Kukovi
125 posts



















Di Indonesia memang nggak banyak yang berpendapat jilbab tidak wajib. Tapi Islam kan bukan hanya di Indonesia. Mayoritas ulama Indonesia bilang anjing itu najis. Tapi mazhab Hanafi yang banyak dianut di Asia Tengah dan Timur Tengah, bilang anjing tak najis. Apakah lalu kita di Indonesia tak boleh menyatakan bahwa ada khilafiyah tentang najis/tidaknya anjing? Khilafiyah tentang wajibnya jilbab juga ada. Itu fakta. Kenapa pendapat itu serta merta ditolak? Ada yang bilang bahwa ulama yang berpendapat jilbab tidak wajib itu "tidak banyak". Apakah itu membuat pendapat itu tidak boleh dianut? Apakah Pak Quraish dengan segala ilmu agamanya lalu tidak paham kondisi itu? Kira-kira keilmuan kita dibanding Pak Quraish lebih mumpuni siapa ya? Di sisi lain, meski bukan ulama selevel Pak Quraish, saya yakin Pak Anies juga mengikuti pendapat bahwa jilbab tidak wajib. Dan saya juga mengikuti pendapat itu. Islam itu punya semangat menutupi aurat. Punya semangat "lebih menutupi" dari standar budaya yang ada. Islam itu punya semangat berpenampilan "lebih sopan" dari standar budaya yang ada. Istri saya berjilbab. Anak pertama saya berjilbab. Anak kedua saya sampai sekarang belum berjilbab. Istri dan anak-anak saya tahu dan setuju bahwa jilbab tidak wajib. Tapi bukan haram juga kan? Mereka mau pakai jilbab atau tidak, itu keputusan mereka. Fakta sekarang ini, jilbab sudah jadi budaya bagi muslimah Indonesia. Itulah yang membuat istri dan anak pertama saya berjilbab. Bukan karena wajib. Melainkan budaya masyarakat di tempat kita tinggal. Wajibnya? Ya berpakaian yang sopan, yang pantas. Berjilbab dengan pakaian ketat juga bukan cara Islam, kan? Jilbab itu budaya. Bukan kewajiban agama. Kenapa itu bisa terbentuk jadi budaya di Indonesia? Karena ajaran Islam punya semangat untuk "lebih tertutup". Itulah yang menyebabkan pakaian muslimah di Indonesia juga berkembang dari waktu ke waktu. Coba perhatikan pakaian istri dan anak perempuan ulama jaman dulu. Apakah ketika mereka "cuma" berkerudung (rambut dan sebagian leher terlihat) berarti sang kyai tidak paham ajaran agama? Jelas mereka lebih paham dari kita. Berkerudung saat itu, sudah membawa semangat "lebih sopan" dan "lebih tertutup" dari budaya yang ada di Jawa secara umum. Semangat untuk "lebih sopan" dan "lebih tertutup" akhirnya membentuk budaya berjilbab di Indonesia sampai sekarang ini. Ya tentu lebih baik berjilbab, namun tetap harus kita katakan bahwa itu tidak wajib. Pengetahuan agama saya jauh di bawah Gus Ulil. Dia langit, saya bumi. Jauh sekali. Namun mungkin salah satu kesamaan pendapat saya dengan Gus Ulil adalah: dalil tak selalu harus dipahami secara tekstual. Dalil itu "diterbitkan" sesuai kondisi saat itu di lokasi Nabi Muhammad tinggal. Semua dalil disesuaikan dengan kondisi. Dari setiap dalil, kita harus menggali: kenapa dalil seperti itu disampaikan saat itu? Contoh tergampang yang saya tulis dalam tulisan saya adalah: siwak. Sunnah Nabi itu: membersihkan gigi, bukan "siwak"-nya. Kalau hadis secara tekstualnya adalah siwak, ya karena kondisi saat itu adanya ya siwak. Contoh bisa sangat banyak misalnya kita mau bicara hubungan laki-laki dan perempuan. Nah, mari kembali ke jilbab. Wajibnya jilbab itu jelas khilafiyah. Entah itu sedikit atau banyak, tetap yang berpendapat adalah ulama yang ilmunya mumpuni. Lalu apa beliau-beliau mau kita katakan sesat atau bahkan bukan Islam? Berani?





Lukisan Yos Suprapto yg dibredel katanya karena menyinggung Jokowi Salah satunya adalah lukisan seorang raja yg sedang menginjak Rakyat nya, Kenapa Jokowi tersinggung? Emang Jokowi raja? Raja yg menginjak injak rakyat, Apa raja yg menginjak injak konstitusi?! 🤔






















