- retweetledi
-
37.8K posts

- retweetledi
- retweetledi

@fearlessbarb13 Iya,karena anak org kaya nikah sama tukang es yg di tabrak itu hanya di ftv sctv
Indonesia
- retweetledi

@fearlessbarb13 Ada pesan seorang tua ke saya waktu membahas tentang pernikahan. Menurut beliau menikah itu bukan hanya menyatukan kedua mempelai. Melainkan juga menyatukan 2 keluarga, dari latar belakang yang berbeda. Hal ini masih saya ingat sampai hari ini.
Indonesia
- retweetledi
- retweetledi

@MiskinTV_ @0tk0il LC Cygnus designnya bagus, walaupun banyak yang benci dan prefer versi dieselnya

Indonesia
- retweetledi

- retweetledi

@MiskinTV_ Itu pelecehan, laki laki juga berhak nuntut dan marah. Marah lah. Jangan cuma ngomong klo di balik klo di balik doang. Cowo cewe sama aja klo sudah begini ya namanya pelecehan.
Indonesia
- retweetledi

@MiskinTV_ Dikira pelaku KS hanya laki-laki, ternyata wanita juga banyak. Hanya saja terlindungi secara gender.
Indonesia
- retweetledi

Hmmm...
Kayaknya dari kecil saya memang sudah terpapar dengan hal tersebut dari majalah, game dan film di tv.
Akses ke hal tersebut memang mudah banget karena dulu ada aja temen saya yang nemu majalah dewasa punya bapaknya dan dibawa ke sekolah, atau main game yang temanya dewasa, dan nonton film lewat televisi kabel yang ternyata ada adegan dewasanya, belum lagi akses ke warnet yang sama sekali tidak dibatasi.
Kalo dibandingin, mungkin sekarang malah lebih parah. Di Instagram, TikTok dan X udah gampang banget menemukan konten softcore.
Pola asuh ortu saya itu strict, tapi fair. Mereka golongan akademis dengan gelar tinggi dan selalu mengutamakan pendidikan dan membiasakan saya gemar membaca, menonton film dan mendengarkan musik sejak kecil untuk memperluas wawasan saya. Selama saya memenuhi permintaan mereka dan menjauhi larangannya, kemungkinan besar saya bisa diberikan apa yang saya mau.
Kebetulan saya memang dulu lumayan aktif berorganisasi dan beraktivitas di sekolah. Semua hal saya jalani dari kecil dari mulai les renang, les piano, les sempoa, les bahasa inggris, eskul pencak silat, eskul futsal, eskul basket, ikut paskibra, dan main band. Di SMP saya tergolong anak yang selalu masuk ranking 5 besar, beberapa kali ikut lomba sains, dan juga aktif di kepengurusan osis atau kepanitiaan lainnya.
Jadi dengan segala pencapaian saya, orang tua saya mengabulkan beberapa permintaan saya seperti membelikan komputer, membelikan PS 2, dan memasang TV kabel Indovision dirumah, dan lumayan membebaskan saya bermain hingga sore ketika sudah pulang sekolah (karena biasanya memang ada eskul atau aktivitas lainnya seperti les).
Sekolah saya saat itu lumayan strict dan menanamkan nilai-nilai keagamaan. Tapi, ya namanya sekolah pasti ada aja anak-anak nakalnya. Dan kebetulan beberapa anak-anak yang nakal di sekolah saya memang yang juga masuk ranking dan berprestasi. Jadinya, bersama merekalah saya belajar banyak hal yang positif dan negatif.
Mungkin rasa ingin tahu saya saja yang lumayan besar, dan eksploratif dalam berbagai hal. Sebenarnya bagus, namun berbahaya bila tidak diberi batasan. Mungkin orang tua dan sekolah saya yang tidak pernah sadar karena selama ini saya anak baik dan teladan di depan mereka.
Dan yang paling berbahaya mungkin karena tidak pernah ada edukasi seksual dari orang tua dan sekolah saya. Keduanya menganggap bahwa semua topik soal seks adalah tabu dan tidak pernah dibahas sedikit pun, walaupun menyangkut soal edukasi.
Menurut saya ini penting, dan memang harus diajarkan secara bertahap sejak dini. Saya merasakannya sendiri kok. Karena tidak pernah diberi batasan, makanya saya kelewat batas.
Belajar dari pengalaman saya, saya menyarankan kepada orang tua terutama di zaman yang serba terkoneksi saat ini untuk selalu bisa memfilter informasi yang masuk kepada anak. Jaman sekarang harusnya lebih gampang. Kalo nonton bioskop aja sekarang ada peringatan untuk nonton sesuai usia, jaman dulu mana ada? Gadget dan internet pun sekarang sudah bisa mode restricted untuk anak, dulu jaman saya masih ke warnet mana mungkin bisa?
Juga, mulai secara bertahap edukasi tentang seksualitas, baik itu sexual identity dan sexual attraction. Saya melihat bahwa masa pubertas adalah sebuah turning point banyak orang dalam menemukan identitas dan ketertarikan seksualnya. Sebagai contoh, banyak orang yang akhirnya memutuskan dia gay karena suatu pengalaman di masa pubertasnya. Dan yang lebih penting adalah mempersiapkan anak apabila seks itu terjadi, potensi kehamilan dan penyakit seksual. Utamanya memang objektifnya agar anak tidak melakukan seks di usia dini, tapi jika memang itu terjadi alangkah baiknya mereka mengerti dampaknya.
Sekian, bu. Semangat ya mengurus anaknya! It's never an easy job being a mom!
Indonesia
- retweetledi

@ChrisWibisana Yap. Baju adat tidaklah salah. Tapi, idealisme penjara yang terbangun saat ini adalah memperingati Kartini sebatas mengenakan baju adat yang dibelokkan menjadi fashion show ala-ala Kartini.
Indonesia
- retweetledi

@VikirBaskervl @steroid_druid Harusnya skripsi tidak wajib malah mending banyakin tuh praktek alias entha magang atau pkl (bagi s1) agar mahasiswa tidak harus buat akripsi
S2 dipecah jadi yg memang lewat thesis atau yg cuma pelajaean doang
S3 yg wajib disertasi
Indonesia
- retweetledi

Tidak ada skripsi yang layak diperjuangkan mati-matian.
Riset, skripsi atau apalah namanya itu tak sesakral itu sampai layak untuk mengorbankan kesehatan, bahkan nyawa.
Dosen pun harus sadar, skripsi sejatinya hanya tugas akhir bagi mahasiswa, skripsi tak perlu sempurna, karena sebaik-baiknya skripsi adalah yang selesai.

Indonesia
- retweetledi
- retweetledi
- retweetledi
- retweetledi

🚨 FUN FACT: Wayne Rooney permah menolak kesempatan bermain untuk Real Madrid pada tahun 2011 setelah Cristiano Ronaldo mendesaknya untuk mengikuti jejaknya.
Tahun itu ia berada di peringkat ke-5 Ballon d’Or, hanya di belakang Messi, Xavi, Cristiano, dan Iniesta.
Anak-anak zaman sekarang tidak akan pernah tahu betapa hebatnya dia sebenarnya 🔝

Indonesia
- retweetledi

@LambeSahamjja itulah mengapa aku nikah di usia 29 thn, usia yg katanya kolot buat perempuan menikah. dulu temen byk yg meremehkan. nanya kapan nikah, knp blm nikah. giliran skrg, aku lg menikmati indahnya pernikahan eh mereka udh pd sibuk curhatin kekurangan pasangannya 🫣

Indonesia
- retweetledi

@LambeSahamjja So TL DR IMO buat laki: Jadi suami jangan cuma cari duit terus selesai, tapi jadi Ayah dan Qawwam yang juga bisa mengakomodasi impian istri.
Indonesia
- retweetledi

Guys, Bu Rani Anggrini Dewi konselor pernikahan 25 tahun lebih, sudah menikah 44 tahun bilang sesuatu yang menurut gua adalah penjelasan paling nyesek yang pernah gua dengar tentang kenapa banyak perempuan menyesal setelah menikah.
Dan ini bukan opini.
Ini dari orang yang setiap hari duduk berhadapan dengan pasangan-pasangan yang pernikahannya sedang hancur.
Jawabannya satu kalimat
mereka masuk ke pernikahan
tanpa tahu siapa diri mereka sendiri.
Dan begitu mereka masuk
semua yang membentuk identitas mereka sebelumnya karir, mimpi, ambisi,
pengembangan diri pelan-pelan hilang.
Bukan karena dirampas.
Tapi karena struktur pernikahan
yang mereka masuki memang tidak dirancang
untuk menampung itu semua.
Bu Rani bilang polanya sangat konsisten dari ribuan kasus yang dia tangani.
Perempuan menikah.
Anak lahir.
Semua fokus beralih ke peran sebagai ibu dan istri.
Pengembangan diri berhenti.
Dan di suatu titik entah dua tahun kemudian atau sepuluh tahun kemudian mereka bangun dan bertanya siapa saya sekarang?
Saya sudah S1,
saya pernah kerja,
saya punya mimpi.
Sekarang saya cuma masak
ngurus anak, dan menunggu suami pulang.
Dan yang membuat ini sistemik dan bukan hanya nasib buruk individu adalah satu fakta yang Bu Rani sebut dengan sangat tegas orang tua Indonesia sekarang sudah sadar untuk menyiapkan anak perempuannya.
Mereka kirim ke universitas terbaik.
Dorong untuk berkarir.
Ajarkan untuk mandiri secara finansial.
Tapi mereka lupa menyiapkan anak laki-lakinya.
Hasilnya adalah collision yang tidak bisa dihindari. Perempuan yang sudah berkembang menikah dengan laki-laki yang masih membawa mindset bahwa suami harus dilayani, urusan rumah tangga dan anak adalah urusan istri, dan suami harus selalu lebih tinggi dari istri dalam segala hal.
Dua orang dengan level perkembangan yang sangat berbeda masuk ke satu institusi.
Dan perempuannya yang selalu diminta untuk menyesuaikan diri ke bawah bukan laki-lakinya yang didorong untuk naik ke atas.
Dan ini yang paling menyakitkan dari seluruh cerita ini. Banyak perempuan yang menyesal bukan karena suaminya jahat.
Bukan karena pernikahannya penuh kekerasan.
Tapi karena perlahan-lahan tanpa ada satu momen dramatis yang bisa ditunjuk sebagai titik balik mereka kehilangan diri mereka sendiri.
Dan begitu mereka sadar bahwa yang hilang itu tidak bisa dikembalikan oleh siapapun termasuk oleh suami yang mencintai mereka itulah penyesalan terdalam yang Bu Rani temui dalam kasusnya setiap hari.
perempuan yang menyesal setelah menikah bukan perempuan yang salah pilih pasangan.
Mereka adalah perempuan yang masuk ke struktur yang tidak pernah dirancang untuk menampung mimpi mereka.
Dan selama struktur itu tidak berubah selama anak laki-laki tidak disiapkan dengan cara yang sama dengan anak perempuan angka penyesalan itu tidak akan turun.

Indonesia






