Akmal retweetledi

Guys, Emir Parengkuan baru ngomong sesuatu di podcast yang bikin gue diem sebentar.
Bokap-nya adalah Yos Parengkuan, bos Syailendra Capital, salah satu manajer investasi terbesar di Indonesia
Dan ini bukan bocoran insider. Ini analisa yang masuk akal banget kalau lo mau dengerin.
IHSG harus jebol dulu.
Baru triliuner baru terlahir.
Itu kata-katanya langsung.
Dan dia serius.
Sekarang IHSG lagi dikocok-kocok di level 7.000. Semua orang berharap mantul dari sini. Tapi justru itu masalahnya selama masih ada yang berharap, belum bottom.
Bottom yang sesungguhnya baru terjadi ketika semua orang udah over fear. Udah nangis. Udah jual semua tanpa pikir. Dan di titik itulah saham bagus jatuh ke harga yang nggak masuk akal.
Level yang dia perhatiin?
6.500 sampai 6.600.
Di situ dia bilang siap hajar.
Kenapa IHSG bisa sampai separah ini?
Emir breakdown tiga penyebab utamanya.
Satu perang dan geopolitik.
Konflik Iran-AS bikin investor global kabur dari semua aset berisiko. Emerging market kayak Indonesia kena imbas langsung.
Dua narasi MSCI hilang.
Harapan Indonesia masuk indeks MSCI yang harusnya jadi katalis besar di 2025 sekarang di-pause sampai Mei. Salah satu alasan utama foreign masuk ke pasar kita tiba-tiba gone.
Tiga masalah free float.
Banyak emiten Indonesia sahamnya dipegang friends and family bukan publik. MSCI nggak mau itu. Dan sekarang konglomerat-konglomerat ini kemungkinan harus lepas saham ke publik yang artinya harga bisa jatuh lebih dalam dulu sebelum naik lagi.
Posisi Emir sekarang?
All cash. Nggak pegang saham sama sekali.
Dia takut sama libur lebaran.
Dari pengalamannya trading sejak 2022 setiap kali libur panjang, selalu ada bad news.
Jadi dia keluar dulu. Tunggu sampai Mei setelah MSCI announce keputusan soal Indonesia. Baru masuk lagi.
Kalau IHSG beneran jebol dia incer apa?
Batu bara. Dan alasannya solid banget.
Sampai dia meninggal pun katanya batu bara nggak akan hilang. Demand tetap ada, supply makin habis. Bahkan buat bikin infrastruktur green energy sekalipun butuh batu bara. Indonesia top producer sekaligus top exporter. Dan emiten batu bara di IHSG terkenal bayar dividen jumbo.
Dia kasih contoh nyata. Kalau ada yang beli ITMG di bottom COVID dengan Rp1 miliar dan hold sampai sekarang dari dividen aja bisa dapat Rp3 miliar per tahun.
Bukan capital gain. Dividen doang. Tiap tahun. Terus.
Dan satu hal yang paling nendang dari dia:
Turning point-nya sebagai trader bukan ketika dia belajar strategi baru. Bukan ketika dapat mentor baru.
Tapi ketika dia berhenti ngitung uang di RDN dalam bentuk bisa beli apa.
Rp100 juta bukan lagi Rp100 juta buat beli HP atau bayar cicilan. Itu cuma angka yang harus dibesarkan. Murni angka. Tanpa attachment emosi.
Setelah itu baru dia mulai consistently profit.
Dan ini yang paling gue suka dari dia:
Jam market bukan waktunya mikir. Itu waktunya eksekusi. Semua analisa harus selesai malam sebelumnya.
Kalau lo masih riset dan baca berita sambil market lagi jalan lo udah terlambat dari awal.

Indonesia























