Moh. Adri Alif Wansyah

41.3K posts

Moh. Adri Alif Wansyah banner
Moh. Adri Alif Wansyah

Moh. Adri Alif Wansyah

@bruww

Romanista | Local Shoutcaster | Tweeting in bilingual

Nomaden. Indonesia. Katılım Haziran 2009
816 Takip Edilen941 Takipçiler
Sabitlenmiş Tweet
Moh. Adri Alif Wansyah
While people believe what they want to believe, I kind of believe what I needed to believe. Period.
English
0
0
0
0
Moh. Adri Alif Wansyah retweetledi
Ibrahim Arief
Ibrahim Arief@ibamarief·
Ini Ibam, bicara sendiri agar Ririe terlindungi. Betul, ketika belum jadi tersangka, saya dapat ancaman: buat pernyataan "mengarah ke atas" kalau tidak kasusnya "akan diperluas". Saya tolak, ngga mau bohong & zalim. Tiga minggu kemudian, saya jadi tersangka. Saya tolak bukan untuk lindungi Nadiem, tapi karena memang ngga pernah ada arahan dari Nadiem ke saya agar pengadaannya jadi Chromebook semua. Seperti yang terungkap dari 22x sidang, tidak ada sama sekali arahan dari atas seperti itu. Saya hanya diminta memberi masukan netral dan objektif sebagai konsultan. Artinya, ketika menerima ancaman tersebut saya dihadapkan ke dua pilihan: Berbohong mengarang cerita menuduh orang lain untuk menyelamatkan diri sendiri. Atau, berpegang kepada integritas, kejujuran, dan kebenaran yang saya yakini, dan menolak untuk berbohong. Dengan shalat istikharah dan kesadaran penuh akan risikonya, saya memilih jalan yang kedua: kejujuran. Insya Allah selalu berpegang pada kejujuran akan berujung pada kebaikan untuk saya, Ririe, dan keluarga kecil kami. Kalau tidak di dunia, maka di akhirat kelak. Lalu jawabannya apa ketika saya menolak untuk berbohong? "Oke, kami perluas.” Saya tidak berdaya. Ya Allah, apa lagi yang bisa kami lakukan ketika dihadapkan pada pilihan seperti itu? Pegangan kami hanya prinsip integritas dan kejujuran. Ketika konsekuensinya beberapa minggu kemudian saya dinyatakan tersangka, kami hanya bisa memperbanyak istighfar dan ikhtiar. Kami jalani dan hormati proses hukum yang ada dengan tabah, kami berniat jelaskan di persidangan fakta-fakta yang membuat terang, kami masih percaya dengan hukum Indonesia. Mungkin ngga banyak yang tahu, tapi Ririe istri saya adalah seorang sarjana dan magister hukum. Di Belanda dulu kami banting tulang nabung dan berhemat banyak, supaya bisa bayar uang kuliah S2 Ririe. Dari Ririe, saya belajar banyak tentang hukum Indonesia, apa saja yang mungkin terjadi, dan bagaimana hukum kita tetap memungkinkan pembelaan yang efektif. Baik, mari berjuang di persidangan, luruskan seluruh tuduhan. Satu persatu fakta di persidangan muncul dengan terang benderang, satu persatu tuduhan bisa kami bantah. Sampai akhir rangkaian sidang, 57 orang saksi dihadirkan, tidak ada bukti saya menerima keuntungan dari perkara ini, tidak ada bukti masukan saya karena konflik kepentingan, tidak ada bukti saya mengarahkan. Yang terungkap malah saya sebagai konsultan sudah menyarankan Chromebook diuji dulu, pejabat menolak pengujian dan memutus Chromebook, nama saya dicatut di SK, masukan saya dipelintir. Kami merasa pembelaan hukum kami sudah maksimal, kebenaran sudah terungkap, tinggal menumpu harapan pada keadilan dan kebijaksanaan dari majelis hakim yang mulia, yang kami merasa sudah sangat objektif dan penuh kearifan sepanjang persidangan. Namun, ketika JPU menyebutkan tuntutan 15 tahun penjara, denda Rp1 miliar, uang pengganti Rp16,9 miliar subsider 7,5 tahun penjara tambahan... Ini titik kezaliman yang sangat terang benderang, tekanan kepentingan yang sangat kentara, saya memutuskan pembelaan saya tidak lagi bisa hanya di persidangan. Besok saya akan sidang pembelaan (pleidoi) dan kami bersurat kepada Presiden @prabowo Subianto serta @KomisiIII DPR, untuk memohon perlindungan hukum dari kriminalisasi, ketidakadilan, intimidasi, serta pengkambinghitaman yang sudah sekentara ini. Kami takut untuk bicara? Takut ada intimidasi lain? Itu risiko yang jelas, tapi kami tidak gentar. Tuntutan 22,5 tahun dan belasan miliar yang tidak mampu kami bayar mungkin dianggap akan membuat kami terdiam, tapi kami malah semakin berani untuk melawan kriminalisasi ini. Mohon bantuan, dukungan, dan perlindungannya dari masyarakat Indonesia, dari pekerja kreatif dan pekerja pengetahuan, serta dari semua yang ingin bantu negara atau takut dizalimi negara. Kami berjuang bukan untuk kami sendiri, tapi agar tidak ada lagi kriminalisasi dan ketakutan bagi mereka yang tulus mau bantu Indonesia. Kami masih percaya Indonesia bisa menjaga dan menghadirkan keadilan dalam kasus kami.
Ibrahim Arief tweet media
Tom Wright@TomWrightAsia

UPDATE: Ibrahim Arief (Ibam) — the tech consultant facing 15 years — just told a press conference he was coerced to turn on Nadiem but refused to do so. In 30 years, the playbook hasn’t changed. A deeply corrupt legal system used to intimidate and coerce ordinary Indonesians.

Indonesia
372
8.5K
12K
723.5K
Moh. Adri Alif Wansyah
Salah satu peer punya toddler adalah, beliau menggigiti semua pisang yang beliau temukan, segigit aja. Berarti papanya yang habiskan. Lebaran ini saya kenyang pisang☺️
Indonesia
0
0
0
20
Moh. Adri Alif Wansyah retweetledi
Satyam Eva Jayate!!!
Satyam Eva Jayate!!!@PaltiHutabarat·
Gambar 1. Teror Kepala Anjing di Rumah Orang Tua Saya pagi ini. Gambar 2 dan 3. Teror Kepala Babi dan Tikus Kepala Dipenggal Untuk Bocor Alus Tempo. Gambar 4. Ayam dipotong Kepala di rumah DJ Donny. Kenapa kritik selalu direspon dengan teror?!
Satyam Eva Jayate!!! tweet mediaSatyam Eva Jayate!!! tweet mediaSatyam Eva Jayate!!! tweet mediaSatyam Eva Jayate!!! tweet media
Indonesia
366
8.8K
21.1K
576.2K
Moh. Adri Alif Wansyah retweetledi
Cats with Aura 😺
Cats with Aura 😺@catwithaura·
Cat realising that it was licking its owners leg and not its own paw
English
19
736
13.7K
452.5K
Moh. Adri Alif Wansyah retweetledi
insane dms
insane dms@insanedms·
insane dms tweet media
ZXX
30
399
12.1K
253.8K
Moh. Adri Alif Wansyah
@AldiansahIhsan Setau saya hybrid lifesteal berarti spellvamp dan basic attack lifesteal, tanpa peduli base damagenya magic atau physical. Contoh sederhana, Harith pakai war axe patch nanti akan tetap dapat lifesteal dari skill dan basic attack.
Moh. Adri Alif Wansyah tweet media
Indonesia
2
0
0
293
quixote_d_luffy
quixote_d_luffy@AldiansahIhsan·
@xcalibur_ml Kalo hybrid lifesteal, spell vamp juga dapet ga sih? Atau cuma physical dan magic lifesteal?
Indonesia
2
0
1
1.3K
Xcalibur
Xcalibur@xcalibur_ml·
War Axe Buff in the Latest Advance Server Patch!!
Xcalibur tweet media
English
24
6
212
19.9K
Moh. Adri Alif Wansyah
Indonesian MLBB players really need more PR training and learn basic English. It’s been seven international tournaments now, but their interviews are still not very entertaining to watch.
English
0
0
0
25
Moh. Adri Alif Wansyah retweetledi
Massimo
Massimo@Rainmaker1973·
🚨 Confirmed: Schizophrenia’s “voices” are the brain mishearing its own thoughts. For decades, neuroscientists have theorized that the "voices" heard by individuals with schizophrenia stem from the brain mistaking its own inner dialogue for external sounds. A groundbreaking study from the University of New South Wales has now provided direct evidence supporting this hypothesis through brainwave analysis. Using electroencephalography (EEG) to monitor the brain’s electrical activity, researchers examined how individuals process their internal speech. Typically, when we speak—aloud or silently—the brain anticipates the sound of our voice and temporarily suppresses activity in the auditory cortex, the area responsible for processing external sounds, to differentiate self-generated thoughts from external stimuli. However, in people experiencing auditory hallucinations, this predictive mechanism malfunctions. The study involved 142 participants, including those with schizophrenia who recently experienced hallucinations, others with the condition but no recent hallucinations, and a control group without a diagnosis. Participants were instructed to mentally say “bah” or “bih” while hearing these sounds through headphones. In those who heard voices, a striking pattern emerged: their brains showed heightened activity in the auditory cortex when their imagined speech matched the external sound, rather than suppressing it as expected. This suggests the brain was processing internal thoughts as if they were external voices. This sensory misclassification sheds light on why hallucinated voices feel vividly real, revealing them as a neurological error rather than mere imagination. The findings not only deepen our understanding of schizophrenia but also pave the way for earlier detection of psychosis, potentially enabling more timely and effective treatments. ["Corollary Discharge Dysfunction to Inner Speech and its Relationship to Auditory Verbal Hallucinations in Patients with Schizophrenia Spectrum Disorders." Schizophrenia Bulletin, 21 October 2025]
Massimo tweet media
English
117
506
3.8K
283.4K