🕸

1.5K posts

🕸 banner
🕸

🕸

@chndies

mixed acc

chenle harem Katılım Kasım 2020
78 Takip Edilen6 Takipçiler
Man's Best Fren 🐾
Man's Best Fren 🐾@mansbestfren_·
30 GTD freemint spots giveaway Exactly 1 day before our mint day 🐾 Drop your evm wallet address 👇 Wallets on our mint site are now updated If we liked your wallet address, you're guaranteed to mint for free 🐕 Mint date & time = May 28th 3:16PM UTC
Man's Best Fren 🐾 tweet media
English
279
96
278
5.4K
🕸 retweetledi
GLOBE
GLOBE@GLOBEINF·
Introducing Globe Hub — the premium NFT collection powering the Globe Ecosystem. Globe Hubs represent the highest-tier nodes within the Globe Network, designed for early believers, contributors, and ecosystem participants. ◉ Supply: 1,000 ◉ Mint price: Free Applications are now open: ➔ #hub" target="_blank" rel="nofollow noopener">globeinf.com/#hub Hub holders will gain access to exclusive utilities, privileges, and future ecosystem benefits — more details coming soon.
GLOBE tweet media
English
8K
7K
8.4K
235K
🕸 retweetledi
The Gh0sts
The Gh0sts@Gh0stsNFT·
Still looking for a WL? Our content creation campaign to win spots is still live on @Records_Network To enter: - Like X RT this post - Tag @Gh0stsNFT with your creations - Visit bit.ly/Gh0stsRecords to check the leaderboards!
The Gh0sts tweet media
English
45
43
155
5.3K
🕸
🕸@chndies·
tawarin rok dan atasan yg gemes2 dong gais
Indonesia
91
0
6
13.5K
Nomadies
Nomadies@NomadiesART·
GN Nomadies 🫡 May 15 1:00 PM Guaranteed WL will close a few hours later then wallets deploy. 15 hrs left Nomadies drop on @opensea opensea.io/collection/nom… Guaranteed WL last spots link in the below 👇 We are Nomadies
Nomadies tweet media
English
27
5
36
2.1K
🕸
🕸@chndies·
@lacertianseth 0xa78b6217a32e6eecabbde6327fdad20ca99ecdd0
Español
0
0
0
2
Lacertians
Lacertians@lacertianseth·
450 wallets have already been collected💥 There are still 50 GTD WL left 👀 LIKE+RT+DROP WALLET CRUCIO🪄
Lacertians tweet media
English
2.1K
1.3K
1.9K
29.6K
🕸 retweetledi
Sisters in Danger x Simponi
Sisters in Danger x Simponi@SistersInDanger·
Empat syarat Kartini sebelum (terpaksa) mau dipoligami: 1. Boleh mendirikan sekolah & mengajar untuk putri di Rembang, melanjutkan cita-citanya memajukan pendidikan perempuan. 2. Penolakan adat feodal dalam upacara pernikahan: tidak mau berjalan jongkok di belakang suami, tidak berlutut, tidak menyembah/mencium kaki suami. 3. Kesetaraan bahasa: berbicara dengan suami menggunakan bahasa Jawa Ngoko (bahasa sehari-hari setara), bukan Krama Inggil (bahasa hormat yang menunjukkan hierarki istri lebih rendah). 4. Boleh membawa ahli ukir dari Jepara ke Rembang untuk mengembangkan kerajinan secara komersial sebagai kegiatan ekonomi perempuan. Semua syarat ini (sangat progresif & radikal pada masa itu) dipenuhi oleh calon suaminya, Bupati Rembang Raden Adipati Djojoadiningrat. Kartini melihat poligami sebagai bentuk penindasan terbesar terhadap perempuan. Ia menyaksikan langsung penderitaan ibunya, Ngasirah, yang dimadu oleh ayahnya. Dalam surat-suratnya, ia menulis dengan getir bahwa tak ada perempuan yang bahagia dimadu, & laki-laki yang memadu kehilangan kehormatan. Poligami dianggapnya sebagai "dosa" yang membuat perempuan menjadi saingan dan korban, sementara laki-laki bebas. Ia juga menolak pernikahan paksa dengan orang asing yang belum dikenal, karena cinta sejati harus dimulai dari rasa hormat, bukan paksaan adat. Namun, pada 1903, Kartini di usia 24 tahun (dianggap perawan tua yang memalukan keluarga ningrat pada masa itu) terpaksa menikah dengan Raden Adipati Ario Djojoadiningrat, Bupati Rembang yang jauh lebih tua (~25 tahun) & sudah punya 3 istri (salah satunya baru meninggal) karena tekanan budaya feodal priyayi pada masa itu & karena ayahnya, R.M. Adipati Ario Sosroningrat, sakit serta terus "dibully" teman-temannya karena anak perempuannya belum menikah. “Saya telah berjuang, bergulat, menderita, dan saya tidak dapat menjadikan nasib celaka Ayah, dan dengan demikian membawa bencana bagi semua yang saya cintai." (Surat Kartini kepada Abendanon, 14 Juli 1903) Meski seumur hidup menentang poligami & pernikahan paksa, Kartini terpaksa mengalahkan idealismenya, terpaksa menanggalkan egoismenya, serta harus berkompromi dengan realitas sosial feodal Jawa demi menjaga kehormatan ayah & keluarga yang dicintainya. Tekanan budaya feodal & partriarkis kelas priyayi pada masa itu terlalu kuat & ketat, di mana poligami & pernikahan paksa merupakan norma adat (diperkuat ajaran agama), sehingga meskipun Kartini sempat menolak keras, beliau kalah, beliau akhirnya terpaksa menerima pernikahan poligami itu. Kartini tetap melanjutkan perjuangan emansipasi & pendidikan perempuan dari dalam pernikahan, meski hanya berlangsung singkat karena beliau wafat 4 hari setelah melahirkan anak pertamanya pada pada 17 September 1904 di usia 25 tahun. Penyebab utama kematiannya adalah komplikasi persalinan, diduga akibat preeklampsia (tekanan darah tinggi pada kehamilan yang dapat memicu kejang dan kegagalan organ). Tragedi ini sangat ironis karena Kartini baru saja mulai mewujudkan cita-citanya setelah menikah, yang salah satu visinya tentu saja untuk meningkatkan akses kesehatan yang lebih baik bagi perempuan, khususnya kesehatan reproduksi & maternal (masa kehamilan, persalinan, & pasca melahirkan). Alfatihah untuk Ibu Kartini, damai di surga 🌹🌷🌼💐🌺🌸🪻
Sisters in Danger x Simponi@SistersInDanger

Merayakan Kartini Secara Radikal Kita telah melampaui era memperingati hari Kartini dengan hanya melihat sosok tubuhnya dan memaknainya cukup sebatas busana kebaya, lomba memasak atau menyanyikan lagunya. Peringatan hari Kartini yang demikian menumpulkan pemikiran. Sebab Kartini tidak pantas hanya dinilai dari sosok tubuhnya semata melainkan ide-ide brilian yang lahir dari otaknya yang cemerlang tentang kesetaraan dan kebebasan perempuan, justru inilah yang harus kita rayakan. Jadi hendaknya kebaya Kartini disimbolkan sebagai pembebasan perempuan, bukan ornamen tubuh semata, namun untuk merangsang kegairahan pemikiran melawan dominasi. Segala bentuk dominasi seperti penjajahan, pembodohan, pengekangan agama, dan tradisi serta penindasan perempuan. Sebab Kartini perempuan Jawa yang hidup di abad ke-19 telah memikirkan semua itu dan menuangkannya dalam bentuk tulisan yang dimuat di buku “Habis Gelap, Terbitlah Terang” (HGTT). Kartini mengungkapkan kegeramannya pada tradisi yang mengekang anak perempuan termasuk dirinya yang “dipingit” dari umur 12 hingga 16 tahun.    "Teringat aku, betapa aku, oleh karena putus asa dan sedih hati yang tiada terhingga, lalu mengempaskan badanku berulang-ulang kepada pintu yang senantiasa tertutup itu, dan kepada dinding batu bengis itu." (Jepara, 6 November, 1899, HGTT, 2009:30). Perang melawan kebodohan dipahaminya sebagai cara untuk membawa bangsa Bumiputra maju dan keluar dari penjajahan. "Pemerintah tiada akan sanggup menyediakan nasi di piring bagi segala orang Jawa, akan dimakannya, tetapi Pemerintah dapat memberikan daya upaya, supaya orang Jawa itu dapat mencapai tempat makanan itu ada. Daya upaya itu ialah pengajaran. Memberi anak negeri pengajaran yang baik, sama halnya seolah-olah Pemerintah menyerahkan suluh ke dalam tangannya, supaya dapat ia sendiri mencari jalan yang benar, yang menuju ke tempat nasi itu. Bapak akan berusaha sekuat tenaganya akan mengajukan anak negeri, dan aku pun akan turut membantunya." (12 Januari 1900, HGTT, 2009:34). Sikapnya menentang poligami sangat jelas. Kadang Ia menganggap bahwa perkawinan itu menindas dan bukan membahagiakan. "Mengertikah engkau sekarang apakah sebabnya maka sangat besar benciku akan perkawinan? Kerja serendah-rendahnya maulah aku mengerjakannya dengan berbesar hati dan dengan sungguh-sungguh, asalkan aku tiada kawin, dan aku bebas." (Jepara, 6 November, 1899, HGTT, 2009:29). Pemikiran Kartini tentang agama termasuk permikiran yang moderat dan toleran. "...sebenarnya agamaku agama Islam, hanya karena nenek moyangku beragama Islam... Orang diajar di sini membaca Qur’an tetapi yang dibacanya itu tiada ia mengerti. Pikiranku, pekerjaan gilakah pekerjaan semacam itu. Sekalipun tiada jadi orang saleh, kan boleh juga orang jadi orang baik hati.." (Jepara, 6 November, 1899, HGTT, 2009:31). "Agama harus menjaga kita daripada berbuat dosa, tetapi berapa banyaknya dosa diperbuat orang atas nama agama itu?" (Jepara, 6 November, 1899, HGTT, 2009:31). Kartini memang tidak pernah terlibat dalam sebuah pergerakan apalagi mengorganisir sebuah protes di lapangan. Bentuk protes yang ia lakukan hanyalah lewat tulisan-tulisannya yang mencoba memahami apa yang terjadi di lingkungannya. Tulisan-tulisannya tidak dituangkan ke dalam bahasa Melayu atau Jawa melainkan ke dalam bahasa Belanda dan ditujukan kepada teman Belandanya di Belanda.  Apakah karena Kartini menyadari tulisan-tulisannya tidak akan ditanggapi bila ia menggugat masyarakatnya secara langsung?  Atau bahkan dapat membahayakan dirinya bila pemikirannya diketahui oleh masyarakatnya sendiri? Semangat Kartini pada zamannya adalah semangat yang juga dirasakan oleh sebagian perempuan pada zaman itu. Beberapa pemikir perempuan lainnya seperti Dewi Sartika juga memiliki pemikiran yang maju tentang hak-hak perempuan, dengan nyata membuat sekolah di tahun 1904 yang disebut dengan “Sekolah Istri”. Kartini memang bukan sekedar kebaya. Tapi makna kebaya Kartini hendaknya diinterpretasikan secara kritis. Pemikiran Kartini masih terus harus direnda agar “kebaya” itu menjadi sempurna. Merenda pemikiran Kartini di segala ruang dan sudut bangsa, menjadikan bangsa kritis yang menghargai kesetaraan. --- Satu lagi cuplikan dari artikel yang sangat bagus & kuat dari @jurnalperempuan, yang ditulis oleh Gadis Arivia. Selamat Hari Kartini 21 April 1879–17 September 1904 Damai di surga, Perempuan yang mendahului zaman 🙏💜 (Link artikel lengkap di utas berikutnya)

Indonesia
59
6.5K
18K
1.3M
🕸 retweetledi
Jvnior
Jvnior@Jvnior·
LIVE FOOTAGE: Palestinian man riding his bicycle shot in the head by the IDF today. He was known for feeding cats every day.
English
1.1K
24.5K
85.1K
2.3M
🕸 retweetledi
vyooo
vyooo@vyowiz_·
Tiba-tiba keinget kata Habib Jafar: “Yang tidak sampai ke kita, tidak perlu dicari tau. Yang sampai dari mulut orang lain, tidak perlu dipercaya. Dan yang sampai langsung dari orangnya, dimaafkan.”
Indonesia
35
11.5K
28K
443.3K
🕸 retweetledi
323
323@Ggod323·
the reason you're socially awkward is because you were ugly as a child
English
1.7K
24.8K
235.6K
6M
Gramedia
Gramedia@gramedia·
Morning, Grameds! Siapa nih yang hobi baca + doyan sharing review buku? 👀 Infoooo nih info, kalian bisa loh dapat cuan dari review atau promosiin buku-buku Gramedia! 💸✨ Cocok jadi loker freelance juga lohh. Ada yang mau tau info detailnya? Komen "mau" di bawah yaa 👇🏻
Indonesia
1.3K
164
2.3K
209K
🕸 retweetledi
lola ₍^. .^₎⟆
lola ₍^. .^₎⟆@bitethatscars·
i support abortion because i shouldve been aborted
English
201
29.9K
128.4K
2.9M
YAPPINGFESS
YAPPINGFESS@yappingfess·
TW // 18+ YAP! SORRY BGT DAH INI AGAK 18+ DIKIT, TP wajar ga sih cowo takut hamil, gue baru nikah, ternyata istri gue bringas banget anjirt. Gue beneran kaget. Maksud gue tuh, tenangin ga sih diri lu anjirt
YAPPINGFESS tweet media
Indonesia
2.5K
5K
73.5K
10.6M
🕸 retweetledi
Gensokyo Maiden
Gensokyo Maiden@SinFourth__·
Orang miskin itu kurang rajin apa? Tukang panggul di pasar bekerja dari Subuh sampe sore tapi tetap ga kaya. Petani yg ga punya sawah juga bekerja dari pag sampe sore. Kita harus akui kalo pekerja upah Indo ga bisa dikategorikan layak dibandingkan dgn biaya hidup
Kai@sorejhvi

Kalau gaji kecil, mau diputer2, tetap begitu aja. Last time gue kerja di Jkt tuh sbg auditor dngn gaji 8-12 jt tapi tetap tabungan gue ga nembus 50 juta pdhl udah invest ke saham dan reksadana. Bukan soal hobi jajan, indon ini yg apa2 serba mahal dan kebutuhan makin banyak.

Indonesia
88
10.7K
33K
550.3K
🕸 retweetledi
Gopal
Gopal@MYasfika·
Mimpi Basah Ritel pasukan 3 lot di $WBSA $IHSG
Gopal tweet media
Indonesia
149
303
1.8K
162.6K
🕸 retweetledi
ntang
ntang@prkdlx·
Ga setuju. Menurutku kualitas guru jelek itu krn gaji ga layak dan beban kerja yg tinggi. Bayangin selain ngajar, guru harus bikin RPP tiap smster yg jumlahnya bisa ratusan halaman, harus diprint dan dijilid, pakai uang sendiri. Belum lg banyak guru2 yg udah tua, ga ngerti teknologi, dan juga sbg tulang punggung keluarga. Gmn caranya mikirin generasi penerus bangsa kalau mereka harus berbagi fokus sama kebutuhan keluarga, yg harusnya dipenuhi pemerintah?
Indonesia
68
584
1.6K
39.1K