
Anom Surya Putra
2.7K posts

Anom Surya Putra
@anomsputra
ADVOKAT PERGERAKAN








Rezim Soekarno sangat korup. Korupsi gila-gilaan. Pemalakan gila-gilaan. Perampokan gila-gilaan. Perusahaan hasil nasionalisasi dirampok. Hasil panen dirampok. Kas dirampok. Truk dan alat kebun dikilo dan dirampok. Angkatan 66 mencita-citakan Orde Baru yang anti-korupsi. Ini terdengar sangat lucu hari ini. "Orde Baru anti-korupsi". Yang harus kita pahami, saat itu banyak orang tidak paham Soeharto itu siapa. Setelah G30S, tiba-tiba aja ada jenderal random yang muncul. Apparently sekarang dia yang berkuasa, somehow. Ketika demo anti-Sukarno semakin meluas, arsitek-arsitek Orde Baru berharap bahwa jenderal random baru ini akan mau memimpin Indonesia keluar dari miskelola, korupsi, konflik tanah, polarisasi massa, kemiskinan, dan kelaparan Orde Lama yang mengerikan dan membawa Indonesia menuju zaman modern. Letjen Soeharto, mendengar mimpi-mimpi ini, tentu diam saja. Ia tidak berusaha mengoreksi idealisme Angkatan 66 ini dengan berkata "Wah maaf, sebenarnya sayalah koruptor zaman Orde Lama itu. Dulu saya gemar merampok kayu bulat di Jawa Tengah bersama Sudono Salim dan saya akan melakukannya lagi." Saat itu tidak ada yang bisa membayangkan 32 tahun ke depan, Indonesia akan menjadi seperti apa. Yang diketahui Angkatan 66 seperti Soe Hok Gie hanyalah bahwa Orde Lama jelas gagal, kegilaan dan konflik politik harus distop, kelaparan massal harus distop, hiperinflasi harus distop, isolasi dunia harus distop, ahli harus diberikan kekuasaan untuk menyelamatkan negara. Udah bagus ada jenderal baru random ini yang ternyata berhasil menentang dan mengepung Sukarno dengan efektif. Gas dukung. Setidaknya, pada awal-awal Orde Baru, para pembaharu teknokratis benar-benar diberikan kekuasaan. Indonesia berhasil pulih dari kebencian akar rumput, kegilaan, kemiskinan, dan kelaparan Demokrasi Terpimpin. Vibe pembaruan, modernisasi, teknokrasi ilmiah, dan agenda pembangunan Orde Baru ini terus berjalan cukup lama sampai Peristiwa Malari 1974. Setelah itu, Raja Jawa melepas topeng dan impunitas merajalela. - Tahun 1975, invasi Timor Timur dilancarkan. Sepertiga populasi Timor Timur mati dibantai atau karena kelaparan, diare, disentri, dll karena societal collapse seperti di Gaza hari ini. Sistem pertanian Timor Timur dimusnahkan dengan senjata biologis. Salah satu contoh pembunuhan massal paling brutal dan mengerikan di Timor Timur adalah pembantaian di Kraras, yang pelakunya tidak pernah diusut. - Tahun 1978, HB IX meninggalkan pemerintahan, asas tunggal Pancasila diterapkan, dan pasukan tentara masuk kampus ITB. ITB yang menjadi salah satu sumber pemikir Angkatan 66 kini duduki tentara. - Tahun 1980, Soeharto berlagak seperti bos geng preman jalanan dengan mengancam bahwa anggota DPR/MPR yang berani menentangnya akan diculik dan dibunuh tentara. Peristiwa mengerikan ini dicatat sejarah sebagai "Pidato Pekanbaru 27 Maret 1980" dan "Pidato Cijantung 16 April 1980". Atau sebagaimana dicatat oleh terminologi modern, "Soeharto Crash Out". Monolog bos supervillain kartun yang mengancam-ngancam penculikan dan pembunuhan ini dikeluarkan Soeharto di markas-markas ABRI di depan para komandan. Monolog ini mengundang keprihatinan tokoh-tokoh negarawan senior yang lalu menandatangani Petisi 50, seperti Nasution, Sjafruddin Prawiranegara, Natsir, Hoegeng, dan Ali Sadikin. Mereka lalu direpresi habis-habisan. - Tahun 1983, konsolidasi preman se-Indonesia dimulai lewat Petrus. Semua preman yang tidak mau masuk ke dalam struktur mafia raksasa yang diketuai Soeharto dibantai di jalanan. Soeharto menjadi Raja Preman seperti Don Corleone dalam film "The Godfather". - Tahun 1984, golongan-golongan Islam dibantai di Tanjung Priok. - Tahun 1987, monopoli cengkeh di bawah BPPC milik Tommy Soeharto mulai dibentuk. Anak-anak Cendana sudah besar dan siap merampok habis seluruh negara Indonesia. --- Soekarno melakukan pembiaran korupsi. Soeharto adalah orang yang melakukan korupsinya. Dalam hal ini, kita tak banyak berubah.





Ponpes Al Khoziny Sidoarjo Mulai Dibangun Ulang, Pakai APBN Rp 125 Miliar Baca di: surabaya.kompas.com/read/2025/12/1…


"Saya enggak kuat dipukulin. Saya enggak kuat disetrum. Pingsan. Saat sadar, saya digebukin dan disetrum lagi. Saya syok lihat beberapa orang telanjang bulat, digebukin, lalu dibawa ke toilet, digebukin lagi, disetrum lagi. Maka saya mengiyakan pertanyaan polisi yang ditanyain ke saya. Daripada disetrum dan digebukin terus, saya mengiyakan," ungkap Very Kurnia.


















