deo
11.7K posts

deo retweetledi

Bapakku cuma pedagang alat pancing di pasar. Tangannya kasar karena tiap hari gulung senar pancing, bajunya sampe tipis karena sering keringatan di pasar. Tapi dari tangan itulah, kami tiga saudara tumbuh.
Tiga anak dari pedagang pasar bisa sampai kuliah tinggi S1, bahkan S2 di kampus PTN yang bagus. Kami dapat beasiswa prestasi. Kata bapak pantang dapat beasiswa kurang mampu, karena bapak masih sanggup pun kuliahin S1 kalau ga dapat beasiswa.
Banyak orang bilang, “Wah enak ya bapakmu, ga perlu keluar biaya buat kuliah anak-anaknya.”
Setiap dengar itu, aku cuma senyum aja hihi. Seneng dikid.
Karena menurutku, bukan bapakku yang beruntung punya anak yang kuliah dengan beasiswa.
Justru kami yang beruntung.
Kami yang dapat privilege paling besar krn dari kecil ngelihat langsung gmn bapak kerja keras. Rezeki dan ilmu itu dijemput bukan ditunggu, berusaha sejak pagi buta saat orang lain masih tertidur.
Bahwa lelah itu biasa.
Bahwa pendidikan adalah satu-satunya jalan untuk mengubah nasib.
Sesulit apa pun keadaan keluarga kami, orang tua kami ga pernah menawar pendidikan. Dan pendidikanlah yang jadi titik balik keluarga kami.
Menurutku bukan karena kami lebih pintar dari orang lain, tapi karena kami tumbuh dengan kerja keras, ketekunan, dan KEYAKINAN bahwa mimpi itu layak dan HARUS diperjuangkan.
Bahwa GADA sesuatu yang ga mungkin, dan GADA kesuksesan yang MUDAH.
Hari ini, kalau ada yang bertanya siapa yang paling berjasa, jawabanku tetap sama:
Bukan kami yang hebat karena berhasil sekolah tinggi.
Tapi bapaklah yang hebat.
Mampirlah yang di Bekasi ke toko bapakku biar rame dia seneng😍😋
Tapi adikku belum lulus kuliah, masih semester 8 di unchdeeep. Doain semoga lancar yah🤍

Indonesia
deo retweetledi
deo retweetledi
deo retweetledi










