@ChelindFootball@peterrutzler@TimesSport Klo ampe nggak deal am Xabi Alonso, Chelsea msih akan gitu2 aja, krna kendali msih di Blueco termasuk transfer pemain dsb.
Chelsea sedang membuat kemajuan dengan Xabi Alonso, tetapi pelatih asal Spanyol itu menginginkan "jaminan" sebelum secara resmi setuju untuk menjadi pelatih kepala baru mereka.
(@peterrutzler & @TimesSport)
Ga jauh-jauh dari keleluasaan pelatih ini mah jaminannya, masalahnya Chelsea bisa jamin hal itu ga? 😬
Guys, ada pertanyaan yang sampai hari ini masih belum terjawab dengan jujur oleh kebanyakan orang Indonesia:
Kenapa seorang gubernur
yang tidak mencuri satu sen pun uang rakyat bisa dipenjara sementara para politisi yang merampok puluhan triliun masih bebas berkeliaran,
bahkan ada yang naik jabatan?
Ini bukan soal agama.
Ini soal kekuasaan, uang, dan dendam.
Ahok masuk Jakarta bukan untuk disukai:
Basuki Tjahaja Purnama tidak datang ke balai kota dengan senyum kampanye.
Dia datang dengan trauma.
Ayahnya pengusaha lokal di Belitung pernah hampir hancur karena berani menentang korupsi pejabat setempat.
Izin dipersulit, akses diputus,
bisnis dicekik perlahan-lahan oleh oknum berseragam yang berlindung di balik stempel birokrasi.
Ahok muda menyaksikan itu semua.
Dan luka itu tidak pernah sembuh.
Jadi ketika dia masuk ke balai kota Jakarta dia tidak masuk sebagai politisi yang ingin dicintai.
Dia masuk sebagai seseorang yang sudah lama tahu bagaimana sistem ini bekerja dan sudah memutuskan untuk menghancurkannya dari dalam.
Bahkan ketika sudah jadi wakil gubernur saat seorang kepala dinas datang menghampiri mejanya saat makan siang untuk minta maaf karena terlamba insting pertama Ahok bukan menyapa.
Otaknya langsung memperingatkan:
orang ini pasti mau memeras saya.
Itulah level traumanya.
Dan itulah level kewaspadaannya.
Yang pertama dia lakukan:
transparansi sebagai senjata pemusnah massal:
Rapat birokrasi yang selama setengah abad dilakukan di ruang tertutup
Ahok rekam dan upload ke YouTube.
Utuh. Tanpa edit.
Bagi rakyat yang sudah puluhan tahun lelah diperas birokrasi video-video itu adalah katarsis.
Akhirnya ada gubernur yang mau jujur soal betapa busuknya sistem itu.
Bagi para birokrat itu adalah teror psikologis.
Tidak ada lagi tempat sembunyi.
Setiap kesalahan bisa viral dalam hitungan jam.
Dan Ahok tidak berhenti di situ.
Dalam 10 bulan pertama menjabat dia memecat lebih dari 120 PNS dan menurunkan pangkat secara paksa kepada lebih dari 2.500 pegawai.
Mereka yang dipecat tidak diam.
Mereka membentuk kelompok perlawanan yang bahkan punya nama resmi:
FOBIAK Forum Birokrat Korban Ahok.
Sekitar 300 mantan pejabat yang sakit hati, terorganisir, dan bersumpah balas dendam.
Lalu dia menyentuh yang paling sakral: uang
Selama puluhan tahun korupsi anggaran di Jakarta dilakukan dengan cara yang paling sederhana dan paling memalukan:
Microsoft Excel yang bisa diketik ulang.
Dokumen APBD dicetak,
angka diutak-atik,
proyek fiktif disisipkan,
10 sampai 15 persen dipotong sebelum disahkan.
Ritual perampokan massal yang dilegalkan dan dilakukan lintas partai bukan oleh satu kelompok, tapi oleh seluruh kartel politik.
Ahok membuang Excel itu dan menggantinya dengan e-budgeting sistem digital berlapis password di mana setiap rupiah terekam jejak digitalnya dan tidak bisa diubah tanpa persetujuan gubernur.
Dalam satu gerakan itu ATM seluruh kartel politik lintas fraksi terkunci sekaligus.
Konsekuensinya bisa ditebak.
Di akhir 201 setelah sidang paripurna pengesahan APBD 2015 selesai diketuk palu sekelompok oknum diam-diam menyisipkan Rp12,1 triliun dana siluman ke dalam draf anggaran.
Di dalamnya ada pengadaan UPS untuk sekolah-sekolah senilai Rp1,2 triliun.
Ahok menolak tanda tangan.
Di lembar anggaran itu dia menulis dengan tinta merah: "Pemahaman nenek lu."
Dan dia secara terbuka menyatakan lebih baik dipecat daripada membiarkan Rp12,1 triliun itu dirampok.
Respons DPRD?
Seratus enam anggota DPRD kompak meluncurkan hak angket untuk memakzulkannya.
Tidak ada satu partai pun yang membela.
Kawan-kawan politiknya tiba-tiba diam.
Dia dikepung sendirian.
Simpang Susun Semanggi dan sisi gelapnya:
Ketika anggaran dikunci oleh musuh politiknya Ahok menemukan jalan lain.
Dia memaksa pengembang yang melanggar aturan tata ruang untuk membayar denda bukan dalam bentuk uang ke rekening pemerintah tapi dalam bentuk infrastruktur fisik langsung.
Mau tambah lantai gedung?
Bangunkan jembatan.
Mau izin keluar?
Belikan bus Trans Jakarta.
Hasilnya:
Simpang Susun Semanggi sepanjang 1,6 km dibangun tanpa menyentuh satu rupiah pun uang APBD.
Rakyat bersorak.
Tapi mantan Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto mengkritik keras metode ini.
Kalau pelanggaran tata ruang bisa ditebus dengan infrastruktur itu sama saja dengan menjual tata kota kepada oligarki.
Kesalahan dijadikan komoditas transaksional.
Ahok menang membangun kota.
Tapi dia berjalan di atas tali hukum yang sangat tipis sendirian, tanpa jaring pengaman.
Dan akhirnya mereka menemukan senjata yang selama ini dicari:
Musuh-musuhnya sudah mencoba segalanya.
Membongkar lacinya.
Memeriksa proyeknya.
Mencari aliran dana ke rekening keluarganya.
Tidak ada. Bersih total.
Kalau tidak bisa menembak jantungnya tembak mulutnya.
September 2016 di Kepulauan Seribu lidah Ahok terpeleset.
Pernyataan soal surat Al-Maidah direkam,
dipotong, diviralkan.
Dan dalam hitungan jam mesin yang sudah lama menunggu bergerak.
Para elit politik yang kartel anggarannya dihancurkan Ahok akhirnya punya amunisi emas.
Sentimen massa dimobilisasi.
Bukan reaksi organik biasa
tapi mobilisasi elektoral tingkat tinggi yang memanfaatkan momen dengan sempurna.
9 Mei 2017 sang penjaga berangkas yang menyelamatkan puluhan triliun uang rakyat dijatuhi hukuman 2 tahun penjara.
Yang paling menohok dari seluruh cerita ini:
Di dalam sel Mako Brimob Ahok justru menulis sesuatu yang mengejutkan.
Dia bersyukur tidak terpilih lagi.
"Jika aku terpilih lagi, aku akan semakin arogan, semakin kasar, dan akan semakin banyak menyakiti hati orang."
Penjara bukan tempat pembuangannya.
Penjara adalah rem darurat yang menarik dia
dari dirinya sendiri.
Pertanyaan yang tersisa dan ini yang paling tidak nyaman:
Ahok dibenci bukan karena dia mencuri.
Dia dibenci karena dia mengancam sistem yang membuat banyak orang nyaman merampok.
Dan kita sebagai bangsa ternyata jauh lebih mudah memaafkan politisi santun yang tersenyum manis di layar TV sambil merampok triliunan uang kita dalam diam, daripada memaafkan seorang penjaga yang kasar dan bermulut kotor yang sedang mati-matian melindungi dompet kita.
Pertanyaannya bukan apakah Ahok sempurna.
Dia jelas tidak sempurna.
Pertanyaannya adalah:
bangsa yang lebih memuja kesopanan daripada kejujuran apakah bisa benar-benar maju?
Satu tiket menuju Premier League kini diperebutkan di Wembley. 🏴
Hull City dan Southampton dipastikan bertemu pada partai final Championship Play-offs, dengan pemenang laga ini akan mengamankan promosi ke kasta tertinggi sepak bola Inggris musim depan.
Siapa guys?
🚨 John Terry was asked which Chelsea player should be KEPT and who should be SOLD for the incoming coach Xabi Alonso
•Lavia - Sell
•Delap- Sell
•Tosin -Sell
• Cole palmer - keep
• Joao Pedro - keep
• Cucurella- keep
• Moises Caicedo- keep
• Robert Sanchez- keep
• Chalobah- Sell
• Garnacho- Sell
• Enzo Fernandez.....Keep.
Do you agree with John Terry? 👇
@SiaranBolaLive@David_Ornstein Xabi Alonso. Sosok pemain bintang dan sdh pernah membawa Leverkusen juara Bundesliga dgn Unbeaten harusnya bisa dihormati pemain2 Bintang Chelsea. Minusnya belum ad pengalaman di EPL seperti Iraola.
Chelsea tengah menjajaki kesepakatan dengan Xabi Alonso sebagai pelatih baru Club.
Belum ada keputusan yang diambil seiring proses yang masih berjalan.
Andoni Iraola juga masih menjadi kandidat kuat setelah meninggalkan Bournemouth.
Via @David_Ornstein
Duo Spanyol 🇪🇸🇪🇸
Xabi Alonso teruji di Bundesliga
Andoni Iraola teruji di Premier League
Blues...pilih siapa?