SaBilaniera :') retweetledi

Pesta Babi ternyata bikin negara kocar kacir sampe bayar buzer untuk bikin framing baik soal food estate.
Sekarang banyak narasi yang bilang Food Estate Wanam itu bukti kemajuan karena “rawa yg tadinya tidak produktif sekarang jadi sawah.”
Masalahnya, rawa itu bukan tanah kosong dan lahan gak berguna.
Rawa dan hutan punya fungsi penting: menyimpan air, mencegah banjir, menyerap karbon, jadi sumber ikan, sagu, dan tempat hidup masyarakat adat.
Tapi negara melihat “produktif” hanya kalau tanah bisa menghasilkan komoditas besar seperti padi, tebu, atau bioetanol.
Jadi ketika hutan rawa dibuka lalu jadi sawah, itu langsung disebut kemajuan. padahal banyak yg dikorbankan.
Pertanyaannya sederhana:
siapa yang diuntungkan?
dan siapa yang menanggung dampaknya?
Kalau proyek berhasil, keuntungan jatuh ke siapa?
Kalau gagal seperti banyak proyek food estate sebelumnya, siapa yang kehilangan hutan, tanah adat, dan sumber hidupnya?
Makanya kritik terhadap Food Estate Wanam bukan berarti anti pembangunan. Yang dikritik adalah cara berpikir yang selalu menganggap alam dan tanah adat sebagai “lahan kosong” yang bisa dibuka demi proyek negara dan korporasi.




Indonesia


























