Albertho kabelen retweetledi
Albertho kabelen
3.9K posts

Albertho kabelen
@akabelen444
Driver trailer🚛| cinta NKRI🇮🇩
Kuala Lumpur, Wilayah Persekut Katılım Ekim 2015
938 Takip Edilen443 Takipçiler
Albertho kabelen retweetledi
Albertho kabelen retweetledi

Pelaku mau minta maaf ini sy yakin hanya utk syarat agar nanti terlihat wajar dihukum ringan.
Bgmn bisa dipahami bila proses sidangnya banyak manipulatif dan penuh kebohongan..
coba saja bila pelaku disiram air keras di badannya (nggak usah mukanya), lalu dibiarkan selama 1 jam, agar pelaku bisa merasakan bgmn dampak kejahatannya yang begitu kejam, dan berdampak luka berat bagi korban, serta pemulihan yang panjang, itupun tidak bisa pulih seperti sediakala.
Sumber:%20detikNews share.google/fN4l57g5Kpeww6…
Indonesia
Albertho kabelen retweetledi

Bapak Presiden @prabowo, Bpk Menko @airlangga_hrt, Bpk Menkeu Purbaya @KemenkeuRI, Bpk Gub BI @bank_indonesia, Ibu Kepala @ojkindonesia yth, dengan data bhw makin hari nilai tukar dan harga saham makin nyungsep, mohon ajari kami untuk :
1) bagaimana kami bisa jadi optimis agar tdk dituduh sbg orang psimis
2) bagaimana kami yakin bhw Indonesia ke depan mamang tidak gelap
3) bagaimana kami yakin bhw pidato Bpk/Ibu memang bisa dipercaya
4) bagaimana kami yakin bhw Bpk dan Ibu memang masih punya keinginan dan kemampuan mengambil kebijakan “radikal” untuk atasi masalah ini - bukan lewat pidato.
5) bagaimana cara kami menyampaikan masukan untuk perbaikan sesuai fakta dan data tapi kami tidak dituduh orang psimis, anti pemerintah dan/atau antek Asing
Semoga Bpk dan Ibu berkenan memberikan jawaban kepada kami.


Indonesia
Albertho kabelen retweetledi
Albertho kabelen retweetledi
Albertho kabelen retweetledi

Saya ada cerita seorang bapak.
Dia kerja 20 tahun buat biayain anaknya kuliah S1.
Lembur.
Utang.
Sampai jual tanah warisan.
Anaknya lulus. IPK bagus.
Wisuda lengkap dengan toga.
Sekarang anaknya kerja serabutan. Gaji di bawah UMR.
Dan si bapak masih senyum bilang,
"Mungkin belum rezekinya."
Yang bikin saya merenung bukan cerita anaknya.
Tapi cerita si bapak.
Dia lahir tahun 70-an.
Gak tamat SMA pun bisa buka toko,
punya rumah,
besarin anak dengan layak.
Logikanya simpel dan masuk akal:
"Dulu gw gak sekolah tinggi aja bisa. Kalau anak gw kuliah,
hidupnya pasti jauh lebih baik dari bapaknya."
Logika itu benar. Di zamannya.
Masalahnya bukan orang tua yang salah didik.
Bukan juga anaknya yang kurang usaha.
Tapi janji yang mereka pegang sudah kedaluwarsa.
Ijazah dulu adalah tiket.
Sekarang ijazah adalah syarat minimum.
Yang bahkan kadang pun masih belum cukup.
Dua hal yang kelihatannya sama, tapi sebetulnya beda jauh.
Bayangin ya.
Tahun 1995,
fresh graduate langsung diperebutkan perusahaan.
Sekarang,
lowongan entry level minta pengalaman 2 tahun,
skill digital, bisa multitasking, dan siap ditempatkan di mana saja.
Gajinya?
UMR aja belum tentu.
Hampir sama kalau dikonversi ke harga waktu itu.
Tapi harga rumah, kontrakan, dan beras sudah tidak ikut berdiam di angka yang sama.
Generasi 90-an pasti hafal nasihat ini:
"Rajin sekolah, biar dapat kerja bagus."
"Kuliah dulu, baru enak hidupnya."
"Investasi terbaik itu pendidikan."
Nasihat itu bukan bohong.
Di zamannya, itu benar dan terbukti.
Tapi zamannya sudah ganti.
Nasihatnya tidak ikut ganti.
Dan anak-anak kita tumbuh sambil pegang peta zaman dulu
yang sudah tidak cocok sama jalanan yang mereka hadapi sekarang.
Saya pernah ngobrol panjang sama seorang teman.
Dia cerita,
"Bokap gw sampai jual motor buat bayar UKT semester terakhir gw."
Saya tanya, "Sekarang kerjanya apa?"
"Freelance desain. Kadang ada job, kadang enggak."
"Bokap lu tau?"
"Tau. Dia bilang sabar, rezeki ada aja. Tapi gw liat matanya... dia bingung."
Si bapak bingung bukan karena anaknya gagal.
Tapi karena cara yang dulu berhasil sekarang tidak lagi bekerja.
Dan dia tidak punya peta baru untuk dikasih ke anaknya.
Kalau anakmu masih sekolah atau mau kuliah,
jangan cuma pikirin jurusannya.
Tapi ajarin juga:
1. Ajarin dia cara kerja uang sejak kecil.
2. Bekali satu skill konkret yang bisa langsung menghasilkan.
Sebelum dia lulus dan bingung mau mulai dari mana.
3. Kasih ruang buat gagal kecil sekarang.
Biar dia gak gagal besar pertama kali justru di dunia nyata.
4. Jangan cuma bekali ijazah. Bekali juga kemampuan bertahan.
Bukan berarti kuliah tidak penting. Tapi kuliah saja sudah tidak cukup.
Soalnya begini.
Orang tua yang paling menyiapkan anaknya bukan yang paling banyak bayar biaya kuliah.
Tapi yang paling jujur bisa ngomong ke anaknya:
"Dunia yang kamu masuki berbeda dari dunia yang Ayah dan Ibu kenal.
Kita harus cari tau bareng-bareng."
Kejujuran itu lebih berharga dari SPP mana pun.
Dan seperti biasa, selalu ada dua kubu.
Kubu pertama bilang,
"Orang tua salah. Harusnya ajarin skill, bukan kejar gelar."
Kubu kedua bilang,
"Orang tua sudah benar. Anaknya yang kurang mau usaha."
Tapi ada kemungkinan ketiga yang jarang ada yang mau nyebut:
Dua-duanya sudah berusaha sebaik yang mereka bisa dengan informasi yang mereka punya.
Tapi sistemnya yang tidak pernah jujur ke keduanya.
Generasi kita mungkin adalah generasi pertama yang hidupnya lebih susah dari orang tuanya.
Bukan karena malas. Bukan karena manja.
Tapi karena peta yang diajarkan ternyata sudah tidak relevan saat mereka datang.
Dan orang tua mereka masih dengan tulus menunjuk ke peta yang didapat dulu.
Indonesia
Albertho kabelen retweetledi
Albertho kabelen retweetledi
Albertho kabelen retweetledi

18 tahun. Itu tuntutan jaksa buat seseorang yang udah ngabisin waktu bertahun-tahun mencoba memajukan negara ini. Terlepas dari kamu setuju atau gak sama pandangan politiknya, coba deh renungin baik-baik angka itu.
Ini bukan kejadian yang pertama kali. Indonesia itu punya pola yang diam-diam menghancurkan: orang-orang pinter, kompeten, dan punya niat tulus masuk ke pemerintahan, tapi ujung-ujungnya malah dihancurin sama sistem. Gak selalu karena mereka bersalah, tapi seringnya cuma karena kehadiran mereka "dianggap mengganggu".
Tapi anehnya, kita terus-terusan nyuruh anak-anak muda terbaik kita: "Masuk dong ke pemerintahan. Mengabdi dong buat negara. Bawa perubahan."
Siapa juga yang mau kalau mereka ngelihat langsung kejadian kayak gini di depan mata?
Siapa pun dalang di balik semua ini, mereka sama sekali gak lagi ngelindungin Indonesia. Mereka justru lagi ngajarin satu generasi orang-orang berbakat kalau jalan paling aman itu ya mending diam aja. Atau sekalian pergi ke luar negeri.
Buat yang suka nyinyir, "Ya udah, pergi aja sana!", tolong berhenti nutupin ego kalian dari kenyataan. Banyak kok orang Indonesia yang super cerdas dan bener-bener cinta sama negara ini. Mereka tetap stay di sini. Mereka ngebangun sesuatu. Mereka nyari cara lain buat berkontribusi di luar pemerintahan, karena masuk ke dalam sistemnya itu terlalu bahaya.
Tapi ini realita yang lebih pahit: sehebat apa pun startup, kreator, atau inovator kita di kancah dunia, KALAU pemerintahnya tetap korup dan gila kuasa, KALAU aturannya gak ngelindungin rakyat atau gak ngasih ruang buat industri berkembang dengan sehat, terus kita sebagai masyarakat bisa berharap apa?
Ini momen yang sedih banget buat Indonesia. Bukan cuma karena ada satu orang yang lagi diadili, tapi karena pesan yang ditangkap sama semua orang pintar dan idealis yang lagi ngelihatin kasus ini: bahwa negara ini sepertinya belum siap buat ngelindungin orang-orang yang berani membawa perubahan.
Indonesia
Albertho kabelen retweetledi
Albertho kabelen retweetledi
Albertho kabelen retweetledi

Jokowi orang biasa tapi lupa asal usulnya. Jiwa munafik dan pengkhianat ada pada diri Jokowi
Dedek Prayudi - Uki@Uki23
Maestro politik Indonesia akan segera kembali. Kali ini sebagai orang biasa dari Solo. 🇲🇨
Indonesia
Albertho kabelen retweetledi

Sok arogan dengan masyarakat kecil dengan kalimat perintah atasan. Otak manusia nya gak dipakai, mereka mirip kerbau di sawah.
Takayama_Zero@RaidenKevin17
Sejak kapan anggota TNI boleh menyita hasil bumi warga? Emangnya mereka boleh ya double job gitu?
Indonesia
Albertho kabelen retweetledi

Viral lagu Aku di Blokir Menteri,
Karya Wahyudi Amin Harahap
Kalau setuju dgn liriknya, ayo repost dan sebarkan..!
@sutanmangarahrp
Indonesia
Albertho kabelen retweetledi

Konyolitas berkelanjutan:
𝗝𝗢𝗞𝗢𝗪𝗜:
Absurditas dinormalisasi.
Lingkaran kebodohan kolektif.
Komedi berubah jadi sistem.
Legacy Politik:
-IKN, berpotensi mangkrak
-Whoosh, terbelit utang
-Anak haram konstitusi
Raja utang, sudah itu pura-pura lugu, tapi bengis!
𝗣𝗥𝗔𝗕𝗢𝗪𝗢:
Mempertahankan citra Jokowi.
Kritik dianggap gangguan.
Solusi hanya simbolik.
Jejak Politik:
-MBG, bermasalah
-Kopdes, banyak menuai kritik
-𝘉𝘰𝘢𝘳𝘥 𝘰𝘧 𝘱𝘦𝘢𝘤𝘦, kecele
Tampak garang, tapi lebay!
Prabowo sadar ada absurditas
pada rezim Jokowi, tetapi tetap
melanjutkannya karena sistem
kenyamanan atau kelelahan
untuk berubah.
Intinya, keduanya sama saja!
𝗗𝗘𝗟𝗨𝗦𝗜 𝗕𝗘𝗥𝗦𝗔𝗠𝗔

Indonesia













