𝕏

87K posts

𝕏 banner
𝕏

𝕏

@aripr_

When you lose your money, you lose nothing. When you lose your health, you lose something. When you lose your character, you lose everything. ~Meyer Lansky

Tokyo Katılım Nisan 2015
416 Takip Edilen171 Takipçiler
𝕏
𝕏@aripr_·
@kyunchan24 kalo misal isi protesnya ttg jenis ketebalan bahan/panjang minimum celana/corak celana sbnernya sgt gpp n pasti bakal jd bahasan yg bermanfaat dibanding protesin rambut kaki.
Indonesia
1
0
0
16
C
C@kyunchan24·
@aripr_ Iya masalah protesnya memang bisa dibilang bias, mana spesifik ke golongan tertentu, kalau misal ikemen kayanya mereka seneng2 aja 😭
Indonesia
1
0
0
8
𝕏
𝕏@aripr_·
@kyunchan24 makanya blm tau kan, knp protes? bkn ttg boleh atau tidaknya, lagian gada yg ngelarang protes, cuma selam ini cowok kalo kerja cuma punya 1 pilihan pakaian sedangkan suhu makin panas bahkan baru usulnaja udah diprotes mana ttg rambut kaki pula yg mana itu masalah gen. Aneh aja.
Indonesia
1
0
0
21
C
C@kyunchan24·
@aripr_ Dari foto diatas lutut? Selutut? Lebih sering liat cowok kalau summer ya segitu celananya, buat saya ga masalah ya, beda orang beda pandangan, hal baru ada yang pro dan kontra kan udah biasa
Indonesia
1
0
0
16
𝕏
𝕏@aripr_·
@kyunchan24 emg celana pendeknya diatas lutut?
Indonesia
1
0
0
33
C
C@kyunchan24·
@aripr_ Jadi boleh dong protes kalau aturannya dirubah? Yang cowok kayanya bakalan protes juga kalau misal rok diatas lutut kinshi misalnya 😌 Jadi poin pandangnya beda
Indonesia
1
0
0
16
リアル警察24時
リアル警察24時@RealPolice24·
小田急線で喫煙してる人 すごく迷惑だけど以前この手の人を 注意したら暴行されちゃった高校生とかも居たし どうやったら止めてもらえるんだろ…
日本語
601
1.1K
3.1K
397.5K
Rahmat Perkasa
Rahmat Perkasa@R_Perkasa·
@aripr_ Honestly, tanpa mereka kita belum tentu bisa nonton Piala Dunia secara gratis
Indonesia
1
0
0
15
𝕏 retweetledi
Rahmat Perkasa
Rahmat Perkasa@R_Perkasa·
Termyata Hak Siar Piala Dunia 2026 dibeli oleh Pemerintah seharga Rp 1 Trilunan atau setara dengan 1 hari MBG 😄 Tidak heran kalau yang megang OTT nya adalah Folago (setelah ditelusuri ternyata ada hubungan dengan Haji Isam) Bisa apa yah itu aplikasi yang bahkan baru nyari karyawan di Linkedin dan apsnya baru launching Juni Ott yang persiapannya lebih matang aja banyak yang berguguram pas hari H, apalagi modelan ginian Mending siapin TV dan Antena guys, jangan berharap lebih.
Firzie A. Idris@firzieidris

Ekosistem Folago, mitra OTT TVRI untuk Piala Dunia 2026.

Indonesia
141
995
2.7K
249.3K
𝕏
𝕏@aripr_·
kesini lg
𝕏 tweet media
Indonesia
0
0
0
7
𝕏
𝕏@aripr_·
@kyunchan24 bkn gtu, salariman di jp itu kn udah ditentuin pakaian formal buat ke kantor, nah kalo cewe bisa pake celana panjang, rok pendek, rok 3/4. dan selama ini gk ada protes apapun.
Indonesia
1
0
0
39
C
C@kyunchan24·
@aripr_ Cowok jpn malah demen kalau pada pake rok pendek cewek2nya 😭
Indonesia
1
0
0
25
𝕏 retweetledi
ag
ag@agungfern·
@TimnasIndonesia Jujur jenuh lihat timnas kita main kandang terus. Kangen aja suasana timnas kita main di negara orang trus lihat orang indo disana datang ke stadion.
Indonesia
0
1
1
580
𝕏 retweetledi
Lambe #RESIN6
Lambe #RESIN6@LambeResing·
Joan Mir semprot penalty tyre pressure yang ia dapat di #CatalanGP! Menurutnya penalty yang ia dapat tidak masuk akal, karena sulit untuk menjaga ban pada kondisi restart 2 kali, dan penalty dirasa aneh karena ada 6 rider yang terkena investigasi. Selain itu, Mir juga mengakui statement terkait safety commission yang hanya didatangi oleh Pecco, Miller, dan Marini, yang menurutnya hal tersebut jadi kesalahan mereka, yang terlanjut tidak yakin karena keluhan mereka sering tidak didengar. Mir juga hal tersebut jadi kesalahan para rider, dan ia merasa mulai saat ini akan berusaha aktif menghadiri rapat komisi keselamatan.
Lambe #RESIN6 tweet mediaLambe #RESIN6 tweet media
Indonesia
5
19
165
9.3K
𝕏
𝕏@aripr_·
pejabat indo emg tolol, licik, korupsi, kolusi dan nepotisme banyak bgt
Lambe Saham@LambeSahamjja

Guys, ada rapat yang bocor hari ini yang menurut gue paling mempermalukan Indonesia di depan investor asing. Dan yang paling mengejutkan yang ngomong paling keras soal betapa rusaknya sistem kita bukan pengkritik pemerintah. Bukan oposisi. Bukan ekonom independen. Tapi Purbaya sendiri. Menteri Keuangan kita. Ceritanya simpel dan sangat memalukan: Ada perusahaan dari Amerika Serikat, Singapura, dan Arab Saudi yang masuk ke KEK Mandalika Lombok. Mereka diundang oleh ITDC perusahaan negara yang mengelola kawasan itu untuk membangun instalasi pengolahan air laut menjadi air bersih. Mereka datang. Mereka investasi. Mereka bangun infrastruktur. Mereka operasi. Mereka suplai air ke hotel-hotel di Mandalika termasuk untuk kebutuhan MotoGP. Lalu apa yang terjadi? ITDC membuat anak perusahaannya sendiri untuk ambil air dari PDAM memotong kontrak dengan investor yang sudah mereka undang. Investor yang sudah keluar uang besar, sudah bangun infrastruktur, sudah operasi tiba-tiba kehilangan pelanggan karena pelanggannya pindah ke perusahaan yang dibuat oleh si tuan tanah sendiri. Penghasilan investor turun dari 100% ke 10%. Karyawan lokal satu per satu resign karena tidak ada pekerjaan. Mesin berhenti. Investor menyerah. "Kami sudah tidak punya harapan." Dan ini kata-kata Purbaya di rapat itu langsung, tanpa sensor: "Ini bisnis yang enggak benar." Anda undang investor masuk. Lalu Anda buat perusahaan Anda sendiri jadi pesaingnya. Pasti investornya kalah. Pasti dikalahkan. Harusnya dari pertama kalau mau gitu jangan undang investor. Tapi karena sudah terlanjur diundang sekarang jadi kacau. "Enggak mau berbagi untung. Padahal sudah ngundang orang masuk." "Ini cara membunuh investor. Begitu gampang pasti kabur. Muka kita jelek sekali." Gue ulangi ini bukan kata pengkritik pemerintah. Ini kata Menteri Keuangan Prabowo sendiri. Dan soal izin ini yang paling bikin geleng kepala: Berdasarkan perjanjian yang sudah ditandatangani dari awal ITDC yang wajib mengurus izin operasional untuk investor itu. Rapat itu terjadi setelah 5 tahun proyek berjalan. Izin belum keluar. Ketika ditanya kenapa jawabannya berputar-putar. Butuh kajian teknis. Butuh konsultan. Konsultan butuh bayaran. Tidak ada yang mau bayar. Masing-masing pihak saling tunjuk. Lima tahun. Izin belum ada. Investor sudah bangkrut duluan. Dan solusinya ditemukan di rapat itu dalam hitungan menit: Purbaya telepon langsung perwakilan investor yang ada di Bali. Tanya: kalau proyek dilanjutkan, kapan bisa kirim tim ke Mandalika? Jawaban: empat sampai enam jam. Lima tahun mandek karena birokrasi. Empat jam untuk siap jalan kalau ada yang mau gerak. Dan izin yang katanya butuh berbulan-bulan ternyata bisa keluar dalam 5 hari kerja. Bahkan lebih cepat kalau ada yang monitor sungguh-sungguh. Dan ketika ITDC bilang ada benturan kepentingan kalau mereka yang urus izin: Purbaya langsung semprot: "Enak aja Anda ngomong benturan kepentingan ketika Anda rugi. Waktu Anda bikin anak perusahaan sendiri jadi pesaing investor waktu itu Anda enggak bilang benturan kepentingan." Dan ini yang paling penting untuk dipahami: Kasus Mandalika ini bukan kejadian langka. Ini bukan kesalahan satu orang atau satu perusahaan. Ini adalah cerminan dari sistem yang terjadi di seluruh Indonesia. Investor diundang masuk dengan janji manis. Setelah masuk dipersulit izinnya. Dibuat pesaing dari dalam. Dikuras sampai tidak bisa bertahan. Lalu pergi. Dan kita heran kenapa investasi tidak masuk. Kita heran kenapa rupiah melemah. Kita heran kenapa lapangan kerja tidak tumbuh. Sementara di Mandalika karyawan lokal yang seharusnya dapat pekerjaan dari investor asing itu sudah resign semua karena proyek mati. Mereka jadi pengangguran. Bukan karena investor tidak mau datang. Tapi karena sistemnya mengusir investor yang sudah datang. Dan soal Purbaya gue mau jujur: Dalam rapat ini Purbaya tampil sangat berbeda dari biasanya. Dia tegas. Dia marah. Dia menyebut masalahnya dengan jelas. Dia telepon investor langsung di tengah rapat. Dia paksa semua pihak untuk berkomitmen. Itu bagus. Gue apresiasi. Tapi pertanyaannya: kenapa baru sekarang? Kasus ini sudah 5 tahun. Investor sudah menjerit bertahun-tahun. Karyawan lokal sudah lama kehilangan pekerjaan. Dan orang yang sama Purbaya selama ini bilang fundamental Indonesia kuat. Bilang investor percaya pada Indonesia. Bilang tidak perlu khawatir. Sementara di Mandalika investor yang sudah masuk saja tidak bisa bertahan. Bagaimana investor baru mau masuk kalau yang lama diperlakukan seperti ini? Prabowo pidato soal reformasi Bea Cukai. Purbaya menyemprot staf Danantara soal investor yang dikecewakan. Semua itu bagus sebagai sinyal. Tapi sinyal saja tidak cukup. Yang dibutuhkan bukan rapat dramatis yang viral. Yang dibutuhkan adalah sistem yang memastikan hal seperti ini tidak terjadi lagi di Mandalika, di Nusa Tenggara Timur, di Papua, di seluruh Indonesia. Karena selama sistem yang sama terus berjalan investor akan terus diundang, lalu digerogoti dari dalam, lalu pergi dan yang paling merugi bukan investornya. Yang paling merugi adalah karyawan lokal yang seharusnya dapat pekerjaan tapi malah jadi pengangguran. Dan rakyat yang seharusnya menikmati investasi asing yang masuk tapi tidak pernah merasakan apapun karena investasinya mati duluan sebelum berkembang.

Indonesia
0
0
0
22
𝕏 retweetledi
Lambe Saham
Lambe Saham@LambeSahamjja·
Guys, ada rapat yang bocor hari ini yang menurut gue paling mempermalukan Indonesia di depan investor asing. Dan yang paling mengejutkan yang ngomong paling keras soal betapa rusaknya sistem kita bukan pengkritik pemerintah. Bukan oposisi. Bukan ekonom independen. Tapi Purbaya sendiri. Menteri Keuangan kita. Ceritanya simpel dan sangat memalukan: Ada perusahaan dari Amerika Serikat, Singapura, dan Arab Saudi yang masuk ke KEK Mandalika Lombok. Mereka diundang oleh ITDC perusahaan negara yang mengelola kawasan itu untuk membangun instalasi pengolahan air laut menjadi air bersih. Mereka datang. Mereka investasi. Mereka bangun infrastruktur. Mereka operasi. Mereka suplai air ke hotel-hotel di Mandalika termasuk untuk kebutuhan MotoGP. Lalu apa yang terjadi? ITDC membuat anak perusahaannya sendiri untuk ambil air dari PDAM memotong kontrak dengan investor yang sudah mereka undang. Investor yang sudah keluar uang besar, sudah bangun infrastruktur, sudah operasi tiba-tiba kehilangan pelanggan karena pelanggannya pindah ke perusahaan yang dibuat oleh si tuan tanah sendiri. Penghasilan investor turun dari 100% ke 10%. Karyawan lokal satu per satu resign karena tidak ada pekerjaan. Mesin berhenti. Investor menyerah. "Kami sudah tidak punya harapan." Dan ini kata-kata Purbaya di rapat itu langsung, tanpa sensor: "Ini bisnis yang enggak benar." Anda undang investor masuk. Lalu Anda buat perusahaan Anda sendiri jadi pesaingnya. Pasti investornya kalah. Pasti dikalahkan. Harusnya dari pertama kalau mau gitu jangan undang investor. Tapi karena sudah terlanjur diundang sekarang jadi kacau. "Enggak mau berbagi untung. Padahal sudah ngundang orang masuk." "Ini cara membunuh investor. Begitu gampang pasti kabur. Muka kita jelek sekali." Gue ulangi ini bukan kata pengkritik pemerintah. Ini kata Menteri Keuangan Prabowo sendiri. Dan soal izin ini yang paling bikin geleng kepala: Berdasarkan perjanjian yang sudah ditandatangani dari awal ITDC yang wajib mengurus izin operasional untuk investor itu. Rapat itu terjadi setelah 5 tahun proyek berjalan. Izin belum keluar. Ketika ditanya kenapa jawabannya berputar-putar. Butuh kajian teknis. Butuh konsultan. Konsultan butuh bayaran. Tidak ada yang mau bayar. Masing-masing pihak saling tunjuk. Lima tahun. Izin belum ada. Investor sudah bangkrut duluan. Dan solusinya ditemukan di rapat itu dalam hitungan menit: Purbaya telepon langsung perwakilan investor yang ada di Bali. Tanya: kalau proyek dilanjutkan, kapan bisa kirim tim ke Mandalika? Jawaban: empat sampai enam jam. Lima tahun mandek karena birokrasi. Empat jam untuk siap jalan kalau ada yang mau gerak. Dan izin yang katanya butuh berbulan-bulan ternyata bisa keluar dalam 5 hari kerja. Bahkan lebih cepat kalau ada yang monitor sungguh-sungguh. Dan ketika ITDC bilang ada benturan kepentingan kalau mereka yang urus izin: Purbaya langsung semprot: "Enak aja Anda ngomong benturan kepentingan ketika Anda rugi. Waktu Anda bikin anak perusahaan sendiri jadi pesaing investor waktu itu Anda enggak bilang benturan kepentingan." Dan ini yang paling penting untuk dipahami: Kasus Mandalika ini bukan kejadian langka. Ini bukan kesalahan satu orang atau satu perusahaan. Ini adalah cerminan dari sistem yang terjadi di seluruh Indonesia. Investor diundang masuk dengan janji manis. Setelah masuk dipersulit izinnya. Dibuat pesaing dari dalam. Dikuras sampai tidak bisa bertahan. Lalu pergi. Dan kita heran kenapa investasi tidak masuk. Kita heran kenapa rupiah melemah. Kita heran kenapa lapangan kerja tidak tumbuh. Sementara di Mandalika karyawan lokal yang seharusnya dapat pekerjaan dari investor asing itu sudah resign semua karena proyek mati. Mereka jadi pengangguran. Bukan karena investor tidak mau datang. Tapi karena sistemnya mengusir investor yang sudah datang. Dan soal Purbaya gue mau jujur: Dalam rapat ini Purbaya tampil sangat berbeda dari biasanya. Dia tegas. Dia marah. Dia menyebut masalahnya dengan jelas. Dia telepon investor langsung di tengah rapat. Dia paksa semua pihak untuk berkomitmen. Itu bagus. Gue apresiasi. Tapi pertanyaannya: kenapa baru sekarang? Kasus ini sudah 5 tahun. Investor sudah menjerit bertahun-tahun. Karyawan lokal sudah lama kehilangan pekerjaan. Dan orang yang sama Purbaya selama ini bilang fundamental Indonesia kuat. Bilang investor percaya pada Indonesia. Bilang tidak perlu khawatir. Sementara di Mandalika investor yang sudah masuk saja tidak bisa bertahan. Bagaimana investor baru mau masuk kalau yang lama diperlakukan seperti ini? Prabowo pidato soal reformasi Bea Cukai. Purbaya menyemprot staf Danantara soal investor yang dikecewakan. Semua itu bagus sebagai sinyal. Tapi sinyal saja tidak cukup. Yang dibutuhkan bukan rapat dramatis yang viral. Yang dibutuhkan adalah sistem yang memastikan hal seperti ini tidak terjadi lagi di Mandalika, di Nusa Tenggara Timur, di Papua, di seluruh Indonesia. Karena selama sistem yang sama terus berjalan investor akan terus diundang, lalu digerogoti dari dalam, lalu pergi dan yang paling merugi bukan investornya. Yang paling merugi adalah karyawan lokal yang seharusnya dapat pekerjaan tapi malah jadi pengangguran. Dan rakyat yang seharusnya menikmati investasi asing yang masuk tapi tidak pernah merasakan apapun karena investasinya mati duluan sebelum berkembang.
Lambe Saham tweet media
Indonesia
140
1.1K
3.3K
196.2K