MEDAN – Sebuah video berdurasi sekitar 20 detik beredar di sejumlah grup WhatsApp sejak Sabtu malam, 16 Mei 2026. Video itu memperlihatkan dua orang yang diduga menggunakan alat yang disebut “Pot Getar” atau PG.
Dalam keterangan yang menyertai unggahan, peristiwa tersebut disebut terjadi di salah satu apartemen di Medan, Sumatera Utara. Para pelaku disebut berasal dari Lhokseumawe, Aceh.
Hingga saat ini belum ada konfirmasi resmi dari pihak kepolisian terkait kebenaran video dan identitas orang dalam rekaman tersebut. Informasi yang beredar juga belum diverifikasi secara independen.
Menanggapi beredarnya video itu, sejumlah warga melalui unggahan yang sama meminta aparat penegak hukum di Sumatera Utara untuk menelusuri dan mengusut kasus tersebut. Pihak yang disebut antara lain Kapolda Sumut, BNNP Sumut, Direktorat Narkoba Polda Sumut, dan Polrestabes Medan.
Pihak berwenang biasanya akan melakukan penyelidikan terlebih dahulu untuk memastikan keaslian video, lokasi kejadian, dan unsur pidana yang mungkin terjadi sebelum mengambil langkah hukum.
🔂 mira_hariini
Pernyataan Prabowo orang desa tidak pakai dolar, mudah dipahami rakyat kecil namun diolok-olok pengamat abal-abal!!
Ini soal realitas kehidupan mayoritas rakyat Indonesia yang tinggal di desa butuhnya beras yang murah, pupuk terjangkau, irigasi yang lancar, jalan desa yang bagus, pasar yang ramai, harga gabah yang stabil, listrik & air bersih. Mereka butuh hasil panen laku dengan harga yang layak bukan naik-turun mengikuti kurs dolar. Mereka butuh ekonomi riil yang kuat bukan spekulasi valuta asing di Jakarta atau Singapura
Jadi siapa yang sebenarnya "butuh" dolar setiap hari? Bukan petani, bukan nelayan, bukan pedagang pasar. Yang butuh dolar adalah importir besar, korporasi & orang kota yang suka liburan ke luar negeri atau beli barang branded impor
Asalkan fundamental ekonomi kita bagus, pertumbuhan tetap oke, inflasi terjaga & cadangan devisa kuat maka rupiah akan membaik dengan sendirinya. Janganlah melemahnya rupiah ini digunakan untuk menakut-nakuti rakyat seolah-olah ekonomi Indonesia akan hancur!!
Makna Pertemuan Xi-Trump
Yang menarik dari manuver terbaru Donald Trump terhadap Iran adalah: tampaknya Washington mulai kehabisan pilihan.
Perang terlalu mahal dan berisiko. Diplomasi juga tidak menghasilkan banyak hal. Karena itu, kartu terakhir yang tampaknya dimainkan Trump adalah mencoba menggunakan China untuk menekan Tehran.
Masalahnya, baik Iran maupun China tahu bahwa Trump sedang berada dalam posisi sulit.
Tekanan maksimum terhadap Iran tidak berhasil membuat Tehran menyerah. Iran tetap bertahan, bahkan berhasil meningkatkan biaya politik dan militer bagi AS di kawasan. Dalam situasi seperti ini, Trump membutuhkan jalan keluar yang tidak terlihat seperti kekalahan.
Dan China memahami itu.
Karena itulah Beijing tidak mungkin memberi bantuan gratis kepada Washington. Jika AS ingin China membantu meredakan krisis, maka Trump juga harus menawarkan sesuatu yang sesuai dengan kepentingan China. Menariknya, kepentingan China dalam isu ini justru cukup dekat dengan kepentingan Iran dan negara-negara Teluk:
stabilitas perdagangan,
keamanan energi,
dan kelancaran navigasi laut.
Di sinilah istilah “innocent passage” atau jalur pelayaran damai menjadi penting. Bisa jadi ini akan menjadi semacam “kata sandi” untuk memfasilitasi mundurnya Trump secara perlahan.
Dengan skema itu, kapal-kapal dagang bisa kembali melintas normal di Selat Hormuz tanpa hambatan besar seperti beberapa pekan terakhir. AS bisa mengurangi eskalasi tanpa harus mengakui kegagalan secara terbuka.
Dan yang menarik: skenario seperti ini juga tidak bertentangan dengan kepentingan Iran.
Tehran justru bisa melihatnya sebagai langkah yang menguntungkan proyek jangka panjang Iran untuk memiliki peran lebih besar dalam pengelolaan keamanan selat tersebut.
Artinya, ini bukan situasi di mana satu pihak menang total dan pihak lain kalah total. Yang sedang terjadi lebih mirip proses mencari titik mundur yang bisa diterima semua pihak.
Karena dari sudut pandang Iran, jika pilihannya adalah menyerah total kepada tekanan AS atau melanjutkan konfrontasi, maka perang jangka panjang justru dianggap lebih murah dibanding tunduk kepada musuh.
Dan China tampaknya memahami logika itu dengan sangat baik.
[tulisan ini disadur dari tweet Dr @hasanahmadian (Univ Tehran), bukan terjemahan secara harfiah]
Posso farvi una richiesta? Per favore, non smettete di parlare della Palestina. Lasciate un punto per influenzare l'algoritmo. 💔🇵🇸 Mi seguireste per sostenere?
MENTERI AGAMA KALI INI OFFSIDE
Sebagian masyarakat dan pemerhati adat budaya Aceh menyampaikan sikap keberatan resmi kepada Menteri Agama RI terkait penggunaan pakaian adat Aceh dalam penyampaian ucapan yang berkaitan dengan simbol dan perayaan keagamaan non muslim.
Menurut mereka, hal itu menimbulkan keresahan dan ketersinggungan, karena pakaian adat Aceh memiliki makna mendalam yang tak terpisahkan dari nilai budaya, sejarah, dan syariat Islam.
Pernyataan sikap dan keberatan itu tertuang dalam surat terbuka yang ditandatangani Tgk. Moch JQ Aminullah, BcHk., atas nama masyarakat dan pemerhati adat Aceh, tertanggal 10 Mei 2026, yang ditujukan langsung kepada Menteri Agama Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.Adi, di Jakarta.
Surat ini juga ditembuskan kepada Presiden RI, Ketua DPR RI, Menteri Dalam Negeri, Majelis Adat Aceh, MPU Aceh, serta Ombudsman RI. Dalam suratnya, para pemerhati adat menegaskan bahwa bagi masyarakat Aceh, pakaian adat bukan sekadar busana seremonial, melainkan simbol kehormatan, identitas sejarah, nilai syariat, dan marwah Aceh sebagai Serambi Mekkah. Penggunaannya harus memegang teguh etika, penghormatan budaya, dan sensitivitas sosial. “Kami memahami dan menjunjung tinggi keberagaman serta toleransi beragama sesuai konstitusi.
Namun, penggunaan atribut adat Aceh dalam konteks ucapan keagamaan tertentu tanpa mempertimbangkan nilai dan sensitivitas budaya daerah telah menimbulkan keresahan di tengah masyarakat Aceh,” tegas isi surat tersebut.
Keberatan ini didasarkan pada landasan hukum, budaya, dan agama yang kuat, antara lain Pasal 18B ayat (2) UUD 1945 yang mengakui hak masyarakat hukum adat, serta Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh yang menjamin kekhususan adat dan budaya berlandaskan syariat Islam
One of the most horrifying stories in modern history.
A 16-year-old Palestinian boy was pinned to the ground by an Israeli soldier — then crushed to death by an Israeli bulldozer.
Beberapa hari ini saya chek termasuk ke Gus Yusuf @yusuf_ch calon Ketum PBNU ; siapa bajingan yang mengaku sebagai Kyai atau pesantren di Pati Jateng itu; ternyata tidak dikenal di kalangan Kyai-kyai NU. pengurus NU kok diam aja sih !
Saya minta pengurus PKB di semua tingkatan bergerak mengantisipasi supaya peristiwa seperti ini tidak boleh terjadi lagi dimanapun.
Ce sont des sauvages qui n’ont rien à voir avec l’humanité !!! vous pouvez me traiter de raciste de ce que vous voulez, je m’en fous x.com/jeanmigor/stat…
Seorang pria Belanda berpose ala colonial trophy menduduki seekor buaya di Palu tahun 1935.
Buaya tersebut ditangkap dan dibunuh karena memakan seorang nelayan lokal.
Begitu perut buaya dibelah, terlihat pemandangan yang mengerikan.
Lanjut ke bawah bagi yang mau lihat 👇🏼
Rupanya Bapak Presiden saat berkuasa paling gak senang sama orang orang yg mengkritiknya, mungkin sukanya kepada yg setiap saat memuji, memuja bahkan yg menjilat.
Kerna itu bisa dimaklumi sih apabila Bapak Presiden bisa dekat dgn orang2 di PSI dan pendukung setia mantan presiden..
Meski pun dulunya mereka inilah yg paling getol mengkritik, bahkan menyerang pribadi dgn menghina, merendahkan bahkan menghujat dirinya, tapi sekarang agaknya hanya merekalah yg paling siap menjadi penjilat tanpa limit...