jahe 🐱

32.1K posts

jahe 🐱 banner
jahe 🐱

jahe 🐱

@anakkucingjae

everyone is someone to somebody 🤍

Denpasar, Bali Katılım Haziran 2014
126 Takip Edilen115 Takipçiler
jahe 🐱
jahe 🐱@anakkucingjae·
Gw salpok bibir dia item bgt untuk ukuran idol emng bener lu paling mantep rull 🤤
Indonesia
0
0
0
0
jahe 🐱
jahe 🐱@anakkucingjae·
@espoirirenic Dekk ya Allah ini oot tp aku salah liat tulisan advise itu jd abuse aku yg lagi rebahan langsung bangun 😭😭😭
Indonesia
0
0
0
1
shen
shen@espoirirenic·
dimana yaaa bisa dapet konsul relationship advise gitu2? perlu kah gw ke psikolog?
Indonesia
1
0
0
3
jahe 🐱 retweetledi
☆
@prodbyohyul·
260518 4shoboiz instagram live #LNGSHOT #롱샷
English
0
460
1.5K
10.5K
jahe 🐱
jahe 🐱@anakkucingjae·
@tanyarlfes Nder aku makan mie exp udh 10 hari alhamdulillah masih hidup
Indonesia
0
0
0
367
Tanyarlfes
Tanyarlfes@tanyarlfes·
💚 Semutnya ga yg banyakkk bgt sih, tapi ga dikit jugaa
Tanyarlfes tweet media
Indonesia
11
0
16
7.2K
jahe 🐱 retweetledi
hywnnkw
hywnnkw@heywannaknoww·
siapa sangka jadi makhluk berakal di era kepemimpinan prabowo itu challenging banget.
Indonesia
12
1.3K
4K
33.7K
jahe 🐱 retweetledi
Safar Nurhan
Safar Nurhan@msafarnurhan·
The Economist (May 16th, 2026) menulis soal rezim Prabowo. Dari cara-caranya membungkam aktivis Andrie Yunus hingga pemborosan anggaran. Masa lalu Prabowo juga diungkit. Benar2 menuju apocalypse 🫣
Safar Nurhan tweet mediaSafar Nurhan tweet mediaSafar Nurhan tweet mediaSafar Nurhan tweet media
Indonesia
11
2.8K
6.7K
59.4K
jahe 🐱
jahe 🐱@anakkucingjae·
Gila bener gw baca ini sampe jam 3 pagi 🙂🙂‍↔️🙂‍↔️ Untung udh gk kerja imut orang, jd aman mau bangun jam berapa aja
Indonesia
0
1
1
59
jahe 🐱 retweetledi
pud up reinul pin
pud up reinul pin@puddingher·
#ryulyul ryulnyul Jangan nantangin lawstud, soalnya dia si paling paham hukum menghukum. ————— part 03 of Daddy Issues
pud up reinul pin tweet mediapud up reinul pin tweet media
Indonesia
1
102
498
8.1K
jahe 🐱 retweetledi
Firgiawan
Firgiawan@seterahdeh·
cuma ada 2 jenis orang yang masih bela prabowo: 1. buzzer 2. emang pure tolol aja
Indonesia
103
6K
17.1K
137.6K
jahe 🐱 retweetledi
Lambe Saham
Lambe Saham@LambeSahamjja·
Guys, ada nama yang menurut gue perlu dibahas lebih serius dari yang selama ini dibahas media. Letkol Teddy Indra Wijaya. Sekretaris Kabinet. Bukan menteri. Bukan jenderal bintang empat. Tapi dalam konteks kebebasan pers dan kontrol informasi di pemerintahan Prabowo dia adalah satu nama yang paling banyak disebut oleh para jurnalis yang berbicara di balik anonimitas. Apa yang terjadi di bencana Sumatra dan di mana Teddy masuk: Akhir November 2025. Banjir dan longsor menghantam Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. BMKG sudah memberikan peringatan delapan hari sebelumnya. Tidak ada rapat darurat. Tidak ada langkah antisipasi dari pemerintah pusat. Saat bencana meluas Prabowo tetap menjalani agenda seperti biasa. Rapat soal koperasi. Ketemu Menteri Kelautan. Menerima Ratu Belanda. Baru di tanggal 27 November setelah 72 orang meninggal dan 54 orang hilang rapat penanganan bencana digelar. Dan per Januari 2026, korban tercatat 1.199 orang meninggal dan 114 orang hilang. Di tengah semua itu ada wartawan bernama Rina yang dikirim liputan ke Aceh. Lebih dari tiga minggu di lapangan. Dia melihat beras menumpuk di posko tapi tidak disalurkan. Seorang pria yang istrinya harus diamputasi tapi tidak bisa karena tidak ada alat. Orang-orang yang mengaku sudah siap bunuh diri karena tidak kuat lagi. Rina melakukan siaran langsung. Dia tumpahkan semua yang dia lihat. Dan Teddy Indra Wijaya Sekretaris Kabinet menonton siaran itu dari Jakarta. Lalu Teddy menghubungi pemilik media tempat Rina bekerja. Mengamuk. Dan meminta pemimpin redaksi media itu diganti. Bukan insiden tunggal ini pola: Wartawan lain bernama Indira yang dikirim ke Padang mengalami hal serupa. Setelah dia melapor bahwa bantuan belum datang dan pemerintah belum terlihat atasannya langsung menelepon. "Next, jangan sebut kalau belum ada bantuan masuk, ya." "Tapi memang belum ada bantuan. Faktanya begitu." "Cerita soal dampaknya aja. Tapi jangan kasih tahu kalau bantuan belum masuk." Indira akhirnya siaran langsung di depan sebuah ekskavator yang membersihkan sisa longsor bukan karena ada kemajuan nyata, tapi karena itu satu-satunya hal yang bisa terlihat seperti "pemerintah bekerja." "Maksa banget," kata Indira. Teddy dan pola Orde Baru yang sangat familiar: Project Multatuli yang menginvestigasi ini menarik perbandingan yang sangat tepat dan sangat tidak nyaman. Di era Orde Baru tidak ada larangan tertulis soal apa yang boleh dan tidak boleh diberitakan. Yang ada adalah telepon. Pejabat atau perwira militer tertentu menelepon petinggi redaksi untuk memberi arahan, teguran, atau larangan atas isu tertentu. Tidak perlu SK. Tidak perlu aturan resmi. Cukup satu telepon dari orang yang tepat dan seluruh redaksi paham apa yang harus dilakukan. Apa yang dilakukan Teddy? Persis sama. Menelepon pemilik media. Mengamuk. Meminta pemred diganti. Tanpa surat resmi. Tanpa proses hukum. Cukup satu telepon. Yang paling ironis Teddy adalah simbol harapan yang berubah menjadi simbol yang lain: Banyak yang dulu berharap besar pada sosok militer muda yang masuk lingkaran dalam Prabowo. Ada harapan bahwa generasi baru perwira akan membawa cara kerja yang berbeda. Lebih profesional. Lebih terukur. Yang kita saksikan sekarang adalah seseorang yang menggunakan posisinya sebagai Sekretaris Kabinet posisi administratif, bukan posisi keamanan untuk mengontrol arus informasi tentang kegagalan pemerintah dalam menangani bencana. Bukan mengontrol berita palsu. Bukan melawan disinformasi. Tapi meminta media tidak memberitakan bahwa bantuan bencana belum datang saat bantuan memang belum datang. Dan Teddy tidak merespons pertanyaan dari Project Multatuli: Pertanyaan dikirim ke nomor pribadinya dan ke email resmi humas Setkab. Tidak ada respons sampai artikel diterbitkan. Tidak ada klarifikasi. Tidak ada bantahan. Hanya diam. Ketika seorang Sekretaris Kabinet bisa menelepon pemilik media dan meminta pemimpin redaksi diganti hanya karena wartawannya melapor bahwa bantuan bencana belum datang itu bukan soal satu orang yang arogan. Itu adalah sistem yang memang dirancang untuk memastikan bahwa rakyat hanya mendengar apa yang penguasa mau mereka dengar. Dan sistem seperti itu pernah kita kenal. Namanya Orde Baru. Dan kita butuh 32 tahun untuk keluar dari sana. ⚠️ Disclaimer: Berdasarkan investigasi Project Multatuli dalam serial Dead Press Society. Semua nama wartawan disamarkan untuk melindungi sumber. Teddy Indra Wijaya tidak merespons pertanyaan yang diajukan sampai artikel diterbitkan.
Lambe Saham tweet media
Indonesia
247
4.9K
9K
369.8K
jahe 🐱 retweetledi
Abul Muzaffar
Abul Muzaffar@abulmuzaffar10·
Ada berapa hal yang bisa kita garisbawahi dari postingan mereka 1. Ada kata thin-skinned, alias berkulit tipis. Kalau yg gw tahu, itu maksudnya mudah tersinggung. Ya, The Economist bilang Presiden mudah tersinggung alias temperamental. 2. Lalu, The Economist bilang Prabowo harus siap sama unpalatable truths alias kebenaran yang menyakitkan. Implikasinya, majalah ini menduga kalau Prabowo sering disuapin info manis dan nggak siap dengan info jelek. 3. Judul berita yang menyebut risky path, eroding finance and democracy. The economist ingin pembaca mengetahui bahwa Indonesia berada di posisi yang rawan atas ulah presidennya sendiri. Seperti apa ulah itu? Pengkondisian oposisi, kebijakan MBG dan Kopdes dsb. Kalau kelen sadari, hanya media asing yang berani nulis postingan kek gini. Media lokal mana sanggup. Bisa diganggu-ganggu mereka ntar. Source gambar : VOI
Abul Muzaffar tweet media
The Economist@TheEconomist

Far too much in Indonesia depends on a thin-skinned former general with a sketchy human-rights record. Prabowo Subianto needs to hear some unpalatable truths econ.st/3RE0Fum Photo: Getty Images

Indonesia
62
5.9K
14.4K
329.5K
jahe 🐱 retweetledi
Sumatera Adil & Federal
Sumatera Adil & Federal@indepenSumatera·
Masih ingat kasus Wakil Bupati Sangihe yang tiba-tiba meninggal setelah menolak proyek tambang emas? Tambang ilegal itu ada samgkut pautnya dengan ini tambang ini lho dan dibekingi seorang jenderal yang sekarang masih berada di lingkaran kekuasaan regime "nyawit". Tahu nggak siapa jenderal itu?
Sumatera Adil & Federal tweet media
LIPUTAN6@liputan6dotcom

Geger WN China Garap Tambang Ilegal di Sangihe, Nilainya Tembus Rp 200 Miliar liputan6.com/bisnis/read/65…

Indonesia
70
6.2K
14.1K
295.8K
jahe 🐱
jahe 🐱@anakkucingjae·
Rekomendasiin au atau ao3 ryulnul senggama hebat dong gw butuh dopamin gara2 lemes tiap liat berita negara ini
Indonesia
0
0
0
16