Lambe Saham@LambeSahamjja
Guys, kalau ada dua orang masuk UGD bersamaan dan dua-duanya nyawanya di ujung tanduk siapa yang diselamatkan duluan?
Pertanyaan itu terdengar seperti pertanyaan filsafat. Tapi buat dr. Gia dokter IGD yang sudah 15 tahun berdiri di garis paling depan antara hidup dan mati itu adalah keputusan nyata yang harus dibuat dalam hitungan detik.
Dan jawabannya lebih kompleks dari yang kebanyakan orang bayangkan.
Siapa yang diselamatkan duluan dan ini yang perlu lo pahami:
Di IGD tidak ada sistem siapa datang lebih dulu dilayani lebih dulu. Yang ada adalah sistem triase penilaian cepat tentang siapa yang kondisinya paling kritis dan paling bisa diselamatkan dengan intervensi segera.
Dokter Gia punya satu prinsip yang dia pegang sejak hari pertama: keraguan adalah musuh dari keselamatan. Kalau ada pasien dengan nyeri dada yang menjalar ke tangan kiri, disertai keringat dingin besar-besaran jangan ragu.
Langsung ke meja resusitasi. Setiap detik yang terbuang untuk ragu-ragu adalah kerusakan permanen pada jantung yang sedang sekarat.
Tapi kalau ada dua pasien seperti itu bersamaan jawabannya bukan dokter jadi Superman dan tangani dua orang sekaligus. Jawabannya adalah tim. Dokter Gia instruksi ke perawat-perawatnya yang dia sebut "jago-jago banget" satu tim pegang satu pasien, dia koordinasi dari tengah. Tidak ada superhero di IGD. Yang ada hanya collective work.
Realita IGD yang tidak pernah ditampilkan di sinetron:
Dokter Gia cerita satu momen yang menurut gue paling mengerikan sekaligus paling manusiawi dari seluruh obrolan ini.
Pasien datang nyeri dada, keringat dingin, menjalar ke kiri. Semua tanda serangan jantung. Sebelum pingsan dia kasih handphone ke dokter Gia sambil minta tolong hubungi istrinya.
Lalu dia jatuh tidak sadar. Nadinya hilang. Monitor menunjukkan garis lurus.
Dokter Gia langsung RJP resusitasi jantung paru. Pasang defibrilator. Everybody clear. Sengat. Pasien mental. Sengat lagi. Sampai akhirnya nadinya kembali.
Berhasil.
Lalu dokter Gia panggil anaknya perempuan berambut pirang untuk tanya riwayat medis bapaknya. Anaknya bilang tidak tahu. Akhirnya hubungi istri lewat handphone si pasien.
Istri datang dengan anak laki-laki satu-satunya.
Dan si perempuan berambut pirang ternyata adalah istri kedua yang tidak diketahui istri pertama.
Dokter Gia cukup mendapat dompet kosong yang sudah dikuras uangnya oleh si perempuan pirang sebelum menyerahkannya.
Dia tidak komentar apapun. Bukan urusannya. Tugasnya sudah selesai menyelamatkan nyawa. Urusan setelahnya adalah urusan mereka sendiri.
Usia serangan jantung yang makin muda dan ini yang paling mengerikan:
Data dari Survei Kesehatan Indonesia menunjukkan tren yang sangat mengkhawatirkan.
Tahun 2013 rata-rata usia pertama kali orang Indonesia kena serangan jantung adalah 50 tahun. Tahun 2023 rata-rata usia itu turun menjadi 40 tahun.
Dalam 10 tahun usia rata-rata serangan jantung mundur 10 tahun. Artinya orang yang seharusnya baru kena serangan jantung di usia 50 sekarang sudah kena di usia 40. Dan yang seharusnya di 40 sekarang sudah kena di 30-an.
Dokter Gia sudah menangani pasien serangan jantung usia 25 tahun. Dua puluh lima tahun. Baru lulus kuliah. Belum sempat merasakan banyak hal dalam hidup.
Faktor risikonya sudah diketahui semua orang tapi tetap diabaikan: gula darah tinggi, tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, merokok, malas gerak, obesitas. Kalau lo punya tiga atau lebih dari faktor itu lo adalah kandidat utama.
Fakta tentang lambung yang bisa menyelamatkan nyawa lo:
Ini yang menurut gue paling penting dan paling jarang dibahas. Dokter Gia punya satu pertanyaan yang selalu dia tanyakan ke pasien yang datang dengan HB sangat rendah: BAB-nya hitam tidak?
Banyak orang tidak tahu bahwa BAB berwarna hitam seperti aspal adalah tanda darurat medis. Itu artinya ada perdarahan aktif di lambung darah yang bocor dari lambung melewati saluran cerna dan keluar berwarna hitam karena sudah bercampur asam lambung dan enzim pencernaan.
Satu pasien datang dengan HB tinggal 4 normalnya 12. Lemas sekali. Pucat. Setelah ditanya ternyata BAB-nya sudah hitam sejak beberapa waktu lalu tapi tidak tahu itu tanda bahaya. Kalau telat sedikit lagi HB-nya bisa turun ke dua dan itu batas antara hidup dan mati.
Jadi kalau lo atau orang yang lo kenal BAB-nya tiba-tiba berwarna hitam jangan tunggu sampai pusing atau pingsan. Langsung ke IGD.
Kapan harus ke IGD dan kapan tidak perlu:
Ini yang paling praktis dari seluruh obrolan. Sistem BPJS punya rujukan berjenjang artinya tidak semua keluhan bisa langsung ke IGD rumah sakit besar. Yang bisa langsung ke IGD adalah kondisi dengan parameter objektif yang jelas.
Saturasi oksigen di bawah 90 langsung IGD. Nadi di bawah 40 atau di atas 200 langsung IGD. Tekanan darah di bawah 90 atau di atas 160 langsung IGD. Nyeri dada yang menjalar ke tangan kiri disertai keringat dingin langsung IGD tanpa pikir panjang.
Kalau kondisi lo belum mencapai parameter itu ke faskes pertama dulu. Puskesmas atau klinik yang terdaftar. Kalau mereka tidak bisa tangani baru dirujuk ke rumah sakit.
Dan satu hal yang dokter Gia tegaskan: nyeri skala 10 dari 10 tidak mungkin masih bisa ngobrol santai. Kalau lo masih bisa ngobrol kondisi lo belum sekritis yang lo bayangkan.
Hal yang paling berat dalam karir seorang dokter IGD dan ini yang paling menyentuh:
Dokter Gia cerita tentang seorang bapak usia 50-an yang datang dengan kondisi kritis. Hepatitis B berat. Sudah berpisah dari istri dan anak. Selama bertahun-tahun dia menanggung semuanya sendirian di kosan karena takut menulari anaknya.
Saat kondisinya kritis baru dia hubungi anaknya untuk pertama kali. Anaknya datang. Dan di tengah semua usaha resusitasi yang sudah maksimal bapak itu memegang tangan anaknya dan berkata: "Nak, maafin Bapak sudah gagal. Bapak sayang sekali sama kamu. Kamu harus sehat, harus happy, harus sukses."
Lalu dia pergi.
Dokter Gia bilang dia biasanya menahan air matanya sampai selesai shift. Baru di kesendirian nulis. Dan dia selalu uji tulisannya dengan satu patokan: kalau dia nulis dan air matanya tidak keluar berarti yang baca tulisannya juga tidak akan tersentuh.
Filosofi hidup yang lahir dari bertahun-tahun berdiri di antara hidup dan mati:
Dokter Gia punya cara pandang tentang kebencian yang menarik dan dia dapatkan dari kecintaannya pada astronomi.
Matahari kita membutuhkan 250 juta tahun untuk sekali mengelilingi pusat galaksi Bima Sakti. Sementara manusia hanya hidup sekitar 80 tahun. Kalau 250 juta tahun adalah 360 derajat maka 80 tahun manusia hanya setara 0,02 derajat.
Kita tidak ada apa-apanya di skala alam semesta. Dan kalau begitu apa gunanya menghabiskan 0,02 derajat yang sangat singkat itu dengan kebencian?
Lover for all. Hatred for none.
Dan di IGD filosofi itu bukan sekadar kata-kata. Dia tangani semua pasien yang datang tanpa tanya apakah mereka orang baik atau tidak. Bukan karena tidak peduli dengan moralitas. Tapi karena tugas seorang dokter adalah menyelamatkan nyawa bukan menghakimi siapa yang layak diselamatkan.
Dokter Gia adalah pengingat bahwa ada orang-orang yang setiap hari memilih untuk berdiri di tempat yang paling berat bukan untuk ketenaran atau kekayaan tapi karena mereka genuinely mencintai manusia dengan segala kompleksitasnya.
Dan dari semua yang dia ceritakan ada satu pesan yang paling penting untuk dibawa pulang: jangan tunggu sampai nyawa di ujung tanduk untuk mulai memperhatikan sinyal-sinyal yang tubuh lo kirimkan.
BAB hitam itu darurat. Nyeri dada menjalar itu darurat. Usia 25 bisa kena jantung. Dan faktor risikonya gula, tekanan darah, kolesterol, rokok, malas gerak sudah lo tahu semua tapi terus diabaikan.
Dokter Gia siap di IGD. Tapi dia lebih senang kalau lo tidak perlu datang ke sana.