BY

16.9K posts

BY banner
BY

BY

@bayuarman

sedang menjaga kewarasan, yang hidup harus tetap hidup || rug survivor

Surabaya Katılım Ekim 2008
1.8K Takip Edilen657 Takipçiler
BY retweetledi
Kalanara Mahardika 🎬✨
Inovasi Kampus Indonesia: Ide Bagus yang Susah Jadi Produk Bayangkan kamu udah bikin penemuan keren di lab kampus, menang lomba, dapat pujian dosen, bahkan masuk berita nasional. Tapi setahun kemudian, penemuan itu cuma jadi pajangan di lemari. Familiar? Ini sudah jadi pola yang terus berulang di Indonesia. Indonesia tidak kekurangan talenta dan ide brilian. Setiap tahun, ribuan inovasi lahir dari kampus dan lembaga penelitian di Tanah Air. Paving Block daur ulang seperti yang aku QRT ini bukan yang pertama, tapi implementasi dan komersialisasi ke masyarakat umum memang tidak terasa. Mayoritas penemuan lainnya juga terjebak dalam laboratorium, mati muda karena terjatuh ke dalam jurang maut inovasi. BRIN misalnya, memiliki hampir 600 paten. Tapi hanya sekitar 10 paten yang pernah dilisensikan dan digunakan oleh industri. Angka itu cukup menyedihkan kalau dipikir-pikir. Ratusan paten, tapi hampir semuanya tidur di laci. Masalahnya sering berakar pada kurangnya informasi soal cara mengkomersialisasikan hasil penelitian, sehingga riset yang punya potensi besar pun berakhir hanya sebagai naskah skripsi atau tesis. Kampus tidak mengajarkan cara menjual ide, cara memproduksi massal, cara membaca kebutuhan pasar. Kita benar-benar kekurangan "manufacture-mindset". Jurang maut inovasi adalah kesenjangan antara hasil riset laboratorium dengan kebutuhan industri yang nyata. Di sinilah kebanyakan inovasi Indonesia gugur. Ide sudah matang, prototipe sudah jadi, tapi tidak ada yang tahu bagaimana menyeberangi jurang itu menuju produk yang bisa dibeli orang. Sistem akademik kita ikut berkontribusi. Dosen dan peneliti dinilai dari publikasi di jurnal internasional, bukan dari produk yang berhasil masuk pasar. Jadi wajar kalau begitu riset sudah dipublikasikan, prosesnya dianggap selesai. Tidak ada dorongan kuat untuk melanjutkan ke tahap komersialisasi. Sekarang lihat China. Mereka membangun ekosistem manufaktur terintegrasi yang mencakup seluruh rantai nilai, dari bahan baku dasar hingga produk akhir bernilai tinggi. Skala produksi masif menciptakan economies of scale yang sulit ditandingi, sementara kecepatan inovasi dipacu oleh kombinasi investasi negara dan kompetisi domestik yang sengit. Yang membuat China beda bukan hanya soal modal atau tenaga kerja. Pemerintah China sejak lama menyiapkan kawasan industri terpadu lengkap dengan listrik, air, jalan, hingga pelabuhan. Investor tinggal masuk, bangun, dan langsung produksi tanpa hambatan panjang. Bandingkan dengan Indonesia yang masih bergulat dengan perizinan yang tidak seragam di tiap daerah dan biaya energi yang lebih mahal. Belum lagi pungli dan preman-preman yang acapkali mengadu domba pengusaha dengan masyarakat sekitar. Di China, hampir semua komponen dan bahan baku bisa didapat dalam radius yang pendek. Dalam satu kota industri, kamu bisa menemukan pabrik layar LCD, pemasok plastik, hingga pembuat baut dan mur, semua dalam satu wilayah. Sistem ini yang membuat produk China bisa lebih murah dan lebih cepat diproduksi, bukan hanya karena buruhnya murah seperti stereotip lama. Bahkan sudah banyak buruh China yang bisa hidup sejahtera sekarang ini. Data menunjukkan nilai investasi manufaktur China pada 2024 menembus lebih dari USD 4 triliun, sementara Indonesia masih berada di bawah USD 150 miliar. Selisih itu akibat dari skala ekosistem yang dibangun selama puluhan tahun secara konsisten. Indonesia itu terus berlari menuju digitalisasi dan industri 4.0, tapi fondasi manufaktur dasarnya belum kuat. Sejak 2018, pemerintah meluncurkan peta jalan "Making Indonesia 4.0" dengan ambisi menjadikan Indonesia 10 besar kekuatan ekonomi dunia pada 2030. Tapi data 2024 dan 2025 menyingkap realitas yang kontradiktif: di balik narasi digitalisasi, mesin industri nasional justru menunjukkan tanda-tanda kelelahan struktural yang serius. Kontribusi manufaktur terhadap PDB Indonesia menurun tajam dari sekitar 31,95% pada 2002 menjadi 18,52% pada pertengahan 2024. Ini menunjukkan Indonesia mulai meninggalkan sektor industri sebelum sempat benar-benar matang di sana. Fenomena ini disebut deindustrialisasi prematur, yaitu kondisi di mana kontribusi industri melemah sebelum mencapai titik optimalnya. Di Malaysia dan Thailand, penurunan proporsi industri sejak 2008 tidak lebih dari 4%. Di Indonesia, penurunannya lebih dari dua kali lipatnya. Lalu kenapa? Salah satu jawabannya ada di komoditas. Indonesia sempat terlena oleh buaian harga komoditas. Pada periode 2008 hingga 2012, harga komoditas melonjak tajam sehingga menjual bahan mentah ke pasar ekspor sudah sangat menguntungkan. Tidak perlu mengolahnya di industri. Akibatnya, kemampuan manufaktur tidak pernah berkembang dengan serius, karena tidak ada tekanan untuk berkembang. Kita skip fase belajar membuat produk dengan benar, lalu tiba-tiba ingin punya industri digital kelas dunia. Ini seperti mau lari maraton padahal belum pernah latihan jalan cepat. Persaingan antara produk China dan produk lokal Indonesia bukan pertarungan setara antara efisiensi perusahaan, melainkan antara model industrialisasi negara. Tanpa kebijakan industri yang lebih kuat dan konsisten, produsen lokal akan terus berada dalam posisi defensif, bahkan ketika kualitas dan potensinya sebenarnya tidak kalah. Di sisi kampus, kabar baiknya sudah mulai ada gerakan. Universitas Indonesia misalnya baru-baru ini menggelar pelatihan transfer teknologi dan komersialisasi kekayaan intelektual, sebagai bagian dari upaya mempercepat hilirisasi riset agar bisa memberikan dampak nyata bagi masyarakat dan industri. Tapi ini baru langkah awal, dan perlu menjadi kultur, bukan sekadar program sesekali. Setidaknya ada tiga hal yang perlu jalan bersamaan. Pertama, kampus perlu mulai mengajarkan cara berpikir produksi dan komersialisasi, bukan cuma cara menulis paper. Kedua, pemerintah perlu membangun ekosistem industri yang sungguh-sungguh terpadu, bukan cuma memindahkan labelnya ke "Industri 4.0" tanpa fondasi yang kuat. Ketiga, ada butuh jembatan yang nyata antara peneliti dan pelaku industri, bukan sekadar forum sesekali. Karena selama tiga hal itu tidak jalan bareng, inovasi terbaik Indonesia akan terus tidur di laboratorium, dan kita akan terus mengagumi produk dari negara lain yang sebenarnya tidak jauh lebih keren dari buatan kita.
folkative@insidefolkative

Inovasi Teknologi ITB bisa ubah sampah plastik jadi Paving Block ramah lingkungan.

Indonesia
11
49
127
59.1K
BY retweetledi
Fabrizio Romano
Fabrizio Romano@FabrizioRomano·
🚨 Michael Jackson will be Burnley’s interim manager until the end of the season, club statement confirms. Follows Scott Parker leaving with immediate effect.
English
14.9K
26.5K
262.7K
28.1M
BY
BY@bayuarman·
@narkosun yang bisa dikritik dari tni itu banyak but not this one, moron nanti kalo ada kelakuan parjo yang bener-bener salah jadi objek kritikan, jadi bias karena hal-hal gak salah juga lu framing begini
Indonesia
0
0
3
453
narkosun
narkosun@narkosun·
Tentara “ukur tanah” itu gimana maksudnya? Makin aneh aja negaraku Source: ig islahbahrawi
narkosun tweet media
Indonesia
239
566
4.8K
945.7K
BY retweetledi
Logos ID
Logos ID@logos_id·
Jangan kaget kalau nanti rupiah sampai ke 18rb atau lebih, makin banyak tweet serupa ini 🥳
Nauval Nova@NovaNauval58209

@logos_id Postingan ini salah & cenderung menakut-nakuti. Rupiah melemah bukan berarti runtuh. Artinya pemerintah bekerja agar ekspor Indonesia bersaing di kancah dunia. Dibawah Presiden Prabowo, ekonomi Indonesia mencapai puncak kejayaan ekonomi saat IHSG menembus 9000

Indonesia
39
4.1K
12.6K
127.2K
BY retweetledi
BY retweetledi
Industrial Policy Lab Indonesia
Indonesia tidak punya EV sendiri karena kebijakan industri strategis (industrial policy) dianggap tabu setelah Krisis 98. BPIS (Badan Pengelola Industri Strategis) dibubarkan, industri teknologi tinggi seperti IPTN dipreteli. Dukungan fiskal pemerintah untuk industri strategis dibatasi. Padahal industri strategis adalah wadah dan pengejawantahan R&D dan inovasi. Konsekuensi dari dibatasinya dukungan untuk industri strategis adalah dibatasinya dukungan untuk R&D dan inovasi. Alhasil, selama dua dekade perkembangan teknologi kita mandek di tempat. Tiap tahunnya kita mencetak ribuan insinyur, tapi kurang banyak swasta yang bisa menyerap mereka dan keahlian mereka. Mau ada puluhan fakultas teknik sekalipun kurang ada gunanya kalau tidak ada pemberi kerja yang mampu menyerap lulusan. Kalau mau bekerja sesuai keahlian, harus ke luar negeri. Opsi lainnya hanya bekerja di perbankan, di IT, consulting, dll. Brain drain, selama hampir 30 tahun lamanya.
SmwGwOto@SmwGwOto

Kenapa Indonesia gk punya EV sendiri? Padahal, Indonesia punya banyak Fakultas Tehnik dan elektro bagus2. Indonesia punya BRIN, yg dulu namanya BPPT, pendirinya Insinyur terkenal lulusan Jerman yg punya banyak paten berkaitan dengan Pesawat Terbang, BJ Habibie. Tapi, kenapa Indonesia gk punya EV sendiri? Pak @onnowpurbo Mungkin bisa bantu jawab😁

Indonesia
27
240
630
167.2K
BY retweetledi
MBG Jelek
MBG Jelek@menuembegejelek·
Di atas podium sok teges; mengagung-agungkan sistem merit. Anti koneksi-koncoisme, anti ini anaknya siapa, ponakannya siapa. Faktanya? Bayangken, satu orang ADIK KANDUNG menjabat 5 posisi strategis sekaligus. WHAT AN UNMISTAKABLY, PAINFULLY BLATANT HYPOCRISY!! 🫵🏻 #RezimMunafik
MBG Jelek tweet media
Indonesia
145
7.8K
14.2K
135.5K
BY retweetledi
fahri salam
fahri salam@fahrisalam·
Rezim efisiensi, katanya, tapi cek dashboard pengadaan Kementerian Pertahanan (yg pos APBN-nya ke-2 terbesar) sungguh ga masuk akal. Cth: bikin kolam renang senilai 18 miliar! Belanja monitoring medsos 49 M! Cek: nemesis.assai.id (bisa cek juga belanja BGN 2026) 🤪
fahri salam tweet media
Indonesia
11
623
887
27.8K
BY retweetledi
Febri 👻
Febri 👻@fbrreds·
stop bilang kalo makan gratis tetep jalan itu info yang ditahan sekeliling wowo sekelilingnya udah pada ngomong kondisi sebenarnya, tapi yang mau tetep jalan wowo sendiri
Lambe Saham@LambeSahamjja

Guys, Prof. Feri Latuhihin ekonom yang sudah setahun lalu memprediksi dolar akan tembus Rp17.000 ketika belum ada yang percaya baru bicara lagi. Dan kali ini lebih keras, lebih konkret, dan lebih mengerikan dari sebelumnya. Gue mau rangkum dan kritisi semuanya termasuk pertanyaan yang menurut gue paling penting: para ekonom sudah kasih saran, tapi apakah pemimpinnya mau dengar? Atau yang kasih saran justru akan disebut antek antek asing? Prediksi yang sudah terbukti dan peringatan baru yang lebih keras: Setahun lalu Feri bilang dolar akan tembus Rp17.000. Banyak yang tidak percaya. Sekarang dolar sudah di Rp17.300. Sekarang dia memperingatkan skenario yang jauh lebih buruk: dolar bisa tembus Rp25.000 kalau kondisi fiskal tidak segera dibenahi. Bukan angka yang dia lempar sembarangan. Dia punya hitungan. Soal angka pertumbuhan ekonomi dan ini yang paling mengejutkan: Purbaya marah-marah ke World Bank karena World Bank bilang pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya 4,7%. Purbaya klaim angkanya jauh lebih tinggi dari itu. Feri bilang sesuatu yang sangat mengejutkan: "Saya bilang 4,7% sudah bagus. Kalau menurut saya bisa 0%." Kenapa? Karena ketika Feri cross check angka pertumbuhan 5,11% versi BPS dengan indikator lain khususnya pertumbuhan kredit perbankan angkanya tidak cocok. Untuk mencapai pertumbuhan 5,11% kredit perbankan harusnya tumbuh minimal 11%. Kenyataannya: kredit tumbuh di bawah 8%. Feri perkirakan pertumbuhan riilnya mungkin di sekitar 4% saja. Dan Moody's serta Fitch sudah men-downgrade outlook ekonomi Indonesia dari stable menjadi negatif. Artinya lembaga rating internasional pun tidak percaya dengan angka yang pemerintah klaim. Soal defisit APBN dan ini yang paling mengkhawatirkan: Feri memaparkan data yang sangat konkret: Defisit APBN Januari: Rp35 triliun.Defisit Februari: Rp135 triliun.Defisit Maret: Rp240 triliun. Kalau dianualisasi secara linear defisit sudah setara 3,72% dari GDP melampaui batas 3% yang menjadi patokan fiskal. Dan di saat yang sama harga minyak dunia naik karena perang. Subsidi BBM membengkak. Inflasi berpotensi double digit. Jatuh tempo utang tahun ini saja sekitar Rp888 triliun ditambah bunga Rp99 triliun. Itulah mengapa Feri menduga dua Dirjen Kemenkeu yang dicopot Purbaya kemungkinan memang tidak setuju dengan arah kebijakan bukan karena sabotase sembarangan, tapi karena mereka melihat angka-angka yang tidak memungkinkan untuk terus mempertahankan spending sebesar sekarang. Soal MBG dan ini yang paling tegas: Feri mengucapkan sesuatu yang menurut gue perlu didengar keras-keras oleh siapapun yang masih berargumen bahwa MBG adalah investasi: "Mohon dikasih tahu kepada Pak Presiden bahwa kalau MBG itu dianggap investasi itu bohong besar." Investasi yang sesungguhnya adalah infrastruktur jalan, jembatan, pelabuhan. Atau investasi non-fisik yang menghasilkan produktivitas jangka panjang: pendidikan dan riset dan pengembangan. Makan siang bukan investasi. Makan siang adalah konsumsi. Dan konsumsi yang dibiayai utang itu bukan membangun masa depan. Itu memakan masa depan. Feri menghitung bahwa untuk MBG yang benar-benar targeted ke yang membutuhkan cukup Rp10 triliun per tahun. Bukan Rp335 triliun. Dan sisa Rp325 triliun itu seharusnya bisa jadi buffer fiskal atau dialokasikan ke investasi yang benar-benar menghasilkan produktivitas jangka panjang. Soal class menengah yang semakin tergerus: Dari 57 juta kelas menengah di 2019 sekarang tinggal 47 juta. Turun 10 juta orang dalam kurang dari 10 tahun. Dan tabungan rata-rata kelas menengah yang dulu Rp3 juta per orang sekarang sudah mendekati nol. Mereka tidak lagi makan tabungan. Mereka sudah mulai makan hutang. Dan Feri menyebut satu indikator yang sangat mengkhawatirkan: omset pegadaian sedang melonjak luar biasa. Ketika orang menggadaikan barang untuk kebutuhan sehari-hari — itu bukan tanda ekonomi yang baik-baik saja. Soal BI yang tidak bisa berbuat apa-apa: Feri menjelaskan dilema yang sangat real yang sedang dihadapi Bank Indonesia: Kalau suku bunga dinaikkan untuk melawan inflasi dan menjaga rupiah ekonomi yang sudah lemah akan tambah terbebani. Kredit macet naik. Investasi turun lebih dalam. Kalau suku bunga diturunkan rupiah makin melemah dan inflasi makin tidak terkendali. "BI tidak bisa melakukan apa-apa. Naikkin salah, nurunin salah." Dan intervensi di pasar valas untuk menjaga rupiah cadangan devisa tidak tanpa batas. Kalau outlook ekonominya memang buruk intervensi itu seperti menggarami lautan. Soal komentar terhadap Purbaya dan ini yang paling kontroversial: Feri mengucapkan sesuatu yang sangat bold: bahwa menurut dia Purbaya tidak paham soal ekonomi. Contoh yang dia berikan: ketika perbankan mengalami undisbursed loan kredit yang sudah disetujui tapi belum dicairkan senilai Rp2.735 triliun, Purbaya justru mengucurkan tambahan dana dari BI sebesar Rp227 triliun. Logika Feri: kalau bank sudah kelebihan likuiditas yang tidak bisa disalurkan menambah likuiditas lagi adalah seperti menuangkan air ke ember yang sudah penuh. Itu bukan solusi masalah kredit. Itu memperburuk excess liquidity yang justru bisa memperlemah rupiah lebih jauh. Gue tidak akan menghakimi apakah Feri 100% benar soal ini. T api pertanyaan teknisnya valid dan layak dijawab secara publik oleh Kemenkeu. Dan inilah pertanyaan yang paling fundamental: Para ekonom Feri Latuhihin, Mahfud MD, Feri Amsari, berbagai pengamat lain sudah memberikan saran yang konkret, berbasis data, dan bisa diverifikasi. Saran yang konsisten: rasionalisasi MBG, ramping kabinet, perbaiki kepastian regulasi, prioritaskan investasi produktif, jaga fiskal dari defisit yang melebar. Dan apa respons dari lingkaran pemerintah? Orang yang kritik MBG disebut tidak nasionalis. Orang yang mempertanyakan kebijakan ekonomi disebut tidak mendukung presiden. Dan siapapun yang mengutip data dari lembaga internasional seperti World Bank atau IMF bisa dengan mudah diberi label antek asing. Dari nonblok menjadi goblok kata Feri mengutip kritik terhadap kebijakan luar negeri. Dan label yang sama bisa dikenakan pada kebijakan ekonomi: dari mendengar para ahli menjadi memusuhi para ahli. Indonesia punya banyak ekonom yang kompeten. Punya data yang bisa dibaca. Punya pengalaman sejarah termasuk bagaimana Habibie menyelamatkan ekonomi di 1998 dengan tiga langkah berani yang gue sudah bahas sebelumnya. Yang kurang bukan nasihatnya. Yang kurang adalah keberanian untuk mendengar nasihat yang tidak menyenangkan dan keberanian untuk mengambil keputusan yang menyakitkan jangka pendek demi kepentingan rakyat jangka panjang. Dan selama nasihat para ekonom direspons dengan label "antek asing" sementara rupiah terus melemah, defisit terus membesar, dan kelas menengah terus tergerus Kita semua yang menanggung akibatnya. Bukan para pejabatnya.

Indonesia
24
446
1.8K
88.8K
BY
BY@bayuarman·
@fajarnugros punya prasangka baik mbok ya liat2 juga track recordnya gimana 😒
Indonesia
0
0
11
904
bond.joker
bond.joker@Wahyu_on7·
@InterBatMan @The_RedsIndo Mana ada bukan kapasitas manusia biasa, smua manusia bisa melakukan itu dgn berlatih dan kegigihan kemauan.
Indonesia
1
1
1
596
The Reds Indonesia
The Reds Indonesia@The_RedsIndo·
Dulu mikir apa yang dilakukan sama Ronaldo dan Messi itu normal. Bahkan dijadikan standar. 50+ gol dalam semusim dan gol ga masuk akal yang sekarang udah jarang diliat. Tumbuh dewasa, akhirnya sadar kalo mereka berdua main di luar kapasitas manusia biasa.
Indonesia
284
1.5K
10.4K
479.5K
BY retweetledi