cei

35.3K posts

cei banner
cei

cei

@candledreamies

#DREAMIES

dream zone Katılım Kasım 2019
2.7K Takip Edilen1.9K Takipçiler
Sabitlenmiş Tweet
cei
cei@candledreamies·
gw akan ngetik kangen disini ketika merasa kangen
Indonesia
6
0
0
87
cei
cei@candledreamies·
kgn padahal baru ketemu
Indonesia
0
0
0
5
cei
cei@candledreamies·
gw akan ngetik kangen disini ketika merasa kangen
Indonesia
6
0
0
87
cei retweetledi
Ocip
Ocip@oosheep_·
Pulang, beresin rumah, lalu tanpa sengaja lihat Mama masih pakai sajadah setipis itu. Aku bilang, “Ma, kok masih pakai yang ini? Nggak sakit lututnya? Aku kan sudah beliin yang tebal dan empuk…” Mama cuma jawab pelan, “Gapapa, Kak. Itu seserahan dari Ayah waktu nikahan dulu.” Aku diam. 🥹 Ternyata 30 tahun berlalu, tapi hatinya masih sama. Setia bukan cuma soal bertahan, tapi soal menjaga kenangan, menghargai pemberian, dan merawat cinta dengan cara yang paling sederhana.
Ocip tweet mediaOcip tweet media
Indonesia
219
1.3K
14.9K
509.3K
cei retweetledi
ᴄᴀʀᴏʟɪɴᴇ
ᴄᴀʀᴏʟɪɴᴇ@anythingforlmk·
Mark is really extremely fine
ᴄᴀʀᴏʟɪɴᴇ tweet media
English
1
4K
12K
75.3K
cei retweetledi
lnwmark every day i pray and cry
mr.rem😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭
lnwmark every day i pray and cry tweet medialnwmark every day i pray and cry tweet medialnwmark every day i pray and cry tweet media
English
25
11.6K
34.4K
346.2K
cei retweetledi
݁
݁@emosteroid·
🏙
QME
20
11.2K
42.6K
414.3K
cei retweetledi
ON || NCT MENFESS
ON || NCT MENFESS@nct_menfess·
nct! gambar videonya adem tapi SUARANYA JISUNG YG BIKIN LEBIH ADEM
Indonesia
0
245
1.2K
9.8K
cei retweetledi
val💫
val💫@valzzi_zzz·
jisung didewasakan oleh keadaan🥺 🐹 : aku gasedih kok guysss. memang di dunia ini ada banyak hal yang menyedihkan, tapi banyak juga hal yang menyenangkan.
Indonesia
15
1.7K
6.9K
51K
Tarooo
Tarooo@scc_yrr·
@unsoedmfs Metode penelitian sosial masih ngga nder
Indonesia
1
0
0
78
UNSOEDFESS | BASE UNSOED
jends siapa tau kalo ada yg butuh atau minat buku buku jual murah aja rep yaa btw koleksi pribadi semua
UNSOEDFESS | BASE UNSOED tweet media
Indonesia
3
0
5
1.6K
cei
cei@candledreamies·
@lailanhd_ kak maaf cek dm ya😭
Indonesia
1
0
0
14
Gargamel
Gargamel@lailanhd_·
Infokan camilan yg diet tepung friendly 😭☝️
Indonesia
1
0
0
39
cei
cei@candledreamies·
@cassacsnv kakk cek dm heheh
Indonesia
0
0
0
5
cassa
cassa@cassacsnv·
kemaren sempro ada yg keliruuu nyampeinnya ih, anxiety bgt sampe rumah. mereka diem aja si tp pasti ada yg notice. kenapa gue selalu cemas tiap abis interaksi sama org ya😭
Indonesia
1
0
0
18
UNSOEDFESS | BASE UNSOED
jends sender pgn liat jualan kalian dong apa ajaa tawarin yaa thank u
Indonesia
16
0
3
2.4K
cei retweetledi
지대세★띵
지대세★띵@myfebfifth·
jisung is so 𝓃𝒶𝓂𝒿𝒶 here
지대세★띵 tweet media
English
0
589
1.9K
12.3K
cei retweetledi
Lambe Saham
Lambe Saham@LambeSahamjja·
Guys, di antara 16 nama yang tercatat sebagai korban meninggal dalam kecelakaan kereta di Bekasi Timur ada satu nama yang menurut gue perlu lo dengar ceritanya. Nur Ainia Eka Rahmadhynna. 32 tahun. Karyawati Kompas TV. Malam itu dimulai seperti biasa: Senin malam, 27 April. Ain begitu teman-temannya memanggilnya baru selesai kerja. Dia menghubungi keluarga. Pesan sederhana. Minta dijemput setelah pulang. Pesan itu terkirim. Lalu tidak ada pesan berikutnya. Keluarga menunggu. Menelepon. Tidak diangkat. Mencoba lagi. Tetap tidak ada jawaban. Kecemasan mulai menggantung tapi mereka belum tahu apa yang sedang terjadi di Bekasi Timur malam itu. Semalam penuh mencari: Adiknya Zhafa menceritakan bagaimana keluarga menghabiskan malam itu dalam ketidaktahuan yang menyiksa. HP Ain tidak bisa dihubungi hingga larut malam. Tapi WhatsApp-nya masih berdering artinya ada sinyal. Artinya mungkin masih ada harapan. Dari pelacakan sinyal terakhir pukul 01.00 dini hari posisi Ain terlacak di area Stasiun Bekasi. Zhafa terus mencoba. Subuh WhatsApp masih berdering. Masih ada nada sambung. Masih ada secercah harapan yang dijaga. Sekitar jam 7 pagi HP Ain nonaktif. Dan dari grup WhatsApp keluarga malam hari sebelumnya mereka baru tahu ada kecelakaan besar di Bekasi Timur. Kepastian tentang Ain datang melalui proses identifikasi di RS Polri Kramat Jati. KAI mengkonfirmasi namanya masuk dalam daftar korban yang meninggal dunia. Yang teman lamanya tulis dan ini yang paling menyayat: Malam setelah kabar kepastian itu sampai seorang teman lama Ain menulis di grup: Malam ini ke Bekasi untuk mendoakan teman kami, yang biasa aku panggil Ain. Dulu semasa kuliah di Jogja pernah satu kos dan UKM Radio. Ain sangat suka kucing. Kucingmu sepertinya masih mencoba mencerna kehilangan kamu ini sama kayak kita." Temannya sempat mengabadikan satu momen malam itu. Kucing Ain yang biasanya menunggu di rumah tiba-tiba mendekat ke peti jenazah. Hewan yang tidak mengerti kematian. Tapi mengerti ketiadan. Mendekat ke peti itu. Mencari. Dan sang pemilik tidak akan pernah pulang lagi. Sebelum tahu teman itu pernah berharap: Di momen sebelum kepastian datang teman yang sama sempat menulis di grup: "Warga, barangkali ada yang lihat data penumpang kecelakaan KRL Bekasi di RS atau Puskesmas dekat sana kalau lihat nama Nur Ainia Rahmadhynna, tolong info aku ya. Berharap banget dia bukan salah satu korban. Berharap banget. Dua kata yang menyimpan begitu banyak doa yang akhirnya tidak terjawab seperti yang diharapkan. Siapa Ain: Ain adalah perempuan 32 tahun yang mencintai kucingnya. Yang masuk UKM Radio semasa kuliah di Jogja. Yang bekerja keras di Kompas TV. Yang malam itu hanya minta dijemput setelah kerja hal paling biasa yang dilakukan siapapun di hari biasa. Dia tidak tahu malam itu adalah malam terakhirnya. Tidak ada yang tahu. Dia naik kereta yang sama yang jutaan orang naiki setiap hari. Di kota yang sama. Di jalur yang sama. Yang selama puluhan tahun dibiarkan tanpa perlindungan yang memadai sampai malam itu segala kegagalan itu akhirnya bertemu di satu titik di Stasiun Bekasi Timur. Dan ini yang perlu diingat: Ain bukan angka dalam statistik. Ain bukan sekadar satu dari 14. Ain adalah perempuan yang kucingnya masih menunggu. Yang adiknya terus menelepon dari malam sampai subuh dengan harapan yang makin tipis tapi tidak pernah benar-benar padam sampai HP itu akhirnya nonaktif. Yang teman lamanya datang dari jauh hanya untuk mendoakan dan mendapati kucing kesayangan Ain mendekat ke peti mencari tuannya yang tidak akan pernah pulang. Di balik setiap perlintasan sebidang yang dibiarkan. Di balik setiap sinyal yang gagal bekerja. Di balik setiap Rp50 triliun yang habis untuk menutup kerugian BUMN yang tidak efisien sementara infrastruktur keselamatan kereta diabaikan puluhan tahun ada Ain. Ada keluarga yang menunggu. Ada teman yang berharap. Ada kucing yang tidak mengerti ke mana tuannya pergi. Alfatihah untuk Nur Ainia Eka Rahmadhynna. Dan untuk semua yang pergi malam itu. Sumber foto: threads
Lambe Saham tweet mediaLambe Saham tweet mediaLambe Saham tweet media
Indonesia
41
477
3.8K
268.6K
cei retweetledi
ً
ً@problemetik·
ً tweet media
ZXX
317
4.5K
37.6K
452K
cei retweetledi
Lambe Saham
Lambe Saham@LambeSahamjja·
Guys, ada kasus yang menurut gue perlu lo dengar karena ini bukan cuma soal satu anak di satu sekolah di Pemalang. Ini adalah cerminan dari sesuatu yang jauh lebih besar. Seorang orang tua di Randudongkal, Kabupaten Pemalang sebut saja Bapak ini memposting sesuatu di media sosialnya. Isinya dua hal: kritik terhadap implementasi MBG dan pengingat bahwa sekolah negeri dilarang memungut biaya LKS dan infak berdasarkan aturan pemerintah yang sudah berlaku. Dia tidak menyebut nama sekolah anaknya. Tidak menyebut nama kepala sekolah. Tidak menyebut nama guru siapapun. Tapi anaknya Mas Azhim, siswa SD N 01 Banjarayar dikeluarkan dari sekolah. Yang terjadi secara kronologis: Bapak ini memposting kritik soal MBG dan pungutan liar di sekolah negeri di akun media sosialnya. Kepala sekolah memanggil dia. Dan setelah pertemuan itu anaknya diberhentikan secara sepihak. Tidak ada surat resmi pemberhentian yang prosedural. Tidak ada proses klarifikasi yang fair. Tidak ada mekanisme banding. Satu pertemuan dan anak itu tidak boleh masuk sekolah lagi. Dua bulan lebih Mas Azhim tidak mengikuti pelajaran. Dua bulan lebih seorang anak SD kehilangan haknya atas pendidikan bukan karena dia berbuat salah, tapi karena bapaknya berani bicara. Dan di atas itu semua Mas Azhim juga mengalami bullying. Bukti percakapan yang beredar dan ini yang paling mengejutkan: Ada screenshot percakapan WhatsApp yang beredar. Pihak sekolah melalui salah satu guru membalas pesan si Bapak dengan kalimat yang menurut gue sangat mengungkapkan segalanya: Meskipun njenengan tidak menyebutkan identitas sekolah, tapi kan masyarakat tahu kalau Mas Azhim sekolah di SD N 01 Banjarayar, jadi menggiring opini publik ke SD kami. Berhenti sebentar di sini. Pihak sekolah sendiri yang mengakui bahwa yang jadi masalah bukan tindakan si Bapak secara hukum tapi dampak reputasi ke sekolah. Bukan soal anak yang melanggar aturan. Bukan soal proses belajar yang terganggu. Tapi soal opini publik yang mengarah ke SD mereka. Artinya anak ini dikeluarkan bukan karena dia salah. Tapi karena bapaknya membuat sekolah tidak nyaman di mata publik. Apa yang dilakukan si Bapak itu sebenarnya? Dia mengingatkan bahwa sekolah negeri tidak boleh memungut biaya LKS dan infak. Ini bukan opini. Ini fakta hukum. Permendikbud dan berbagai regulasi turunannya sudah jelas melarang pungutan di sekolah negeri yang sudah mendapat BOS Bantuan Operasional Sekolah. Sekolah negeri mendapat dana BOS dari APBN untuk membiayai operasional sekolah. Dana itu sudah termasuk untuk pengadaan buku, alat tulis, dan kebutuhan belajar siswa. Memungut LKS tambahan di atas BOS adalah pelanggaran regulasi. Si Bapak tidak mengarang. Dia mengingatkan aturan yang memang ada. Dan untuk itu anaknya dikeluarkan. Soal kritik MBG yang dia sampaikan dan ini relevan dengan konteks yang lebih besar: Kita sudah bahas panjang lebar soal MBG dari Rp340 miliar yang menurut Mahfud MD hanya sampai ke makanan dari total triliunan yang dianggarkan, sampai 33.000 kasus keracunan, sampai 1.720 SPPG yang tutup tapi tetap dibayar Rp6 juta per hari. Orang tua yang kritis terhadap MBG bukan musuh program. Mereka adalah orang-orang yang paling langsung terdampak ketika program itu tidak berjalan dengan baik. Anak-anak merekalah yang makan makanan dari program itu. Anak-anak merekalah yang keracunan ketika standar sanitasinya tidak terpenuhi. Mengkritisi MBG bukan kejahatan. Mengkritisi sekolah yang memungut biaya ilegal bukan kejahatan. Tapi di Banjarayar Pemalang melakukan dua hal itu ternyata cukup untuk membuat anakmu kehilangan akses pendidikan. Ini bukan hanya masalah satu sekolah ini adalah masalah sistemik: Yang terjadi di sini adalah penggunaan kekuasaan institusional untuk membungkam kritik warga. Dan yang dikorbankan bukan si orang tua tapi anaknya yang tidak berdaya. Ini adalah bentuk intimidasi yang sangat kejam justru karena targetnya bukan si pengkritik secara langsung. Targetnya adalah orang yang paling dicintai oleh pengkritik itu anaknya sendiri. Kalau lo mau membungkam seseorang tanpa kelihatan melanggar hukum secara terang-terangan sakiti anaknya. Itu yang terjadi di sini. Dan kalimat dari guru itu tadi "menggiring opini publik ke SD kami" menunjukkan bahwa ini adalah keputusan yang diambil secara sadar untuk melindungi reputasi institusi, bukan untuk kepentingan terbaik anak didik mereka. Apa yang seharusnya terjadi secara hukum: Pertama — sekolah tidak punya kewenangan hukum untuk mengeluarkan siswa secara sepihak hanya karena orang tuanya mengkritik di media sosial. Ini melanggar hak anak atas pendidikan yang dijamin Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak dan UUD 1945 Pasal 31. Kedua — pungutan LKS dan infak di sekolah negeri yang sudah menerima BOS adalah pelanggaran regulasi yang seharusnya dilaporkan dan diinvestigasi oleh Dinas Pendidikan dan inspektorat daerah. Ketiga — bullying terhadap anak karena tindakan orang tuanya adalah pelanggaran serius yang masuk dalam kategori kekerasan berbasis relasi kuasa. Kasus ini sudah masuk ke Polres Pemalang. Dan si Bapak memohon agar Kapolres mengawal proses penyidikan ini agar berjalan sesuai hukum bukan sesuai keinginan pihak tertentu. Yang paling menyentuh dari seluruh cerita ini: Si Bapak menulis: "Saya tidak mampu membayar pengacara untuk mencari keadilan." Dan di sisi lain dia bilang: "Tidak apa-apa, saya bisa mendidik anak-anak walaupun tanpa ada ijazah." Ini adalah seorang ayah yang sudah pasrah dengan sistem tapi belum menyerah pada kebenaran. Yang tahu dia mungkin tidak punya kekuatan finansial untuk melawan. Tapi tetap berjalan karena dia yakin masih ada orang-orang baik yang bisa membantu. Dan si Bapak menutup pernyataannya dengan kalimat yang menurut gue harus diingat oleh setiap pejabat dan kepala sekolah di Indonesia: "Jangan semena-mena dengan jabatan yang kau sandang karena itu semua hanya titipan." Kalau kita bisa marah pada triliunan rupiah MBG yang tidak sampai ke makanan anak-anak kita juga harus bisa marah ketika satu anak SD kehilangan haknya atas pendidikan hanya karena bapaknya berani mengingatkan aturan. Keduanya adalah wajah dari sistem yang sama sistem di mana institusi lebih sibuk melindungi dirinya sendiri daripada melayani mereka yang seharusnya dilayani. Mas Azhim berhak atas pendidikannya. Dan bapaknya berhak atas keadilannya.
Lambe Saham tweet mediaLambe Saham tweet media
Indonesia
361
5.2K
9K
472K
cei retweetledi
‏َ
‏َ@0825media·
260430 🐰💬 UPDATE
‏َ tweet media
English
0
8.8K
29.9K
289.5K