Ardy Nurhadi Shufi@ardynshufi
Jadi inget temen saya yang punya bisnis ngasih pendapat tentang kelemahan orang Indonesia dibanding orang Tiongkok dalam berbisnis. < kalau ada orang Tiongkok boleh konfirmasi/bantah ya. 🙏
Orang Indonesia itu FOMO dan bisa "saling bunuh". Musim Es Kepal Milo, semua bikin. Musim Mixue, semua invest. Bulan puasa, semua dagang gorengan dan es buah. Bahkan mereka gak peduli kalau di dekat tempat mereka ada bisnis serupa yang akhirnya menimbulkan persaingan ketat.
Nah, masalahnya bukan ikut tren, tapi eksekusinya yang tanpa diferensiasi dan tanpa perhitungan. Karena, katanya, banyak pelaku bisnis Tiongkok, dan ini jadi alasan bisnis di negara Cina maju pesat, justru bermain lebih strategis dan kolektif. Mereka paham bahwa sustain itu lebih penting daripada menang cepat. Contohnya: kalau si A punya toko ATK dan ada barang yang tidak tersedia, dia tidak ragu mengarahkan pembeli ke toko teman atau relasinya yang juga jual ATK. Meski sama-sama ATK, ada diferensiasi misal yang satu fokus di barang A, toko ATK lain di barang B. Secara jangka pendek mungkin dia kehilangan satu transaksi, tapi secara jangka panjang dia membangun trust dan ekosistem.
Contoh lain, di beberapa komunitas bisnis mereka, ada semacam pembagian peran. Misalnya satu fokus di supply, satu di distribusi, satu di retail. Mereka tidak semua lompat ke posisi yang sama hanya karena sedang “cuan”. Hasilnya, mereka tumbuh bersama, bukan saling menjatuhkan.
Btw, ini bukan berarti semua orang Indonesia seperti itu ya, atau semua orang Tiongkok pasti lebih baik. Tapi pola ini cukup sering terlihat: satu cenderung reaktif dan individual, satu lagi lebih terstruktur dan kolaboratif.
Tapi, bisa jadi pernyataan ini salah juga ya ges. Ini hanya mengaitkan dengan postingan di bawah terkait banyak Mixue yang tutup.
Dan juga karena saya lagi coba mulai wirausaha, jadi butuh pendapat dari yang lebih expert juga. 🙏