terhadap kehidupan.
“Saya cuma ingin dihargai, Mbak,” katanya pelan, sebelum kembali menyodorkan koran kepada pengendara yang berhenti. Wajahnya terlukis senyum yang sama. Senyum seorang pejuang kecil yang tak pernah berhenti berjalan, meski langkahnya tertatih.
Ketika banyak orang menyerah pada keadaan, ia tetap berdiri di bawah terik matahari, membawa berita untuk dunia yang mungkin tak lagi membacanya. Karena bagi Mas Arif, menjadi loper bukan sekadar mencari nafkah. Ini Tentang bertahan, tentang harga diri, dan tentang cinta-