a.mega.p
14.8K posts

a.mega.p
@anmegpra
Mrs. Galih & Mother of 2;
Indonesia Katılım Haziran 2009
492 Takip Edilen378 Takipçiler
Sabitlenmiş Tweet
a.mega.p retweetledi

ya Allah ini jahat banget
anak SMP mukul kepala temennya pake palu sampe pecah trus bangga banget ngechat ke temannya yang lain.
orang tua pelaku playing victim katanya miskin gak bisa bantu pengobatan.
pelaku tau gak akan ditangkep karna di bawah umur, korbannya gak cuma satu.
lokasi : singkawang




Indonesia
a.mega.p retweetledi

@BaseAnakFK Mohon map, kalau ga belajar gmn anda tau ada update guideline terbaru 2026. Ilmu selalu berkembang, jangan sampai ketinggalan.
Indonesia
a.mega.p retweetledi

“Para bapak, sudahi prinsip: mendidik anak laki-laki itu mudah. Turun tangan, didik anak laki-lakimu”
Semalam 16 mahasiswa FH UI disidang sampai jam tiga pagi, sidang terbuka, disaksikan secara live oleh ribuan orang.
Kejadian ini tidak tiba-tiba. Ini akumulasi. Terlalu lama society menelan mentah-mentah prinsip: “mendidik anak laki-laki itu mudah.”
TIDAK.
Justru karena dianggap mudah, banyak hal yang tidak diajarkan. Lihat saja pola yang sering diremehkan:
Berawal dari obrolan santai yang melecehkan, jadi kebiasaan, jadi cara pandang, lalu jadi perilaku nyata (liat gambar piramida perkosaan)
Tidak semua langsung jadi pelaku kekerasan seksual. Tapi hampir semua berangkat dari titik yang sama: normalisasi.
Society sibuk mendidik anak perempuan: jaga diri, jaga batas, jaga perilaku. Tapi kendor pada anak laki-laki.
“Namanya juga laki-laki.”
“Cuma bercanda.”
“Nanti juga ngerti sendiri.”
"Boys will be boys"
Tidak.
Karakter tidak tumbuh sendiri. Ia dibentuk. Dilatih. Ditegaskan.
Orang tua, perhatikan obrolan anak laki-lakimu. Kalau sudah mulai ada convo yang melecehkan: Tegur. Luruskan. Jangan ditertawakan atau dianggap enteng. Karena di situlah fondasi dibangun.
Terutama para bapak. Anak laki-laki belajar bukan dari teori, tapi dari contoh.
Bagaimana kamu bicara tentang perempuan. Bagaimana kamu memperlakukan pasanganmu. Bagaimana kamu menempatkan perempuan sebagai manusia, bukan objek. Semua itu direkam.
Dan akan mereka ulang.
Ketika seorang bapak menganggap mendidik anak laki-laki itu mudah, dia sedang memilih untuk menjerumuskan anak dengan tidak hadir secara penuh, tidak waspada, hingga di satu titik si anak bisa jadi pelaku ataupun korban.
Anak kemudian dibesarkan oleh algoritma, oleh teman, oleh budaya yang seringkali permisif terhadap pelecehan dan standar moral yang yang tidak sehat.
Kalau kita tidak serius mendidik anak laki-laki hari ini, jangan kaget dengan realitas besok. Karena pelaku tidak lahir tiba-tiba. Mereka dibentuk pelan-pelan, dari hal-hal yang selama ini dianggap “sepele.”
Just incase ada yang komen: "emang siapa yang bilang mendidik anak laki-laki itu mudah? Saya dididik dengan sangat keras"
Oh well, cara pandang itu sudah mengakar sejak lama di masyarakat.


Indonesia
a.mega.p retweetledi

Anda pasti tahu kasus anak Kyai besar di Jombang, MSAT, yang terlibat kasus pemerkosaan?
Dituntut 16 tahun, dan divonis 7 tahun di tahun 2022 lalu. Anda juga tahu itu.
Yang Anda mungkin belum tahu: dia sekarang sudah bebas.
KemenPPPA yang dulu nggak terima atas vonis itu, entah sudah tahu atau belum bahwa terdakwa sudah bebas.
Kita juga tahu bahwa narapidana yang telah menjalani 2/3 masa pidananya dapat dibebaskan lebih awal melalui program Pembebasan Bersyarat (PB).
Nah, Anda nggak tahu, kan kalau anak kyai itu sudah bebas?



Indonesia
a.mega.p retweetledi
a.mega.p retweetledi

Rangkuman orang yg ga bisa dimaafin




Toshiba TV@toshibatv_id
Saat lebaran besok, adakah orang yang tidak akan kamu maafkan? Kenapa?
Indonesia
a.mega.p retweetledi
a.mega.p retweetledi






















