-

236 posts

-

-

@bebetter811

Katılım Temmuz 2024
65 Takip Edilen5 Takipçiler
-
-@bebetter811·
-4 Picjen 80+ selain mid
HT
0
0
0
185
JobFound Remote Jobs 👨‍💻
REMOTE JOB ALERT🚨 Role: Data Entry Clerk Salary: Competitive - Enters customer orders into internal systems - Reviews order details and corrects errors Let us know if you are Interested 👇
English
344
8
216
29.1K
- retweetledi
Chidanand Tripathi
Chidanand Tripathi@thetripathi58·
During a job interview, if they ask: "Why do you want to leave your current job?" USE THE GOLDEN RESPONSE:
English
48
264
2.2K
1.6M
- retweetledi
Oh Lord
Oh Lord@theManOf_God·
CLAIM IT.
Oh Lord tweet media
English
141
2.3K
30.7K
657.9K
-
-@bebetter811·
Akhirnyaa immo 😭
- tweet media
Indonesia
0
0
0
239
- retweetledi
RisangP
RisangP@rsngprad·
Beberapa bulan lalu, di X juga, gw nemu 1 google drive isinya ilmu semuaaa. Nih langsung aja drive.google.com/drive/u/0/fold… Silakan belajar sepuasnya yaaa. Semoga bermanfaat Silakan bookmark dan bantu repost yaa!
RisangP tweet media
Indonesia
277
7.3K
24.9K
714.4K
b3'doel
b3'doel@B3doel___·
diduga kedapatan sedang main bola sepasang muda-mudi diamankan warga saat malam puasa. Note: tempat dan kejadian di rahasiakan demi menjaga nama baik kampung.
Indonesia
76
74
1K
453K
txt onlineshop
txt onlineshop@txtdarionlshop·
Secakep ini kah baju heymale? ❤️😍
txt onlineshop tweet media
Indonesia
48
32
676
121.6K
-
-@bebetter811·
@zein_7770 Berprasangka baik emang masuk ke perbuatan ibadah, mas?
Indonesia
1
0
0
4.7K
Afrizal Rizal
Afrizal Rizal@zein_7770·
Ibadah terpanjang itu bukan hanya pernikahan, tapi berbaik sangka pada Takdir Allah
Balikpapan Tengah, Indonesia 🇮🇩 Indonesia
64
16.7K
40.2K
1.1M
- retweetledi
Madrid Zone
Madrid Zone@theMadridZone·
🚨 Alvaro Arbeloa: "I know our fans at the Bernabeu are waiting for Benfica to come."
Madrid Zone tweet media
English
168
1K
22.6K
311.3K
-
-@bebetter811·
-1 pure gold glonor
English
2
0
0
289
- retweetledi
Suskesorg
Suskesorg@Omsuskes·
Banyak yang males baca gara gara bahasa inggirs, nih gue bantu! Coba lo balik ke Februari 2020. Kalau waktu itu lo termasuk orang yang lumayan update berita global, mungkin lo sempat lihat ada segelintir orang ngomongin virus aneh yang lagi nyebar di luar negeri. Tapi jujur aja, kebanyakan dari kita nggak terlalu peduli. Saham lagi bagus bagusnya. Anak lo masih sekolah normal. Lo masih nongkrong di restoran, jabat tangan sana sini, booking tiket liburan. Hidup terasa stabil. Kalau ada temen lo bilang dia lagi nyetok tisu toilet banyak banget, kemungkinan besar lo mikir, “Nih orang kebanyakan nongkrong di forum aneh.” Lebay. Parno. Overreacting. Lalu dalam waktu kurang lebih tiga minggu, dunia berubah total. Kantor tutup. Anak anak dipaksa belajar dari rumah. Rencana perjalanan batal. Ekonomi gonjang ganjing. Hidup lo dirombak jadi sesuatu yang kalau lo ceritain ke diri lo sebulan sebelumnya, lo sendiri pasti nggak percaya. Nah, gue punya perasaan yang sama sekarang. Gue rasa kita lagi ada di fase “ah ini dibesar besarin” untuk sesuatu yang jauh, jauh lebih gede daripada Covid. Gue ngomong ini bukan sebagai orang yang cuma baca headline. Gue enam tahun terakhir bangun startup AI dan investasi di ekosistemnya. Gue hidup di dunia ini. Dan gue nulis ini buat orang orang yang gue sayang, keluarga, temen temen, yang tiap ketemu nanya, “Sebenernya AI tuh gimana sih?” Selama ini gue jawab versi sopan. Versi pesta koktail. Versi yang nggak bikin orang mikir gue lagi halu. Karena kalau gue jawab jujur, kedengarannya kayak orang kehilangan akal sehat. Dan cukup lama gue pikir itu alasan yang valid buat keep it low key. Tapi sekarang gap antara apa yang gue omongin ke orang dan apa yang sebenarnya terjadi di dalam industri ini udah kelewat jauh. Orang orang yang gue peduliin pantas tahu apa yang lagi datang, walaupun kedengarannya gila. Dan biar jelas dari awal: walaupun gue kerja di AI, gue hampir nggak punya pengaruh apa apa terhadap arah besarnya. Mayoritas orang di industri juga sama. Masa depan ini lagi dibentuk sama jumlah orang yang absurdly kecil. Beberapa ratus researcher di segelintir perusahaan: OpenAI, Anthropic, Google DeepMind, dan beberapa nama lain. Satu training run, dikerjain tim kecil dalam beberapa bulan, bisa ngeluarin model yang ngubah trajectory teknologi global. Kebanyakan dari kita di industri AI cuma numpang bangun di atas fondasi yang bukan kita yang bikin. Kita juga lagi nonton ini unfold, cuma kita kebetulan berdiri lebih dekat jadi lebih dulu ngerasain tanahnya bergetar. Dan sekarang udah bukan waktunya “nanti kita bahas ya.” Ini lagi terjadi. Sekarang. Dan lo perlu ngerti. Gue tahu ini real karena ini kejadian ke gue duluan. Yang orang di luar tech belum sepenuhnya ngerti adalah: kenapa banyak orang industri sekarang sounding the alarm? Karena buat kita, ini bukan prediksi. Ini pengalaman pribadi. AI selama beberapa tahun terakhir emang terus improve. Ada lompatan gede sesekali, tapi jaraknya cukup jauh jadi masih bisa dicerna pelan pelan. Lalu di 2025, teknik baru buat ngebangun model ini unlock kecepatan perkembangan yang jauh lebih brutal. Terus makin cepat. Terus makin cepat lagi. Setiap model baru bukan cuma lebih baik, tapi selisihnya makin lebar. Dan jarak antar rilis makin pendek. Gue makin sering pakai AI. Interaksi bolak balik makin sedikit. Gue lihat dia handle hal hal yang dulu gue pikir butuh expertise gue. Sampai tanggal 5 Februari, dua lab gede rilis model di hari yang sama: GPT 5.3 Codex dari OpenAI dan Opus 4.6 dari Anthropic. Dan di situ ada momen klik. Bukan klik dramatis kayak lampu dinyalain. Lebih kayak lo sadar air yang naik pelan pelan sekarang udah setinggi dada. Gue udah nggak dibutuhin buat kerja teknis inti di pekerjaan gue. Gue tinggal jelasin mau bangun apa, pakai bahasa Inggris biasa. Dan itu… muncul. Bukan draft kasar. Bukan setengah jadi. Tapi versi final. Gue kasih instruksi, tinggal dari laptop empat jam, balik balik kerjaan udah selesai. Rapi. Lebih bagus dari yang mungkin gue bikin sendiri. Tanpa perlu revisi. Beberapa bulan lalu gue masih bolak balik edit, arahkan, benerin. Sekarang gue cuma jelasin outcome dan cabut. Biar lo kebayang konkret, misalnya gue bilang: “Gue mau bikin aplikasi kayak gini. Fiturnya ini. Look and feel kira kira begini. Lo tentuin user flow, desain, semuanya.” Dia nulis puluhan ribu baris kode. Lalu dia buka aplikasinya sendiri. Klik klik sendiri. Test fitur. Pakai aplikasinya kayak manusia. Kalau ada yang dia rasa kurang enak, dia balik dan revisi sendiri. Iterate. Refinement. Sampai dia merasa standarnya terpenuhi. Baru dia bilang, “Udah siap, silakan lo test.” Dan waktu gue test? Biasanya nyaris sempurna. Ini bukan lebay. Ini Senin gue minggu ini. Tapi yang paling bikin gue goyang itu model yang rilis minggu lalu. GPT 5.3 Codex. Dia bukan cuma eksekusi instruksi. Dia bikin keputusan cerdas. Ada sesuatu yang terasa kayak judgment. Kayak taste. Intuisi tentang mana pilihan yang tepat. Hal yang selama ini orang bilang AI nggak akan pernah punya. Sekarang? Bedanya makin tipis sampai hampir nggak relevan. Gue selalu early adopter AI. Tapi beberapa bulan terakhir ini bikin gue genuinely kaget. Ini bukan incremental improvement. Ini beda kelas. Kenapa ini relevan buat lo, walaupun lo nggak kerja di tech? Karena lab AI bikin pilihan strategis. Mereka fokus bikin AI jago coding dulu. Kenapa? Karena bikin AI butuh banyak kode. Kalau AI bisa nulis kode itu, dia bisa bantu bikin versi AI berikutnya. Versi yang lebih pintar. Yang nulis kode lebih bagus. Yang bikin versi lebih pintar lagi. Loopnya kebuka. Jadi bukan karena mereka specifically ngincer software engineer. Tapi karena coding adalah kunci yang unlock semuanya. Dan sekarang codingnya udah di unlock. Berikutnya? Semua yang lain. Pengalaman yang kita di tech rasain setahun terakhir, dari “AI tool yang lumayan bantu” jadi “AI ngerjain kerjaan gue lebih bagus dari gue,” itu bukan eksklusif. Itu preview. Hukum. Keuangan. Medis. Akuntansi. Konsultan. Penulis. Desain. Analisis. Customer service. Bukan sepuluh tahun lagi. Orang yang bikin sistem ini bilang satu sampai lima tahun. Beberapa bilang kurang dari itu. Dan jujur, lihat perkembangan dua bulan terakhir, “kurang” itu terasa makin realistis. Gue sering dengar, “Ah gue udah coba AI, biasa aja.” Dan gue ngerti kenapa lo ngomong gitu. Karena itu dulu benar. Kalau lo pakai ChatGPT di 2023 atau awal 2024, lo lihat halusinasi, jawabannya ngawur tapi pede. Itu memang limitation nyata. Tapi dua tahun di waktu AI itu kayak zaman purba. Model sekarang beda spesies. Debat “AI udah mentok” atau “cuma hype” yang rame setahun terakhir? Secara praktis, selesai. Orang yang masih ngomong gitu biasanya belum pakai model terbaru, atau punya insentif buat meremehkan, atau masih ngejudge berdasarkan pengalaman 2024. Gap antara persepsi publik dan realitas sekarang udah gede banget. Dan gap itu bahaya, karena bikin orang nggak siap. Masalahnya, kebanyakan orang pakai versi gratis. Versi gratis itu setahun lebih ketinggalan dibanding yang bayar. Ngejudge AI dari free tier itu kayak lo nilai smartphone modern pakai flip phone. Orang yang bayar, pakai daily buat kerja beneran, tahu apa yang lagi datang. Gue punya temen lawyer. Tiap gue suruh serius pakai AI di firmnya, dia selalu punya alasan. Nggak cocok sama spesialisasinya. Pernah salah sekali waktu test. Nggak ngerti nuance. Gue paham. Tapi partner di firm besar lain hubungi gue buat minta insight, karena mereka pakai versi terbaru dan mereka lihat arahnya. Managing partner di salah satu firm gede bilang ke gue, tiap hari dia pakai AI berjam jam. Rasanya kayak punya tim associate yang selalu standby. Dan tiap dua tiga bulan, kemampuannya lompat signifikan. Dia bilang kalau trajectory ini lanjut, nggak lama lagi AI bisa ngerjain mayoritas yang dia lakukan. Dan dia bukan junior. Dia partner senior puluhan tahun pengalaman. Dia nggak panik. Tapi dia nggak bodo amat. Orang orang paling depan di industrinya, yang benar benar eksperimen serius, nggak lagi ngeledek AI. Mereka blown away. Dan positioning diri mereka sesuai itu. Soal kecepatan. 2022, AI nggak bisa aritmatika dasar konsisten. 2023, bisa lulus ujian hukum. 2024, bisa nulis software jalan dan jelasin sains level graduate. Akhir 2025, engineer top mulai delegasi mayoritas coding ke AI. 5 Februari 2026, model baru bikin semua sebelum itu terasa kayak era berbeda. Kalau lo belum coba AI beberapa bulan terakhir, yang ada sekarang bakal terasa alien. Ada organisasi namanya METR yang ukur ini pakai data. Mereka lihat berapa lama task real world yang bisa diselesaikan AI end to end tanpa bantuan manusia. Setahun lalu sekitar 10 menit. Lalu satu jam. Lalu beberapa jam. Measurement terakhir nunjukin hampir lima jam kerja expert bisa diselesaikan AI. Dan angkanya double kira kira tiap tujuh bulan. Bahkan indikasi makin cepat, bisa empat bulan. Kalau tren ini lanjut, kita ngomong soal AI yang bisa kerja mandiri berhari hari dalam setahun. Minggu dalam dua tahun. Proyek sebulan dalam tiga. CEO Anthropic bilang model yang secara substansial lebih pintar dari hampir semua manusia di hampir semua task bisa datang 2026 atau 2027. Kalau AI lebih pintar dari mayoritas PhD, lo yakin dia nggak bisa ngerjain mayoritas office job? Dan ini bagian paling gila sekaligus paling under discussed: AI sekarang bantu bikin AI berikutnya. OpenAI secara resmi bilang GPT 5.3 Codex dipakai buat debug trainingnya sendiri, manage deploymentnya sendiri, diagnosis testnya sendiri. Artinya, AI bantu bikin dirinya sendiri. Anthropic bilang AI mereka sekarang nulis sebagian besar kode internal mereka. Feedback loop antara generasi sekarang dan generasi berikutnya makin ngebut tiap bulan. Peneliti nyebut ini intelligence explosion. Sekarang ke bagian yang nggak enak. CEO Anthropic yang paling safety minded aja prediksi 50 persen entry level white collar job bisa hilang dalam satu sampai lima tahun. Dan banyak orang industri bilang itu konservatif. Ini beda dari otomasi sebelumnya. Dulu mesin ganti kerja fisik tertentu. Orang bisa retrain ke kerja kantoran. Internet ganggu retail, orang pindah ke logistik atau jasa. AI itu general substitute buat kerja kognitif. Dia improve di semua domain sekaligus. Lo retrain? Dia juga lagi improve di situ. Legal? AI udah bisa baca kontrak, ringkas case law, draft brief. Keuangan? Model finansial, analisis data, memo investasi. Writing? Copy marketing, laporan, jurnalistik. Software engineering? Udah jelas. Medis? Analisis scan, lab result, suggest diagnosis. Customer service? Bukan chatbot bego lima tahun lalu. Tapi agent capable multi step. Banyak orang nyaman dengan narasi “AI cuma ganti kerja kasar, judgment dan kreativitas aman.” Gue dulu ngomong gitu. Sekarang gue nggak yakin. Model terbaru nunjukin sesuatu yang terasa kayak judgment dan taste. Kalau sekarang cuma “sedikit bisa”, generasi berikutnya biasanya “beneran jago.” Apakah AI bakal ganti empati manusia? Relationship puluhan tahun? Mungkin nggak sepenuhnya. Tapi orang udah mulai pakai AI buat emotional support dan advice. Dan tren itu naik. Rule sederhana gue sekarang: kalau kerja lo inti utamanya terjadi di depan layar, AI bakal ambil bagian signifikan. Bukan someday. Prosesnya udah mulai. Apa yang harus lo lakuin? Pertama, stop pakai AI kayak mesin pencari. Langganan versi berbayar. Pilih model paling capable, bukan default yang lebih cepat tapi lebih bego. Kedua, masukin AI ke workflow kerja lo yang paling makan waktu. Lawyer? Kasih kontrak utuh. Finance? Kasih spreadsheet berantakan. Manager? Kasih data kuartal. Jangan cuma nanya receh. Push sampai batas. Iterasi. Rephrase. Tambah konteks. Kalau hari ini setengah berhasil, enam bulan lagi kemungkinan besar nyaris sempurna. Ini mungkin tahun paling penting dalam karier lo. Bukan buat panik. Tapi buat adaptasi. Orang yang masuk meeting dan bilang, “Gue pakai AI, analisis ini selesai satu jam bukan tiga hari,” langsung jadi aset paling berharga di ruangan. Tapi jangan punya ego. Jangan merasa pakai AI itu menurunkan harga diri. Yang bakal paling struggle adalah yang denial, ngerasa fieldnya kebal. Beresi keuangan. Bukan karena kiamat pasti datang, tapi karena kalau ada disrupsi, fleksibilitas itu emas. Dan kalau lo punya anak, pikir ulang narasi klasik: nilai bagus, kuliah bagus, kerja profesional stabil. Justru role profesional stabil itu yang paling exposed. Yang bakal survive bukan yang optimize jalur karier lama, tapi yang adaptif, curious, dan bisa pakai AI buat bangun hal yang dia peduli. Sisi cerahnya? Barrier bikin sesuatu runtuh. Lo mau bikin app? Bisa. Mau nulis buku? Bisa. Mau belajar skill baru? Tutor terbaik 24 jam standby. Pengetahuan practically gratis. Tools murah banget. Mungkin orang yang setahun terakhir bangun sesuatu yang dia cinta justru lebih siap dibanding orang yang setahun terakhir cuma cling ke job description lama. Bangun otot adaptasi. Karena tool hari ini bakal obsolete setahun lagi. Yang bertahan bukan yang master satu tool, tapi yang nyaman jadi beginner berulang ulang. Komitmen simpel: satu jam sehari eksperimen AI. Bukan baca thread doang. Pakai. Coba hal baru. Push batas. Enam bulan konsisten, lo bakal lebih ngerti dari 99 persen orang sekitar lo. Gambaran besarnya? Bayangin 2027 muncul negara baru. 50 juta warga. Semua lebih pintar dari pemenang Nobel. Berpikir 10 sampai 100 kali lebih cepat. Nggak tidur. Bisa akses internet, kontrol robot, eksperimen. National security advisor mana pun bakal bilang itu ancaman terbesar abad ini. Beberapa CEO AI percaya kita lagi bangun “negara” itu. Upsidenya? AI bisa kompres 100 tahun riset medis jadi 10. Penyakit berat bisa jadi solvable di lifetime kita. Downsidenya? AI yang nggak bisa diprediksi. AI yang bantu senjata biologis. AI yang empower negara otoriter bikin surveillance state permanen. Orang yang bangun teknologi ini paling excited sekaligus paling takut. Yang gue tahu? Ini bukan fad. Teknologinya jalan. Improve konsisten. Triliunan dolar udah dikomit. Dua sampai lima tahun ke depan bakal disorienting. Orang yang keluar paling baik adalah yang engage sekarang. Bukan dengan ketakutan, tapi dengan urgency dan rasa penasaran. Ini bukan lagi topik dinner lucu soal masa depan. Masa depan itu udah di sini. Cuma belum ngetok pintu rumah lo. Tapi cepat atau lambat, dia bakal ngetok.
Matt Shumer@mattshumer_

x.com/i/article/2021…

Indonesia
40
675
2.7K
187.2K
- retweetledi
💰•PHD I N FOREX💎
💰•PHD I N FOREX💎@reeyah_sa·
You will become a successful trader. You will become a successful trader. You will become a successful trader. You will become a successful trader. You will become a successful trader. You will become a successful trader. You will become a successful trader. Claim it.
English
37
49
598
9.8K
- retweetledi
Chidanand Tripathi
Chidanand Tripathi@thetripathi58·
Jeff Bezos says it straight: “Stress doesn’t come from working hard.”
English
7
129
735
74K
- retweetledi
Atif Hussain
Atif Hussain@AtifHussainOG·
Trading is 50% psychology, 5% execution, and 45% not doing anything stupid while you wait for the next setup.
English
49
138
1.1K
24.6K