AntmanGarisLucu
17K posts

AntmanGarisLucu
@antmanGL
life's a journey not destination ♻️🌐















Ancaman Soeharto pada anggota DPR/MPR tahun 1980 sebenarnya menarget golongan spesifik. Target itu adalah golongan Islam. Merekalah yang diancam diculik dan dibunuh oleh tentara Soeharto. Pada tahun 1977, PPP baru menang besar di Jakarta. Porsi kursi Golkar turun. Padahal, pemilu 1977 sengaja ditunda setahun supaya rezim Soeharto dapat sebanyak-banyaknya memberangus gerakan oposisi, memanipulasi pemilu, dan mengonsolidasi keluasaan mutlak. Salah satu strategi yang dilakukan rezim adalah dengan melebur parpol menjadi tiga saja dan mengisinya dengan orang yang lemah terhadap rezim. Setahun penuh ini dilakukan. Tetapi ini gagal. Porsi suara Golkar tetap turun. Berarti, penundaan pemilu selama setahun itu sia-sia. Ali Sadikin sendiri dikabarkan tumbang dari jabatan Gubernur Jakarta karena membiarkan PPP menang di Jakarta, dan bukannya menggunakan kekuatan otoriter rezim untuk membasminya. Ini dibarengi dengan goncangan mundurnya HB IX dari pemerintahan dan Ikrar Mahasiswa 1977 yang berdemo besar-besaran menentang pencalonan Soeharto untuk 3 periode. Soeharto pun menganggap golongan Islam yang naik daun saat itu sebagai ancaman utama terhadap kekuasaannya. Monolog supervillain kartun yang dikeluarkan Soeharto dimaksudkan untuk meneror dan mengancam anggota DPR/MPR perwakilan golongan Islam supaya jangan belagu menentang impunitas rezim Soeharto. Barangkali inilah alasannya mengapa Soeharto begitu kaget dan marah terhadap kemunculan Petisi 50. Ternyata, yang tidak setuju dengan kebengisan preman dan otoriter bunuh-bunuhan Soeharto bukan hanya golongan Islam, melainkan semua golongan. - Golongan cokelat ABRI seperti A.H. Nasution 🟤 menentang. - Golongan cokelat kepolisian seperti Hoegeng 🟤 menentang. - Golongan kuning pemda seperti Ali Sadikin 🟡 menentang. - Golongan teknokrat seperti mantan menteri tambang Slamet Bratanata 🟡 menentang. - Golongan merah PNI seperti Manai Sophiaan 🔴 menentang. - Golongan hijau seperti Natsir dan Sjafruddin 🟢 tentu menentang. - Dan lain-lain golongan yang ikut menentang. Semua orang yang menentang ini kemudian diteror, ditindas, dan diperlakukan seperti eks tapol PKI. Tetapi jangan lupa, masih ada rencana teror dan represi lebih parah, kejam, dan sadis terhadap golongan Islam. Merekalah target awal dan utama Soeharto, bukan anggota Petisi 50. Setelah Petisi 50 berhasil diteror dan dibungkam, Soeharto balik lagi ke rencana utama ini. Aparat dilepaskan untuk menindas dan merepresi gerakan Islam yang sedang berkembang. Barangkali inilah alasan L.B. Moerdani ditunjuk menjadi Panglima ABRI dan Panglima Kopkamtib pada tahun 1983. Penunjukan Moerdani sebagai Panglima ABRI sebenarnya sangat aneh karena ia adalah orang intel, bukan orang yang pernah memegang komando tentara besar apapun. Meskipun begitu, penunjukan bos intel menjadi Panglima ABRI ini sangat cocok apabila Soeharto berencana sepenuhnya menggunakan ABRI bukan untuk alat pertahanan, melainkan alat intel dan pembasmian oposisi internal terhadap rezim. Represi semakin kuat dan sewenang-wenang selama periode Petrus. Pada saat itu, semua orang ketakutan karena yang ditarget dan dibunuh sangat tidak jelas. Siapa yang ditarget? Apa iya targetnya hanya bandit dan preman saja?Tidak ada pengumuman apapun dari pemerintah. Tiba-tiba suatu hari mayat muncul bergelimpangan tanpa alasan ataupun identitas. Puncak represi dan kebablasan aparat terhadap golongan Islam terjadi di Tanjung Priok pada tahun 1984. Investigasi independen dari Sontak memperkirakan bahwa 400 orang ulama dan golongan Islam dibantai dengan sadis di jalanan Tanjung Priok. Ratusan warga lokal lainnya diculik, disekap, dan banyak yang melaporkan disiksa. Pada 1985, Asas Tunggal Pancasila sudah diberlakukan secara menyeluruh di seluruh Indonesia. Semua organisasi dalam bentuk apapun menjadi target kontrol rezim. Pada 1987, konsolidasi sudah komplit. Golkar akhirnya memenangkan 73% suara dan semua provinsi. Pada 1989, pembantaian terhadap golongan Islam kembali terjadi di Lampung. Hampir 250 orang dibantai. Pada 1990, Daerah Operasi Militer (DOM) diberlakukan di seluruh Aceh. DOM diberlakukan dengan sangat brutal sekaligus asal-asalan. 12.000 orang Aceh dibantai. Teror, penculikan, penyiksaan, pembunuhan massal, pemerkosaan massal, pembakaran desa-desa melanda seluruh Aceh. Di DOM Aceh banyak laporan tentang perwira lapangan korup yang diam-diam berbisnis narkoba, menjual suplai senjatanya sendiri ke GAM demi uang, dan secara umum berkelakuan seperti gerombolan rampok yang memalak segala-galanya yang bisa dipalak.

Terima Hercules di Kantornya, Seskab Teddy: Kawan Lama
























