mengeluh, bersandar, bercanda, dan kemudian tertawa.
aku rindu masa itu, bu.
lembutnya tanganmu mengusap keningku,
seraya berkata, "Doa ibu menyertai",
serupa mantra, hening semua isi kepala.
@PelangiPuisi
Untuk sang puan.
Sekalipun rindu yang tercipta karena ketiadaanmu penuh sesak,
nyatanya kau memberi bekal ruang agar aku bisa bernafas sejenak,
terima kasih telah menjadi pengajar, dan telah melahirkanku dihidup yang singkat ini.
@PelangiPuisi
Masa membawa cerita,
lalu dan kini tetap sama,
aku dan kamu serupa renjana,
dan kamu bagai rumah yang tak pernah usang;
dan usai dalam semesta.
@PelangiPuisi
Dan ketika langit memanggil pulang,
ku akan rebahkan raga dengan segala juang,
mendekap rindu yang telah penuh karenamu,
semoga sendu sedan beralih canda tanpa temu.
@PelangiPuisi
Bukankah disudut keramaian isi kepalaku,
ada pelukmu yang penuh candu?
meredam setiap arogansi,
agar tak berujung pada egosentris yang merajai.
Lantas bagaimana caraku menyurut,
rindu yang kian tersulut, bu?
@PelangiPuisi
Yaa Allah… jika malam ini do’aku dikabulkan, aku mohon Yaa Robb Sembuhkan lah adikku yang sedang sakit, angkat lah segala penyakitnya, berikanlah padanya kesehatan, panjang usianya penuh berkah serta dalam ta’at kepada-Mu Yaa Robb….
Bagaimana caramu membaca pesan Tuhan,
jika kau terus saja merasa paling ter-Luka,
sedang Dia tak henti mengirim perpanjangan tanganNya untuk merengkuhmu,
namun kau sibuk dengan luka
yang kau buat terus menganga tanpa jeda.
@PelangiPuisi