Cal !@HidsalJ
Teori World Systems dari Immanuel Wallerstein memang menarik dibaca. Tapi ada satu hal yang sering lupa disebut: teori itu lahir tahun 1974, sekitar lima puluh tahun lalu.
Dunia hari ini sudah berubah sangat jauh. Kalau teori itu dipakai sebagai satu-satunya cara membaca nasib Indonesia, kita bisa terjebak pada cara pikir yang terlalu pasrah.
Wallerstein melihat dunia sebagai sistem yang relatif kaku. Negara core tetap dominan, negara periphery tetap di bawah. Peluang naik kelas sangat terbatas. Sekilas masuk akal. Ketimpangan global memang nyata.
Tapi masalahnya, sejarah beberapa dekade terakhir justru menunjukkan bahwa dunia tidak sesederhana itu.
Korea Selatan dulu adalah negara miskin yang porak-poranda karena perang. Sekarang mereka masuk G20, memimpin industri chip, otomotif, sampai budaya populer global. Taiwan menjadi pusat produksi semikonduktor paling canggih di dunia. China yang dulu hanya dikenal sebagai pabrik murah sekarang punya CATL, Huawei, BYD, sampai DeepSeek.
Kalau struktur global benar-benar se-kaku itu, lompatan seperti ini seharusnya hampir mustahil terjadi.
Teori Wallerstein bukan sepenuhnya salah. Ketimpangan antarnegara memang ada. Negara maju tetap punya keunggulan modal, teknologi, dan pengaruh geopolitik yang besar. Tapi teori yang terlalu sulit menjelaskan perubahan besar juga perlu dibaca dengan lebih hati-hati.
Apalagi dunia hari ini sudah jauh berbeda dibanding era 1970-an.
Dulu teknologi memang terkonsentrasi di negara maju. Sekarang akses pengetahuan jauh lebih terbuka. Open-source AI bisa dipakai siapa saja. Developer dari Bandung bisa mengakses model yang sama dengan developer di Silicon Valley. Modal juga tidak lagi hanya berputar di pusat-pusat lama. Startup dari India, Brasil, Nigeria, sampai Indonesia bisa mendapat pendanaan global dan membangun ekosistemnya sendiri.
Gojek, Tokopedia, dan Traveloka tidak muncul karena diberi belas kasihan negara core. Mereka tumbuh karena ada pasar, talenta, dan momentum yang berhasil dimanfaatkan.
Yang justru perlu diwaspadai adalah sisi fatalistik dari cara berpikir seperti ini.
Kadang semua masalah dilempar ke struktur global, seolah Indonesia tertinggal semata-mata karena dunia memang didesain tidak adil. Akibatnya, kesalahan di dalam negeri sendiri jadi kabur. Korupsi dianggap bagian dari nasib negara berkembang. Pendidikan yang tidak nyambung dengan industri dianggap wajar. Oligarki dianggap sesuatu yang tidak bisa dihindari karena kita cuma negara periphery.
Padahal banyak hambatan kita justru lahir dari pilihan kebijakan dan kualitas institusi kita sendiri.
Kritik terhadap struktur global tetap penting. Tapi jangan sampai membuat akuntabilitas domestik kita menghilang.
Apalagi Indonesia sebenarnya punya posisi tawar yang tidak kecil. Cadangan nikel Indonesia termasuk yang terbesar di dunia dan jadi rebutan dalam rantai pasok kendaraan listrik. Pasar domestik Indonesia juga besar sekali. Posisi geografis Indonesia makin strategis di tengah rivalitas Amerika Serikat dan China.
Posisi negara kita bukan sepenuhnya tidak punya ruang gerak. Masalahnya lebih sering ada pada bagaimana ruang itu dimanfaatkan.
Bahkan negara-negara core sendiri sekarang tidak selalu stabil. Amerika menghadapi tekanan deindustrialisasi di banyak sektor. Eropa sempat terpukul karena krisis energi. Jepang mengalami stagnasi panjang. Dunia hari ini jauh lebih cair dan multipolar dibanding saat teori itu pertama kali ditulis.
Justru di dunia yang lebih cair seperti ini, negara berkembang punya ruang manuver yang lebih besar.
Jadi ya, ketimpangan global itu nyata. Hambatan struktural juga nyata. Tapi struktur bukan takdir yang otomatis menentukan masa depan sebuah bangsa.
Yang sering membedakan negara yang berhasil naik kelas dan yang tertinggal bukan cuma posisi mereka dalam sistem dunia, tapi kualitas institusi, konsistensi kebijakan, keberanian mengambil keputusan sulit, dan apakah elitnya benar-benar bekerja untuk kepentingan jangka panjang bangsanya sendiri.
Itu yang perlu terus ditagih.
Karena kalau semua kegagalan selalu dijelaskan sebagai kutukan sistem global, yang paling diuntungkan justru elite domestik yang tidak pernah mau bertanggung jawab.