Ciee ngelobi terus nih ee biar aman... cc @psi_id
KONFLIK antara kader PSI, khususnya Grace Natalie dan Ade Armando (saat ini sudah berstatus eks kader PSI) dengan Jusuf Kalla, sedang diredam Ketua Hariannya, Ahmad Ali.
Sebelumnya, Ade Armando mengakui risiko pengaruh konflik tersebut ke PSI. Hal itu misalnya terlihat dari ancaman warga Sulawesi ke Ketua Harian PSI bahwa partai itu tidak akan dipilih lagi jika Ade Armando masih menjadi kader.
Ahmad Ali pun mulai bergerak untuk meredam konflik hukum yang menjerat Sekretaris Dewan Pembina PSI, Grace Natalie.
Meski secara kelembagaan partai tetap menolak memberikan bantuan hukum, Ali mengaku siap menjadi mediator antara Grace dengan Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI, Jusuf Kalla (JK).
Langkah ini diambil menyusul laporan 40 ormas pendukung JK terhadap Grace Natalie, Ade Armando, dan Permadi Arya terkait dugaan ujaran kebencian soal potongan ceramah di UGM.
"Bisa jadi saya menjadi perantara, jembatan kepada Pak JK untuk berkomunikasi. Saya sedang berupaya juga," ungkap Ali saat dihubungi wartawan, Kamis 7 Mei 2026.
Ahmad Ali mengungkapkan bahwa dirinya memiliki hubungan emosional yang sangat kuat dengan JK.
Selain sesama alumni HMI, Ali saat ini menjabat sebagai Ketua DMI Sulawesi Tengah, di mana JK merupakan Ketua Umumnya.
"Pak JK ini kakak saya, orang tua saya. Kakak saya di HMI, orang tua saya di Dewan Masjid," jelas Ali.
~hsb
TOLONG SAYA UNTUK MENCARI TRUK DENGAN NOPOL B 9575 SYW, YG SUDAH MEMBAHAYAKAN SAYA DENGAN SENGAJA, SUPAYA KECELAKAAN BERUNTUN.
Kronologi:
Saya dari arah Karawaci mau pulang ke Cengkareng, lewat Tol Tangerang-JKT. Tengah jalan, ini truk tiba2 mau nyalip dari jarak dekat.
Video Siswa Melawan Guru di Langsa Kembali Hebohkan Media Sosial
LANGSA – Dunia pendidikan di Kota Langsa kembali dihebohkan dengan beredarnya sebuah video singkat yang memperlihatkan tindakan tidak terpuji seorang siswi terhadap gurunya. Video yang berdurasi beberapa detik tersebut mendadak viral setelah diunggah di berbagai platform media sosial pada jumat (24/4).
Dalam rekaman tersebut, terlihat suasana di dalam sebuah ruang kelas. Seorang siswi yang mengenakan seragam batik dan rok abu-abu tampak terlibat adu mulut yang hebat dengan seorang siswi lain di depan papan tulis.
Suasana semakin memanas ketika seorang guru wanita mencoba menengahi dan memberikan teguran. Alih-alih patuh, siswi tersebut justru menunjukkan gestur melawan, membentak, hingga mengarahkan telunjuknya ke arah sang guru dengan nada bicara yang tinggi. Perdebatan tersebut disaksikan oleh siswa-siswi lain yang berada di dalam kelas.
Kejadian ini memancing beragam reaksi keras dari warganet. Banyak yang menyayangkan merosotnya nilai etika dan karakter siswa terhadap tenaga pendidik.
"Sangat miris melihat moral generasi sekarang. Guru adalah orang tua di sekolah, tidak seharusnya diperlakukan seperti itu," tulis salah satu komentar netizen.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak sekolah maupun Dinas Pendidikan setempat mengenai pemicu utama keributan tersebut. Namun, masyarakat berharap pihak sekolah segera memanggil orang tua siswa yang bersangkutan untuk dilakukan pembinaan agar kejadian serupa tidak terulang kembali.
Kasus ini menambah daftar panjang insiden pelanggaran disiplin siswa di lingkungan sekolah, yang menjadi tantangan besar bagi dunia pendidikan dalam menanamkan pendidikan karakter sejak dini.
💚 update kasus siswa2 sma 1 pur*akart* yg kurang ajar ke guru. baca komennya makin sedih😢 katanya pas viral salah satu pelaku ada yg sampe hati bikin stat WA "SERU" .
Mengapa Negara Menzalimi Suami Saya, yang Tulus Berkorban Banyak Untuk Negara?
Sebagai istri, sakit hati rasanya. Enam belas tahun aku kenal Ibam, dia ngga money oriented. Niatnya tulus. Kalau sudah mau bantu, dia akan benar-benar bantu.
Ibam dituntut penjara 15 tahun dan harus bayar Rp16,9 miliar, kalau tidak maka pidananya ditambah 7,5 tahun.
Berarti, Ibam dituntut 22,5 tahun penjara.
Ibam, yang pernah menolak tawaran puluhan miliar karena merasa misi bantu negara lewat bangun teknologi masih belum selesai.
Sekarang ironisnya dituduh korupsi. Padahal sampai 57 saksi diperiksa, tidak ada satu pun bukti Ibam memperkaya diri. Tidak ada konflik kepentingan untuk memperkaya orang lain.
Dia hanya konsultan teknis, rela tolak tawaran asing, turun gaji demi negara, ngga punya jabatan dan kewenangan, selalu profesional dan netral dalam kasih masukan, tapi terjebak dalam pusaran para elite birokrasi.
Masukan teknis Ibam yang sudah terdokumentasi baik, transparan akan kelebihan dan kekurangan, diceritakan sepotong-sepotong saja oleh pejabat pengadaan. Sehingga seakan-akan Ibam memaksa hanya Chromebook.
Untungnya, Ibam punya banyak dokumentasi yang sudah jadi bukti di persidangan. Sudah terungkap di sidang bahwa:
1. Ibam bukan pejabat, tapi konsultan yayasan. Gaji Ibam sama sekali bukan dari APBN.
2. Ibam baru kenal Nadiem setelah dia jadi menteri. Ngga ada persekongkolan, dan ngga pernah ketemu personal.
3. Di banyak bukti chat & notulen rapat: Ibam tidak mengarahkan pengadaan, tidak buat kajian, bahkan Ibam minta kementerian untuk uji Chromebook dulu.
4. Pejabat Eselon I akhirnya mengakui: dia yang menolak masukan pengujian Ibam, dia yang memutuskan Chromebook lewat SK yang dia keluarkan.
5. Ahli IT telah menyatakan masukan Ibam sudah netral dan profesional, sesuai best practice keahlian, serta benar dalam menyerahkan keputusan ke kementerian.
Puncaknya, nama Ibam dicatut ke dalam SK pengadaan yang tidak pernah dia ketahui sebelumnya. Dalam pengesahan kajian Chromebook yang ditugaskan SK, tidak ada tanda tangan Ibam.
Terungkap juga di sidang, belasan pejabat, termasuk yang berupaya ‘menyalahkan’ Ibam, mengakui telah menerima ratusan juta rupiah suap dari vendor. Namun mereka semua bebas, tidak ada yang jadi tersangka.
Disaat mereka bebas, Ibam ditahan dan dituntut penjara. Bagiku perkara ini jelas. Suamiku bukan pelaku, tapi korban permainan elite birokrasi yang seenaknya melempar semua keputusan mereka pada Ibam.
Sekarang, kami hampir sampai di ujung jalan.
Ibam dituntut 22,5 tahun penjara.
Dua terdakwa lain, pejabat Eselon II di Kemendikbud, yang mengatur pengadaan dan sudah mengakui ada aliran dana sampai miliaran rupiah, dituntut 6 tahun saja.
Semakin kontras ketika surat tuntutan sendiri mengakui: tidak ada aliran dana ke Ibam.
Tuntutan bilang di laporan SPT 2021, kekayaan Ibam naik Rp16,9 miliar. Ibam sudah tunjukkan bukti di persidangan kalau itu dari saham Bukalapak yang didapat jauh sebelum Ibam menjadi konsultan Kemendikbud, tidak ada kaitannya sama sekali dengan Chromebook atau Gojek.
Bukti itu ditolak JPU dalam tuntutannya. Mereka bilang karena Ibam sudah resign, sahamnya hangus. Mereka tidak paham kata-kata dalam surat pemberian saham, bahwa yang hangus hanya “saham yang belum diberikan”. Padahal, sebelum resign juga ada sebagian saham yang sudah diberikan.
JPU menyatakan, karena mereka tolak bukti itu, Rp16,9 miliar Ibam diduga hasil korupsi, jadi mereka tuntut 15 tahun ditambah 7,5 tahun.
Bagi kami, ini puncak dari kezaliman. Ibam yang tidak pernah, sekali lagi, TIDAK PERNAH ADA ALIRAN DANA SAMA SEKALI, dikriminalisasi atas prestasinya bantu negara, yang tidak ada hubungannya dengan perkara.
Dua minggu lagi putusan Ibam akan dibacakan oleh Majelis Hakim, kami tetap berharap keadilan putusan bisa sesuai dengan fakta persidangan.
Karena, ini bukan sekedar perkara hukum, ini menyangkut nasib seseorang, masa depan keluarga kami, anak-anak kami, serta kemerdekaan kami sekeluarga.
Setahun terakhir ini adalah masa yang sangat berat bagi kami. Keluarga kami kehilangan penghasilan, kesehatan jantung Ibam kian memburuk, bahkan tabungan hidup kami terkuras habis untuk biaya medis dan biaya hukum.
Namun, aku bersaksi bahwa Ibam adalah seorang perintis. Hidupnya penuh perjuangan dari kecil, insya Allah kami siap bangun dari nol lagi.
Hanya saja, jika pengabdian untuk Indonesia harus dibayar semahal ini. Jika bukti persidangan sudah seterang ini, dan jika upaya mengkambinghitamkan Ibam sudah sekentara ini, dia tetap dipenjara puluhan tahun...
Ini adalah ketidakadilan yang teramat pahit.
Bukan hanya bagi Ibam, tapi bagi siapa pun yang pernah atau akan bantu bangsa ini dengan niat tulus.
Apa memang berbakti bagi merah putih seberbahaya ini?
Apa memang tidak ada keadilan bagi orang jujur yang sudah berkorban banyak bagi negara?
Tolong bantu kami mencari keadilan untuk Ibam selagi masih ada waktu. Mohon bantu bagikan tulisan ini, pada rekan atau kerabat, konsultan atau pejabat, siapapun yang bisa bantu menyuarakan keadilan dan memberi perhatian.
Agar tidak ada lagi profesional seperti Ibam yang jadi korban kriminalisasi.
Jakarta, 16 April 2026
Ririe - Istri dari Ibrahim Arief (Ibam)
@tilehopper Lho dik, namanya keliru itu manusiawi dik. Makanya saya hapus, karena sy kira Film James Bond 😂
Adik ini apa kebiasaan main game saat usia dini? tidak diurus orang tuanya? Hati2 lho, jika main game dewasa nanti jadi cabul seperti oknum mahasiswa FHUI.
Pak Ferry Koto, jangan kebanyakan asal ngomong dan panggil orang lain "dik", nanti nalar kamu juga buntu ga bisa membaca dengan benar terus malu hapus tweet.
Karena 007: First Light itu game James Bond bukan film James Bond.
Tahun 2021, sewaktu saya bersama Meier dan Mbak Tika nanem sorgum di belakang rumah, banyak bapak-ibu petani yang melintas merasa asing dengan tanaman tsb. Sampai akhirnya ada seorang petani usia senja membagikan pengalaman:
Dwi Sasetyaningtyas, seorang alumni penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), menjadi sorotan publik setelah videonya yang menyinggung status kewarganegaraan Indonesia viral pada Februari 2026.
Pernyataan kontroversialnya mengenai paspor anak dan status Warga Negara Indonesia (WNI) memicu gelombang kritik dan kekecewaan di kalangan warganet.
Polemik ini berujung pada tuntutan pengembalian dana beasiswa LPDP yang pernah diterimanya.
Dwi Sasetyaningtyas merupakan lulusan Teknik Kimia dari Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2008.
Setelah menyelesaikan studi sarjana, ia melanjutkan pendidikan magister (S2) di Delft University of Technology (TU Delft), Belanda, dengan jurusan Sustainable Energy Technology.
Pendidikan S2 ini dibiayai sepenuhnya oleh negara melalui skema beasiswa LPDP pada tahun 2015.
Ia dikenal sebagai pegiat gaya hidup berkelanjutan dan merupakan pendiri platform Sustaination.
Dwi Sasetyaningtyas juga dikabarkan sedang menempuh studi doktoral (DPhil) di University of Oxford, Inggris, mendampingi suaminya yang juga sedang menempuh studi S3 di kampus yang sama. Studi S3 yang sedang dijalaninya ini tidak menggunakan dana dari LPDP.
Kontroversi bermula pada pertengahan Februari 2026 ketika Dwi Sasetyaningtyas mengunggah momen penerimaan paspor Inggris untuk anak keduanya.
"Aku tahu dunia terlihat enggak adil, tapi cukup aku aja yang WNI, anak-anakku jangan. Kita usahakan anak-anak dengan paspor kuat WNA itu," ucap Dwi Sasetyaningtyas yang kemudian viral di media sosial.
Pernyataan ini dianggap merendahkan identitas kewarganegaraan Indonesia dan memicu perdebatan mengenai etika serta tanggung jawab moral sebagai penerima beasiswa negara.
Warganet menilai narasi tersebut kurang bijak disampaikan oleh seorang awardee LPDP, mengingat beasiswanya dibiayai oleh negara.
Menanggapi gelombang kritik, Dwi Sasetyaningtyas memberikan klarifikasi tertulis pada Kamis (20/2/2026), dan menyatakan telah menuntaskan kewajiban pengabdiannya kepada Indonesia selama enam tahun, terhitung sejak 2017 hingga 2023. Secara administratif, ia menegaskan tidak melanggar kontrak hukum dengan negara.
Ia juga telah meminta maaf secara terbuka atas kegaduhan yang terjadi, mengakui pernyataannya lahir dari rasa lelah dan frustrasi pribadi tanpa niat merendahkan kedaulatan negara.
Pihak LPDP menyayangkan tindakan Dwi Sasetyaningtyas yang tidak mencerminkan nilai integritas, etika, dan profesionalisme yang ditanamkan LPDP kepada seluruh penerima beasiswa.
Meskipun secara hukum kewajiban pengabdian telah terpenuhi, LPDP menegaskan bahwa nilai-nilai nasionalisme dan integritas tetap menjadi poin utama yang diharapkan dari setiap alumni.
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, juga turut menyoroti kasus ini dan menyesalkan sikap Dwi Sasetyaningtyas.
Ia memastikan bahwa Direktur Utama LPDP telah berbicara dengan suami Dwi Sasetyaningtyas, dan disepakati untuk mengembalikan semua dana beasiswa yang telah diterima dari LPDP.
Purbaya menyatakan bahwa pihaknya masih akan menghitung jumlah dana yang harus dikembalikan, lengkap dengan bunga yang ada.
Selain itu, Purbaya mengultimatum akan melakukan blacklist terhadap yang bersangkutan, sehingga tidak dapat bekerja di lingkup pemerintahan.
yg gw sayangin kenapa dari kata2 "tapi mas tahu betul keluarga saya dibawa2 karena tulisan mas" ini seakan2 pak Iman ini tahu siapa yang mengancam akan memperkosa anaknya ferry.
emang kalo udah kaya dan pengikutnya banyak, wajib sereaktif ini kalo dapat ancaman? perbaiki lg bang
@B3doel___ Gw juga klo dikeroyok gini pasti baleslah. Klo tetap ditungguin dan mau dikeroyok lagi, mau ng mau yha bisa aja cari sajam biar kgk ada yg deketin buat keroyok. Tapi emang siswa sekarang banyak yang brutal. Paling bener emang gurunya cuek aja. Habis ngajar pulang
GURU SMKN 3 TANJABTIM DIDUGA DIKEROYOK MURID, DIPICU UCAPAN GURU YANG DINILAI MENGHINA
Jagat media sosial dihebohkan dengan beredarnya video yang memperlihatkan kericuhan antara seorang guru dan sejumlah siswa yang diduga terjadi di SMK Negeri 3 Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim), Kecamatan Berbak.
.
Dalam video tersebut, tampak seorang guru terlibat adu argumen dengan beberapa siswa. Cekcok mulut yang terjadi kemudian berubah menjadi ricuh dan diduga berujung pada aksi penger0yokan terhadap guru oleh sejumlah murid.
Berdasarkan informasi yang beredar, insiden ini diduga dipicu oleh ucapan guru yang dianggap menyinggung perasaan siswa.
Guru tersebut disebut-sebut melontarkan kalimat yang mengaitkan kondisi ekonomi orang tua murid dengan sebutan “miskin”, sehingga memicu emosi dan reaksi keras dari para siswa.
Selain video kericuhan, juga beredar video lanjutan pascakejadian yang memperlihatkan guru tersebut membawa senjata tajam jenis c3lurit.
Video ini memicu keprihatinan publik terhadap keamanan dan kondusivitas lingkungan pendidikan.
Artikel: Jambionecom
BUKAN UNTUK DITIRU—Seorang guru di SMK Negeri 3 Tanjung Jabung Timur diduga menjadi korban pengeroyokan oleh sejumlah murid.
Berdasarkan informasi yang beredar, peristiwa itu diduga dipicu oleh ucapan sang guru yang dinilai menyinggung perasaan salah satu murid.