Danuja Wijayanto

2K posts

Danuja Wijayanto banner
Danuja Wijayanto

Danuja Wijayanto

@danujawi

Strive!

Salatiga • SUB • MMX • FUK Katılım Mayıs 2012
1K Takip Edilen234 Takipçiler
Danuja Wijayanto
Danuja Wijayanto@danujawi·
Well, life comes at you fast. That split second decision is what matters.
English
1
0
1
12
WASIS TRI HANDOKO
WASIS TRI HANDOKO@wthandoko·
Sedang membuka laptop mencicil penelitian dibawah sepeda yg hidup segan mati tak mau Tiba tiba mamanya azzam "Kalau bisa diatas 3.75 boleh lah itu sepeda dibikin hidup lagi, nanti budget diatur ulang" Ok fix habis wisuda training paru paru lagi
Indonesia
1
0
0
49
Danuja Wijayanto
Danuja Wijayanto@danujawi·
Current song: … Biarlah api-Mu terus menyala di jiwaku, setia sampai akhir hayat. Menyembah-Mu Yesus …
Indonesia
0
0
1
12
Danuja Wijayanto retweetledi
listyantidewi
listyantidewi@listyantidewi·
Salah satu yang menarik: Kata "sekolah" (dan "school" dalam bahasa Inggris) sebenarnya berasal dari kata Yunani scholē (σχολή) yang artinya "waktu luang" atau "kesenggangan". Bagi orang Yunani kuno, hanya orang yang punya waktu luang (tidak harus bekerja atau berperang) yang bisa berdiskusi, berfilsafat, dan belajar. Jadi "sekolah" awalnya bukan tempat mengerjakan tugas dan ujian, melainkan waktu istimewa untuk berpikir secara bebas. Cukup ironis kalau dibandingkan dengan persepsi siswa zaman sekarang yang sering merasa sekolah justru kebalikan dari "waktu luang" 😄
Indonesia
44
966
3.9K
110K
Danuja Wijayanto
Danuja Wijayanto@danujawi·
Ternyata, there are so much more than just “finishing work”. Those small details needs to be taken into account. Learned it the hard way.
English
1
0
1
32
Danuja Wijayanto
Danuja Wijayanto@danujawi·
@mhuseinali Drogba bikin perang saudara Pantai Gading berhenti sementara lewat pertandingan sepakbola 😁
Indonesia
0
0
1
94
Ali 👊🏻
Ali 👊🏻@mhuseinali·
Olahraga itu selalu politis. Contoh gampangnya, sepakbola di London meledak karena gerakan buruh pasca revolusi industri. Ada identitas grasroots di situ. Tau gak rivalitasnya hidup karena apa? Karena TRANSUM. Transportasi umum itu POLITIK. London Metro bikin mobilitas buruh lebih mudah untuk menghadiri pertandingan. Ini yang kasih kesan mendalam soal pertandingan "kandang" dan "tandang". Contoh lokal lagi, kamu mau olahraga lari pagi aja itu kalau jalanannya bolong-bolong, banyak jambret, gak ada trotoar emang nyaman? Jangan bilang pisahkan Olahraga dengan Politik. Keenakan itu pejabat gaada akuntabilitasnya. Liat Sepakbola kita ga kemana mana. Frasa yang benar adalah "JANGAN JADIKAN OLAHRAGA DAN PERSIB SEBAGAI TOKEN POLITIK"
Ali 👊🏻 tweet media
GELAP@jepara123456

@mhuseinali Kalo politik sdh masuk ke olahraga dijamin pasti ruwet, di medsoa akhirnya pada saling sindir, saling bela jagoannya masing2, padahal semuanya jg pendukung persib & pingin persib juara lg, harusnya kompak, jgn ikut arus politikus.....🤔

Indonesia
12
185
559
15.3K
Danuja Wijayanto retweetledi
𝙰𝚛𝚢 𝙷𝙷
𝙰𝚛𝚢 𝙷𝙷@AryHHAry·
Ini relate bgt dgn kata2 guru fisika SMA dulu saat memberitahu beliau saya pilih jurusan fisika di kampus dkt SMA: "Kamu pilih masuk fisika, berarti fisikanya bodoh. Kalau yg pintar fisikanya tdk akan memilih belajar fisika lagi." Kdg saya merasa paling tdk paham saat membaca paper sekalipun tentang fisika teoretis atau mekanika kuantum, dan AI. Tapi setelah baca tulisan Martin A. Schwartz ini, saya baru sadar.. Itu bkn kekurangan, tapi justru tanda bahwa saya sedang berada di jalur yg benar. Schwartz bilang: “Produktif stupidity berarti kita dgn sadar masuk ke wilayah yg belum kita pahami. Kita merasa tdk tahu bkn krn kita tdk tahu, tapi krn kita sdg mengejar sesuatu yg lebih besar dari pengetahuan kita saat ini.” Di fisika, ini terjadi setiap kali kita bicara singularitas, quantum entanglement, atau gelombang gravitasi yg entah bgmn menakjubkan seperti cinta yg tdk terduga. 😁 Kita tdk tahu jawabannya. Dan itu justru yg membuat kita terus mencari. Sama halnya di dunia Quantum AI dan etika teknologi yg sdg dibangun sekarang, menciptakan sesuatu yg mungkin suatu hari akan “lebih pintar” dari kita. 🤷🏼‍♂️ Kita berada di posisi yg awkward: merasa tdk paham di hadapan masa depan yg belum jelas. Tapi justru di situlah letak keindahannya. Semakin nyaman kita dgn ketidaktahuan, semakin dlm kita bisa menyelam ke dlm misteri alam semesta dan ke dlm misteri diri kita sendiri. Saya belajar dari artikel ini: Jgn terburu2 ingin terlihat pintar (untuk apa hanya terlihat, padahal.. 😁😁). Yg penting adalah terus mau merasa tdk tahu dgn jujur. Krn hanya orang yg berani merasa tdk tahu yg akhirnya menemukan sesuatu yg benar2 baru. Hmm.. kamu pernah merasa “bodoh” saat sdg mendalami sesuatu yg kamu cintai? Baik itu sains, AI, filsafat, ekonomi, budaya, atau bahkan hubungan manusia? Yuk kita merasa tdk tahu bareng2. Siapa tahu justru dari situ lahir pemahaman yg lebih dlm. 🔥
Curious Minds@CuriousMindsHub

The importance of stupidity in scientific research:

Indonesia
6
417
2.1K
60.9K
Danuja Wijayanto
Danuja Wijayanto@danujawi·
@kamentrader Penelitian tentang peneliti selalu menarik dan terasa “liberating” diri sendiri (atau ini sebagai penghiburan saja 😆) . Tapi setuju terkait “comfortable being stupid”. Selanjutnya adalah terkait “endurance” dalam dalam merasakan hal itu.
Indonesia
0
0
11
1.2K
Danuja Wijayanto retweetledi
Angga Fauzan 
Angga Fauzan @angga_fzn·
FYI, banyak kampus di luar negeri tu gak sesusah itu dapetin LoA-nya, apalagi yang conditional (IELTS/TOEFL belakangan). Banyak yg gratis kalo cuma daftar doang. Yang susah apa? Ya benar. Beasiswanya.
Indonesia
33
500
5.5K
161.5K
Danuja Wijayanto retweetledi
Oliver Kay
Oliver Kay@OliverKay·
It wasn’t Potter’s fault. It wasn’t Pochettino’s fault. It wasn’t Maresca’s fault. It isn’t Rosenior’s fault. People can blame coaches all they like, but the whole BlueCo/Chelsea project has been such a spectacular, hubristic failure nytimes.com/athletic/69353…
English
174
1.4K
5.8K
394.8K
Danuja Wijayanto retweetledi
Kekius Maximus
Kekius Maximus@Kekius_Sage·
Every time you train and practice, your brain heals itself: neurons lost to stress or damage are replaced with new connections, restoring lost functions. Keep rebuilding
Curious Minds@CuriousMindsHub

Repetition rewires the brain. Repetition rewires the brain. Repetition rewires the brain. Repetition rewires the brain. Repetition rewires the brain. Repetition rewires the brain. Repetition rewires the brain.

English
76
399
2.3K
65.4K
Kukuh Adi D.
Kukuh Adi D.@kukuhya·
Nyobain bikin “Nasi Hokben” hasil nyari di internet. Jadi itu bikinnya pake beras biasa + beras ketan, dengan perbandingan 4:1. Terus dicampur dan dicuci biasa. Pas udah dikasih air, ditambahin 1 sendok makan bubuk agar agar swallow. Pas udah jadi, kayaknya sih mirip ya? 😅
Kukuh Adi D. tweet mediaKukuh Adi D. tweet mediaKukuh Adi D. tweet mediaKukuh Adi D. tweet media
Indonesia
171
517
7K
438.8K
listyantidewi
listyantidewi@listyantidewi·
Halo :) Ini aku ada kode program buat everyday tasks seperti convert PDF, resize PDF, split PDF, generate QR code, remove image backrgound, unit converter, dll (bisa lihat di referensi screenshots terlampir). Kamu bisa unduh kode programnya di github.com/listyantidewi1… dan jalanin secara lokal di komputer kamu, supaya data-data kamu nggak bocor ke mana-mana.
listyantidewi tweet medialistyantidewi tweet medialistyantidewi tweet media
Indonesia
245
3.1K
11K
952.7K
Danuja Wijayanto retweetledi
listyantidewi
listyantidewi@listyantidewi·
Saya usul kembali ke buku matematika SD tahun 90an. Buku fisik dan semua harus punya. Buku ini, materinya sederhana dan diulang-ulang. Kalimat yang digunakan sangat efektif, sederhana, singkat, dan mudah dipahami. Tidak terlalu banyak gambar² ilustrasi yang mengalihkan perhatian anak saat belajar. Anak ke sekolah tidak perlu bawa hape. Orangtua didiklat soal screen time dan harus menerapkan di rumah pakai aplikasi parental kontrol. Tidak usah menggunakan media pembelajaran digital selama SD. Kecuali guru dan orangtua MEMILIKI LITERASI DIGITAL YANG TINGGI.
listyantidewi tweet medialistyantidewi tweet medialistyantidewi tweet medialistyantidewi tweet media
IF@IFnubia

ANAK SMA GAK BISA NGITUNG! Kurang lebih begitu judul provokatif di beberapa video pendek yang sempat saya tonton. Saya kurang percaya. Apa iya: penjumlahan, pengurangan, pengalian, dan pembagian dasar saja, lambat? Sampai akhirnya beberapa hari terakhir mengharuskan berinteraksi lumayan intens dengan beberapa anak SMA baru (akan) lulus di sebuah kabupaten pesisir. Remaja dengan aktivitas biologis sedang galak-galaknya, banyak menghabiskan waktu scrolling tiktok, sekolah asal lulus, tapi bisa makan MBG sampai 5 ompreng karena sekolah mereka selalu diberikan jatah lebih. Muridnya sedikit. Bagusnya: mereka mau mengerjakan apa saja asal "bisa hidup". Mulai dagang cilok di gerobak dorong, membantu di warung, sampai jadi tulang urut panggilan. Ternyata benar, mereka sangat lambat berhitung. Perkalian dasar setingkat SD saja lemah. Perlu bermenit-menit menghitung 8 kali tiga. DELAPAN KALI TIGA! sampai-sampai seluruh jari tangannya dikeluarkan semua, dipakai menghitung dengan cara menjumlahkan. Saya mengurut dada. Dada sendiri. Sedih. Kecewa. Marah. Semua campur aduk. Bukan marah kepada mereka pribadi, karena biar bagaimana, mereka adalah PRODUK pendidikan. Pendidikan formal di sekolahan, di rumah, dan di lingkungan. Dan, ini saya sampaikan kepada mereka pelan-pelan dengan bahasa amat sederhana. Bahasa sederhana yang sekiranya dipahami oleh mereka yang seumur hidup belum pernah membaca satu buku pun hingga tuntas. Bukan salah menteri dengan kebijakan asal-asalannya, karena jangan-jangan mereka pun TIDAK PAHAM atau di bawah todongan. Pun bukan salah sekolah, apalagi orang tua. Yang tidak tahu tidak bisa dikenakan delik, bukan? Abad-21 dipenuhi piranti canggih, namun pengguna kecanggihan tersebut kalah telak oleh generasi dua ribu tahun lalu, atau abad pertengahan, jauh sebelum renaissance. Kala itu manusia usia belasan tahun sudah siap mandiri, sendiri mengarungi kehidupan. PR terbesarnya kemudian: bagaimana 'menyembuhkan' mereka, yang semula sebagai PRODUK GAGAL sistem pendidikan, menjadi generasi tangguh, terampil, cerdas sekaligus mandiri di tengah tantangan dunia yang semakin berat? Berat. Sangat berat. *** Stella, ini buktinya. Tiap hari makan MBG sampai 5 ompreng pun TIDAK bikin cerdas.

Indonesia
168
2K
5.1K
129.9K
Danuja Wijayanto retweetledi
NutaniMan
NutaniMan@rouppme·
Bukan pakai satelit. Bukan pakai BMKG. Tapi pakai suara jangkrik, arah angin, dan kapan pohon jati mulai rontok untuk menentukan kapan mulai tanam. Namanya Pranata Mangsa. Dan sains modern baru bisa menjelaskan kenapa sistem ini akurat.
NutaniMan tweet media
Indonesia
50
1.1K
3K
50.6K
Danuja Wijayanto
Danuja Wijayanto@danujawi·
Pushing for the end is harder than it may seem.
English
0
0
0
13