ary ramadhan

40.5K posts

ary ramadhan banner
ary ramadhan

ary ramadhan

@arya1302

Kalau ada orang lain kenapa harus saya? https://t.co/0zC0xezjMu https://t.co/HLWuf2rCd1

Jakarta Selatan, DKI Jakarta Katılım Temmuz 2009
849 Takip Edilen370 Takipçiler
Sabitlenmiş Tweet
ary ramadhan
ary ramadhan@arya1302·
Mood.
ary ramadhan tweet media
English
0
0
0
0
ary ramadhan retweetledi
txt keresahan WNI
txt keresahan WNI@KapudS640·
Masih kaget bgt sama kejadian kemarin, cwo aku negur orang krn ngerokok di jalan. Gak ada setengah jam orang yang di tegur WA langsung kirim foto KTP, beserta identitas yang valid sampe tempat kerja dsb. (Maybe ngelacak lewat plat nomer motor ya). Gak lama di ajak ketemu ngobrol baik² krn posisinya udh nyebar data pribadi ku, dia ngirim alamat bkn shrlok ya. Setlh itu kmi samperin sesuai alamat, tp di wa gada balasan apapun. Ampe akhirnya kami pulanh tnpa ketemu org tersb, gak lama ada yg mau bobol WA (berusaha masuk WA ku) dan bersamaan dgn OTP² PINJOL. Shock banget aku, udah sampe di fase tremor tangan aku buat pegang hp, ketika berusaha masuk wa aku aku klik BATAL, tp OTP² tsb tetap masuk smpe bikin fokus aku pecah. Seyakin aku aku ga klik KONFIRMASI. Tp aku yg aku takutkan tetap JIKA benar dana bisa cair, sdg kan jaman skrg Buka rekening atasnama aku gampang bgt. Udah di titik takut banget kalo bkl kejadian yg gak aku inginkan. Smpe langkah awal aku ganti semua paswrd yg ada di hp, verifikasi 2langkah, dan aku langsung lapor polisi siber by web nya. Jangan lupa cek ATM kalian ada gak transaksi keluar masuk uang,krn itu pnting bgt. Dan coba telp konfirmasi ke bnyak temen² polisi, ternyata itu adalah SIDIKAT JUDOL DAN PINJOL. Duar, pusingnya bukan main. Langsung cb buat laporan ternyata gbs, harus ada bukti bahwa aku ada kerugian, nah kbtulan aku orang bank. Jadi di anjurkan cek BI Cheking ku dulu. Sdgkn update an BIChek itu tgl 15. Bener² skrg masih terus cb konfirmasi dgn temen² polisi dan tmen dri bdn intelejen dan beberapa temen yg bs lacak lokasi orang tsb. tetep waspada ya temen². Jaman skrg NGERI banget. Pdahal cma dari PLAT nomor aja smpai tau FOTO KTP, NO BPJS,ALAMAT RUMAH,ALAMAT KANTOR, HP DAN EMAIL. Lebih baik skrg legowo aja kalau di jlan. Walaupun kena abu rokok, krn ternyata sebenernya BANYAK BANGET di lingkungan kita SIDIKAT JUDOL DAN PINJOL, minta doanya ya ,smg hal buruk tidk terjadi. cc:ikraminas
Indonesia
217
4K
17.3K
866K
ary ramadhan retweetledi
Lambe Saham
Lambe Saham@LambeSahamjja·
Guys, ada kasus yang menurut gue perlu lo dengar karena ini bukan cuma soal satu anak di satu sekolah di Pemalang. Ini adalah cerminan dari sesuatu yang jauh lebih besar. Seorang orang tua di Randudongkal, Kabupaten Pemalang sebut saja Bapak ini memposting sesuatu di media sosialnya. Isinya dua hal: kritik terhadap implementasi MBG dan pengingat bahwa sekolah negeri dilarang memungut biaya LKS dan infak berdasarkan aturan pemerintah yang sudah berlaku. Dia tidak menyebut nama sekolah anaknya. Tidak menyebut nama kepala sekolah. Tidak menyebut nama guru siapapun. Tapi anaknya Mas Azhim, siswa SD N 01 Banjarayar dikeluarkan dari sekolah. Yang terjadi secara kronologis: Bapak ini memposting kritik soal MBG dan pungutan liar di sekolah negeri di akun media sosialnya. Kepala sekolah memanggil dia. Dan setelah pertemuan itu anaknya diberhentikan secara sepihak. Tidak ada surat resmi pemberhentian yang prosedural. Tidak ada proses klarifikasi yang fair. Tidak ada mekanisme banding. Satu pertemuan dan anak itu tidak boleh masuk sekolah lagi. Dua bulan lebih Mas Azhim tidak mengikuti pelajaran. Dua bulan lebih seorang anak SD kehilangan haknya atas pendidikan bukan karena dia berbuat salah, tapi karena bapaknya berani bicara. Dan di atas itu semua Mas Azhim juga mengalami bullying. Bukti percakapan yang beredar dan ini yang paling mengejutkan: Ada screenshot percakapan WhatsApp yang beredar. Pihak sekolah melalui salah satu guru membalas pesan si Bapak dengan kalimat yang menurut gue sangat mengungkapkan segalanya: Meskipun njenengan tidak menyebutkan identitas sekolah, tapi kan masyarakat tahu kalau Mas Azhim sekolah di SD N 01 Banjarayar, jadi menggiring opini publik ke SD kami. Berhenti sebentar di sini. Pihak sekolah sendiri yang mengakui bahwa yang jadi masalah bukan tindakan si Bapak secara hukum tapi dampak reputasi ke sekolah. Bukan soal anak yang melanggar aturan. Bukan soal proses belajar yang terganggu. Tapi soal opini publik yang mengarah ke SD mereka. Artinya anak ini dikeluarkan bukan karena dia salah. Tapi karena bapaknya membuat sekolah tidak nyaman di mata publik. Apa yang dilakukan si Bapak itu sebenarnya? Dia mengingatkan bahwa sekolah negeri tidak boleh memungut biaya LKS dan infak. Ini bukan opini. Ini fakta hukum. Permendikbud dan berbagai regulasi turunannya sudah jelas melarang pungutan di sekolah negeri yang sudah mendapat BOS Bantuan Operasional Sekolah. Sekolah negeri mendapat dana BOS dari APBN untuk membiayai operasional sekolah. Dana itu sudah termasuk untuk pengadaan buku, alat tulis, dan kebutuhan belajar siswa. Memungut LKS tambahan di atas BOS adalah pelanggaran regulasi. Si Bapak tidak mengarang. Dia mengingatkan aturan yang memang ada. Dan untuk itu anaknya dikeluarkan. Soal kritik MBG yang dia sampaikan dan ini relevan dengan konteks yang lebih besar: Kita sudah bahas panjang lebar soal MBG dari Rp340 miliar yang menurut Mahfud MD hanya sampai ke makanan dari total triliunan yang dianggarkan, sampai 33.000 kasus keracunan, sampai 1.720 SPPG yang tutup tapi tetap dibayar Rp6 juta per hari. Orang tua yang kritis terhadap MBG bukan musuh program. Mereka adalah orang-orang yang paling langsung terdampak ketika program itu tidak berjalan dengan baik. Anak-anak merekalah yang makan makanan dari program itu. Anak-anak merekalah yang keracunan ketika standar sanitasinya tidak terpenuhi. Mengkritisi MBG bukan kejahatan. Mengkritisi sekolah yang memungut biaya ilegal bukan kejahatan. Tapi di Banjarayar Pemalang melakukan dua hal itu ternyata cukup untuk membuat anakmu kehilangan akses pendidikan. Ini bukan hanya masalah satu sekolah ini adalah masalah sistemik: Yang terjadi di sini adalah penggunaan kekuasaan institusional untuk membungkam kritik warga. Dan yang dikorbankan bukan si orang tua tapi anaknya yang tidak berdaya. Ini adalah bentuk intimidasi yang sangat kejam justru karena targetnya bukan si pengkritik secara langsung. Targetnya adalah orang yang paling dicintai oleh pengkritik itu anaknya sendiri. Kalau lo mau membungkam seseorang tanpa kelihatan melanggar hukum secara terang-terangan sakiti anaknya. Itu yang terjadi di sini. Dan kalimat dari guru itu tadi "menggiring opini publik ke SD kami" menunjukkan bahwa ini adalah keputusan yang diambil secara sadar untuk melindungi reputasi institusi, bukan untuk kepentingan terbaik anak didik mereka. Apa yang seharusnya terjadi secara hukum: Pertama — sekolah tidak punya kewenangan hukum untuk mengeluarkan siswa secara sepihak hanya karena orang tuanya mengkritik di media sosial. Ini melanggar hak anak atas pendidikan yang dijamin Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak dan UUD 1945 Pasal 31. Kedua — pungutan LKS dan infak di sekolah negeri yang sudah menerima BOS adalah pelanggaran regulasi yang seharusnya dilaporkan dan diinvestigasi oleh Dinas Pendidikan dan inspektorat daerah. Ketiga — bullying terhadap anak karena tindakan orang tuanya adalah pelanggaran serius yang masuk dalam kategori kekerasan berbasis relasi kuasa. Kasus ini sudah masuk ke Polres Pemalang. Dan si Bapak memohon agar Kapolres mengawal proses penyidikan ini agar berjalan sesuai hukum bukan sesuai keinginan pihak tertentu. Yang paling menyentuh dari seluruh cerita ini: Si Bapak menulis: "Saya tidak mampu membayar pengacara untuk mencari keadilan." Dan di sisi lain dia bilang: "Tidak apa-apa, saya bisa mendidik anak-anak walaupun tanpa ada ijazah." Ini adalah seorang ayah yang sudah pasrah dengan sistem tapi belum menyerah pada kebenaran. Yang tahu dia mungkin tidak punya kekuatan finansial untuk melawan. Tapi tetap berjalan karena dia yakin masih ada orang-orang baik yang bisa membantu. Dan si Bapak menutup pernyataannya dengan kalimat yang menurut gue harus diingat oleh setiap pejabat dan kepala sekolah di Indonesia: "Jangan semena-mena dengan jabatan yang kau sandang karena itu semua hanya titipan." Kalau kita bisa marah pada triliunan rupiah MBG yang tidak sampai ke makanan anak-anak kita juga harus bisa marah ketika satu anak SD kehilangan haknya atas pendidikan hanya karena bapaknya berani mengingatkan aturan. Keduanya adalah wajah dari sistem yang sama sistem di mana institusi lebih sibuk melindungi dirinya sendiri daripada melayani mereka yang seharusnya dilayani. Mas Azhim berhak atas pendidikannya. Dan bapaknya berhak atas keadilannya.
Lambe Saham tweet mediaLambe Saham tweet media
Indonesia
362
5.3K
9.1K
492.4K
ary ramadhan retweetledi
Lambe Saham
Lambe Saham@LambeSahamjja·
Guys, Safiera cewek Indonesia yang SMA di Korea pakai beasiswa, lanjut S1 double major ilmu komputer dan bisnis teknologi di kampus riset top Korea, publikasi jurnal ilmiah tahun ketiga, nulis buku Kimchi Confessions tentang kehidupan nyatanya merantau baru ngobrol sesuatu yang menurut gua adalah salah satu obrolan paling penting yang perlu didengar oleh perempuan muda Indonesia sekarang. Dan gua mau mulai dari kalimat yang paling nyakitin yang pernah dia terima dari teman sekolahnya sendiri. "Ngapain belajar capek-capek, bukannya nanti nikah juga digituin?" Safiera bilang waktu itu dia bingung mau jawab apa. Tapi sekarang setelah dia ngelewatin semua yang dia ngelewatin SMA di Korea, kuliah double major, publikasi jurnal, nulis buku dia punya jawaban yang sangat jelas dan sangat tidak bisa dibantah. Perempuan yang tidak berpendidikan tidak hanya merugikan dirinya sendiri. Dia merugikan anak-anaknya. Karena ibu adalah madrasah pertama. Sekolah pertama yang pernah dimasuki setiap manusia di muka bumi adalah pangkuan ibunya. Dan ibu yang tidak berpendidikan akan melahirkan generasi yang tidak berpendidikan. Bukan karena anaknya bodoh tapi karena fondasinya tidak dibangun dengan benar dari awal. Dan ini bukan opini Safiera semata. Ini fakta yang sudah dibuktikan berkali-kali oleh data pendidikan global. Tingkat pendidikan ibu adalah prediktor terkuat dari tingkat pendidikan anak jauh lebih kuat dari pendapatan keluarga, fasilitas sekolah, atau bahkan tingkat pendidikan ayah. Tapi gua mau mundur dulu dan cerita soal perjalanan Safiera karena ini yang bikin semua pemikirannya punya bobot yang beda dari sekadar teori. Safiera bukan anak kaya yang tinggal di Jakarta dengan akses ke semua fasilitas. Keluarganya naik turun secara ekonomi. Tapi orang tuanya punya satu prinsip yang tidak pernah diganggu gugat apapun yang terjadi dengan keuangan keluarga, pendidikan anak-anak tidak boleh dikompromikan. Ketika ekonomi lagi di titik paling bawah, prioritas tetap sekolah dan les dan lomba. Karena kata orang tuanya kami tidak bisa mewariskan harta kepada kalian, tapi kami bisa mewariskan pendidikan. Dan dari situ Safiera dan kakak-kakaknya semua perempuan, semua beasiswa luar negeri, semua jurusan STEM membuktikan bahwa investasi itu benar. Safiera mulai ikut lomba matematika dari kecil. Dari situ dia ketemu kakak kelasnya yang SMA di Korea. Dari situ dia daftar beasiswa yang sama. Dan dari situ dimulailah perjalanan yang kata Safiera sendiri tidak pernah dia bayangkan seindah dan seberat itu secara bersamaan. Korea itu bukan seperti di drama. Safiera bilang ini dengan sangat tegas dan sangat perlu didengar oleh siapapun yang punya romantisasi berlebihan tentang Korea dari tontonan K-drama atau K-pop. Teman-temannya di Korea itu naturally gifted banyak yang memang lahir dengan kapasitas kognitif luar biasa. Tapi yang membuat mereka benar-benar menakutkan bukan kecerdasan bawaannya. Yang menakutkan adalah disiplinnya. Ketika Safiera pulang ke Indonesia liburan, teman-temannya di Korea malah masuk bimbel. Ketika Safiera main, mereka belajar. Dan ketika Safiera baru mulai belajar dua minggu sebelum ujian dengan penuh persiapan ada teman Korea-nya yang belajar dua hari tapi tetap lebih bagus hasilnya karena fondasi mereka sudah dibangun selama bertahun-tahun tanpa henti. Dan dari tekanan lingkungan sekeras itulah Safiera menemukan sesuatu yang sangat berharga dia tidak pernah tahu sejauh mana batas kemampuannya sampai dia dipaksa oleh lingkungan untuk mendorong batas itu. Itu yang dia sebut sebagai hadiah terbesar dari pengalaman Korea. Bukan gelarnya. Bukan jaringannya. Bukan pengalamannya tinggal di luar negeri. Tapi kenyataan bahwa dia sekarang tahu ternyata dia bisa lebih dari yang dia kira. Dan dari sini Safiera kasih tiga hal yang menurut dia paling menentukan keberhasilan dalam belajar dan ini berlaku untuk siapapun, bukan hanya pelajar beasiswa. Yang pertama adalah mental baja. Bukan kecerdasan. Bukan bakat. Tapi kemampuan untuk tidak menyerah waktu gagal, waktu nilainya jelek, waktu teman-teman lebih bagus. Daya juang itu lebih penting dari IQ karena IQ tidak bisa berkembang kalau orangnya berhenti sebelum mencapai batasnya. Yang kedua adalah disiplin. Dan Safiera bilang sesuatu yang sangat mengena dia lebih takut sama orang yang disiplin dan kerja keras daripada orang yang pintar. Karena orang pintar yang tidak disiplin sering berhenti sebelum potensinya keluar sepenuhnya. Tapi orang yang mungkin tidak sepintar dia tapi konsisten dan disiplin mereka secara mengejutkan bisa melampaui si genius yang tidak punya etos kerja. Yang ketiga adalah time management berbasis prioritas. Safiera bilang dia belajar untuk membedakan mana pelajaran yang butuh 20 persen effort tapi menghasilkan 80 persen hasil dan mana yang butuh effort lebih besar. Tidak semua hal perlu diperlakukan dengan intensitas yang sama. Yang penting adalah tahu mana yang paling menentukan dan fokuskan energi terbesar ke sana. Dan tentang pertanyaan yang paling sering ditanyakan ke cewek pintar di Indonesia soal jodoh dan nikah dan apakah pendidikan tinggi tidak justru mempersulit mencari pasangan Safiera jawabnya sangat cerdas dan sangat tidak minta maaf. Dia bilang perempuan yang mengejar pendidikan tinggi sebenarnya sedang melakukan seleksi alamiah terhadap calon pasangannya. Laki-laki yang minder melihat perempuan berpendidikan tinggi itu bukan kerugian bagi perempuan. Itu informasi gratis bahwa dia bukan orang yang tepat. Karena kalau dari awal dia sudah tidak mendukung semangat belajar pasangannya, bagaimana dia akan mendukung semangat belajar anak-anaknya nanti? Dan dari perspektif agama pun Safiera punya jawaban yang sangat kokoh. Nabi Muhammad bilang menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim laki-laki maupun perempuan. Farida. Wajib. Bukan anjuran. Bukan opsional. Wajib. Dan ada bidang-bidang ilmu yang secara spesifik harus diisi oleh perempuan kedokteran kebidanan, pendidikan di sekolah perempuan, dan sebagainya. Jadi perempuan yang tidak berpendidikan bukan hanya merugikan dirinya dia meninggalkan kekosongan yang tidak bisa diisi oleh siapapun selain dirinya.
Lambe Saham tweet media
Indonesia
134
4.4K
17.8K
1.3M
ary ramadhan retweetledi
Lambe Saham
Lambe Saham@LambeSahamjja·
Guys, kalian tau Aldi Taher kan. Yang komen-komen random di mana-mana. Yang tiba-tiba nongol di postingan orang dengan Aldis Burger Cempaka Putih, rotinya lembut, dagingnya juicy, bisa pesan online. Yang diblok Deddy Corbuzier. Yang bikin grup WhatsApp mantan istri tapi yang ngobrol dia sendiri. Ya. Orang itu. Dan gue baru tau satu hal soal dia yang bikin gue diem sebentar. Istrinya Salsa Billy cerita soal momen pertama dia sadar Aldi itu orang yang layak dijadiin suami. Bukan waktu Aldi ngasih bunga. Bukan waktu dia romantis-romantisan. Bukan waktu dia kaya atau terkenal. Tapi waktu Salsa pertama kali datang ke rumah Aldi dan lihat satu hal Aldi lagi mandiin ibunya. Gantiin pampers. Dan Salsa bilang Waktu itu aku belum pernah lihat laki-laki kayak gitu. Yang beneran oh, kayaknya nggak salah nih. Dan ini yang bikin gue mikir. Di luar sana Aldi Taher dikenal sebagai orang yang absurd. Yang random. Yang bikin orang ketawa sekaligus geleng-geleng kepala. Tapi di rumah dia yang nyuci, yang urus anak yang ingetin istri buat nggak marah ke anak dengan cara kasar, yang bilang salah nggak salah, minta maaf aja, kita dapat pahala juga. Nggak ada kamera. Nggak ada penonton. Nggak ada yang tepuk tangan. Dan mungkin itu yang paling langka dari seorang laki-laki Baik bukan karena dilihat. Tapi karena emang begitu orangnya. Salsa juga cerita awal nikah lagi COVID. Nggak ada syuting. Uang tipis. Mereka buka barbershop. Buka mie ayam. Aldi sendiri yang nyukur rambut temennya buat bertahan hidup. Dan sekarang burger Cempaka Putihnya viral gara-gara dia komen random di mana-mana dengan cara yang orang bilang "nggak ada konsepnya." Tapi Aldi sendiri bilang "Konsepnya Allah." Gue nggak tahu apakah itu wisdom atau dia emang nggak bisa jelasin konsepnya. Mungkin dua-duanya. Tapi satu hal yang gue yakin orang yang di puncak kesibukan hidupnya masih mandiin ibunya sendiri, itu bukan orang yang perlu kita ragukan karakternya. Sisanya biar Allah yang urus.
Lambe Saham tweet media
Indonesia
407
4.4K
36.1K
2.6M
ary ramadhan retweetledi
M. Ridha Intifadha
M. Ridha Intifadha@RidhaIntifadha·
Secara khusus, saya dan istri berdiskusi soal alasan di balik pertarungan Usopp dan Luffy. Kondisi Going Merry memang “pemicu”-nya, tapi bukan itu akar masalahnya. Bagi Usopp, Going Merry adalah manifestasi dirinya. Sesuatu yang dianggap “rusak” tapi tetap ingin dipertahankan. “Kalau Merry yang rusak saja dibuang… apakah suatu saat aku juga akan dibuang?” Itu mungkin pertanyaan yang menghantui Usopp Saya pun melihat konflik ini dari trauma Usopp di masa kecil. Saat ibunya tengah berjuang melawan sakit, tidak ada yang menemani kecuali anaknya, Usopp. Begitu pun kondisi Merry yang terlihat “sakit” dan ditinggalkan begitu saja, sendirian. Usopp tak ingin itu terjadi, untuk kedua kalinya. Terlebih Going Merry adalah pemberian Kaya, perempuan yang berarti bagi hidup Usopp. Trauma ini juga mungkin yang membentuk inferiority complex ketika melihat nakama lainnya yang punya peran penting. Usopp menganggap dirinya sering kalah, sering takut, dan merasa paling lemah. Keputusan menggantikan Going Merry seolah membuktikan mereka yang lemah akan tertinggal dan ditinggalkan. Di sisi lain… Luffy bukannya tidak punya ikatan emosional dengan Going Merry. Akan tetapi, ia adalah seorang Kapten yang juga memikirkan keselamatan nakamanya. Mempertahankan Going Merry artinya membahayakan nakama dalam mengarungi lautan Grand Line yang ganas. Mempertahankan Going Merry berpotensi memupus mimpinya dan juga nakamanya. Keputusan rasional Luffy sebagai pemimpin itu bertabrakan dengan luka emosional Usopp. Di titik ini, Usopp tahu akan kalah, tapi dia memilih bertarung. Persis seperti budaya siri, Usopp bertarung untuk menunjukkan harga dirinya: dia tidak ingin pergi sebagai “yang dibuang”, tetapi sebagai orang yang memilih dan memutuskan untuk pergi. Di titik ini, Usopp sejatinya tengah melawan dirinya sendiri. Luffy memang menang secara fisik, tapi Usopp berhasil mengalahkan dirinya sendiri dan mempertahankan martabatnya. Terbukti di Enies Lobby Arc, Usopp sebagai Soge King menunjukkan peran dan eksitensinya yang berharga. Inferior Complex-nya mulai terkikis saat bisa menembak jarak jauh di tengah angin kencang. Tembakan yang juga membebaskan Nico Robin dari borgol yang melemahkannya. Selain itu, Luffy pun menunjukkan sisi emosional bahwa jauh di dalam dirinya, Going Merry adalah nakama yang ingin dipertahankan. Usai berhasl kabur dari Enies Lobby, Luffy benar-benar berharap Going Merry yang terbelah dua itu bisa diselamatkan. Pada akhirnya, Merry pergi bukan karena gagal atau rusak, tetapi karena ia telah menunaikan seluruh perjalanannya dengan utuh. Dan mungkin, dalam hidup kita sendiri, ada hal-hal yang juga seperti itu. Ada hal-hal yang datang bukan untuk selamanya. Mereka datang untuk mengajarkan kita arti bertahan dan makna mengikhlaskan.
M. Ridha Intifadha tweet media
Indonesia
89
745
2.3K
100.6K
ary ramadhan retweetledi
Asanwa.sol
Asanwa.sol@Chizitere_xyz·
The internet constantly tells women that men are terrible listeners because the second a woman starts venting about her day, the man immediately interrupts to offer a logical solution. We are taught to view this as him being dismissive, emotionally unintelligent, or invalidating our feelings. ​The strict, unpopular truth is that to a man, fixing the problem is his absolute highest, most desperate form of empathy. ​Women vent to connect; we want our partner to just sit in the dark with us and validate the emotion. But men are hardwired to view the woman they love being in distress as an active threat. When he immediately offers a spreadsheet, a strategy, or a solution to your problem, he isn't trying to silence you. His brain has recognized that something in the world is hurting his partner, and his immediate, visceral instinct is to assassinate the thing causing you pain. We constantly shame men for "not just listening," completely ignoring the fact that his attempt to fix your life is his most profound declaration of love.
Asanwa.sol@Chizitere_xyz

What opinion about Men do you have that makes people feel like this?

English
688
4.7K
36.4K
2.2M
ary ramadhan retweetledi
vittorio
vittorio@IterIntellectus·
this is actually insane > be tech guy in australia > adopt cancer riddled rescue dog, months to live > not_going_to_give_you_up.mp4 > pay $3,000 to sequence her tumor DNA > feed it to ChatGPT and AlphaFold > zero background in biology > identify mutated proteins, match them to drug targets > design a custom mRNA cancer vaccine from scratch > genomics professor is “gobsmacked” that some puppy lover did this on his own > need ethics approval to administer it > red tape takes longer than designing the vaccine > 3 months, finally approved > drive 10 hours to get rosie her first injection > tumor halves > coat gets glossy again > dog is alive and happy > professor: “if we can do this for a dog, why aren’t we rolling this out to humans?” one man with a chatbot, and $3,000 just outperformed the entire pharmaceutical discovery pipeline. we are going to cure so many diseases. I dont think people realize how good things are going to get
vittorio tweet mediavittorio tweet mediavittorio tweet mediavittorio tweet media
Séb Krier@sebkrier

This is wild. theaustralian.com.au/business/techn…

English
2.4K
19.5K
116.8K
17.6M
ary ramadhan retweetledi
Lambe Saham
Lambe Saham@LambeSahamjja·
Gw punya temen, sebut aja dia orang yang paling gak suka ngomongin uang. Bukan karena dia kaya. Justru sebaliknya. Dia pernah cerita, waktu SMA dia sering nongkrong sama geng yang ortunya rata rata berada. Dan ada satu momen yang sampe sekarang masih dia inget. Waktu itu mereka makan bareng di mall. Biasa aja, bukan tempat fancy. Tapi waktu ngeliat menu, temen temennya langsung pesan tanpa mikir. Ini itu, tambahin ini, minta yang ukuran besar. Sementara dia diem diem ngitung. Milih yang paling murah. Mastiin uang di dompetnya cukup. Dan gak ada yang sadar. Gak ada yang notice. Semua ketawa ngobrol seperti biasa. Tapi dia bilang ke gw 'itu momen pertama gw beneran ngerasa, oh, kita emang beda.' Bukan beda yang bikin dia minder. Tapi beda yang bikin dia sadar bahwa cara orang ngeliat uang itu dibentuk dari kecil tanpa mereka sadari. Yang satu pesan makanan kayak napas natural, gak dipikirin. Yang satu pesan makanan kayak ngambil keputusan penting. Duduk di meja yang sama. Tapi sebenernya dua dunia yang berbeda.
Tanyarl 💚@tanyakanrl

💚 abis bukber berdua sama temen anak orkay, tadi dia minta 10jt ke orang tuanya dan bisa dengan mudahnya ngabisin uang tersebut dalam waktu kurang dari 3 jam, sedangkan keluargaku butuh waktu hampir 3 bulan buat dapetin uang 10jt🥹🥹

Indonesia
115
2.1K
19K
2M
ary ramadhan retweetledi
k
k@alfkkifine·
David sits in his car. The engine is off, but he hasn't moved for ten minutes. ​He is parked in the driveway of the house he pays for, staring at the front door. Inside, the lights are warm. He can see the silhouette of his wife, Sarah, moving in the kitchen. He can see his daughter watching TV. It looks like a perfect life. ​But David isn't soaking it in. He is hyperventilating. ​He grips the steering wheel until his knuckles turn white. He is taking these ten minutes to put the "mask" back on. ​At work today, he lost a major client. The company is downsizing. He might not have a job in three months. The panic is a physical weight on his chest, crushing his lungs. He wants to walk inside, fall into Sarah’s arms, and say, "I’m scared. I don’t know if I can keep holding this up. I need you to tell me it’s going to be okay." ​But he doesn't. ​He remembers three years ago. His mother died. He broke down in front of Sarah. He cried. Really cried. He saw the look in her eyes shift. From comfort to fear. The "Rock" had crumbled, and she didn't know how to look at him anymore. The attraction faded for months. ​He learned his lesson: He is allowed to be sad, but he is not allowed to be helpless. ​So, in the darkness of the driveway, David swallows the panic. He fixes his tie. He checks his reflection in the rearview mirror and practices the smile. The "I'm fine" smile. ​He opens the car door and walks inside. ​"Hey, honey! You're late," Sarah says, not looking up from her phone. "Did you remember to transfer the tuition fees? The school sent a reminder." ​She didn't bother to ask how he is. ​"Yeah, I did it," David says, kissing her cheek. She accepts the kiss, but she doesn't lean into it. That moment, he felt like he is just part of the furniture. A utility provider that keeps the lights on. ​Later that night, in bed, David reaches out. He runs his hand down her arm, starving for a touch that isn't transactional. He just wants to feel desired. He wants to know he matters. ​Sarah sighs. A heavy, annoyed sigh. "David, I'm exhausted. The kids were a nightmare today. Can we just sleep?" ​He pulls his hand back immediately, humiliated. The "Beggar Dynamic" kicks in. He feels gross for even asking. He turns his back to her, staring at the wall. ​Lying there, in the house he built, next to the woman he loves, David realizes the terrifying truth: ​If he died tomorrow, they would miss him. But if he went broke tomorrow, hmm... ​He realizes he isn't loved unconditionally like his daughter or the dog. He is on a performance contract. As long as the payments clear, he is allowed to stay. ​He closes his eyes. The panic returns. But he stays silent. ​Because the only safe space he has left is inside his own head.
k@alfkkifine

what opinion about men do you have that makes people feel like this???

English
180
549
4.3K
645.9K
ary ramadhan retweetledi
intinyadeh
intinyadeh@intinyadeh·
#intinyadeh - Dir. Eksekutif Lokataru Delpedro Marhaen - Staf Lokataru Muzaffar Salim - Admin Gejayan Memanggil Syahdan Husein - Admin Aliansi Mahasiswa Penggugat Khariq Anhar Divonis bebas. Terbukti tidak bersalah di semua tuntutan dlm kasus dugaan penghasutan demo Agustus.
Narasi Newsroom@NarasiNewsroom

Direktur Eksekutif Lokataru Foundation Delpedro Marhaen dan kawan-kawan (dkk) divonis bebas dari kasus dugaan penghasutan pada demonstrasi Agustus 2025 yang berujung ricuh, dalam sidang putusan Majelis Hakim di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Jumat (6/3/2026). Selain Delpedro, tiga terdakwa lainnya yang divonis bebas majelis hakim adalah staf Lokataru Muzaffar Salim, admin Gejayan Memanggil Syahdan Husein, dan admin Aliansi Mahasiswa Penggugat Khariq Anhar. “Menyatakan para terdakwa tidak terbukti bersalah melakukan tindak pidana sebagaimana didakwakan dalam dakwaan alternatif kedua, alternatif ketiga, dan alternatif keempat penuntut umum,” kata Hakim Ketua Harika Nova Yeri, dilansir Antara. Dengan demikian, Majelis Hakim memerintahkan jaksa penuntut umum untuk memulihkan hak-hak para terdakwa dalam kemampuan, kedudukan, harkat serta martabatnya. Hakim Ketua menyatakan dalam persidangan, jaksa penuntut umum tidak mampu menghadirkan bukti yang menunjukkan adanya upaya manipulasi, fabrikasi maupun rekayasa fakta yang dilakukan oleh para terdakwa. Terutama, lanjut Hakim Ketua, dalam unggahan poster di media sosial terkait kronologis maupun penyebab tewasnya salah satu pengemudi ojek daring Affan Kurniawan. Majelis Hakim berpendapat unggahan itu merupakan respons kemarahan dan solidaritas kemanusiaan sebagai aktivis hak asasi manusia (HAM) atas terjadinya peristiwa yang menimpa Affan, bukan ajakan melakukan kerusuhan.

Indonesia
6
213
691
28K
ary ramadhan retweetledi
Asanwa.sol
Asanwa.sol@Chizitere_xyz·
My coworker ended her 5-year marriage over 'laundry,' and honestly, listening to her tell the story, I am still in shock at how delusional a person can be. She told me she left him because when she was sick, he only washed his own clothes and made his own dinner. She painted him as a monster who didn't care. But then I asked her one simple question: 'Did you ask him for help?' Her answer? 'I shouldn't have to ask. He should just know.' And that is when it hit me. For five years, this woman has micromanaged that man into submission. Every time he tried to do laundry in the past, she screamed at him for mixing colors or using the wrong setting. Every time he tried to cook, she hovered over him, criticizing his chopping, his seasoning, and his cleaning. She spent half a decade training him that her way was the only way and that his help was just 'interference.' So that night? He wasn't being malicious; he was being obedient. He washed only his clothes because he was terrified of ruining her 'delicates' and getting yelled at while she was already sick. He ate alone because the last time she was ill, she snapped at him for bringing food she 'didn't have the stomach for.' He was walking on eggshells, trying to give her space and peace. Meanwhile, she was lying there, silently grading him on a test he didn't even know he was taking. She divorced a faithful, hardworking man not because he was abusive, but because he wasn't a Psychic. And the saddest part? She still thinks she’s the victim. She destroyed a home because she wanted her husband to read her mind instead of just reading a text message.
Asanwa.sol@Chizitere_xyz

hit me with the harshest reality truth

English
207
1.3K
10.5K
594.2K
ary ramadhan retweetledi
Asanwa.sol
Asanwa.sol@Chizitere_xyz·
The most tragic thing about a good man is that he unknowingly fights the universe to protect his own heartbreak. Nature hates a secret, especially with women. Her spirit can not hold two lives without trying to confess because her subconscious hates the dissonance. She starts telling you without speaking. She picks fights to justify her guilt, she becomes overly insecure, trying to project her unfaithful actions on you you, she tries to rewrites history to make you the villain just so her betrayal feels like justice. she is literally begging you to catch her. Then comes the Universe, creating impossible coincidences to wake you up: Sending lightning at the perfect time you asked it to, her phone lighting up the exact second you look at the table, a friend seeing her where she said she wasn't, or you waking up at 3 AM with your heart pounding. You start thinking you're paranoid, but that is just the Ether screaming at you and your Ancestors tapping your shoulder. But the tragedy is that you allow yourself to be gaslighted; when your gut screams "She is lying," your heart whispers "But I love her," and you become her defense attorney, rationalizing the red flags and telling yourself you're just insecure. The truth is that the betrayal didn't blindside you; you saw the coldness, felt the energy shift, and heard the hesitation, but you voluntarily closed your eyes because you preferred the Beautiful Lie over the Ugly Truth. It hurts now not because she fooled you, but because you fooled yourself.
The Figen@TheFigen_

A guy makes a video with his partner: "May lightning strike if you've been unfaithful to me."

English
39
335
3.2K
236.2K
ary ramadhan retweetledi
Asanwa.sol
Asanwa.sol@Chizitere_xyz·
When i was still working as a biomedical engineer in Ubth, I had this male coworker that used to stay back in the office till 8 PM every night. Four extra hours of doing absolutely nothing, just sitting outside the empty conference room talking to himself or using his phone. One day I asked him why he didn’t just go home to his wife and kid since he closed by 4 PM. He laughed that dry, hollow laugh and said, "Michi, if I go home by 5, my wife will ask for money for dinner, or the generator needs fuel, or the landlord is coming. If I stay till 9, she assumes I’m hustling and grinding for the family. She respects the 'busy' man, but she has no patience for the 'tired' man present in the house." So now, every night, he sits in the dark office, drinking water to fill his stomach, and calls his wife. He speaks with energy, Yes babe, i still have a lot of work to cover. I’m doing this for us. Even when his account balance is literally reading minus. He does this; not because he is a liar. Not because he doesn't want to be home. But because sounding 'busy' and 'ambitious' is the only way a man retains his dignity in a home he pays for. A lot of people cannot even begin to understand the mental gymnastics men perform every day just to avoid being called "useless."
Asanwa.sol@Chizitere_xyz

hit me with the harshest reality truth

English
343
1.3K
12.3K
1.8M
ary ramadhan retweetledi
Imara ♛
Imara ♛@imaqueennz·
I am Indonesian. I support Palestine. My government is NOT representing me on Palestine issues.
English
126
44.1K
89.1K
1M
ary ramadhan retweetledi
marung wadura
marung wadura@aimr0d·
Orang ADHD itu nyetel musik/film/podkes on background purely biar rame aja, otaknya understimulate ga bisa kerja, overstimulate (kelewat berisik) juga ga bisa kerja
Indonesia
122
2.9K
19.6K
672.1K
ary ramadhan retweetledi
Anies Rasyid Baswedan
Anies Rasyid Baswedan@aniesbaswedan·
The U.S. military strike on Venezuela is deeply regrettable, as it contradicts the very principles of sovereignty and multilateralism that America has long championed. As a self-proclaimed guardian of global democracy, this unilateral action raises serious questions about their consistency, especially in today’s multipolar world where Russia’s and China’s influence in Latin America is growing stronger. It risks sparking widespread instability, compelling nations like Indonesia to navigate our national interests more strategically, rather than simply following ideological currents. What happens to Venezuela also sets a precedent for other developing countries. It goes beyond a violation of sovereignty. It’s a deliberate effort to restrict the Global South’s freedom to manage its own resources. We must bolster solidarity among developing nations to safeguard the non-intervention principles we have long fought for. The weaknesses of multilateral diplomacy, such as through the UN or the OAS, are becoming all too evident, rendering soft approaches like the ASEAN Way less effective against direct confrontations. It’s time for us to develop a more proactive diplomacy, including networks with non-state actors for effective mediation, rather than a passive neutrality that leaves us vulnerable as collateral damage. This strike could also serve as a catalyst for reforming global governance from a Southern perspective. Indonesia has the opportunity to lead initiatives at the UN to amplify the voices of developing countries, particularly on strategic resources. This isn’t merely a moral response, but a survival strategy in a fragmented world, emphasizing leadership that builds bridges rather than yielding to destructive powers. •••
English
378
7.9K
26K
955.9K
ary ramadhan retweetledi
𝒶rα˚˖𓍢ִ໋
𝒶rα˚˖𓍢ִ໋@yslmammi·
someone said “nothing gives you a clearer look into someone than how they misinterpret things, every misinterpretation is a confession” and it’s so true because how people misunderstand things can reveal a lot about their perspectives and feelings.
English
179
9.4K
55.2K
1.6M
ary ramadhan retweetledi