hana 🧘‍♀️

1.1K posts

hana 🧘‍♀️

hana 🧘‍♀️

@ciopage

Katılım Nisan 2024
209 Takip Edilen178 Takipçiler
hana 🧘‍♀️ retweetledi
miaw 🎀🍀
miaw 🎀🍀@psybaulogy·
Panjang umur, pendidikan Indonesia!
miaw 🎀🍀 tweet mediamiaw 🎀🍀 tweet mediamiaw 🎀🍀 tweet media
Indonesia
45
21.8K
54.8K
478.5K
hana 🧘‍♀️ retweetledi
caca🍣
caca🍣@SAASH1MI·
jujur kangen jadi maba.... so full of life anjay💔 now its just tons of teams chats, words, and excels💔
English
106
9.6K
26.7K
385.9K
hana 🧘‍♀️ retweetledi
Pricci
Pricci@Pricci0·
University student trying to memorise an entire Semester in one night
Pricci tweet media
English
16
2.7K
22.6K
195.6K
hana 🧘‍♀️ retweetledi
Dosen Kesayanganmu
Dosen Kesayanganmu@direktoridosen·
ada artikel serem banget, "..Ketika Kampus Menjadi Pabrik..." ditulis oleh Bondan Kanumoyoso, seorang sejarawan dan dosen dari FIB Universitas Indonesia. Penulis mengkritik kebijakan pemerintah yang ingin menutup jurusan kuliah tertentu hanya karena dianggap tidak sesuai dengan kebutuhan dunia kerja saat ini Universitas adalah tempat untuk mengasah pemikiran dan intelektual, bukan sekadar pabrik yang memproduksi tenaga kerja untuk industri. Masa depan sulit diprediksi, sehingga jurusan yang dianggap tidak laku sekarang bisa jadi sangat dibutuhkan di masa depan untuk mengatasi masalah sosial dan teknologi. Ilmu seperti sejarah, sastra, dan filsafat tetap sangat penting karena membantu masyarakat tetap kritis, berempati, dan memahami identitas bangsanya. Kebijakan yang terlalu fokus pada pasar kerja dikhawatirkan akan membuat mahasiswa menjadi pragmatis dan membuat bangsa kehilangan sosok pemikir atau intelektual publik. Penulis menyarankan agar pemerintah melakukan kolaborasi antarilmu dan memperbarui kurikulum, daripada langsung menghapus atau menutup jurusan tersebut.
Dosen Kesayanganmu tweet media
Indonesia
116
2.9K
7.2K
147.2K
hana 🧘‍♀️ retweetledi
Anies Rasyid Baswedan
Anies Rasyid Baswedan@aniesbaswedan·
Wacana penutupan program studi yang dianggap tidak relevan dengan industri ini memunculkan pertanyaan dan kekhawatiran. Ada kebijakan yang tampak efisien dalam jangka pendek, tapi bila tidak hati-hati, justru membelokkan arah perjalanan bangsa dalam jangka panjang. Sambil menunggu informasi lengkapnya, izinkan berbagi tentang paradigma ilmu murni dan ilmu terapan ini. Ilmu murni kerap dipandang jauh dari praktik. Seolah berdiri di menara gading, tidak menyentuh denyut kebutuhan industri. Padahal, di sanalah akar dari hampir seluruh inovasi yang kita gunakan hari ini berasal. Rumus-rumus yang tampak abstrak, teori-teori yang dulu dianggap “tidak berguna”, justru melahirkan teknologi yang kini kita anggap keniscayaan. Kita menikmati internet, kecerdasan buatan, hingga kemajuan di bidang kesehatan, tapi tak selalu ingat bahwa fondasinya dibangun oleh para ilmuwan yang bekerja tanpa kepastian aplikasi. Mereka meneliti bukan berbasis permintaan pasar, tetapi karena keingintahuan memahami bagaimana dunia bekerja. Kita perlu ingat bahwa relevansi tidak selalu bisa diukur dalam horizon waktu yang pendek. Apa yang hari ini tampak tidak terkait industri, bisa jadi esok hari menjadi tulang punggungnya. Negara yang hanya menyiapkan tenaga siap pakai, tanpa melahirkan pemikir-pemikir dasar, berisiko terjebak sebagai pengguna belaka. Kita menjadi pasar, bukan pencipta. Kita mengimpor solusi, alih-alih menghasilkan jawaban dari dalam negeri dan membaginya kepada dunia. Lebih jauh lagi, kebijakan publik yang kuat juga lahir dari pemahaman dasar yang kokoh. Mulai dari ilmu epidemiologi (berbasis matematika dan biologi dasar) yang berjasa besar saat pandemi, lalu ilmu lingkungan (ekologi dan geofisika) dalam menghadapi bencana perubahan iklim, hingga ekonomi teoretis dalam merancang kebijakan fiskal. Semua itu berakar pada ilmu-ilmu yang sering dianggap “tidak praktis”. Menutup atau melemahkan ilmu murni berarti mengurangi kemampuan kita untuk memahami dunia secara mendalam. Tanpa pemahaman itu, keputusan kita mudah terjebak jadi dangkal. Tentu, keterhubungan dengan industri itu penting. Bila suka apel bukan berarti benci jeruk. ;) Perguruan tinggi jelas tidak boleh terlepas dari kebutuhan zaman. Namun, menjawab tantangan itu tidak harus dengan menutup ilmu murni. Yang diperlukan adalah menjembatani, bukan menggantikan. Menguatkan ekosistem, bukan menyederhanakan secara berlebihan. Pada akhirnya, pendidikan tinggi bukanlah soal mencetak pekerja bagi industri, tetapi tentang menyiapkan masa depan dan membangun peradaban bangsa. Masa depan itu tidak pernah dibangun hanya dari apa yang terlihat berguna hari ini, pun membangun peradaban tak boleh direduksi jadi sekadar membangun industri. Maka, barangkali yang perlu kita jaga adalah keseimbangan. Antara yang langsung terpakai dan yang menjadi fondasi. Antara keterampilan dan pemikiran. Antara kebutuhan hari ini dan visi hari esok. Dengan menjaga keseimbangan itulah, kita dapat berdiri tegak sebagai bangsa yang tak hanya mengikuti kemajuan dunia, tetapi juga menciptakannya.
tempo.co@tempodotco

JUST IN: Kemendikti Bakal Tutup Prodi yang Tak Relevan dengan Industri

Indonesia
420
20.8K
51.7K
1.4M
hana 🧘‍♀️
hana 🧘‍♀️@ciopage·
ada rekomendasi dimsum mentai yg enak di rawamangun ga..
Indonesia
2
0
0
218
hana 🧘‍♀️ retweetledi
Linda🍒
Linda🍒@badgalil_·
four things that’ll frustrate you in uni…..😭 1. group presentations 2. nonchalant group members 3. 4-6pm classes 4. deciding on what to eat
English
113
6.1K
30.2K
310.7K
hana 🧘‍♀️
hana 🧘‍♀️@ciopage·
GIMANA CARA USIR CICAK??? ini ada cicak di kos geli bgt jir
Indonesia
1
0
0
75
hana 🧘‍♀️
hana 🧘‍♀️@ciopage·
sending you love, prayers, and warm wishes this Eid 🌙💐 Eid Mubarak, everyone! 🤍
English
0
0
0
26
hana 🧘‍♀️ retweetledi
ᥫ𝒎𝒆𝒍᭡
ᥫ𝒎𝒆𝒍᭡@motsdemaelys·
i wish books were cheap.
English
100
11.8K
30.8K
399.7K
hana 🧘‍♀️
hana 🧘‍♀️@ciopage·
BARU BANGUNN gua kesiangan sahurnya 😭😭
Indonesia
0
0
0
26
hana 🧘‍♀️
hana 🧘‍♀️@ciopage·
kenapa username shopee ga bisa diubah sih 😭😭
Indonesia
0
0
0
42
hana 🧘‍♀️
hana 🧘‍♀️@ciopage·
orang gila mana yg jam segini nyikat kamar mandi
Indonesia
0
0
0
45