikir bagaimana menerapkan teknologi pertanian. Ketika melihat lapangan kerja kurang, mereka berpikir bagaimana menciptakan perusahaan baru. Ketika ada persoalan ekonomi, mahasiswa UI memilih cara kekerasan dengan turun ke jalan membawa tuntutan. Kelompok kedua justru membuka laptop dan mencoba membangun solusi. Tentu tidak semua mahasiswa UI seperti itu dan tidak semua mahasiswa BINUS seperti ini. Namun secara umum, kultur yang berkembang memang mengarah ke sana. Akibatnya, tidak mengherankan jika demonstrasi mahasiswa yang menuntut harga BBM tidak naik, harga sembako turun, harga hasil panen petani naik, dan Program Makan Bergizi Gratis dihapus lebih sering lahir dari lingkungan yang kultur politiknya kuat dibanding kultur kewirausahaan dan teknologi. Masalahnya, ekonomi tidak berjalan berdasarkan slogan. Tidak mungkin harga hasil panen petani naik sementara harga pangan terus turun tanpa ada peningkatan produktivitas. Tidak mungkin subsidi terus diperbesar tanpa memikirkan sumber anggaran. Tidak mungkin APBN hemat jika subsidi di perbesar. Tidak mungkin kesejahteraan petani meningkat jika pasar yang menyerap hasil pertanian justru dikurangi. Di sinilah terlihat perbedaan cara berpikir yang dibentuk oleh kultur kampus. Kultur aktivisme menghasilkan amarah dan kemampuan mengkritik tanpa solusi. Kultur inovasi menghasilkan kemampuan memecahkan masalah dengan solusi. Kultur politik melahirkan demonstran dan politisi. Kultur kewirausahaan melahirkan pencipta lapangan kerja. Kultur perlawanan melahirkan tuntutan. Kultur teknologi melahirkan solusi. Indonesia membutuhkan keduanya. Namun yang perlu diingat, negara tidak bisa dibangun hanya dengan kritik dan tuntutan. Jalan raya tidak dibangun oleh demonstrasi. Pabrik tidak dibangun oleh spanduk. Lapangan kerja tidak lahir dari pengeras suara. Kemajuan bangsa lahir dari inovasi, investasi, produktivitas, dan keberanian menciptakan sesuatu yang baru. Mungkin karena itulah kita jarang mendengar lulusan startup sukses berkata, "Mari turun ke jalan." Mereka biasanya berkata, "Mari kita bangun solusinya." Dan dalam jangka panjang, sejarah sering kali lebih mengingat para pencipta solusi dibanding para penyampai tuntutan.

Indonesia
17
71
1.3K
101.4K
abeabeabe retweetledi
xximbecile
xximbecile@xximbecile2·
FYI kalo U gak academically smart, bukan berarti U otomatis jadi street smart. Bisa aja bego dua-duanya.
Indonesia
199
5.8K
32.3K
540.2K
abeabeabe
abeabeabe@abemikir·
Sblum vs ssdah
abeabeabe tweet mediaabeabeabe tweet media
Indonesia
0
0
0
138
abeabeabe retweetledi
Merantau Ke Jerman
Merantau Ke Jerman@amouraXexa·
Tidak semua orang cocok hidup di Eropa. Dan ini bukan soal kuat atau tidak kuat. Tapi soal budaya hidup yang sangat berbeda. Banyak orang Indonesia bermimpi pindah ke Eropa. Gaji lebih tinggi. Transportasi bagus. Negara rapi. Dan.. semua itu memang benar.
Merantau Ke Jerman tweet mediaMerantau Ke Jerman tweet media
Indonesia
87
191
1.8K
164.3K
abeabeabe retweetledi
Faiz
Faiz@radenfaizz·
Ada tipe 2 manusia yang susah dikasih tau: 1. Pemerintah 2. Perokok
Indonesia
6
7
184
11K
abeabeabe retweetledi
meki
meki@mekitron·
like pulang, yet another book berlatar 65 yg tokoh2 utamanya ga ada yg beneran komunis, hanya pacaran sama org komunis, atau berkeluarga sama org komunis, sehingga harus ikutan terseret mengalami risiko ideologi mrk; secara totalitas buku2 seperti ini mendorong kesan bahwa ga pernah bener2 ada org indonesia dalam sejarah kita yg secara sadar emg ingin berideologi komunis dan percaya dengan perjuangannya (padahal jutaan — ya dibunuhin sih gmn dong). its a subtle mindfuck yg udh dimulai dr cerpen2 horison yg sok berpihak pada korban di awal tahun 70an tp lebih menekankan pada penyesalan mereka kenapa ikut2an pki sekarang menderita deh, lowkey stigmatising pki yg sudah berjasa banyak dalam sejarah indonesia. oh also the sok poetic purple prose sucks. tiba2 di akhir sok jadi epistolary novel without adding any structural complexity — sok showy tp malah lame.
Indonesia
7
19
129
5.3K
abeabeabe retweetledi
Adi
Adi@selokali·
@basebuku Kenapa sih takut sekali dibilang bukunya jelek? Secara objektif, pasti ada buku jelek Lagipula, kalau semua buku dianggap bagus, ekosistem pembacaan yang sehat tidak akan pernah terealisasi, karena kita semua akan hidup di dunia utopis tanpa diskursus yang tidak memijak tanah.
Indonesia
0
12
99
2K
abeabeabe
abeabeabe@abemikir·
@dhetaesha WKWK Ga secara harafiah yahh cuma in general formulasinya itu lho yang mirip.. ga berani bilang nyontek sihh tapi penulisnya keknya ngefans juga sama buku itu🤣
Indonesia
0
0
0
41
데이🍉
데이🍉@dhetaesha·
@abemikir Baca twit lain mengenai buku ini sih katanya agak2 mirip sama tteokboki itu cuma versi mie ayamnya?😭 Wkwkwk, takut terlalu offensive, ya? Okay, thx for explaining kak.
Indonesia
1
0
0
56
데이🍉
데이🍉@dhetaesha·
Kenapa baru ada twit ginian...udah terlanjur beli tp belum baca, sih..dan ngeliat temen2 bookworm ga pernah ada yg rekom ini sih sebelumnya😭
abeabeabe@abemikir

@buihpantai Aku sih tidak merasa punya kredibilitas untuk bilang gimana-gimana yah.. tapi yang jelas buku ini tidak akan aku rekomendasikan untuk dibeli. Eman-eman duitmu ☺️

Indonesia
1
0
0
145
abeabeabe retweetledi
Katyayani Shukla
Katyayani Shukla@aibytekat·
this guy literally drops banger after banger:
Katyayani Shukla tweet mediaKatyayani Shukla tweet mediaKatyayani Shukla tweet mediaKatyayani Shukla tweet media
English
301
13.8K
124.1K
4.4M