Okty Budiati

2.6K posts

Okty Budiati banner
Okty Budiati

Okty Budiati

@bioZvers

"Barangkali, sesuatu yang cerah tidak selalu rawuh kanthi mriyayeni."

Jakarta, Indonesia Katılım Eylül 2021
473 Takip Edilen47 Takipçiler
Sabitlenmiş Tweet
Okty Budiati
Okty Budiati@bioZvers·
Jagad Lêbdajiwa — 3rd Fragment – Opening Formalin Affect: Liturgy of Wounds (14 sec) Music: Antikythera Part I by David @turingcop Roden Digital Illustration & Motion: Okti Budiati
1
1
1
87
Okty Budiati retweetledi
MP10
MP10@MusicPills10·
The Chemical Brothers - Hey Boy, Hey Girl (1999)
English
0
119
411
8.9K
Okty Budiati retweetledi
Boris Blue Eyes
Boris Blue Eyes@RFboris·
Muhahaha!
Boris Blue Eyes tweet media
Constanta, Romania 🇷🇴 Filipino
34
421
2.8K
37.6K
Okty Budiati retweetledi
Astropics
Astropics@astropics·
Moon, Mars and Venus
Astropics tweet mediaAstropics tweet mediaAstropics tweet mediaAstropics tweet media
English
6
213
776
12.4K
Okty Budiati retweetledi
A. L. Crego
A. L. Crego@ALCrego_·
A. L. Crego tweet media
ZXX
7
75
230
3.9K
Okty Budiati retweetledi
Atheist Girl
Atheist Girl@iamAtheistGirl·
“why do you hate god?” why do you hate odin? “i don’t hate odin odin isn’t real”
GIF
English
92
150
1.8K
17.4K
Okty Budiati retweetledi
Massimo
Massimo@Rainmaker1973·
Scientists have detected traces of nuclear activity in the West Philippine Sea. They found higher levels of a radioactive substance called iodine-129 in seawater samples from this area. After testing 119 samples from different parts of Philippine waters, they discovered that iodine-129 levels in the West Philippine Sea were 1.5 to 1.7 times higher than in nearby regions. This isotope is almost always produced by human nuclear activities (like nuclear reactors or old weapons tests), so it acts as a clear sign of nuclear-related processes. Most likely, ocean currents carried it from the Yellow Sea area near China. There, nuclear fuel reprocessing plants and leftover contamination from Cold War-era nuclear tests probably released it into rivers and the ocean, and it traveled hundreds of miles to reach Philippine waters. Good news: the levels are very low and pose no danger to people, fish, or the environment. This discovery shows how connected our oceans are and why countries need to work together to monitor and protect them. It's also a great example of important scientific work being done right here in the Philippines. ["Filipino Scientists Detect Nuclear Signatures Drifting Into West Philippine Sea." Advocates Philippines, 2025]
Massimo tweet media
English
79
920
3K
485.4K
Okty Budiati retweetledi
Natism
Natism@his4Everz·
Natism tweet media
ZXX
1
20
105
1.2K
Okty Budiati retweetledi
Hendri F. Isnaeni
Hendri F. Isnaeni@hendrifisnaeni·
Hari ini, 24 Maret diperingati sebagai Hari Tuberkulosis (TBC) Sedunia. Tanggal ini terkait dengan peristiwa sejarah penting pada 24 Maret 1882, di mana Robert Koch, dokter dan ahli mikrobiologi Jerman, dalam pertemuan bulanan Perhimpunan Fisiologi Berlin, mengumumkan telah menemukan bakteri penyebab penyakit tuberkulosis, yaitu Mycobacterium tuberculosis. Atas penemuannya ini, Koch menerima Hadiah Nobel bidang Kedokteran tahun 1905. Koch menjelaskan dan mengilustrasikan semua bukti ilmiah yang diperoleh dari eksperimen pada hewan di laboratorium untuk identifikasi dan isolasi basil tuberkulosis, serta menunjukkan sifat penularannya dan bagaimana basil tersebut menyebabkan TBC pada manusia. Empat makalah penting kemudian diterbitkan yang mengukuhkan posisinya dalam penemuan ini. Penemuan konsep baru tentang agen eksogen, yaitu penyebab penyakit dari luar tubuh manusia, menantang dan menghancurkan konsep yang saat itu berlaku bahwa semua penyakit berasal dari dalam tubuh. Upaya Koch yang berdedikasi melahirkan generasi "pemburu mikroba" untuk mengidentifikasi dan menghubungkan bakteri tertentu dengan penyakit yang ditimbulkannya. Pada 1884, asisten Koch, Loeffler, dan muridnya, Kaffky, masing-masing mengidentifikasi basil difteri dan tifus. Dalam rentang waktu 30 tahun, dimulai dari tahun 1876, setidaknya 20 patogen bakteri diidentifikasi untuk sejumlah penyakit termasuk gonore, tetanus, pneumonia, dan penyakit-penyakit mematikan pada masa itu. Sebagai penemu agen penyebab penyakit menular mematikan termasuk tuberkulosis, kolera, dan antraks, Koch dianggap sebagai salah satu pendiri bakteriologi modern. Dia bersama Louis Pasteur dijuluki sebagai bapak mikrobiologi, dan bapak bakteriologi medis. Penemuan berikutnya, bakteri antraks (Bacillus anthracis) pada 1876 dianggap sebagai awal mula bakteriologi modern. Koch menggunakan penemuannya untuk menetapkan bahwa kuman "dapat menyebabkan penyakit tertentu" dan secara langsung memberikan bukti untuk teori kuman penyakit, sehingga menciptakan dasar ilmiah kesehatan masyarakat yang menyelamatkan jutaan nyawa. Berkat penemuan-penemuannya, Koch dianggap sebagai salah satu pendiri kedokteran modern.* 🔗historia.id/article/obati-… 📷Robert Koch. (Koleksi NLM/Wikimedia Commons).
Hendri F. Isnaeni tweet media
Indonesia
1
14
25
1.5K