Muh
78K posts

Muh retweetledi

Kura-kura Berjanggut (960 hal)
by Azhari Aiyub
Bagaimana mitos berkembang dan bertahan?
Melalui Kura-kura Berjanggut, kita diajak hidup dalam cerita bajak laut di Aceh masa lampau yg dituturkan oleh Si Ujud, Tobias Fuller, dan Bantaqiah Woyla.
#Bacaankuwng

Indonesia

Mendagri Tunjuk Safrizal ZA Pimpin Satgas Percepatan Rehab-Rekon di Aceh acehnews.id/news/mendagri-…
Indonesia

Manasik Haji Makin Lengkap, Pesawat Citilink Hadir di Asrama Haji Aceh sagoetv.com/manasik-haji-m…
Indonesia
Muh retweetledi

BAGANA SIGAP! BANSER NU BERSIHKAN MASJID DI ACEH TAMIANG
Masjid menjadi salah satu tempat ibadah yang terdampak bencana di Aceh. Dalam pilunya bencana yang meninggalkan duka mendalam, umat Islam tetap menjalankan ibadah dengan nyaman seraya memohon pertolongan Allah SWT agar segera keluar dari kesulitan bencana kemanusiaan ini.
Wujud khidmah Banser Tanggap Bencana (BAGANA) dengan membersihkan masjid di Aceh Tamiang, Kec. Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang. Aceh, Selasa, 9/12/2025. Kebersihan adalah sebagian dari iman. Semoga ikhtiar kecil ini membawa keberkahan dan kenyamanan bagi seluruh jamaah.
Sigap dalam bencana. Sigap dalam pelayanan!
Indonesia
Muh retweetledi

GERAK CEPAT BAGANA ANSOR SALURKAN BANTUAN KEMANUSIAAN DI SUMATERA
Kepedulian menjadi harapan besar bagi saudara-saudara kita yang terdampak bencana di Sumatera Barat, Sumatera Utara dan Aceh. Hidup di tengah bencana yang serba memprihatinkan bukanlah mimpi yang diinginkan saudara kita di Sumatera. Untuk itu, aksi nyata yang cepat memperpanjang mimpi dan harapan hidup mereka agar bangkit dari keterpurukan.
Barisan Ansor Serbaguna Tanggap Bencana (Bagana) yang digandeng Miftah Maulana Habiburrohman alias Gus Miftah gerak cepat, penuh amanah serta tanggung jawab menyalurkan bantuan sekitar 2 kontainer dan 2 truk kepada para korban bencana banjir dan longsor di Sumatera. Bantuan kemanusiaan yang sangat berarti bagi saudara kita di Sumatera yang terdampak musibah.
Kepala Satkornas Banser Muhammad Syafiq Syauqi alias Gus Syafiq mengatakan bantuan ini sangat-sangat dibutuhkan, dan ditunggu, dan sangat menyentuh bagi para korban. Kami akan menyalurkan kepada seluruh masyarakat terdampak. Tidak membedakan kelompok agama, siapa pun yang membutuhkan yang dapat kami jangkau, akan kami salurkan bantuan dari para donatur tersebut.




Indonesia
Muh retweetledi

Tenaga Honorer R4 Gelar Aksi Damai di Jakarta Tuntut Kejelasan Nasib Mereka menuntut pemerintah agar melakukan pengangkatan tenaga honorer Non Database BKN (R4) yang lulus seleksi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) 2024. foto.espos.id/tenaga-honorer…

Indonesia
Muh retweetledi
Muh retweetledi

Kura-Kura Berjanggut cetakan pertama (2018) dipinjemin sahabatku tanpa batas waktu (diamanahi ngerawat bukunya). Cetakan kelima (2021) akhirnya mengoleksi bukunya.
Bangga bisa mengoleksi & membaca salah satu rekomendasi buku sastra pilihan Mas @senogp terbitan @PenerbitbaNANA




Indonesia
Muh retweetledi
Muh retweetledi
Muh retweetledi

Do Karim dengan nama aslinya Abdul Karim, satu diantara sejumlah sastrawan yang mengambil peran perlawanan terhadap kolonial Belanda melalui jalur sastra, Khususnya Hikayat Perang yang bertujuan untuk memompa semangat para pejuang Acheh di medan juang.
Abdul Karim berasal dari Keutapang II, Mukim VI, Sagie XXV Mukim, Acheh Besar.
Tidak diketahui tahun kelahiran Do Karim. Menurut Ali Hasjmy, Do Karim dilahirkan sebelum Perang Aceh (1873) dan meninggal sebelum 1903.
Do Karim adalah sosok pejuang Acheh yang memilih jalur sastra hikayat yang sesuai dengan jiwa zamannya, dimana pada saat itu salah satu kesenian yang sangat digemari masyarakat adalah menonton pagelaran hikayat di berbagai daerah yang ditampilkan oleh figur-figur yang melegenda, sekelas Teungku Chik Pante Kulu, dan sebagainya.
Do Karim adalah seorang sastrawan Acheh yang fundamental, karena banyak mengarang hikayat-hikayat dan syair.
Beliau juga dikenal sebagai sosok yang multidimensional, dalam artian dia sebagai anak manusia serba bisa.
Do Karim sangat ahli dan mahir dalam berpidato dan pengetahuannya yang luas tentang bahasa daerah dalam bentuk prosa, puisi, dan pantun. Oleh karena itu, sisi yang unik dari kesastrawanan beliau adalah dia mampu menyampaikan pesan-pesan moral dalam bahasa yang komunikatif dengan masyarakat Acheh, yaitu lewat bahasa sastra, berupa syair dan hikayat.
Kecintaan Do Karim terhadap tanah Acheh dan Islam demikian besar. Salah satu hikayatnya yang sarat dengabn pesan-pesan moral adalah hikayat yang berjudul “Prang Kompeuni”.
Hikayat Prang Kompeuni—mengandung beberapa latar belakang. diawali dengan cerita tentang Acheh sebelum perang yang kaya raya, makmur, dan diperintah oleh raja yang adil.
Acheh sebuah negeri yang kaya rempah-rempah seperti lada, cengkeh, kemiri, kapur barus, kemenyan,yang harganya sangat mahal di Eropa.
Ia juga menceritakan rapat-rapat di Den Haag, yang menyusun rencana penyerangan terhadap Acheh.
Dalam hikayat Prang Gompeuni juga dikisahkan kekejaman Belanda yang membunuh rakyat Acheh dengan sangat keji.
Penjajah membakar perkampungan, menjarah isi rumah, dan menghancurkan sumber-sumber pangan rakyat.
Pun demikian, Rakyat Acheh tidak gentar. Wanita-wanita Acheh melawan Belanda. Menghina tentara Belanda dengan cara meludahi mereka dengan air kunyahan sirih.
Rakyat melarikan diri ke gunung-gunung, bercerai-berai dengan sanak saudara.
Rakyat yang tidak lari, diawasi secara ketat oleh marsose. Mereka diperiksa tatkala masuk dan keluar kampung.
Setiap warga harus menyertai diri dengan surat keterangan, dan tidak diperkenankan membeli barang dalam jumlah banyak.

Indonesia

Penulis Buku Jejak Jokowi di Gayo: Joko Widodo Kerja di Aceh Setelah Tamat Kuliah sagoetv.com/penulis-buku-j…
Indonesia















