W retweetledi
W
578 posts

W retweetledi

Subuh ini jam 03.17 pagi.
Gue lagi ngantri beli nasi uduk buat sahur. Mata masih setengah melek. Grup keluarga udah rame kirim suasana sahur pagi ini.
Di depan gue, ada Ojol. Mukanya keliatan belum tidur. Dia gak beli nasi uduk. Cuma beli gorengan beberapa biji sama teh panas.
Gue denger dia nelpon pelan,
“Dek, bangunin adek ya. Abang udah di jalan.”
Jam segitu orang lain baru bangun.
Dia udah mau mulai hari.
Singkat cerita, gue ketemu lagi bapak itu sore harinya.
Dia lagi duduk di pinggir jalan, buka aplikasi, nunggu order buat takjil. Sekitar dia, orang orang sibuk cari kolak, gorengan, es buah.
Order masuk ke HP bapak itu. Orderan titiknya lumayan jauh. Dia liat jam. 17.26.
Adzan bentar lagi.
Dia berdiri, motor dinyalain.
Gue iseng tanya,
“Pak, gak buka dulu?”
Dia ketawa kecil,
“Buka bisa nanti. Kalo order ilang, belum tentu balik.”
Kalimat itu biasa.
Tapi makin gue pikir, makin gak biasa.
Kita sering bilang puasa itu nahan lapar dan haus.
Padahal buat sebagian orang, yang ditahan bukan cuma itu.
Yang ditahan itu cemas.
Takut target gak nyampe.
Takut gak punya kepastian untuk hari esok.
Takut anak minta sesuatu yang gak bisa dibeli.
Ada yang bakal bilang,
“Ya itu kan kerja. Semua orang juga capek.”
“At least masih ada penghasilan.”
Betul.
Tapi bedanya, gak semua orang harus milih antara buka tepat waktu atau ngejar order terakhir.
Ramadhan sering dijual sebagai bulan refleksi.
Karena kalau kita benar benar ngaca,
kita bakal sadar:
Sebagian dari kita puasa sambil mikir menu buka apa.
Sebagian lagi puasa sambil mikir, “Besok masih bisa buka gak ya..”
Dan mungkin, makna sabar yang paling nyata bukan ada di caption dunia maya, tapi di orang yang tetap narik gas motor,
padahal perutnya kosong
dan kepalanya penuh tanggung jawab.
Kalau Ramadhan ini kamu masih bisa buka tepat waktu, masih bisa pilih menu, masih bisa ngeluh soal rasa kurang manis atau kurang dingin…
coba satu hal sederhana:
sebelum teguk pertama, doain orang orang yang lagi buka sambil ngejar order terakhir.
dan kalau ada rezeki lebih, jangan cuma dibikin story. bantu dan bikin aksi nyata.
Karena mungkin pahala terbesar Ramadhan bukan di seberapa lama kita nahan lapar,
tapi di seberapa peka kita sama lapar orang lain.

Indonesia
W retweetledi
W retweetledi

@kompascom Dengan mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim, saya akan melanjutkan gugatan perkara ini apapun hasilnya
Mohon dukungan & doa dari semuanya, demi Pendidikan kita. Panjang umur Pekerja Pendidikan 🙏
Indonesia
W retweetledi
W retweetledi
W retweetledi

@belajarlagiHQ Kok Pert*mina gak kena KPPU min? Kan saingannya disuruh beli ke mereka semua 🤣🤣🤣
Indonesia
W retweetledi
W retweetledi
W retweetledi

W retweetledi

Maaf ya, izin posting dari BEM @UGMYogyakarta
—-
Ijin berkabar, Mas dan Mbak Alumni sekalian.
Hari ini BEM UGM surati UNICEF utk respons tragedi kemanusiaan di NTT. Seorang anak yang tak mampu beli buku dan pena seharga Rp10.000,- memilih bunuh diri di saat Negaranya merampas 223T anggaran pendidikan utk alokasi MBG dan menyumbang 16,7T untuk Bord of Peace bikinan Trump. Sungguh ironis.
Sudah habis kesabaran kami sebagai mahasiswa. Saatnya mengatakan bahwa Prabowo Subianto adalah Presiden bodoh yang tidak sadar bahwa dirinya bodoh dan karenanya tak pernah mau belajar malah justru membodohi yang lain. Ajaibnya, orang pintar di sekelilingnya rela-rela saja dibikin bodoh dan malah menjunjung kebodohan Presidennya.
6 FEB 2026
Tiyo Ardianto
Ketua BEM UGM

Indonesia
W retweetledi
W retweetledi
W retweetledi

@perogeremmer Duit itu semakin ditahan-tahan, makin ga betah dan gamau dateng. Terserah mau percaya apa engga, uang itu bentuk dari energi juga, jadi harus selalu di alirkan. Kalo buat diri sendiri aja masih pelit, hati2 sih. Rasa kekurangan hanya akan menarik kekurangan
Indonesia
W retweetledi
W retweetledi
W retweetledi
W retweetledi

@tanyakanrl Tanyakan, suami kamu bisa 50:50 berbagi penderitaan saat kehamilan? Kurang tidur? Pipis terus? Vagina sobek ngeluarin anaknya? Nyusuin 2 jam sekali walaupun jam 3 pagi? Lecet puting?
Kamu perempuan jangan bodoh. Jangan mau di gaslighting laki2 ga mampu tapi maksa nikah.
Indonesia
W retweetledi

Menjelang tahun 2026, kita harus semakin waspada dengan makin luasnya persebaran Pandemi Militer. Makasih @YLBHI yang sudah membuat ilustrasi keren ini.


Indonesia
W retweetledi

Poin Kritik Pak Dino Patti Djalal ke Menlu Sugiono
(Analogi Bahasa Anak Fisika Teknik)
Bayangin Kementerian Luar Negeri itu kayak sistem mekanika besar (misalnya roket atau reaktor nuklir) yang butuh kontrol ketat biar nggak chaos dan tetap efisien.
Pak Dino (mantan diplomat senior) lagi ngasih feedback konstruktif di akhir 2025, soal "kinerja sistem" Menlu Sugiono yang baru setahun jabat. Ini 4 poin utamanya, pake bahasa kayak lagi bahas fisika teknik:
1. Waktu Dedikasi Kurang (Low Input Energy)
Menlu harus kasih minimal 50% waktu/full power buat ngurus kementerian. Sekarang kayak sistem yang input energinya rendah: anggaran dipotong, moral pegawai drop (low morale, kayak entropi naik). Kalau nggak full commit, output diplomasi jadi lemah, diplomat-diplomat di lapangan bingung arahnya.
2. Komunikasi Publik Minim (No Feedback Loop)
Harus sering speak up jelasin kebijakan luar negeri ke publik, kayak dulu Menlu Ali Alatas yang transparan. Sekarang jarang banget, padahal rakyat butuh tau "arah vektor" diplomasi Indonesia. Tanpa komunikasi, sistem jadi closed loop, nggak ada koreksi dari luar, mudah error.
3. Kurang Responsif ke Stakeholder (Poor Signal Response)
Banyak undangan konferensi besar atau engagement dari komunitas luar negeri di-ignore. Kayak sensor di sistem kontrol yang nggak nangkap sinyal input, jadi respons lambat atau nol. Ini bikin jaringan diplomasi lemah, potensi kolaborasi hilang.
4. Gap Pemerintah vs Masyarakat Sipil (Sistem Tanpa Coupling yang Kuat)
Diplomasi efektif itu kayak sistem mekanik coupled, misalnya dua oscillator (pemerintah dan masyarakat sipil) yang dihubungkan oleh pegas (k = kolaborasi). Kalau coupling-nya kuat (k besar), energi bisa transfer efisien, sistem resonansi bareng, dan amplitudo (influence global Indonesia) jadi maksimal.
Sekarang coupling-nya lemah banget (k → 0), jadi dua oscillator jalan sendiri-sendiri pemerintah gerak terbatas, masyarakat sipil gerak tapi nggak nyambung. Akibatnya:
- No energy transfer → potensi dari akademisi/NGO/ex-diplomat nggak masuk ke kebijakan.
- Damped oscillation → diplomasi jadi kurang bertenaga, mudah kehilangan momentum.
- Kalau dibiarkan, sistem bisa out of phase total, malah saling cancel (konflik internal).
Intinya, Pak Dino bilang butuh coupling yang lebih kuat (dialog rutin, libatkan masyarakat sipil) biar sistem diplomasi Indonesia bisa resonate di frekuensi optimal dan output powernya gede lagi. Kayak tuned mass damper di gedung pencakar langit, tambahin massa sekunder yang sync, getaran (risiko geopolitik) malah diredam.
Dino Patti Djalal@dinopattidjalal
Diujung thn 2025, sy sampaikan 4 kritik (dan saran) utk @Menlu_RI Sugiono. Semoga beliau tidak defensif menerimanya karena yg saya sampaikan ini mewakili pandangan sebagian besar masyarakat pecinta politik luar negeri kita. Semoga pula dapat menjadi bahan renungan yang bermanfaat u/ para eksekutor diplomasi🇮🇩. Silahkan disimak & dikomentari & dikutip. Salam diplomasi, Dr. Dino Patti Djalal
Indonesia




















