dhamar pramudhito

12.6K posts

dhamar pramudhito banner
dhamar pramudhito

dhamar pramudhito

@damar_dito

I just want to try to live my life in colour

Bumi gemah ripah loh jinawi Katılım Eylül 2011
266 Takip Edilen249 Takipçiler
dhamar pramudhito
dhamar pramudhito@damar_dito·
Kalo loe hidup ngalamin orba-nya Suharto. Narasi yang sama, dipakai sama dia kok, Suharto pakai PKI. Digunakan untuk membangun musuh bersama, merepresi, sumber permasalahan, dll. Sejarah terulang kembali, atau memang diulang? Melihat keefektifan Narasi PKI selama 32 tahun?
Lambe Saham@LambeSahamjja

Guys, ada satu ironi besar dalam politik Indonesia yang menurut gue perlu lo pahami. Prabowo Subianto adalah pemimpin yang paling sering melontarkan frasa "antek-antek asing" dalam pidato-pidatonya. Frasa itu dia pakai untuk menyerang kritikus, membangun narasi musuh bersama, dan memperkuat citranya sebagai nasionalis sejati pelindung kedaulatan Indonesia. Tapi rekam jejak pribadinya sendiri dari masa kecil sampai sekarang dia menjabat sebagai presiden menunjukkan gambaran yang sangat berbeda dari narasi itu. Mulai dari keluarga dan ini yang membentuk segalanya: Ayah Prabowo, Sumitro Djojohadikusumo, adalah ekonom terkemuka yang bergabung dengan PRRI pemerintah revolusioner yang menentang pusat dan selama periode itu menjalin kontak dengan pihak Amerika Serikat termasuk agen CIA di Singapura. Sumitro sendiri dalam wawancara Tempo 1999 mengakui adanya kontak itu tapi menegaskan bukan sebagai agen bayaran, melainkan untuk menggalang dukungan melawan komunisme. Setelah PRRI gagal keluarga Sumitro hidup dalam pengasingan. Prabowo kecil berpindah-pindah dari Singapura, Hong Kong, Malaysia, Swiss, sampai Inggris. Dia bersekolah di institusi pendidikan Amerika yang diisi anak-anak diplomat dan ekspatriat. Hasilnya? Prabowo tumbuh dengan bahasa, budaya, dan cara pikir ala Barat. Dan dia sendiri yang mengakuinya. Dalam wawancara Tempo 2013, Prabowo berkata: "Saya dari elit Indonesia yang terus terang saja kiblatnya ke Western elite. Kita ini kagum sama Barat. Kita besarnya di alam itu. Saya besar di alam bahwa nilai-nilai Barat itulah nilai-nilai modern." Kalimat itu diucapkan oleh orang yang sama yang kemudian sering menyebut orang lain sebagai antek asing. Pelatihan militer yang sangat pro-Amerika: Ketika Prabowo masuk militer dan bergabung dengan Kopassus dia mengikuti program IMET atau International Military Education and Training program yang dirancang Amerika Serikat untuk membangun hubungan jangka panjang dengan perwira militer di negara-negara mitra. Tahun 1980 Prabowo mengikuti pelatihan pasukan khusus di Fort Bragg, North Carolina pusat utama operasi khusus Amerika Serikat. Dia diakui sebagai salah satu lulusan terbaik. Bahkan menjadi perwira asing pertama yang merebut lencana penerjun pasukan khusus Amerika. Lima tahun kemudia pelatihan lanjutan di Fort Benning, Georgia. Ini bukan hubungan kasual. Ini adalah pembentukan militer yang sangat sistematis dan mendalam dengan sistem pertahanan Amerika Serikat. Klaim yang paling mengejutkan dan ini perlu lo tahu konteksnya: Dalam wawancara off the record antara jurnalis Allan Nairn dan Prabowo pada 2001 yang baru dibuka menjelang Pilpres 2014 Nairn mengklaim Prabowo menyebut dirinya sebagai "anak kesayangan Amerika." Nairn juga mengklaim Prabowo mengaku sangat dekat dengan DIA Badan Intelijen Pertahanan Amerika Serikat dan melapor kepada mereka setidaknya seminggu sekali, bahkan selama krisis 1998. Gue perlu jelas: ini adalah klaim dari wawancara off the record yang sumbernya adalah pengakuan satu pihak jurnalis yang membukanya unilateral. Prabowo tidak pernah secara terbuka mengkonfirmasi isi wawancara itu. Kubu Prabowo menyebut Nairn melanggar etika jurnalistik. Tapi yang menarik adalah: Prabowo juga tidak pernah secara terbuka menyangkal isinya di depan publik. Adiknya yang bicara lebih terang-terangan: Kalau klaim Nairn masih bisa diperdebatkan pernyataan adik Prabowo, Hashim Djojohadikusumo, di forum Washington 2013 jauh lebih terdokumentasi. Dalam forum terbuka itu, Hashim berkata: "Prabowo is very pro-American. He's been going to American school all his life. He went to special forces. He was in Fort Benning, Fort Bragg. The US will be a privileged partner with a Gerindra administration." Mitra istimewa. Kata-katanya sendiri. Di forum publik. Terekam. Sanksi Amerika dan bagaimana hubungan itu akhirnya pulih: Hubungan Prabowo dengan Amerika memang sempat retak. Setelah tuduhan keterlibatan dalam pelanggaran HAM berat pembantaian Kraras 1983 dan penculikan aktivis 1998 Amerika memutus hubungan dengan Kopassus dan melarang Prabowo masuk wilayahnya sejak tahun 2000. Sanksi ini bertahan selama era Clinton, Bush, dan Obama hampir dua dekade. Tapi larangan itu dicabut begitu Jokowi menunjuknya sebagai Menteri Pertahanan di 2019. Dan sekarang sebagai presiden Prabowo aktif mendekatkan diri ke Amerika. Menemui Trump. Menghadiri forum-forum pertahanan. Menandatangani kesepakatan dagang dan 11 MOU senilai miliaran dolar dengan pengusaha Amerika. Dan ini paradoks yang paling menohok: Di satu sisi Prabowo sering menyebut kritikus sebagai antek asing di hadapan rakyat Indonesia. Di sisi lain dia sendiri dibesarkan di sekolah Amerika, dilatih di Fort Bragg dan Fort Benning, mengikuti program intelijen militer Amerika, punya hubungan transaksional yang sangat dalam dengan sistem pertahanan Amerika, dan adiknya sendiri yang menjanjikan Amerika sebagai mitra istimewa kalau Gerindra berkuasa. Ini bukan kontradiksi yang tersembunyi. Ini ada di rekam jejak publik yang bisa diverifikasi. Yang perlu dipahami dengan adil: Kedekatan dengan Amerika bukan otomatis kejahatan. Banyak pemimpin negara menjalin hubungan strategis dengan Amerika itu adalah realita geopolitik. Yang menjadi masalah adalah penggunaan frasa "antek asing" sebagai senjata politik untuk menyerang orang lain sementara diri sendiri punya rekam jejak yang jauh lebih dalam dengan kekuatan asing yang dimaksud. Kalau standarnya adalah "dekat dengan asing berarti antek asing" maka standar itu harus diterapkan secara konsisten. Bukan hanya kepada lawan politik. Prabowo bukan nasionalis anti-Barat. Dia adalah pragmatis yang menggunakan retorika nasionalisme untuk konsumsi domestik sementara secara strategis membangun dan mempertahankan hubungan transaksional yang sangat dalam dengan Amerika Serikat. Itu bukan skandal per se. Banyak pemimpin melakukan hal yang sama. Yang skandal adalah ketika frasa "antek asing" dilontarkan kepada mereka yang mengkritik kebijakan pemerintah oleh seseorang yang punya rekam jejak hubungan dengan Amerika yang jauh lebih dalam dari siapapun yang pernah dia tuduh. ⚠️ Disclaimer: Fakta yang dikutip berdasarkan dokumen publik yang bisa diverifikasi termasuk wawancara Tempo 1999 dan 2013, rekaman forum Washington 2013, dan data program IMET. Klaim dari wawancara off the record Nairn-Prabowo 2001 adalah klaim yang belum dikonfirmasi atau disangkal secara terbuka oleh Prabowo. Ini analisis berbasis fakta publik bukan tuduhan hukum.

Indonesia
0
0
0
19
dhamar pramudhito
dhamar pramudhito@damar_dito·
2 email kerjaan masuk di sore yang sama. Alhamdulillah. Senen belajar ilmu baru. Let's build up a very refined portfolio.
Indonesia
0
0
0
11
dhamar pramudhito
dhamar pramudhito@damar_dito·
@kamentrader I still won't let go being Jakartans, though living in Depok wkwkwk. I even never admit l live in Depok, I would say South Tangerang instead, well it's only 2km away from my home anyways.
English
0
0
0
38
dhamar pramudhito
dhamar pramudhito@damar_dito·
Gimana gw ngga elus-elus dada
Lambe Saham@LambeSahamjja

Guys, ada laporan baru dari lembaga riset Celios yang menurut gue adalah salah satu yang paling mengerikan yang pernah gue baca tentang kondisi ekonomi Indonesia. Judulnya: Republik Oligarki Ketimpangan Ekonomi Indonesia 2026. Dan datanya bukan dari sembarang sumber. Dari Forbes. Dari LHKPN. Data yang sudah terverifikasi dan tidak bisa dibantah. Fakta pertama yang langsung bikin gue sesak napas: 50 orang terkaya Indonesia hanya 50 orang total kekayaannya mencapai Rp4.600 triliun per 2026. APBN Indonesia? Rp3.800 triliun. Artinya 50 orang itu lebih kaya dari seluruh anggaran negara yang digunakan untuk membiayai 270 juta rakyat Indonesia selama satu tahun penuh. Satu tahun. Gaji PNS, subsidi BBM, bayar utang, bangun jalan, biaya militer, semua program sosial semuanya masih kalah dari 50 orang itu. Dan setiap harinya harta 50 orang itu naik Rp13 miliar per hari. Sementara upah pekerja harian di Indonesia bergerak di kisaran Rp2.000 sampai Rp5.000 per jam. Fakta kedua ketimpangan di antara pejabat negara sendiri: Total kekayaan pejabat negara era Prabowo-Gibran: Rp1 triliun lebih. Dan dari seluruh pejabat itu 73% kekayaannya hanya dikuasai oleh 12 orang. Dua belas orang. Yang masing-masing punya kekayaan di atas Rp1 triliun. Siapa? Salah satu yang terbesar adalah Menteri Pariwisata Widya Kusuma. Ada juga Menteri Perumahan Rakyat. Keduanya masuk dalam daftar lima pejabat terkaya. Fakta ketigayang paling menohok soal TNI dan Polri: Setiap tamtama TNI prajurit paling bawah butuh 252 tahun masa tugas untuk menyamai kekayaan Panglima TNI. Dua ratus lima puluh dua tahun. Kalau mulai kerja umur 20 baru bisa menyamai kekayaan atasannya di umur 272 tahun. Itu bukan angka. Itu absurditas. Di Polri sedikit "lebih baik" polisi golongan paling rendah butuh 139 tahun masa tugas untuk menyamai kekayaan Kapolri. Ketimpangan ini bukan hanya antara rakyat dan orang kaya. Tapi di dalam institusi yang sama. Di antara satu korps yang sama. Fakta keempat anggota DPR versus konstituennya: Anggota DPR Gorontalo kekayaannya 800 kali lipat dari rata-rata masyarakat Gorontalo yang mereka wakili. Anggota DPR Yogyakarta 400 kali lipat dari rata-rata masyarakat Yogyakarta. Orang-orang yang mengklaim mewakili rakyat hidupnya 400 sampai 800 kali lebih kaya dari rakyat yang katanya mereka wakili. Dan mereka yang membuat undang-undang. Mereka yang memutuskan kebijakan pajak. Mereka yang menentukan siapa yang dapat subsidi dan siapa yang tidak. Dan ini yang membuat seluruh gambar itu menjadi sangat gelap: Celios mengajukan satu pertanyaan yang sangat sederhana: kalau 50 orang terkaya itu dipajaki hanya 2% dari total kekayaan mereka negara dapat berapa? Rp93 triliun per tahun. Sembilan puluh tiga triliun. Setiap tahun. Dari pajak 2% saja atas kekayaan 50 orang. Itu lebih dari cukup untuk membiayai rekonstruksi bencana besar. Untuk membenarkan semua perlintasan kereta berbahaya di Jawa yang butuh Rp4 triliun. Untuk menggaji 8 juta guru honorer setahun penuh. Untuk menutup seluruh defisit BPJS Kesehatan. Hanya dari 50 orang. Hanya 2%. Per tahun. Tapi itu tidak terjadi. Dan Celios menjelaskan kenapa: Karena orang-orang yang punya kekayaan itu — adalah orang-orang yang sama yang membiayai kampanye politik, yang duduk di dewan komisaris BUMN, yang punya akses langsung ke pengambil keputusan. Pajak kekayaan sudah masuk dalam rencana Kementerian Keuangan paling lambat 2028 kata mereka. Tapi implementasinya? Masih "akan akan akan" saja. Tidak pernah benar-benar dieksekusi. Sementara yang terus dipajaki adalah kelas menengah yang sudah ngos-ngosan. Kelas menengah Indonesia turun 1,1 juta orang dalam setahun tapi mereka yang paling mudah dikejar pajaknya karena datanya ada, penghasilannya kelihatan. Seperti kata peneliti Celios: berburu di kebun binatang. Hewannya kelihatan, tinggal tembak. Sementara yang benar-benar harus dipajaki terlalu kuat untuk disentuh. Dan ini yang paling mengerikan dari seluruh laporan ini: Ketimpangan yang ekstrem ini bukan hanya masalah ekonomi. Ini adalah bahan bakar untuk sesuatu yang jauh lebih berbahaya. Celios menelusuri pola historis dan hasilnya konsisten. Ketika ketimpangan mencapai titik ekstrem dan orang-orang hopeless tidak melihat jalan keluar yang rasional mereka tidak lari ke gerakan buruh atau gerakan sosial yang terorganisir. Mereka lari ke kelompok-kelompok yang menawarkan identitas, musuh bersama, dan rasa memiliki. Di Italia 1930-an orang yang di-PHK direkrut oleh Black Shirt. Di Jerman industri tutup, pengangguran meledak, orang mencari pegangan. Di Indonesia sendiri kerusuhan 1998 dan berbagai gejolak sosial sesudahnya, ketika ditelusuri, akar masalahnya selalu sama: ketimpangan ekonomi yang dibalut isu identitas. Dan tanda-tandanya sudah mulai terlihat sekarang ormas-ormas yang berdemo bukan ke instansi pemerintah tapi ke lembaga bantuan hukum masyarakat sipil, bayaran demo yang menjadi solusi pengangguran, program-program besar yang menyerap tenaga kerja tapi dengan cara yang menciptakan ketergantungan bukan kemandirian. Solusi yang Celios rekomendasikan dan ini sangat konkret: Satu — pajak kekayaan 2% untuk 50 orang terkaya. Langsung hasilkan Rp93 triliun per tahun. Bukan mimpi Brazil dan Colombia sudah melakukannya dengan komite audit independen. Dua — moratorium MBG. Hentikan sementara, perbaiki tata kelola dari akar, baru jalankan lagi dengan tepat sasaran fokus ke daerah 3T dan keluarga miskin ekstrem, bukan merata ke semua sekolah termasuk swasta di Jabodetabek. Tiga — kembalikan 20 triliun yang diambil dari anggaran kesehatan ke Kementerian Kesehatan untuk program stunting yang sudah terbukti efektif. Benefit yang dihasilkan: Rp400 triliun. Versus MBG yang belum jelas benefit konkretnya. Empat — pajak windfall untuk komoditas yang sedang untung besar batu bara, sawit, nikel, minyak. Mereka untung dari harga global yang tinggi, sementara rakyat menanggung subsidi energi. Ini bukan soal nasionalisasi ini soal keadilan distribusi keuntungan. Indonesia bukan negara miskin. Indonesia adalah negara yang kekayaannya terkonsentrasi pada sangat sedikit orang, yang sistem pajaknya melindungi orang kaya dan membebani kelas menengah, dan yang program-program besarnya lebih banyak menciptakan celah korupsi baru daripada menyelesaikan masalah lama. 50 orang lebih kaya dari APBN. 12 pejabat kuasai 73% kekayaan seluruh pejabat negara. Tamtama butuh 252 tahun untuk menyamai Panglima. Anggota DPR 800 kali lebih kaya dari konstituennya. Dan solusinya sudah ada. Jelas. Terukur. Bisa dijalankan hari ini. Yang tidak ada adalah kemauan politik untuk melakukannya. Karena yang harus meloloskan kebijakan pajak kekayaan itu adalah orang-orang yang sama yang akan paling terdampak olehnya. Itu bukan korupsi yang bisa ditangkap KPK. Itu adalah struktur. Dan struktur hanya bisa diubah kalau tekanan dari bawah lebih kuat dari kenyamanan di atas. ⚠️ Disclaimer: Berdasarkan laporan Celios "Republik Oligarki Ketimpangan Ekonomi Indonesia 2026" dan wawancara peneliti Celios Bima Yudistira. Data bersumber dari Forbes dan LHKPN yang dapat diverifikasi publik. Ini analisis berbasis riset independen bukan tuduhan hukum kepada individu manapun.

Indonesia
0
0
0
14
dhamar pramudhito
dhamar pramudhito@damar_dito·
Inget baca komik kariage-kun. Persis!. MBG kita diamati untuk dipelajari, supaya negara asing jangan pernah membuat kesalahan dodol yg telah Kita lakukan. Ya bener sih pak, sebuah pembelajaran yg berharga.
Kompas.com@kompascom

Baca di sini: nasional.kompas.com/read/2026/04/2… "Kita jangan jadi bangsa yang rendah diri. Minder-minder-minder, selalu bangsa asing yang hebat. Banyak negara sekarang belajar MBG ke kita. Banyak belajar MBG ke kita," kata Prabowo di Cilacap, Jawa Tengah, Rabu (29/4/2026), dikutip dari YouTube Sekretariat Presiden. ~WR #Prabowo #MBG

Indonesia
0
0
0
40
dhamar pramudhito
dhamar pramudhito@damar_dito·
@hasyimmah Hehehe sekolah saya yg swasta kalo ketahuan mencontek, otomatis 0. Pernah kita tidak meluluskan siswa karena mencontek pas UNBK dulu. Di sekolah negri, ngga berani tuh sekolah kasih sanksi yg sama. Kebetulan saya pas jadi pengawas ngegap anak yg nyontek. Hehehe
Indonesia
0
1
50
5.7K
Hasyim Muhammad
Hasyim Muhammad@hasyimmah·
Saya punya teman yang anaknya kuliah di Universitas Binus. Dia cerita kalau di Binus ada aturan: ketahuan mencontek, mahasiswa di-DO. Wow! Saya terkesima. Lalu dia menambahkan: jika ada alumni Binus tertangkap korupsi, maka namanya akan dihapus dari daftar alumni Binus. Wow! Wow! Wow! Saya triple terkesima. Saya jadi mikir, kenapa kampus PTN tidak mengajarkan integritas seperti itu ke mahasiswanya? Itu adalah sebuah aturan, sekaligus pelajaran, yang menurut saya sangat penting untuk "memperbaiki" bangsa ini. Sebuah langkah dasar dalam membentuk mental anak didik mereka. Kenapa cuma Binus yang melakukan kebaikan itu? Kenapa cuma Binus yang punya niat untuk membina nusantara ini menjadi lebih baik? -- Catatan: silakan share jika ada kampus lain juga yang mengajarkan integritas seperti itu.
Indonesia
220
793
4.7K
331.6K
dhamar pramudhito
dhamar pramudhito@damar_dito·
Baru diangkat jadi Duta BPJS sih. Utusan khusus presiden juga. Apa dia ngaruh Dateng ke lokasi? Impact apa yg dia bisa bawa sebagai bagian dari pemerintah? Plainly, nothing. Udahlah I give up using logic for this government.
Indonesia
0
0
0
31
dhamar pramudhito
dhamar pramudhito@damar_dito·
8.23 dan zoomnya masih budek. Kegiatan belum mulai. Hebat emang.
Indonesia
0
0
1
16
dhamar pramudhito
dhamar pramudhito@damar_dito·
Dpt undangan zoom instansi pemerintah jam 7. Udah buru-buru buka zoom takut telat. Sampe jam 7.53 kita cuma disuguhi background tanpa suara. Masih gladi internal katanya. Ya jgn kasih undangan jam 7 bang! Profesionalisme di mana sih?! Untungnya gw ngga kerja di pemerintahan!
Indonesia
1
0
1
53
dhamar pramudhito
dhamar pramudhito@damar_dito·
@ardisatriawan Ga kaget kalo ranking dunia univ terbaik di Indonesia masih stuck di 3 digit. Jauh sama Malaysia. Kawan gw S2, sempet ngebet jd dosen karena mau lanjut S3. Tapi ga jadi krn politik kampus plus kenyataan di atas. Ttp Jd guru, gaji berkali2 UMR, negara hilang potensi dosen bagus.
Indonesia
0
3
71
7.4K
Ardianto Satriawan
Ardianto Satriawan@ardisatriawan·
Perjalanan Karir Dosen "Selamat Mutia, udah lulus S2!" "Terima kasih Prof. Harjo!" "Kamu jadi mau jadi dosen kan? Saya bisa tulis rekomendasi." "Ya Pak." *** "Mbak Admin, ini surat rekomendasi dari Prof. Harjo sama surat lamaran saya" "Baik Bu Mutia, saya terima." "Terus ini gimana Bu?" "Bu Mutia dikontrak jadi dosen tidak tetap di sini dulu sampai bukaan CPNS." "Bayarannya?" "Per SKS Bu. Honorarium, bukan gaji. Sekitar 75 ribu per pertemuan." "Baik Mbak." *** "Bu Mutia, ini jadwal ngajarnya. Total kuliah 9 SKS ya Bu." "Kalau sebulan berarti empat pertemuan?" "Iya Bu." "Berarti saya dapat 2.7 juta Mbak?" "Iya Bu" "UMR kota ini aja 4.8 juta?" "Iya Bu. Memang aturannya gitu." "..." *** "Prof. Harjo, ini emang dosen awal karir bayarannya cuma segini?" "Iya. Saya dulu juga gitu." "Terus Prof dulu gimana?" "Saya ngajar di kampus-kampus tetangga dulu waktu masih muda. Dari dulu aturannya gitu." "Legal di bawah UMR? Gak ada yang protes Prof?" "Kemarin sih di berita ada yang gugat ke MK Bu." "..." *** "Mbak Admin, ini emang belum ada bukaan CPNS?" "Belum Bu." "Sampai kapan?" "Gak tau, kata pemerintah lagi moratorium." "Terus saya harus nunggu gak ada kepastian?" "Iya Bu. Dari dulu juga gitu." "..." *** "Bu Mutia, ini ada bukaan CPNS, segera daftar ya Bu." "Baik Mbak Admin, apa yang perlu saya siapkan?" "Ibu belajar tes SKD sama SKB." "Lah ini kan udah waktu saya lamar jadi dosen tidak tetap?" "Iya, lagi Bu." "Hah? Kalau misal saya amit-amit gak lulus atau ada orang luar kampus yang lolos gimana?" "Ibu nunggu bukaan CPNS lagi yang berikutnya." "Hah? Itu pun belum tentu ada?" "Iya Bu. Dari dulu juga gitu." "..." *** "Mbak Admin, ini pengumuman CPNS belum ada?" "Belum Bu." "Lah katanya Maret?" "Kata berita kemarin Menpan RB bilang ditunda." "Sampai kapan?" "Oktober Bu." "Enam bulan? Emang biasa ya ditunda kaya gitu?" "Iya Bu. Dari dulu juga gitu." "..." *** "Bu Mutia, ini ada surat dari pusat." "Saya baca dulu" "..." "Alhamdulillah. Lolos CPNS." "Selamat ya Bu." "Cuma ini emang selama satu tahun saya cuma nerima 80% gaji pokok?" "Iya Bu. Setahun pertama CPNS. Nanti PNS abis itu." "Cuma 2.2 jutaan? Masih di bawah UMR sini? Malah mending honorer ngajar 9 SKS?" "Memang aturannya begitu. Ibu kan masuknya S2, jadi IIIB. Sekitar segitu." "Ini gak melanggar undang-undang ketenagakerjaan?" "Nggak Bu. Ibu kan CPNS. Dosen juga. Beda aturan. Memang begitu Bu." "..." *** "Mbak Admin, ini gimana caranya nambah take home pay? Gila aja segini terus" "Ibu harus punya jabatan fungsional Bu. Asisten Ahli. Biar dapat tunjangan profesi." "Bisa langsung apply?" "Harus udah PNS Bu. CPNS belum bisa." "Jadi harus nunggu setahun dulu?" "Iya Bu. Memang aturannya begitu. Dari dulu juga begitu." "..." *** "Bu Mutia, ini ada surat dari pusat. Selamat Bu udah jadi PNS dosen." "Alhamdulillah. Jadi saya dapet tambahan 20%, dari tadinya 80% jadi utuh?" "Iya Bu. Jadi sekitar 2.9 jutaan." "Gak ada tambahan apa-apa? Bukannya PNS di tempat lain ada Tukin?" "Gak ada Bu. Itu kan yang pegawai di kementerian sama PTN Satker sama BLU." "Kok gitu? Bedanya apa?" "Ibu kan PNS dosen di sini, PTN-BH. Kata Sekjen Dikti di berita kemarin 'Tukin itu untuk pegawai, bukan dosen'" "Jadi huruf 'P' di status saya PNS itu bukan 'Pegawai'?" "Kata pemerintah gitu Bu. Memang aturannya begitu. Dari dulu juga gitu." "..." *** "Mbak Admin, saya bisa langsung mengajukan jabfung Asisten Ahli tahun ini?" "Bisa Bu. Ini syaratnya." "BKD memenuhi 12 SKS per semester selama 2 tahun berturut-turut?" "Iya Bu." "Lah, penugasan saya kemarin-kemarin aja pas honorer 9 SKS? Gak memenuhi?" "Iya Bu. Memang begitu." "Berarti yang keitung baru yang pas CPNS 12 SKS? Cuma setahun?" "Iya Bu. Dari dulu juga gitu." "Terus gimana?" "Tahun depan Bu. Setelah genap 12 SKS 2 tahun berturut-turut." "..." *** "Mbak Admin, ini berkas saya buat Asisten Ahli." "Baik Bu, saya cek sebentar." "..." "Berkasnya lengkap Bu, saya ajukan ya." "SK Keluarnya kapan?" "Enam bulan sampai setahun Bu." "Nunggu lagi? Tetep dengan take home pay yang sama?" "Iya Bu. Memang gitu. Dari dulu juga gitu." "..." *** "Mbak Keuangan, saya mau tanya" "Gimana Bu?" "Ini kan saya baru jadi Asisten Ahli. Ada tunjangan jabfung?" "Ada Bu. 375 ribu." "Hah? 375 ribu?" "Iya Bu. Memang aturannya begitu. Sejak 2007." "Udah mau dua puluh tahun lewat?" "Iya Bu." "..." *** "Prof. Harjo, ada tips lagi gak buat nambah take home pay?" "Udah Asisten Ahli Bu?" "Sudah." "Udah apply sertifikasi belum?" "Belum." "Nah cobain. Sekali gaji pokok itu lumayan." "Baik Pak." *** "Mbak Admin, saya mau apply sertifikasi." "Lengkapi berkasnya Bu. Sekarang yang penting tuh Pekerti atau Applied Approach." "Semacam training sama pelatihan gitu ya?" "Iya Bu. Sekitar seminggu trainingnya. Bayar 1-3 juta." "Ada reimburse dari kampus?" "Gak ada Bu. Bayar sendiri." "Hah? Kan ini buat kepentingan profesional kan ya?" "Diitungnya pendidikan untuk pengembangan diri Bu. Bukan bagian profesionalisme." "Hah?" "Memang begitu Bu. Dari dulu juga gitu. Bahkan dulu ada TPA sama TOEFL bayar sendiri juga sebelum dihapus." "..." *** "Mbak, ini jadwal Pekerti yang deket adanya di luar kota." "Iya Bu." "Transport sama nginep saya bayar sendiri?" "Iya Bu. Memang gitu. Atau kalau enggak nunggu ada di kampus kita." "Kapan Mbak?" "Tahun depan." "..." *** "Mbak Admin, ini berkas sertifikasi saya." "Baik Bu. Sudah lengkap. Saya nanti submit waktu udah jadwalnya." "Udah jadwalnya? Gak bisa tiap waktu?" "Nggak Bu. Setahun dua kali doang. Yang kemarin udah lewat." "Terus gimana?" "Saya submit nanti sesi kedua tahun ini, enam bulan lagi." "..." *** "Bu Mutia, ini SK serdosnya sudah keluar." "Alhamdulillah, akhirnya. Memang selama itu Mbak?" "Iya Bu. Setahun biasanya." "Jadi saya langsung terima tunjangan profesi?" "Biasanya ada delay 1-2 bulan Bu." "Nunggu lagi?" "Iya Bu. Memang begitu. Dari dulu juga gitu." "..." *** "Gimana Mut Sertifikasinya?" "Alhamdulillah Prof Harjo, akhirnya THP saya di atas UMR." "Iya, mesti punya jabfung sama AA dulu, baru gitu." "Iya Pak, ordenya tahunan." "Saya dulu juga gitu." "..." *** "Mbak Admin, saya mau apply jadi Lektor." "Udah berapa lama jadi AA Bu?" "Dua tahun seinget saya." "Nah, udah bisa berarti. Udah ada publikasi ilmiah Bu?" "Belum Mbak." "Mesti ada." "Hah? Risetnya? Biaya penelitiannya? Mencit? Reagen? Bahan Kimia?" "Wah, itu saya kurang tahu. Coba tanya senior Bu." "..." *** "Prof. Harjo, saya perlu naik jadi Lektor." "Wah mantab. Bagus Bu." "Nah tapi perlu paper buat itu." "Iya Bu. Memang gitu. Saya dulu juga gitu." "Risetnya? Biaya penelitiannya? Mencit? Reagen? Bahan Kimia? APC jurnalnya?" "Saya dulu bayar sendiri semua itu Bu." "Hah? Gak ada alternatif Prof?" "Coba ke Lembaga Penelitian Kampus cari Hibah pemula." "..." *** "Mbak Admin Lembaga Penelitian Kampus, ada hibah buat dosen muda untuk riset pemula? Saya perlu paper." "Ada Bu. Coba dibaca-baca" "Ini memang semua syaratnya Lektor? Bahkan buat pemula?" "Iya Bu. Rata-rata perlu sudah Doktor dan sudah Lektor." "Jadi untuk jadi Lektor saya butuh dana riset, dan untuk dapat dana riset saya harus jadi Lektor?" "Iya Bu. Memang begitu. Dari dulu juga gitu." "..." *** "Prof. Harjo, saya pinjam ruangan lab basah ya selama setahun ke depan." "Dapat hibah Mut akhirnya?" "Nggak ada Prof. Untuk jadi Lektor saya butuh dana riset, dan untuk dapat dana riset saya harus jadi Lektor." "Terus gimana?" "Bayar sendiri." "Semangat Mut. Saya dulu juga gitu." "..." *** "Mbak Admin, ini berkas saya buat Lektor." "Baik Bu, saya cek sebentar." "..." "Berkasnya lengkap Bu, saya ajukan ya." "SK Keluarnya kapan?" "Enam bulan sampai setahun Bu." "Nunggu lagi? Tetep dengan take home pay yang sama?" "Iya Bu. Memang gitu. Dari dulu juga gitu." "..." *** "Bu Mutia, ini SK Lektornya sudah keluar." "Alhamdulillah, akhirnya. "Selamat ya Bu." "Memang selama itu Mbak?" "Iya Bu. Enam bulan sampai setahun biasanya. Memang biasanya begitu." "..." *** "Mbak Keuangan, saya mau tanya" "Gimana Bu?" "Ini kan saya baru jadi Lektor. Tunjangan jabfungnya nambah?" "Iya Bu. Pas Asisten Ahli 375 ribu, kalau Lektor 700 ribu." "Hah? 700 ribu?" "Iya Bu. Memang aturannya begitu. Sejak 2007." "Udah mau dua puluh tahun lewat?" "Iya Bu." "..." *** "Bu Mutia, dipanggil ke ruangan Pak Dekan." "Ada apa ya Mbak Admin?" "Ada yang mau diobrolin katanya." "Jam berapa mbak?" "Jam 1, habis makan siang." *** "Ada apa Pak Dekan?" "Bu Mutia kan udah lama jadi dosen di sini kan ya?" "Iya Pak." "Udah Lektor juga kan ya? Tapi ijazah masih S2 ya?" "Iya Pak." "Biar karir Bu Mutia lancar, kami minta untuk Tugas Belajar S3." "Wah, kalau nggak gimana Pak? Saya lagi banyak pengeluaran. Mana utang waktu S1 belum kebayar semua." "Nanti karir Bu Mutia stuck di situ." "Oh gitu, oke Pak." *** "Mbak Admin, kalau saya mau daftar S3 di univ sini aja, syaratnya apa aja?" "Kok gak ke luar negeri aja Bu?" "Anak saya baru masuk kuliah, di jurusan sebelah, adiknya mau masuk SMA." "Wah udah gede." "Iya, saya dulu nikah muda dan punya anak cepet." "Oh gitu, saya cek dulu ya syarat-syaratnya Bu, nanti saya hubungi." *** "Bu Mutia, syaratnya ini Bu: Ijazah sama Transkrip S1 dan S2, Hasil tes TPA, Hasil tes TOEFL, sama Proposal Penelitian." "Tes TPA sama TOEFL saya udah kadaluarsa, harus tes lagi?" "Iya Bu. Oh ya, nanti juga ada tes lagi dari jurusan." "Bentar, saya ngajar di jurusan Farmasi ini, punya beberapa paper di jurnal internasional di bidang ini juga, masih harus dites kemampuannya?" "Iya Bu, memang aturannya begitu." "..." *** "Mbak Admin, ini saya udah dapat tes TPA dan TOEFL saya, ada reimburse-nya?" "Gak ada Bu." "Hah? Kok gitu, bukannya ini saya melaksanakan tugas secara profesional? Kok jadi uang saya pribadi yang keluar?" "Memang aturannya begitu Bu." "Uang pendaftaran ke universitas juga nggak ada reimburse-nya?" "Gak ada Bu." "..." *** "Pak Dekan, saya kan udah urus pendaftaran S3 ke sini, untuk biaya UKT per semesternya gimana?" "Sekitar 15 juta per semester Bu." "Wah, saya gak kuat harus bayar segitu." "Bu Mutia cari beasiswa aja, ada LPDP atau BPI." "Bentar, ini saya kan melaksanakan tugas secara profesional kan Pak? Atas perintah Fakultas?" "Iya Bu." "Tapi saya disuruh cari pendanaan sendiri? Antara bayar sendiri atau beasiswa cari sendiri?" "Iya Bu. Memang begitu. Saya dulu juga begitu." "..." *** "Prof. Harjo, bisa jadi promotor S3 saya?" "Bisa Mut, tapi saya lagi minim funding beberapa semester ke depan. Hampir semua guru besar di fakultas kita lagi susah Bu." "Oh gitu Prof, kalau tanpa funding, gimana?" "Mutia harus biayain penelitian sendiri." "Maksudnya?" "Beli mencit, reagen, bahan kimia, sama alat-alatnya secara mandiri Bu." "Bentar, jadi selain harus bayar UKT, saya juga harus bayar penelitiannya?" "Iya Mut." "Kan ini saya bertugas secara profesional kan Prof? Ada surat dari Fakultas loh saya disuruh Tugas Belajar, kok pakai uang pribadi?" "Saya dulu juga gitu Bu. Memang begitu." "..." *** "Bu Mutia, ini ada surat dari LPDP." "Oh iya Mbak Admin, sudah ada pengumumannya?" "Iya Bu, ini ada suratnya. Dibuka aja Bu. LPDP itu yang rame kemarin gara-gara pada gak pulang?" "Iya mbak, cuma saya apply yang dalam negeri aja." "Kenapa Bu, kok sedih?" "Nggak keterima Mbak, padahal saya juga PNS Dosen." "Masa Bu? Maudy Ayunda sama Tasya yang artis aja bisa dapet? Terus gimana Bu?" "Ini masih nunggu BPI mbak." "..." *** "Bu Mutia, ini ada surat dari BPI." "Oh iya Mbak Admin, sudah ada pengumumannya?" "Iya Bu, ini ada suratnya. Dibuka aja Bu." "..." "Kenapa Bu, kok sedih?" "Beasiswanya dibatalin Bu. Kena efisiensi. Jadi buat guru doang." "Waduh. Tapi itu beasiswa bermasalah dari dulu Bu. Suka telat sama nunggak." "Hah iya?" "Iya. Kemarin juga macet. Servernya kena hack." "Sebenernya masih bisa diusahain sih kalau itu mbak. Tapi ya itu, dibatalin." "Jadi Bu Mutia gimana akhirnya?" "Terpaksa bayar UKT pakai uang pribadi." "..." *** "Mbak Keuangan Fakultas, ini kok gaji saya tinggal gaji pokok PNS doang? Ini gaji pokoknya mana di bawah UMK pula." "Bentar saya cek ya Bu Mutia." "Tolong ya mbak, itu semua tunjangan sama serdos jadi ilang semua, saya lagi perlu biayain anak-anak saya." "Bu Mutia mulai tugas belajar semester ini?" "Iya Mbak." "Oh pantes, memang gitu aturannya Bu, selama tugas belajar yang diberikan hanya gaji pokok PNS." "Hah, kok gitu? Saya kan mengerjakan tugas ini atas perintah Fakultas?" "Memang aturannya begitu Bu." "..." *** "Prof. Harjo, tugas belajar ini emang semua tunjangan ilang?" "Iya Mut, dari dulu juga gitu. Saya dulu juga gitu." "Gak ada yang protes?" "Kapan hari ada yang gugat ke MK, katanya kan mereka ngerjain tugas profesional, terus ditolak." "Hah ditolak? Kan emang profesional? Saya ada surat tugas. Ini atas perintah Fakultas?" "Iya, katanya bukan bagian dari tugas keprofesionalan dosen. Mantan rektor kampus gede yang jadi saksi ahli." "Lah terus riset, nulis paper, sama ngisi BKD itu apa? Saya tugas gak tugas kerjaannya sama, bayarannya beda." "Ya MK bilang aturannya memang begitu." "..."
Dosen Kesayanganmu@direktoridosen

Wamendikti Goblok Wamendikti Goblok Wamendikti Goblok Wamendikti Goblok Wamendikti Goblok Wamendikti Goblok Wamendikti Goblok Wamendikti Goblok Wamendikti Goblok Wamendikti Goblok Wamendikti Goblok Wamendikti Goblok

Indonesia
150
1.2K
3.8K
297.1K
dhamar pramudhito
dhamar pramudhito@damar_dito·
@karimnas_ Pejabat Indonesia, Halah bahkan baru eselon 1 aja gayanya udah paling keren lah. Mobil listrik keluaran terbaru, tas bermerk diluar Nurul, liburan ke LN pake first/business class, dll. Kalo dihitung ngga akan cukup tuh gaji. Ya tapi kan kalo ngitung jujur. Huahahah
Indonesia
0
1
91
4.4K
dhamar pramudhito
dhamar pramudhito@damar_dito·
Ya tergantung masing-masing lah boss. Nikah kan kesepakatan berdua. Tiap orang punya prinsip hidup masing-masing, gimana loe nyampe pada kompromi dan kata sepakat untuk nikah dengan keadaan sejujurnya adalah sebuah tantangan hidup yang paling nyata.
SobatMiskinTV@MiskinTV_

Buat cewek2, misal nih udah sama2 suka, secara fisik menarik, seiman, udah cocok semua, tapi doi gajinya UMR. Kalian tetep bakal lanjut ga? Konsep menikah adalah 'berjuang bersama' menurut kalian masih relate ga untuk jaman sekarang?

Indonesia
0
0
0
58
dhamar pramudhito
dhamar pramudhito@damar_dito·
@MikaelDewabrata @beeeemooooo Iya, gw kok lihatnya aneh. Loe install Instagram buat photo n video lah ngapa ada sempilan text based media Di situ? Enek juga kali ya doom scrolling ? Wkwkwk
Indonesia
0
0
0
19
dhamar pramudhito
dhamar pramudhito@damar_dito·
@Txtdariiugm @prophetofzorck Sebagai alumni ilmu murni. Gw merasa, melihat dan mengalami bagaimana riset selalu terpinggirkan, karena "ngga menghasilkan duit". Padahal riset dalam jangka panjang justru modal yg kuat buat negara yg kaya biodiversitas macam kita. Ya tapi kan itu kalo pemerintah mau mikir.
Indonesia
1
9
157
4.4K
TxtdariUGM
TxtdariUGM@Txtdariiugm·
jleb...
TxtdariUGM tweet media
Anies Rasyid Baswedan@aniesbaswedan

Wacana penutupan program studi yang dianggap tidak relevan dengan industri ini memunculkan pertanyaan dan kekhawatiran. Ada kebijakan yang tampak efisien dalam jangka pendek, tapi bila tidak hati-hati, justru membelokkan arah perjalanan bangsa dalam jangka panjang. Sambil menunggu informasi lengkapnya, izinkan berbagi tentang paradigma ilmu murni dan ilmu terapan ini. Ilmu murni kerap dipandang jauh dari praktik. Seolah berdiri di menara gading, tidak menyentuh denyut kebutuhan industri. Padahal, di sanalah akar dari hampir seluruh inovasi yang kita gunakan hari ini berasal. Rumus-rumus yang tampak abstrak, teori-teori yang dulu dianggap “tidak berguna”, justru melahirkan teknologi yang kini kita anggap keniscayaan. Kita menikmati internet, kecerdasan buatan, hingga kemajuan di bidang kesehatan, tapi tak selalu ingat bahwa fondasinya dibangun oleh para ilmuwan yang bekerja tanpa kepastian aplikasi. Mereka meneliti bukan berbasis permintaan pasar, tetapi karena keingintahuan memahami bagaimana dunia bekerja. Kita perlu ingat bahwa relevansi tidak selalu bisa diukur dalam horizon waktu yang pendek. Apa yang hari ini tampak tidak terkait industri, bisa jadi esok hari menjadi tulang punggungnya. Negara yang hanya menyiapkan tenaga siap pakai, tanpa melahirkan pemikir-pemikir dasar, berisiko terjebak sebagai pengguna belaka. Kita menjadi pasar, bukan pencipta. Kita mengimpor solusi, alih-alih menghasilkan jawaban dari dalam negeri dan membaginya kepada dunia. Lebih jauh lagi, kebijakan publik yang kuat juga lahir dari pemahaman dasar yang kokoh. Mulai dari ilmu epidemiologi (berbasis matematika dan biologi dasar) yang berjasa besar saat pandemi, lalu ilmu lingkungan (ekologi dan geofisika) dalam menghadapi bencana perubahan iklim, hingga ekonomi teoretis dalam merancang kebijakan fiskal. Semua itu berakar pada ilmu-ilmu yang sering dianggap “tidak praktis”. Menutup atau melemahkan ilmu murni berarti mengurangi kemampuan kita untuk memahami dunia secara mendalam. Tanpa pemahaman itu, keputusan kita mudah terjebak jadi dangkal. Tentu, keterhubungan dengan industri itu penting. Bila suka apel bukan berarti benci jeruk. ;) Perguruan tinggi jelas tidak boleh terlepas dari kebutuhan zaman. Namun, menjawab tantangan itu tidak harus dengan menutup ilmu murni. Yang diperlukan adalah menjembatani, bukan menggantikan. Menguatkan ekosistem, bukan menyederhanakan secara berlebihan. Pada akhirnya, pendidikan tinggi bukanlah soal mencetak pekerja bagi industri, tetapi tentang menyiapkan masa depan dan membangun peradaban bangsa. Masa depan itu tidak pernah dibangun hanya dari apa yang terlihat berguna hari ini, pun membangun peradaban tak boleh direduksi jadi sekadar membangun industri. Maka, barangkali yang perlu kita jaga adalah keseimbangan. Antara yang langsung terpakai dan yang menjadi fondasi. Antara keterampilan dan pemikiran. Antara kebutuhan hari ini dan visi hari esok. Dengan menjaga keseimbangan itulah, kita dapat berdiri tegak sebagai bangsa yang tak hanya mengikuti kemajuan dunia, tetapi juga menciptakannya.

Indonesia
16
3K
11.3K
184.9K