Sabitlenmiş Tweet
chia
29.9K posts

chia retweetledi
chia retweetledi
chia retweetledi

Penjelasannya uda detail dari Ners @afrkml , jadi intinya:
Spons cuci piring yang kamu pakai setiap hari itu salah satu benda paling kotor di seluruh rumah bahkan bisa lebih “kotor” dari toilet. Karena teksturnya yang berpori dan selalu lembab menciptakan lingkungan ideal bagi bakteri seperti E. coli dan Salmonella untuk berkembang biak hingga miliaran sel per sentimeter persegi. Mencuci dengan sabun ga cukup justru yang terbaik adalah mengganti spons secara rutin setiap 1–2 minggu (kalo bisa), atau merendamnya dalam larutan pemutih encer untuk menekan jumlah bakterinya trus abis pakai pastikan kering ya jangan masih basah dibiarin aja


Яizal do@afrkml
Anjir, ada yg bilang klo kepadatan bakteri yg nempel di spons yg bentukannya begini ekuivalen dg tai manusia? Gw saking syoknya sampe cari2 referensi literatur yg relevan ttg ini & nemuin fakta yg bikin gue, buset dah momuntah :( Buat yg sering begini, aplg pake spons bekas orang, tobat!
Indonesia
chia retweetledi
chia retweetledi
chia retweetledi

This is not a good sign for the economy, nor for children’s health, btw.
Foto rak susu formula yg full anti-theft lock gini sbenernya "dystopian" kl dipikir2🥲
Ini bkn gadget, bkn whiskey premium.
Merely cuma susu bayi.
Kl produk kebutuhan dasar bayi dipasang pengaman berarti ada kombinasi:
>harga susu yang dirasa makin mahal,
>tekanan ekonomi rumah tangga, dan
>tingkat kriminalitas pencurian yg dianggap signifikan di sisi retailer
Punya bayi buat sebagian orang jadi terasa kayak expensive subscription service yang makin ga terjangkau.
Di sisi lain, dominasi susu formula sebesar ini juga nunjukin kalo:
>ga ada jaminan kesejahteraan buat ibu pasca melahirkan, sehingga ibu harus cepet2 balik kerja
>support breastfeeding jadi minim
>waktu keluarga makin sempit, dan
>industri formula makin agresif.
Akhirnya ASI yg gratis dan ideal scara kesehatan makin sulit dipertahankan scara sosial-ekonomi.
Txt dari Kuliner@txtdrkuliner
Saking banyaknya yang maling susu formula di sini sampai digembok semua 🥲🥲🥲
Indonesia
chia retweetledi
chia retweetledi
chia retweetledi

dr @tirta_cipeng : “usaha dulu atau tawakkal dulu?”
aldi taher : “tawakkal dulu, baru dagang”
dr tirta : “rugi tetep bersyukur, untung tetep…?”
aldi : “rugi itu di neraka bang. jadi kalo org usaha/dagang, tiba tiba dia rugi, itu bukan rugi. tapi emg rezekinya segitu. syukuri”
dr tirta : 👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻
padahal udah sering denger ceramah ustadz soal rezeki
tapi entah kenapa, kata kata aldi taher yg kali ini ngena bgt ke hati gue dan berhasil bener bener ngubah perspektif gue soal rezeki wkwkwk 😹
Indonesia
chia retweetledi

Percayalah, se-hands on apapun suamimu ke anak dan sesayang apapun suamimu ke kamu.. In this society, perempuan biologically akan lebih struggling daripada laki/laki.
Karena tubuh kita dikasih karunia untuk mengalami haid dan punya potensi memiliki anak, we can't function the way our male counterparts do their things.
Selama dunia ini blm bisa menyediakan ruang yg benar-benar setara bagi perempuan dan laki-laki, setuju sama kata beliau, 'Lebih baik memilih dengan selektif, daripada salah pilih'
Bukan karena laki2nya jahat loh. Tapi untuk bisa mengarungi hidup berdua secara solid, perempuannya harus kuat dan punya support system yg baik.
Jejak Rasa@jejakrasa27
Kenapa perempuan harus lebih selektif? Karena saat perempuan memilih seseorang untuk diajak serius, yang dipertaruhkan bukan cuma perasaan. Tapi juga waktu, mental, masa depan, bahkan kadang hidupnya ikut berubah total.
Indonesia
chia retweetledi

Sy gak takut MBG berhasil. Sy takut kamu ngancurin Indonesia pake MBG.
tempo.co@tempodotco
Prabowo Tuding Banyak Orang Takut MBG Berhasil
Indonesia
chia retweetledi
chia retweetledi
chia retweetledi
chia retweetledi
chia retweetledi

Guys, ada laporan baru dari lembaga riset Celios yang menurut gue adalah salah satu yang paling mengerikan yang pernah gue baca tentang kondisi ekonomi Indonesia.
Judulnya: Republik Oligarki Ketimpangan Ekonomi Indonesia 2026.
Dan datanya bukan dari sembarang sumber.
Dari Forbes.
Dari LHKPN.
Data yang sudah terverifikasi dan tidak bisa dibantah.
Fakta pertama yang langsung bikin gue sesak napas:
50 orang terkaya Indonesia hanya 50 orang total kekayaannya mencapai Rp4.600 triliun per 2026.
APBN Indonesia?
Rp3.800 triliun.
Artinya 50 orang itu lebih kaya dari seluruh anggaran negara yang digunakan untuk membiayai 270 juta rakyat Indonesia selama satu tahun penuh.
Satu tahun.
Gaji PNS, subsidi BBM, bayar utang, bangun jalan, biaya militer, semua program sosial semuanya masih kalah dari 50 orang itu.
Dan setiap harinya harta 50 orang itu naik Rp13 miliar per hari.
Sementara upah pekerja harian di Indonesia bergerak di kisaran Rp2.000 sampai Rp5.000 per jam.
Fakta kedua ketimpangan di antara pejabat negara sendiri:
Total kekayaan pejabat negara era Prabowo-Gibran: Rp1 triliun lebih.
Dan dari seluruh pejabat itu 73% kekayaannya hanya dikuasai oleh 12 orang.
Dua belas orang.
Yang masing-masing punya kekayaan di atas Rp1 triliun.
Siapa?
Salah satu yang terbesar adalah Menteri Pariwisata Widya Kusuma.
Ada juga Menteri Perumahan Rakyat.
Keduanya masuk dalam daftar lima pejabat terkaya.
Fakta ketigayang paling menohok soal TNI dan Polri:
Setiap tamtama TNI prajurit paling bawah butuh 252 tahun masa tugas untuk menyamai kekayaan Panglima TNI.
Dua ratus lima puluh dua tahun.
Kalau mulai kerja umur 20 baru bisa menyamai kekayaan atasannya di umur 272 tahun.
Itu bukan angka. Itu absurditas.
Di Polri sedikit "lebih baik" polisi golongan paling rendah butuh 139 tahun masa tugas untuk menyamai kekayaan Kapolri.
Ketimpangan ini bukan hanya antara rakyat dan orang kaya. Tapi di dalam institusi yang sama.
Di antara satu korps yang sama.
Fakta keempat anggota DPR versus konstituennya:
Anggota DPR Gorontalo kekayaannya 800 kali lipat dari rata-rata masyarakat Gorontalo yang mereka wakili.
Anggota DPR Yogyakarta 400 kali lipat dari rata-rata masyarakat Yogyakarta.
Orang-orang yang mengklaim mewakili rakyat hidupnya 400 sampai 800 kali lebih kaya dari rakyat yang katanya mereka wakili.
Dan mereka yang membuat undang-undang. Mereka yang memutuskan kebijakan pajak. Mereka yang menentukan siapa yang dapat subsidi dan siapa yang tidak.
Dan ini yang membuat seluruh gambar itu menjadi sangat gelap:
Celios mengajukan satu pertanyaan yang sangat sederhana: kalau 50 orang terkaya itu dipajaki hanya 2% dari total kekayaan mereka negara dapat berapa?
Rp93 triliun per tahun.
Sembilan puluh tiga triliun.
Setiap tahun.
Dari pajak 2% saja atas kekayaan 50 orang.
Itu lebih dari cukup untuk membiayai rekonstruksi bencana besar.
Untuk membenarkan semua perlintasan kereta berbahaya di Jawa yang butuh Rp4 triliun.
Untuk menggaji 8 juta guru honorer setahun penuh.
Untuk menutup seluruh defisit BPJS Kesehatan.
Hanya dari 50 orang.
Hanya 2%. Per tahun.
Tapi itu tidak terjadi.
Dan Celios menjelaskan kenapa:
Karena orang-orang yang punya kekayaan itu — adalah orang-orang yang sama yang membiayai kampanye politik, yang duduk di dewan komisaris BUMN, yang punya akses langsung ke pengambil keputusan.
Pajak kekayaan sudah masuk dalam rencana Kementerian Keuangan paling lambat 2028 kata mereka. Tapi implementasinya? Masih "akan akan akan" saja. Tidak pernah benar-benar dieksekusi.
Sementara yang terus dipajaki adalah kelas menengah yang sudah ngos-ngosan. Kelas menengah Indonesia turun 1,1 juta orang dalam setahun tapi mereka yang paling mudah dikejar pajaknya karena datanya ada, penghasilannya kelihatan.
Seperti kata peneliti Celios: berburu di kebun binatang. Hewannya kelihatan, tinggal tembak. Sementara yang benar-benar harus dipajaki terlalu kuat untuk disentuh.
Dan ini yang paling mengerikan dari seluruh laporan ini:
Ketimpangan yang ekstrem ini bukan hanya masalah ekonomi. Ini adalah bahan bakar untuk sesuatu yang jauh lebih berbahaya.
Celios menelusuri pola historis dan hasilnya konsisten. Ketika ketimpangan mencapai titik ekstrem dan orang-orang hopeless tidak melihat jalan keluar yang rasional mereka tidak lari ke gerakan buruh atau gerakan sosial yang terorganisir.
Mereka lari ke kelompok-kelompok yang menawarkan identitas, musuh bersama, dan rasa memiliki.
Di Italia 1930-an orang yang di-PHK direkrut oleh Black Shirt. Di Jerman industri tutup, pengangguran meledak, orang mencari pegangan.
Di Indonesia sendiri kerusuhan 1998 dan berbagai gejolak sosial sesudahnya, ketika ditelusuri, akar masalahnya selalu sama: ketimpangan ekonomi yang dibalut isu identitas.
Dan tanda-tandanya sudah mulai terlihat sekarang ormas-ormas yang berdemo bukan ke instansi pemerintah tapi ke lembaga bantuan hukum masyarakat sipil, bayaran demo yang menjadi solusi pengangguran, program-program besar yang menyerap tenaga kerja tapi dengan cara yang menciptakan ketergantungan bukan kemandirian.
Solusi yang Celios rekomendasikan dan ini sangat konkret:
Satu — pajak kekayaan 2% untuk 50 orang terkaya. Langsung hasilkan Rp93 triliun per tahun. Bukan mimpi Brazil dan Colombia sudah melakukannya dengan komite audit independen.
Dua — moratorium MBG. Hentikan sementara, perbaiki tata kelola dari akar, baru jalankan lagi dengan tepat sasaran fokus ke daerah 3T dan keluarga miskin ekstrem, bukan merata ke semua sekolah termasuk swasta di Jabodetabek.
Tiga — kembalikan 20 triliun yang diambil dari anggaran kesehatan ke Kementerian Kesehatan untuk program stunting yang sudah terbukti efektif. Benefit yang dihasilkan: Rp400 triliun. Versus MBG yang belum jelas benefit konkretnya.
Empat — pajak windfall untuk komoditas yang sedang untung besar batu bara, sawit, nikel, minyak. Mereka untung dari harga global yang tinggi, sementara rakyat menanggung subsidi energi. Ini bukan soal nasionalisasi ini soal keadilan distribusi keuntungan.
Indonesia bukan negara miskin. Indonesia adalah negara yang kekayaannya terkonsentrasi pada sangat sedikit orang, yang sistem pajaknya melindungi orang kaya dan membebani kelas menengah, dan yang program-program besarnya lebih banyak menciptakan celah korupsi baru daripada menyelesaikan masalah lama.
50 orang lebih kaya dari APBN. 12 pejabat kuasai 73% kekayaan seluruh pejabat negara. Tamtama butuh 252 tahun untuk menyamai Panglima. Anggota DPR 800 kali lebih kaya dari konstituennya.
Dan solusinya sudah ada. Jelas. Terukur. Bisa dijalankan hari ini.
Yang tidak ada adalah kemauan politik untuk melakukannya. Karena yang harus meloloskan kebijakan pajak kekayaan itu adalah orang-orang yang sama yang akan paling terdampak olehnya.
Itu bukan korupsi yang bisa ditangkap KPK. Itu adalah struktur. Dan struktur hanya bisa diubah kalau tekanan dari bawah lebih kuat dari kenyamanan di atas.
⚠️ Disclaimer: Berdasarkan laporan Celios "Republik Oligarki Ketimpangan Ekonomi Indonesia 2026" dan wawancara peneliti Celios Bima Yudistira. Data bersumber dari Forbes dan LHKPN yang dapat diverifikasi publik. Ini analisis berbasis riset independen bukan tuduhan hukum kepada individu manapun.


Indonesia



















