

fana
49K posts

@d3xxxlite
once you go black you never go back



Daily reminder :

Min, hasil crosscheck video live YT dan foto dari pengguna KRL itu kek gini:

Sepertinya dia tidak pernah naik KRL, ini namanya memindahkan masalah bukan memecahkan masalah 🙄

Ada orang percaya Purbaya kompeten aja udah aneh

Secara kompetensi, Purbaya di bawah SMI, Chatib Basri, dan Bambang Brodjo Tp, ada yg menarik. Lu liat 3 nama ex-menkeu di mana skrg. 1. SMI ngajar di oxford 2. CB ngajar di harvard 3. BB jadi dean di ADBI Jepang Serempak "kabur". mungkin pingin memantau dari jauh rezim ini.

Prabowo ini bikin semua presiden pendahulunya jadinya terlihat bener kerjanya. SBY itu nilainya 3/10, Jokowi 2/10 tapi Prabowo ini beneran 0/10. Nepotismenya gila. Temennya ditunjuk jadi Menhan yang ngurusin koperasi. Ajudannya dijadiiin Seskab. Adiknya dikasih jabatan multifungsi. Ponakannya dikasih Deputi BI. Ekonomi lagi ambruk-ambruknya tapi presidennya macem gini. Hancur total.

How do men with small dick survive?

@The_RedsIndo Setelah ngeliat anggaran mbg ternyata statement cak Imin bikin 40 kota setara jakarta tuh masuk akal😭


JUST IN: Prabowo tunjuk adiknya, Hashim Djojohadikusumo, sebagai Ketua Satgas Taman Nasional

Jadi makan pempek yang sesuai mannernya tuh pempek dan cukonya dipisah atau dicampur?

Terinspirasi Selat Hormuz, Purbaya kepikiran pajaki kapal di Selat Malaka


An idea that clearly violates international law and by doing so seriously undermines the country's own sovereignty and territorial integrity (UNCLOS)🤦♂️🤦♂️ Might as well accept China's nine-dash line and give parts of the North Natuna Sea to Beijing channelnewsasia.com/asia/indonesia…

Orang Indonesia harus belajar 1. Agree to disagree 2. Disagreement without being disagreeable. Tolong banget orang tua yang punya anak atau yang baru mau punya anak, ajari ini biar anaknya menjadi pribadi yang bijak. Sebagian besar masalah di Indonesia sumbernya dari dua itu.



INFO A1 ?


Teori konspirasiku Selama ini laki-laki banyak yg ga pernah memahami unconditional love, even dari orangtuanya sendiri. Maka saat tumbuh, yang dipahami hanya ia dicintai karena “sesuatu” yang ia miliki. Dari pandangan ini lahirlah patriarki, objektifikasi perempuan, dsb. Sebab ada inner projection. Jika ia dipilih karena sesuatu (objek) yang ia miliki, maka itu termanifestasi dalam pikiran mereka ke perempuan. Jika orangtua di rumah tidak mampu menghadirkan unconditional love, maka filter kedua yang bisa memperbaiki hal ini adalah pendidikan. Tapi kan pendidikan kita tuh… you know…. Sejak kecil gak dapet unconditional love, sampai dewasa masih juga gak dapet. Tar punya anak laki-laki, siklus berulang…