Sabitlenmiş Tweet
rin
3.3K posts

rin retweetledi

Senyum di pagi hari
Terbias murni bersama kilau embun
di sudut mata
Entah hati sedang bahagia
atau sedang terluka
Alam masih ragu menerkanya
Sang bayu perlahan mendekap,
mengecup penuh rindu sambil berbisik Berjuanglah
Dunia tak hanya butuh air mata
Bahagia....
By @aksararin
Indonesia

Saat gundah, lelah dan putus asa hati selalu berbisik untuk menyerah
Namun kala bait-bait luka yang kurangkai terbacakan oleh suara yang teduh dan menenangkan, sesaat aku terdiam lalu mencernanya
Semoga luka ini tak melukai yg lain
Semoga luka ini menghindarkan yg lain dari luka
bayusoca@Imaginermini
Indonesia

@Imaginermini Terima kasih kak @Imaginermini. Versi ke 2 bikin nyess banget 🙏🙏🙏
Indonesia

@aksararin kadang aku berharap semoga ada seseorang yang datang menatap mataku dan mengetahui betapa lelahnya mentalku.
Indonesia
rin retweetledi
rin retweetledi
rin retweetledi
rin retweetledi
rin retweetledi

By @aksararin
Saat kau memberiku pilihan, menetap atau pergi meninggalkan
Kau lupa memberi alasan, mengapa aku kau beri pilihan
Sedang aku tak pernah memilih tuk meninggalkan
Kau bukan pilihan
Tapi kau anugrah untukku menuju keikhlasan
Indonesia
rin retweetledi
rin retweetledi

Sepatu untuk Nina
#CelahAwan #fiksi
"Ayah, Nina besuk nggak mau sekolah, malu, sepatu Nina bolong," rengek anakku satu-satunya, gadis kecil kelas 3 SD.
Aku terdiam sebentar, memilih jawaban agar anakku tak kecewa. Sekian detik kemudian aku menjawab, "Baiklah nak, besuk siang kita beli sepatu baru ya?."
Anakku melompat kegirangan, "Makasih ayah," dipeluknya aku erat sesaat lalu lari menemui ibunya di dapur.
Aku bingung, jangankan untuk beli sepatu Nina, meteran listrik sudah tat tit tut sejak subuh tadi, token 20 ribu saja belum kebeli.
Sudah sebulan lebih aku gak ada kerja, lapak sewa gerobak nasi gorengku dibangun ruko baru pemiliknya, mencari lokasi lain tinggi sekali sewanya. Pusing seakan langit hanya 30 senti dari kepala rasanya.
Berpamitan ke istri dan Nina, yang sedang makan mie instan sebungkus berdua, aku pamitan mencari pendapatan entah bagaimana caranya.
Duduk aku diemperan toko memandang lalu lalang orang, sembari berfikir peluang apa untuk dapat duit hari ini.
Setengah jam aku duduk termenung, sebuah mobil kecil berhenti parkir di depanku.
"Mo, aku mencarimu ke rumah, kata istrimu sedang pergi. Putar² aku mencari ketemu kau disini."
Dawir, iya ini si Dawir, sahabat SMA ku teman nongkrong di gorengan lik Suraji depan Balaidesa. Lama gak ketemu dia, kutemui dan sebentar berpelukan.
"Kapan kau datang," tanyaku. "Seminggu lalu, aku sekarang di sini, mau usaha sendiri saja, capek aku kerja di sana meski gajiku lumayan dibandingkan UMR kota kita."
Berbasa basi dan bercerita sana sini, kami pindah ke warung kopi kecil dengan 3 kursi plastik, ngopi dan ngobrol di sana.
"Atmo, bisa nggak bantu aku? Aku mencarimu di nasi gorengmu kata orang sekitar sudah tutup, maka kucari kau ke rumah, dan ketemu di sini."
"Bantu apa, sejauh aku bisa, untukmu apa sih yang enggak?"
"Gini Mo, bahkan jika kamu masih jualanpun akan kuminta kau tetap bantu aku, apalagi warungmu tutup, pasti kamu ada waktu."
"Apa yang bisa aku lakukan? Mukulin orang? Masih oke kok tenagaku."
"Halah, nggak juga Mo, kau bantu aku jadi pengawas pekerja bangunan di proyekku. Aku gaji kau awal 2 kali UMR sini. Aku percaya kau jujur. Aku meneruskan usaha ayah."
"Tuhan, engkau maha baik," desisku perlahan. Kupeluk dia, "Oke aku setuju, hanya aku ada satu syarat."
"Katakan syaratmu."
"Gaji pertama, bayar 50 persen dimuka."
Dawir tertawa ngakak, ditaboknya punggungku keras-keras, Dikeluarkannya dompet, diambilnya beberapa lembar uang warna merah, diserahkan padaku.
"Pakai saja, anggap ini uang tanda jadi kau bergabung denganku, gak dipotong gaji. Ingat, besuk ke rumahku."
.........
Langit berasa cerah, dan lepas semua gundah. Siang itu aku kembali ke rumah, lantas kuajak Nina ke toko sepatu, diantara gerimis yang menyaksikan haru di lubuk hatiku.
"Nak, ayah janji mulai hari ini akan lebih membahagiakanmu."

Indonesia

@aksararin Gerimis reda, tapi rinduku belum
Kau pergi, namun jejakmu tinggal
Ku belajar melepas perlahan
Meski hati masih memanggil namamu diam-diam
Indonesia



