bagas
4.1K posts

bagas retweetledi

Lagi rame banget pada ngomongin sapi kurban. Kebetulan momennya pas, gue mau share dikit soal aturan fikh islam pas hari H Idul Adha nanti. Jadi di Islam tuh ada anjuran kalau kita tuh gak boleh makan dulu sebelum shalat Idul Adha. Mana dalilnya?
Berdasarkan HR. Ahmad 5: 352 (Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan), Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berangkat shalat ‘ied pada hari Idul Fithri dan beliau makan terlebih dahulu, sedangkan pada hari Idul Adha, beliau tidak makan lebih dulu kecuali setelah pulang dari shalat ‘ied baru beliau menyantap hasil qurbannya.
Nah, tapi tunggu dulu. Sunnah menahan makan ini ternyata gak langsung digebyah-uyah berlaku buat semua orang loh. Kalau lo baca penjelasan Imam Ahmad, aturan ini ada syarat dan ketentuannya. Beliau ngejelasin masalah ini secara detail di dalam kitabnya:
Imam Ahmad berkata: “Saat Idul Adha dianjurkan tidak makan hingga kembali dan memakan hasil sembelihan qurban. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam makan dari hasil sembelihan qurbannya. Jika seseorang tidak memiliki qurban (tidak berqurban), maka tidak masalah jika ia makan terlebih dahulu sebelum shalat ‘ied.” (Al Mughni, 2: 228)
Bahkan kalau kita mau gali lebih dalilnya, pandangan dari ulama lain kayak Ibnu Hazm juga senada sama prinsip ini. Beliau ngasih kelonggaran tapi tetep ngasih tau mana opsi yang paling afdal buat diambil:
Ibnu Hazm rahimahullah berkata: “Jika seseorang makan pada hari Idul Adha sebelum berangkat shalat ‘ied di tanah lapang (musholla), maka tidak mengapa. Jika ia tidak makan sampai ia makan dari hasil sembelihan qurbannya, maka itu lebih baik. Tidak boleh berpuasa pada hari ‘ied (Idul Fithri dan Idul Adha) sama sekali.” (Al Muhalla, 5: 89)
Tapi inget ya, jangan sampe salah tangkap. Maksud dari "gak makan" di sini bukan berarti kita lagi puasa seharian dari subuh sampe magrib. Soalnya kalau sengaja puasa pas hari raya, hukumnya malah jadi masalah besar karena puasa pada hari ‘ied -termasuk Idul Adha- adalah haram berdasarkan ijma’ (kesepakatan) para ulama kaum muslimin. Sedangkan yang dimaksud dalam penjelasan di atas adalah tidak makan untuk sementara waktu dan bukan niatan untuk berpuasa dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari.
Makanya, kalau disimpulin dari fatwa para ulama tadi, sunnah menahan makan sebelum shalat Idul Adha hanya berlaku untuk orang yang memiliki hewan qurban sehingga ia bisa makan dari hasil sembelihannya nanti. Sedangkan jika tidak memiliki hewan qurban, maka tidak berlaku. Wallahu a’lam.
Terus, kenapa sih aturannya mesti dibedain sama Idul Fitri? Nah, urusan hikmah di balik perbedaan ini dibahas tuntas di literatur fikh berikut
Hikmah dianjurkan makan sebelum berangkat shalat Idul Fithri adalah agar tidak disangka bahwa hari tersebut masih hari berpuasa. Sedangkan untuk shalat Idul Adha dianjurkan untuk tidak makan terlebih dahulu adalah agar daging qurban bisa segera disembelih dan dinikmati setelah shalat ‘ied. (Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 1: 602)
Biar makin ngerti, Ibnu Qudamah juga ngebedah aspek psikologis dan ketaatan di balik perbedaan momen makan ini. Beliau nulis panjang lebar kayak gini:
Ibnu Qudamah rahimahullah berkata: “Idul Fithri adalah hari diharamkannya berpuasa setelah sebulan penuh diwajibkan. Sehingga dianjurkan untuk bersegera berbuka agar semangat melakukan ketaatan kepada Allah Ta’ala dan perintah makan pada Idul Fithri (sebelum shalat ‘ied) adalah untuk membedakan kebiasaannya berpuasa. Sedangkan untuk hari raya Idul Adha berbeda. Karena pada hari Idul Adha disyari’atkan memakan dari hasil qurban. Jadinya, kita dianjurkan tidak makan sebelum shalat ‘ied dan nantinya menyantap hasil sembelihan tersebut.” (Al Mughni, 2: 228)
Sumber: rumaysho
Indonesia




















