Arief

3.3K posts

Arief banner
Arief

Arief

@ariefr23

Full‑time father, part‑time engineer. Tweets are my own.

Katılım Eylül 2010
922 Takip Edilen850 Takipçiler
Arief retweetledi
TxtdariBekasy 🇵🇸
TxtdariBekasy 🇵🇸@txtdrbekasi·
Prabowo completed his World Tour visiting 28 countries in just 1.5 years, while Taylor Swift needed 2 years for her World Tour in 21 countries.
TxtdariBekasy 🇵🇸 tweet mediaTxtdariBekasy 🇵🇸 tweet media
English
559
13.6K
38.4K
1.1M
Arief retweetledi
Dandhy Laksono
Dandhy Laksono@Dandhy_Laksono·
Gen Alpha tentang Pesta Babi ❤️❤️
Filipino
168
8.8K
29K
933.8K
tempo.co
tempo.co@tempodotco·
Rupiah Anjlok ke Level 17.600 per Dolar AS, Prabowo: Rakyat di Desa Enggak Pakai Dolar AS "Rupiah begini, dolar begitu. Orang rakyat di desa enggak pakai dolar kok, iya kan?"
tempo.co tweet mediatempo.co tweet media
Indonesia
4.1K
15.5K
51.1K
3.5M
Arief
Arief@ariefr23·
My faith in Indonesia legal system just got shattered.
English
0
0
0
22
Arief retweetledi
Ibrahim Arief
Ibrahim Arief@ibamarief·
Tolong kami 🚨🚨🚨 Tidak ada dalam amar putusan hakim kemarin yang menetapkan agar Ibam segera ditahan di dalam rumah tahanan negara. Namun JPU Roy Riady pagi ini menyatakan akan segera eksekusi penahanan Ibam ke rutan. Ini zalim sezalim-zalimnya. Tolong, kenapa begini negara ini. 😭
Ibrahim Arief tweet media
Indonesia
60
994
1.9K
103.1K
Arief retweetledi
Ibrahim Arief
Ibrahim Arief@ibamarief·
Dari 4 hakim anggota, 2 hakim vonis Ibam 4 tahun, tapi 2 hakim lainnya justru minta suami saya dibebaskan. Sampai dua hakim menyatakan keyakinan berbeda lewat dissenting opinion terhadap tiga hakim lainnya jarang sekali kejadian. Bagi keluarga kami, ini tanda nyata kalau sebenarnya ada keraguan yang sangat mendalam dari majelis hakim sendiri soal perkara Ibam. Rasanya sedih banget, kenapa putusan yang menentukan masa depan keluarga kami penuh keraguan seperti ini? Bahkan di ruang peradilan, hakim ketuanya pun terlihat ragu-ragu untuk memutus berdasarkan pertimbangan vonis 4 tahun seperti 2 hakim anggota yang lain. Padahal Bapak Presiden @prabowo selalu ingatkan kalau putusan penegakan hukum itu nggak boleh ada keragu-raguan sedikit pun. Sedangkan, dua hakim anggota yang berkeyakinan Ibam secara terang benderang seharusnya dibebaskan dari seluruh dakwaan dalam putusan kemarin, dari matanya tampak kalau tidak ada keragu-raguan untuk menyatakan dengan penuh keyakinan bahwa Ibam seharusnya bebas. Aku terharu banget, ternyata masih ada hakim yang sangat amanah dan objektif melihat kasus Ibam, terlebih ketika puluhan isi keyakinan kedua hakim yang mulia tersebut dibacakan di sidang. Semuanya tentang Ibam yang aku kenal, semuanya berisi tentang keadilan yang muncul dari fakta persidangan yang dipahami secara utuh. Tapi kenapa, putusan akhirnya penuh kejanggalan dan kezaliman? Ini sangat jauh dari keadilan yang didasarkan fakta persidangan. Keyakinan kedua hakim tersebut bantu memperkuat keyakinan keluarga kami juga, kalau Ibam seharusnya bebas. Bikin kami makin yakin juga untuk terus berjuang demi keadilan. Mohon terus bantu kawal ya, teman-teman. Tolong bantu suarakan juga ke Komisi III DPR dan Pak Presiden Prabowo, supaya keraguan yang sangat kentara terlihat ini bisa berganti jadi kepastian hukum. Jangan sampai ada lagi orang yang niatnya bantu negara dengan keahliannya malah dikriminalisasi. Terima kasih banyak atas dukungannya selama ini. 🙏
Ibrahim Arief tweet mediaIbrahim Arief tweet media
Indonesia
39
718
1.5K
125.9K
Arief retweetledi
Ghozy Ul-Haq
Ghozy Ul-Haq@ghozyulhaq·
Jadi semua tuduhan Jaksa tidak terbukti. Chromebook ga bermanfaat ❌ Kerugian negara ❌ Memperkaya diri ❌ hakim menjatuhkan vonis hukuman pakai pasal karet: “memperkaya korporasi” pertanyaannya adalah: pengadaan mana yg ga memperkaya korporasi?
Ghozy Ul-Haq tweet media
Indonesia
45
209
766
67.2K
Arief retweetledi
Ibrahim Arief
Ibrahim Arief@ibamarief·
Alhamdulillah, kejujuran ngga bisa dihalangi. Pesan dari seorang guru minggu lalu, beri kami ketenangan di tengah berbagai narasi yang diputarbalikkan. Dari app guru sampai magang kampus merdeka, semua bukan proyekan tapi untuk bantu Indonesia. 🇮🇩 Semoga semakin banyak yang berani bicara tentang dampak nyata aplikasi yang Ibam dan timnya bangun dengan tulus, walau identitas mereka perlu kami lindungi agar tidak ikut diserang.
Ibrahim Arief tweet media
Indonesia
19
89
339
120K
Arief
Arief@ariefr23·
I called it nikmat dunia
Anish Moonka@anishmoonka

A kid drew himself sleeping in bed between mom and dad and labeled it 'safe.' In Japan, this exact sleeping arrangement has a name. They call it 'the river.' Mother is one bank. Father is the other. The child between them is the water. Roughly 70% of Japanese mothers sleep this way with their kids, sometimes through the teenage years. The Western model of putting a kid alone in their own bedroom is barely 200 years old. For most of human history, in most cultures still alive today, kids slept beside their parents. James McKenna runs the Mother-Baby Behavioral Sleep Lab at Notre Dame. He spent decades watching what happens when parents and kids share a bed. The bodies sync up. Heart rates align with the parent's, breathing falls into the same rhythm, and by morning even sleep stages have started matching. The parent's body, in McKenna's words, acts as a kind of biological jumper cable for the child's. In 2013, researchers in the Netherlands tracked 193 babies through the first year of life. They measured cortisol, the brain's main stress hormone. Babies who had spent more weeks co-sleeping in the first six months produced less cortisol under stress at 12 months. Sleeping near a parent had rewired the kid's stress system to be calmer under pressure. Inside the kid's brain at night, the amygdala, the fear alarm, gets more sensitive as the body gets tired. Darkness makes it worse. A 2021 paper in PLoS One from Australian researchers showed that light directly suppresses amygdala activity. Lights off, alarm louder. The whole brain is wired to read 'alone in a dark room' as a threat. Now add a parent's body to that bed. The kid's nervous system reads warm body, breathing nearby, familiar smell. The threat alarm dials down. Two parents on either side dial it down twice. The drawing is the kid's brain calculating maximum safety: I am surrounded by the people who keep me alive, and nothing can reach me without going through them first. The arrangement in this drawing is what most of human history called 'sleeping.' Sleeping the kid alone in another room is a 200-year-old Western invention that we forgot was an invention. Every kid who has ever padded into your room at 3am and crawled into the middle of the bed is just trying to redraw the picture.

English
0
0
0
42
Arief
Arief@ariefr23·
Ternyata lebih gampang publish skills daripada publish package registry 🤷‍♂️
Indonesia
0
0
0
24
Arief retweetledi
Dosen Pembimbing
Dosen Pembimbing@Dospemz·
Saya tidak kenal dengan @ibamarief dan tidak punya kepentingan apa pun membela orang per orang dalam kasus ini. Saya hanya merasa narasi Chromebook perlu dibaca lebih utuh, karena terlalu banyak orang memakai potongan fakta untuk membangun kesimpulan yang terlalu jauh. Klaim 46% sekolah belum punya internet pada 2020 memang menunjukkan gap digital besar, tetapi menjadikan angka itu sebagai dasar untuk menolak pengadaan perangkat TIK adalah logika yang keliru. Angka yang digunakan itu benar dalam konteks awal 2020, sementara data di tahun 2024, akses internet sekolah tercatat 77,47% untuk SD, 82,47% untuk SMP, 88,25% untuk SMA, dan 91,32% untuk SMK. Jadi memakai angka 2020 untuk menyimpulkan pengadaan perangkat TIK sebagai korupsi adalah cara baca yang dipaksakan. Dengan logika yang sama, komputer juga bisa ditolak masuk sekolah pada tahun 90-an hanya karena listrik belum masuk ke semua desa. Perlu diketahui, saat itu pemerintah juga sudah membangun fondasi konektivitas melalui Palapa Ring, BAKTI Kominfo, dan rencana SATRIA-1 untuk menjangkau sekolah di daerah 3T. Saat terjadi pandemi justru kebijakan lebih justified untuk mempercepat belanja perangkat TIK, karena sekolah mendadak dipaksa masuk ke pembelajaran jarak jauh dan asesmen berbasis komputer dalam kondisi infrastruktur belum merata. Soal IBAM, posisinya konsultan teknologi eksternal di Tim Teknis Analisa Kebutuhan TIK SD/SMP yang berperan memberi masukan teknis dan tidak punya kewenangan mengambil keputusan final. Kalau ada problem harga atau kelemahan sistem e-katalog, titik koreksinya ada pada desain pengadaan, pengawasan, dan akuntabilitas pejabat yang pembelian, bukan pada konsultan teknis. Menjadikannya sebagai pusat seluruh skandal tanpa bukti aliran dana dan tanpa kewenangan anggaran adalah lompatan logika yang terlalu dipaksakan. Bagi saya, kasus ini lebih sehat dibaca sebagai perdebatan kebijakan digital pendidikan, kualitas perencanaan, dan tata kelola pengadaan negara. Memutar isu ini seolah setiap keputusan teknologi yang kontroversial otomatis korupsi hanya akan membuat profesional takut membantu negara, sementara masalah utama tetap tidak disentuh dengan serius.
Iman Zanatul Haeri@zanatul_91

Aneh, sekarang orang-orang percaya chromebook itu baik dan berguna untuk pendidikan. Saat pengadaan itu disusun, kajian awal 2020 membuktikan bahwa 46% sekolah tidak punya akses internet. Survei pada kajian awal ini menunjukan hampir tidak ada sekolah yang menggunakan Chromebook. Kemudian tiba-tiba, kajian ini dirubah dengan kajian baru. Chromebook yang awalnya tidak direkomendasikan, jadi di rekomendasikan. Pada kajian kedua inilah ada IBAM sebagai Tim SKM (Staf Khusus Menteri). Dengan memegang dua dokumen ini saja, tentu mudah bagi kejaksaan untuk melihat peran sentral IBAM. Jadi agak aneh kalau IBAM mengaku tidak merekomendasikan Chromebook. Gunanya IBAM dihadirkan menteri ditengah-tengah tim teknis,besar kemungkinan untuk membelokan kajian supaya dukung Chromebook. Kalau IBAM tidak merekomendasikan Chromebook, untuk apa kajiannya di rubah? kan sejak awal tidak direkomendasikan? Meski mbantah, patut diduga, fungsinya IBAM adalah kebalikan dari kajian yang tidak merekomendasikan Chromebook. Pembelaan IBAM kontradiktif. Sejak awal Chromebook tidak memiliki fungsi dalam pendidikan kita. Itulah alasan kenapa Nadiem membuat kebijakan ANBK/AN. Supaya Chromebook seolah-olah bermanfaat. Karena saat itu kita gak butuh AN. Untuk apa mengukur lingkungan belajar di sekolah tapi sekolahnya kan tutup (pandemik/PJJ)? Laptop yang hanya efektif digunakan secara online, kini mendapatkan fungsinya karena semua sekolah menyelenggarakan AN yang mana menurut peraturan GTK "HARUS TERSAMBUNG INTERNET." Belakangan untuk menutupi ini kementerian membuat panduan menggunakan Chromebook secara offline. Meski ini tidak merubah bahwa Chromebook adalah laptop yang kurang berguna dengan kebutuhan sekolah. Saya tetap berpandangan bahwa Chromebook adalah korupsi besar. Bukan hanya Nadiem dan Ibam, dan PKK, tapi orang-orang dibalik ini semua harus diseret. Menurut saya kejaksaan harus memanggil lebih banyak orang lagi. Apalagi orang atau yayasan yang mempekerjakan IBAM dan menggajinya. Tim SKM tapi digaji yayasan? juga Jurist Tan yang masih buron. Saat ini maaf, semua orang bicara soal personal Nadiem dan IBAM yang katanya tulus dan sakit-sakitan. Bukan kasus korupsinya. Bahwa saya tidak terima, kalau kami guru-guru dipaksa memaklumi kebijakan Chromebook dan ketersambungan internet yang jadi dalih korupsi Chromebook. Saya tidak pernah lupa, bagaimana temen-temen guru di NTT melaksanakan AN. Alih-alih melaksanakan asesmen nasional, kita sedang didorong supaya menganggap korupsi pengadaan itu berguna. Jangan lupa, baik Nadiem dan IBAM melaksanakan pengadaan Chromebook dan AN ketika pandemik lagi galak-galaknya (2020-2021). Mereka tidak punya empati bahwa kebijakan ini akan menyengsarakan guru, karena harus berkumpul (datang ke sekolah) ketika pembatasan jarak (Covid-19) dan diberikan laptop yang tidak biasa mereka pakai. *Foto Pelaksanaan ANBK di NTT.

Indonesia
27
237
622
54.7K
Arief retweetledi
Arief retweetledi
Ibrahim Arief
Ibrahim Arief@ibamarief·
Ibrahim Arief tweet media
ZXX
2
114
354
26.1K
Arief retweetledi
Ibrahim Arief
Ibrahim Arief@ibamarief·
Bismillahirrahmanirrahim. Hari ini, izinkan saya Ririe, mewakili Ibam dan anak-anak kami, menyampaikan Surat Terbuka kepada Pemimpin tertinggi negeri, Presiden Republik Indonesia, Bapak Prabowo Subianto. Dengan segala kerendahan hati, kami memohon perlindungan hukum dari ketidakadilan yang kami hadapi. Agar kebenaran tidak dikalahkan oleh hal-hal di luar fakta persidangan. Agar keadilan benar-benar ditegakkan sebagaimana mestinya. Kami percaya, negara tidak boleh membiarkan warganya merasa sendirian dalam menghadapi ketidakadilan. Semoga surat ini sampai dan diterima dengan baik oleh Bapak Presiden. Demi keadilan berdiri setegak-tegaknya di negeri ini. Demi hilangnya rasa takut dari mereka-mereka yang dengan jujur dan tulus hendak membantu negara dengan keahlian mereka. Terima kasih, Bapak Presiden @prabowo 🙏🏻
Ibrahim Arief tweet media
Indonesia
229
7.7K
13K
387.2K