noufavyz

509 posts

noufavyz banner
noufavyz

noufavyz

@aevenilatte

dump ig??

Katılım Aralık 2021
5 Takip Edilen1 Takipçiler
liya ౨ৎ
liya ౨ৎ@smoochiesyy·
guys info freelance wfh yg trusted dong untuk pelajar, yg kalo bisa perhari cair, thank you!
Indonesia
43
1
11
12.1K
aley
aley@leidows·
@lewwschan Aku masih open freelance nih ka kalo kamu user ios dan idnya udah setahun. Klo ga make ios bisa jadi rekruter untuk rekrut usernya. For more info dm
Indonesia
4
0
0
303
bubulll
bubulll@lewwschan·
info freelance yg trusted, ga bayar diawal, ga download apk, dan bener bener ada hasilnya donggg. bu bangettt plisss #zonauang #freelance #wfh
Indonesia
18
0
4
1.8K
sarah | gowwtip
sarah | gowwtip@magrkeu·
Hai temen temen, aku lagi butuh orang untuk jaswar tiket. Ga berpengalaman gapapa tapi yg penting jujur amanah yh 🫰 fee kalo secured 50 - 300/tix. Bisa dm atau reply kalo berminat yahh 💗😁🫰 #zonauang #zonajajan
Indonesia
17
1
1
3.3K
noufavyz retweetledi
hani²⁶ || lolos snbp UNDIP
what if kuliah gratis, buku-buku gratis, transum merata ke seluruh daerah, tenaga pendidik digaji layak, lulus kuliah ga pusing cari kerja, perpusda buka 24 jam, trotoar layak pakai, UMR naik, ga ada parkir dan pungli. (omg mimpi basah ak as a wni hiks)
Indonesia
382
38.4K
101.5K
721.9K
noufavyz retweetledi
Rachel Gratia
Rachel Gratia@rchlgrtl·
Oiya sama nambahin, gaada ya njir gue mau diadu horizontal sm cewe yg dianggep kosong. Apalah anjing, dikira semua orang punya akses dan privilege yg sama dalam pendidikan dan hobi kali ya? Leave me and my girls alone!
Indonesia
0
149
1.6K
21.9K
noufavyz retweetledi
cipaw²⁶ 🪼 #lockin | free tag
boong bngt klo ga sedih........ ya Allah, izinkanlah aku menang di atas segala keraguanku dan keraguan orang lain
cipaw²⁶ 🪼 #lockin | free tag tweet media
Indonesia
62
20K
51.3K
429.7K
noufavyz retweetledi
Lambe Saham
Lambe Saham@LambeSahamjja·
Gila ya semua" aja dijadiin duit.. negara kita ini ladang nyari duit , ekploitasi dimana2 besar" an ..........
Lambe Saham tweet media
Indonesia
92
5K
18.2K
194.3K
noufavyz retweetledi
kale
kale@kalistohenituse·
Gue lebih setuju kalau perokok yang harusnya repot cari smoking room, bukan non perokok yg repot cari non smoking room 🗿
tyaza@horcruxsh

semua opini tentang perokok

Indonesia
232
19.6K
57K
1.2M
noufavyz retweetledi
KATA HATI🤍
KATA HATI🤍@Katakatahatiind·
THANKS PAK PRABOWO semenjak indonesia dipimpin bapak banyak sekali rekor sejarah terpecahkan. 1. kurs usd/idr hampir rp 17.200. paling terpuruk dlm sejarah. 2. utang jatuh tempo di 2026 sebesar rp 833 t. tertinggi dalam sejarah. 3. defisit apbn paling lebar dalam sejarah. dan semua rekor ini terpecahkan hanya dalam waktu 1.5th saja. keren, pak
Indonesia
246
21.2K
54.7K
900.3K
noufavyz retweetledi
Ein🌪️
Ein🌪️@yurahiranatte·
@SistersInDanger Gua nggak kebayang jadi perempuan di masa itu🙂 everything must be harder than it is now
Indonesia
1
120
2.9K
31K
noufavyz retweetledi
Sisters in Danger x Simponi
Sisters in Danger x Simponi@SistersInDanger·
Empat syarat Kartini sebelum (terpaksa) mau dipoligami: 1. Boleh mendirikan sekolah & mengajar untuk putri di Rembang, melanjutkan cita-citanya memajukan pendidikan perempuan. 2. Penolakan adat feodal dalam upacara pernikahan: tidak mau berjalan jongkok di belakang suami, tidak berlutut, tidak menyembah/mencium kaki suami. 3. Kesetaraan bahasa: berbicara dengan suami menggunakan bahasa Jawa Ngoko (bahasa sehari-hari setara), bukan Krama Inggil (bahasa hormat yang menunjukkan hierarki istri lebih rendah). 4. Boleh membawa ahli ukir dari Jepara ke Rembang untuk mengembangkan kerajinan secara komersial sebagai kegiatan ekonomi perempuan. Semua syarat ini (sangat progresif & radikal pada masa itu) dipenuhi oleh calon suaminya, Bupati Rembang Raden Adipati Djojoadiningrat. Kartini melihat poligami sebagai bentuk penindasan terbesar terhadap perempuan. Ia menyaksikan langsung penderitaan ibunya, Ngasirah, yang dimadu oleh ayahnya. Dalam surat-suratnya, ia menulis dengan getir bahwa tak ada perempuan yang bahagia dimadu, & laki-laki yang memadu kehilangan kehormatan. Poligami dianggapnya sebagai "dosa" yang membuat perempuan menjadi saingan dan korban, sementara laki-laki bebas. Ia juga menolak pernikahan paksa dengan orang asing yang belum dikenal, karena cinta sejati harus dimulai dari rasa hormat, bukan paksaan adat. Namun, pada 1903, Kartini di usia 24 tahun (dianggap perawan tua yang memalukan keluarga ningrat pada masa itu) terpaksa menikah dengan Raden Adipati Ario Djojoadiningrat, Bupati Rembang yang jauh lebih tua (~25 tahun) & sudah punya 3 istri (salah satunya baru meninggal) karena tekanan budaya feodal priyayi pada masa itu & karena ayahnya, R.M. Adipati Ario Sosroningrat, sakit serta terus "dibully" teman-temannya karena anak perempuannya belum menikah. “Saya telah berjuang, bergulat, menderita, dan saya tidak dapat menjadikan nasib celaka Ayah, dan dengan demikian membawa bencana bagi semua yang saya cintai." (Surat Kartini kepada Abendanon, 14 Juli 1903) Meski seumur hidup menentang poligami & pernikahan paksa, Kartini terpaksa mengalahkan idealismenya, terpaksa menanggalkan egoismenya, serta harus berkompromi dengan realitas sosial feodal Jawa demi menjaga kehormatan ayah & keluarga yang dicintainya. Tekanan budaya feodal & partriarkis kelas priyayi pada masa itu terlalu kuat & ketat, di mana poligami & pernikahan paksa merupakan norma adat (diperkuat ajaran agama), sehingga meskipun Kartini sempat menolak keras, beliau kalah, beliau akhirnya terpaksa menerima pernikahan poligami itu. Kartini tetap melanjutkan perjuangan emansipasi & pendidikan perempuan dari dalam pernikahan, meski hanya berlangsung singkat karena beliau wafat 4 hari setelah melahirkan anak pertamanya pada pada 17 September 1904 di usia 25 tahun. Penyebab utama kematiannya adalah komplikasi persalinan, diduga akibat preeklampsia (tekanan darah tinggi pada kehamilan yang dapat memicu kejang dan kegagalan organ). Tragedi ini sangat ironis karena Kartini baru saja mulai mewujudkan cita-citanya setelah menikah, yang salah satu visinya tentu saja untuk meningkatkan akses kesehatan yang lebih baik bagi perempuan, khususnya kesehatan reproduksi & maternal (masa kehamilan, persalinan, & pasca melahirkan). Alfatihah untuk Ibu Kartini, damai di surga 🌹🌷🌼💐🌺🌸🪻
Sisters in Danger x Simponi@SistersInDanger

Merayakan Kartini Secara Radikal Kita telah melampaui era memperingati hari Kartini dengan hanya melihat sosok tubuhnya dan memaknainya cukup sebatas busana kebaya, lomba memasak atau menyanyikan lagunya. Peringatan hari Kartini yang demikian menumpulkan pemikiran. Sebab Kartini tidak pantas hanya dinilai dari sosok tubuhnya semata melainkan ide-ide brilian yang lahir dari otaknya yang cemerlang tentang kesetaraan dan kebebasan perempuan, justru inilah yang harus kita rayakan. Jadi hendaknya kebaya Kartini disimbolkan sebagai pembebasan perempuan, bukan ornamen tubuh semata, namun untuk merangsang kegairahan pemikiran melawan dominasi. Segala bentuk dominasi seperti penjajahan, pembodohan, pengekangan agama, dan tradisi serta penindasan perempuan. Sebab Kartini perempuan Jawa yang hidup di abad ke-19 telah memikirkan semua itu dan menuangkannya dalam bentuk tulisan yang dimuat di buku “Habis Gelap, Terbitlah Terang” (HGTT). Kartini mengungkapkan kegeramannya pada tradisi yang mengekang anak perempuan termasuk dirinya yang “dipingit” dari umur 12 hingga 16 tahun.    "Teringat aku, betapa aku, oleh karena putus asa dan sedih hati yang tiada terhingga, lalu mengempaskan badanku berulang-ulang kepada pintu yang senantiasa tertutup itu, dan kepada dinding batu bengis itu." (Jepara, 6 November, 1899, HGTT, 2009:30). Perang melawan kebodohan dipahaminya sebagai cara untuk membawa bangsa Bumiputra maju dan keluar dari penjajahan. "Pemerintah tiada akan sanggup menyediakan nasi di piring bagi segala orang Jawa, akan dimakannya, tetapi Pemerintah dapat memberikan daya upaya, supaya orang Jawa itu dapat mencapai tempat makanan itu ada. Daya upaya itu ialah pengajaran. Memberi anak negeri pengajaran yang baik, sama halnya seolah-olah Pemerintah menyerahkan suluh ke dalam tangannya, supaya dapat ia sendiri mencari jalan yang benar, yang menuju ke tempat nasi itu. Bapak akan berusaha sekuat tenaganya akan mengajukan anak negeri, dan aku pun akan turut membantunya." (12 Januari 1900, HGTT, 2009:34). Sikapnya menentang poligami sangat jelas. Kadang Ia menganggap bahwa perkawinan itu menindas dan bukan membahagiakan. "Mengertikah engkau sekarang apakah sebabnya maka sangat besar benciku akan perkawinan? Kerja serendah-rendahnya maulah aku mengerjakannya dengan berbesar hati dan dengan sungguh-sungguh, asalkan aku tiada kawin, dan aku bebas." (Jepara, 6 November, 1899, HGTT, 2009:29). Pemikiran Kartini tentang agama termasuk permikiran yang moderat dan toleran. "...sebenarnya agamaku agama Islam, hanya karena nenek moyangku beragama Islam... Orang diajar di sini membaca Qur’an tetapi yang dibacanya itu tiada ia mengerti. Pikiranku, pekerjaan gilakah pekerjaan semacam itu. Sekalipun tiada jadi orang saleh, kan boleh juga orang jadi orang baik hati.." (Jepara, 6 November, 1899, HGTT, 2009:31). "Agama harus menjaga kita daripada berbuat dosa, tetapi berapa banyaknya dosa diperbuat orang atas nama agama itu?" (Jepara, 6 November, 1899, HGTT, 2009:31). Kartini memang tidak pernah terlibat dalam sebuah pergerakan apalagi mengorganisir sebuah protes di lapangan. Bentuk protes yang ia lakukan hanyalah lewat tulisan-tulisannya yang mencoba memahami apa yang terjadi di lingkungannya. Tulisan-tulisannya tidak dituangkan ke dalam bahasa Melayu atau Jawa melainkan ke dalam bahasa Belanda dan ditujukan kepada teman Belandanya di Belanda.  Apakah karena Kartini menyadari tulisan-tulisannya tidak akan ditanggapi bila ia menggugat masyarakatnya secara langsung?  Atau bahkan dapat membahayakan dirinya bila pemikirannya diketahui oleh masyarakatnya sendiri? Semangat Kartini pada zamannya adalah semangat yang juga dirasakan oleh sebagian perempuan pada zaman itu. Beberapa pemikir perempuan lainnya seperti Dewi Sartika juga memiliki pemikiran yang maju tentang hak-hak perempuan, dengan nyata membuat sekolah di tahun 1904 yang disebut dengan “Sekolah Istri”. Kartini memang bukan sekedar kebaya. Tapi makna kebaya Kartini hendaknya diinterpretasikan secara kritis. Pemikiran Kartini masih terus harus direnda agar “kebaya” itu menjadi sempurna. Merenda pemikiran Kartini di segala ruang dan sudut bangsa, menjadikan bangsa kritis yang menghargai kesetaraan. --- Satu lagi cuplikan dari artikel yang sangat bagus & kuat dari @jurnalperempuan, yang ditulis oleh Gadis Arivia. Selamat Hari Kartini 21 April 1879–17 September 1904 Damai di surga, Perempuan yang mendahului zaman 🙏💜 (Link artikel lengkap di utas berikutnya)

Indonesia
59
6.5K
18K
1.3M
noufavyz retweetledi
salma agit era'²⁶
salma agit era'²⁶@akuamma_·
ya Allah jauhkan aku dari skor 200-500, mau skor 600+ aja trus lolos pil 1 AAMIIN😭🤲🤲
Indonesia
27
2.7K
8.1K
58.4K
noufavyz retweetledi
Araa .☘︎ ݁˖
Araa .☘︎ ݁˖@awharaa·
jadi pinter itu bisa dipelajarin, literally semua orang bisa kejar knowledge, intelligence, bahkan experience. tapi “jadi manusia yang bener” itu beda level. gak semua orang punya awareness buat respect orang lain dan bersikap proper. makanya adab itu always di atas ilmu. karena akhirnya yang dilihat bukan cuma kamu tau apa, tapi kamu treat orang lain kayak apa.
Indonesia
149
7.8K
21.8K
299.5K
noufavyz retweetledi
lopyujeononu
lopyujeononu@cintaomegapria·
Yang bajingan lagi cowok-cowok pada komen "diambil sisi positifnya kenapa sih? Kalo ga mau ya ga usah ke bengkel, benerin aja sendiri." Gila, sisi positif apa dari catcalling? Ga ada otak.
Indonesia
2
415
7.8K
75.9K
noufavyz retweetledi
MANTO
MANTO@KangManto123·
SETUJU BNGETT...
MANTO tweet media
Indonesia
560
20.7K
90.7K
984.5K
noufavyz retweetledi
UNNES MENFESS🍌
UNNES MENFESS🍌@unicefess·
tadi liat ada pembalut disediain di fakultas, ternyata bagian dari programnya girlupunnes 🥺 simple tapi ngebantu banget yaa… kadang hal kecil gini yang bikin ngerasa diperhatiin huhu 💗 -ness
UNNES MENFESS🍌 tweet media
Indonesia
40
328
6K
633.9K