Untuk para politisi yang nonton langsung ke Indonesia arena hari ini.
Jangan segan untuk memuji pelatih-pelatih futsal yang banyak bawa ilmu ke indonesia, orang-orang yg fokus ngurus futsal 10 tahun terakhir.
Jgn segan juga untuk copot pengurus sepakbola yg "rusak". kalau perlu bikin daftar hitam mereka yang ngga boleh ikutan di sepakbola 😁. semua yg pernah jadi pengurus inti sepakbola di 20 thn terakhir, suruh pada istirahat aja.
sudah baca peruntungan shio kalian di tahun 2026?.
buat pendukung liverpool FC nih gw
sedikit kasih preview tentang Liverpool Fc (shio naga) (@LFC lahir tahun 1892) >>
Potensi Konflik: komunikasi perlu lebih lembut dan terukur. Fokus pada Hubungan: Jaga keseimbangan emosi, karena stres bisa memicu masalah.
Ke kawinan bukan mau ketemu penganten. Tapi mau denger nasihat pernikahan dari @zenrs
"Menikah itu, kekalahan satu;
kekalahan semua. Kemenangan satu, kemenangan semua"
Selamat bahagia Gus Marbun @andreasmarbun & Kakak Evi!
Kosangsu tong hilap!
@kozirama@febbylorentz
Ke Mana Arah Model Bisnis Newsroom?
Di tengah derasnya gelombang perubahan teknologi dan sosial, newsroom di seluruh dunia menghadapi pertanyaan mendasar: apa yang akan menopang keberlanjutan mereka ketika audiens, platform, dan algoritma tak lagi memihak?
Nic Newman dari Reuters Institute membuka sesi panelnya dengan satu kenyataan pahit: sebagian besar orang tidak bersedia membayar untuk berita. Di negara seperti Jerman dan Inggris, 90% pengguna belum pernah membayar satu sen pun untuk mengakses berita online. Sementara di beberapa negara Nordik, tingkat pembayaran lebih tinggi, tetapi tetap menjadi pengecualian, bukan norma.
Lalu, bagaimana bertahan?
AI Sebagai Akses, Bukan Sekadar Alat
Salah satu sorotan tajam dari presentasi Nic adalah perubahan titik masuk ke informasi. Bukan lagi halaman depan media, tetapi chatbot AI. Google Overview, ChatGPT, Perplexity—semua menjadi layer baru antara berita dan pembaca.
Namun, ini bukan hanya soal distribusi. Ini adalah soal disintermediasi makna. Ketika berita dirangkum oleh AI, siapa yang bertanggung jawab atas narasi? Ketika pembaca puas dengan ringkasan, apakah mereka akan peduli pada konteks, pada jurnalis, pada proses investigasi?
Ironisnya, meski AI memudahkan akses, publik justru makin tak percaya pada konten yang dibuat oleh mesin. Mereka menerima AI sebagai asisten riset, tapi menolak AI sebagai penulis. Artinya, manusia tetap diharapkan memegang kemudi etika dan kredibilitas.
Model Baru yang Masih Goyah
Karena model langganan mandek, Nic memetakan beberapa jalur baru:
Bundling konten seperti yang dilakukan New York Times (gabung berita dengan games dan resep).
Model agregasi seperti Apple News+.
Micropayment per artikel, yang mulai diuji di Afrika dan Asia. Namun, bahkan di Jerman, hanya 19% non-payers yang tertarik pada model-model ini. Sisanya? Diam. Tidak peduli. Atau mungkin, terlalu terbiasa dengan berita gratis yang muncul otomatis di beranda mereka.
Reputasi adalah Mata Uang Terakhir
Dalam pusaran konten viral, misinformation, dan AI-generated posts, Nic menyampaikan bahwa ketika pengguna ragu akan kebenaran suatu informasi, mereka tetap kembali ke media yang mereka percaya. Ini adalah secercah harapan—bahwa reputasi, kredibilitas, dan sejarah tetap punya nilai jual. Tapi apakah itu cukup?
Dari Produk ke Relasi
Di akhir sesinya, Nic tidak menawarkan solusi tunggal, melainkan menyodorkan tantangan kolektif: jika berita bukan lagi produk yang dijual, bisakah ia menjadi relasi yang dirawat? Apakah newsroom bisa menjadi komunitas? Pelayanan publik? Atau bahkan gerakan?
Model bisnis masa depan tampaknya bukan soal meniru Netflix atau Spotify. Tapi soal menemukan kembali alasan mengapa jurnalisme ada sejak awal: membantu orang memahami dunia, bukan sekadar mengisi waktu luang.
Catatan Penutup
Jika AI dan algoritma menjadi penjaga gerbang baru, maka trust adalah kunci untuk melewatinya. Dan hanya newsroom yang mampu membangun relasi otentik, menghadirkan makna, dan tetap relevan dalam kekacauan digital—yang akan bertahan.
IF/AI
Oleh @zenrs
Esai ini bukan sekadar daftar nama. Ia lahir dari kerja panjang memverifikasi 135 korban satu per satu, sebsa mungkin tak ada yang terlewat. Kata demi kata diobrak-abrik, dipasang ulang, agar nama-nama mereka bukan sekadar tempelan di daftar panjang, melainkan tumbuh sebagai napas hidup di dalam paragraf. Karena tragedi Kanjuruhan tak hanya soal stadion runtuh, melainkan juga tentang bagaimana kekuasaan mengubah kebenaran menjadi debu yang hanya akan tampak saat disorot oleh cahaya tertentu.
Maka, membaca esai ini sebaiknya tak cukup dalam hati. Sebutkanlah nama-nama mereka, setidaknya lirih. Sebab ingatan tak lahir dari diam; ia perlu dilatih, diulang, dipanggil dengan suara. Menyebut nama adalah cara sehari-hari menolak lupa, sebuah latihan untuk memastikan sejarah tak hilang dihapus lampu stadion yang baru.
Selamat Pagi,
Tulisanku tentang data tunggal sosial ekonomi nasional salah satunya sebagai basis penyaluran bansos bisa dibaca di @hariankompas hari ini.
ada komentar?
kompas.id/artikel/revolu…
Tugas PSSI itu bikin sepakbola jadi bener, bagus dan bermanfaat.
apa arti benar, bagus dan bermanfaat?bdyskamsnsuskakahdsbsbshsnsnxvsbzbxgdgsneowoeyrtqvzn!:7/rwiwnd sbdgsnsnsksn7ksnworyzbak🔥😍🔥🙃🫵🏻✊🏼💪🏼😍❤️🇮🇩🙂😄🥲🥳😝😟😰🫥😱🙄😨🫤🤗🤥🤥🫤🙄😮😮😮zbsisnsdndnskaahwtwtav14-!:&:8/!
Kami dengan Menkomdigi @meutya_hafid sepakat bahwa judi online adalah bencana sosial.
Kami akan terus melakukan edukasi dan mitigasi judi online agar tidak melahirkan kemiskinan-kemiskinan baru.
#KemenkoPM#KabinetMerahPutih#BerdayaLawanJudol